Sienna sempat berpikir untuk menjawab dengan kalimat yang ada di kepala nya, ini kan tempat umum, ngapain nanya , tapi untungnya rem di dalam diri nya masih berfungsi pagi itu. Jadi ia cuma mengangguk, lalu menggeser tas nya ke pangkuan.
“Silakan.” Ucap Sienna.
Pria itu duduk. Tinggi nya membuat lutut nya hampir menyentuh tiang di depan, dan ia harus menekuk kaki nya sedikit supaya tidak mengganggu orang yang berdiri. Sienna melirik sekilas. Kemeja putih, lengan nya di lipat sampai siku, lanyard nya berbeda warna dengan lanyard Sienna, dan ada satu map cokelat yang ia peluk seperti orang yang takut kehilangan nya.
Kereta berjalan. Suara pengumuman terdengar dari pengeras suara, dan seluruh gerbong bergoyang bersamaan seperti sudah di latih.
“Maaf ya, tadi nanya nya aneh.” Ucap pria itu tiba-tiba.
Sienna menoleh. “Hah?”
“Iya, nanya boleh duduk atau nggak. Padahal jelas-jelas kursi umum.” Ucap nya sembari tersenyum kecil. “Kebiasaan. Di kantor saya kalau salah duduk bisa panjang urusan nya.”
Sienna tertawa, satu tawa pendek yang keluar begitu saja. “Emang kantor nya apaan?”
“Panjang ceritanya.”
“Ya udah, gak jadi nanya.” Ucap Sienna, lalu kembali menatap ke depan.
Harusnya percakapan itu selesai di situ. Harusnya. Karena begitulah hukum tidak tertulis di dalam kereta, orang boleh duduk berdempetan selama empat puluh menit tanpa saling tahu nama.
Tapi lima menit kemudian, map cokelat itu jatuh dari pangkuan pria itu ketika kereta mengerem mendadak, dan isinya berhamburan sampai ke sepatu Sienna.
*****
“Ya ampun, maaf, maaf.” Ucap pria itu sembari buru-buru berjongkok.
Sienna ikut memungut beberapa lembar. Ia tidak sengaja membaca satu baris di halaman paling atas, sesuatu tentang laporan tahunan dan angka-angka yang jumlah nol nya membuat Sienna pusing sendiri.
“Ini punya orang kaya ya.” Ucap Sienna sembari menyerahkan kertas itu.
“Bukan punya saya kok.”
“Iya, makanya. Punya orang kaya.” Ulang Sienna, dan kali ini pria itu yang tertawa.
Mereka selesai membereskan semuanya tepat ketika kereta berhenti di stasiun berikutnya. Orang-orang naik, orang-orang turun, dan gerbong yang tadinya masih longgar sekarang sudah penuh sampai ke pintu.
“Chatura.” Ucap pria itu sembari mengulurkan tangan nya, canggung sekali karena posisi mereka yang terjepit.
“Sienna.”
“Sienna.” Ulang nya pelan, seolah-olah sedang memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Kenapa? Aneh ya?”
“Nggak. Bagus.” Jawab Chatura, lalu buru-buru menambahkan, “Nama nya maksud saya. Nama nya bagus.”
Sienna menahan senyum nya dengan cara berpura-pura membenarkan lanyard yang sebenarnya sudah lurus dari tadi.
“Kamu selalu gini ya kalau kenalan sama orang?” Tanya Sienna.
“Gini gimana?”
“Ya gitu. Muji, terus panik sendiri.” Ucap Sienna.
“Saya gak panik.”
“Telinga kamu merah.”
Chatura reflek menyentuh telinga nya sendiri, dan Sienna langsung tertawa sampai ada dua orang di sebelah nya yang menoleh.
“Bohong ya?” Tanya Chatura.
“Bohong.” Jawab Sienna.
“Curang.”
“Ya siapa suruh percaya.” Ucap Sienna sembari mengangkat bahu nya, dan untuk pertama kali nya pagi itu, perjalanan yang biasanya cuma jadi bagian paling melelahkan dari hari nya terasa terlalu cepat.
*****
Sisa perjalanan itu ternyata tidak sehening yang Sienna kira.
Mereka membicarakan hal-hal yang sama sekali tidak penting, hal-hal yang biasanya cuma bisa di bicarakan dengan orang asing karena tidak ada risiko nya. Tentang kenapa kereta jam segini selalu penuh padahal jadwal nya sudah di tambah. Tentang orang yang menaruh tas di kursi kosong. Tentang mana yang lebih menyiksa, macet di jalan atau berdiri satu jam di gerbong yang bau nya campur-campur.
“Kamu selalu naik yang jam ini?” Tanya Chatura.
“Iya. Kalau kesiangan sedikit aja, mati.” Jawab Sienna.
“Saya baru dua minggu.”
“Pantesan. Muka nya masih segar.” Ucap Sienna, dan Chatura tertawa lagi, kali ini lebih keras sampai ibu-ibu di depan mereka menoleh.
Ketika kereta mendekati Sudirman, Sienna mulai bersiap. Ia memindahkan tas nya ke bahu, memastikan lanyard nya tidak tersangkut, dan bergeser sedikit demi sedikit ke arah pintu.
“Turun di sini juga?” Tanya Sienna ketika menyadari Chatura ikut berdiri.
“Iya.”
“Oh.”
“Kenapa? Gak boleh?”
“Ya boleh lah, emang gua yang punya stasiun.” Jawab Sienna, dan ia langsung menyesal karena kata gua nya keluar duluan sebelum sempat di saring.
Chatura cuma tersenyum.
*****
Mereka berpisah di luar stasiun, di tempat di mana jalan bercabang dua, satu ke arah gedung Sienna dan satu lagi ke arah yang berlawanan.
“Ya udah, saya ke sana.” Ucap Chatura sembari menunjuk dengan dagu nya.
“Iya, hati-hati.”
“Makasih ya, udah bantu mungutin.”
“Iya, sama-sama.”
Lalu keduanya berjalan ke arah masing-masing, dan Sienna sudah mengira bahwa itu akan jadi akhir dari cerita nya. Orang di kereta itu seperti orang di antrian kasir, ketemu sekali, ngobrol sebentar, lalu hilang untuk selama-lamanya.
Sienna sampai di meja nya jam delapan kurang tujuh menit, menyalakan komputer, membuka aplikasi presensi, dan langsung tenggelam ke dalam pekerjaan yang sudah menumpuk sejak kemarin.
Sebenarnya tidak sepenuhnya tenggelam.
Ada satu momen sekitar jam sembilan, ketika Sienna sedang menunggu berkas nya terunduh, di mana ia mendapati dirinya menatap layar yang kosong sembari mengingat-ingat satu hal yang sama sekali tidak penting: bahwa tadi pagi, ketika kertas-kertas itu berhamburan, laki-laki itu memungut lembar-lembar nya sesuai urutan nomor halaman, bukan asal ambil.
“Sien, lo kenapa senyum-senyum?” Tanya teman satu meja nya.
“Gak.”
“Bohong.”
“Lagi baca berita lucu.”
“Berita apa?”
“Ya... berita.” Jawab Sienna sembari buru-buru menggerakkan tetikus nya, dan teman nya itu cuma mendengus lalu kembali ke pekerjaan nya sendiri.
Sampai jam sebelas.
*****
“Sien, ke ruang rapat lantai lima ya. Bawa berkas yang kemarin.” Ucap atasannya sembari lewat.
“Sekarang bu?”
“Sekarang.”
Sienna mengambil map nya, berjalan cepat-cepat ke lift, dan sampai di ruang rapat dua menit sebelum jam nya. Di dalam sudah ada beberapa orang duduk, sebagian dari kantor nya, sebagian lagi orang luar yang Sienna tidak kenal.
Dan di ujung meja, dengan map cokelat yang sama seperti tadi pagi, duduk seseorang yang sudah memakai jas.
Chatura mengangkat wajah nya, melihat Sienna berdiri di ambang pintu, dan untuk sepersekian detik ekspresi nya berubah persis seperti ekspresi Sienna.
“Silakan duduk mbak.” Ucap seseorang.
Sienna duduk di kursi yang paling ujung, membuka map nya, dan berusaha keras untuk tidak menoleh ke arah kanan selama satu setengah jam berikutnya.
Rapat nya berjalan seperti rapat pada umumnya, panjang, penuh istilah, dan setengah nya bisa di selesaikan lewat surat elektronik. Chatura bicara dua kali, dan dua-dua nya membuat orang di sekitar nya diam dan mencatat. Sienna diam-diam mengubah penilaian nya. Ternyata bukan cuma tinggi dan sopan, orang ini juga tahu apa yang ia bicarakan.
Ketika rapat selesai dan orang-orang mulai berdiri, Chatura menghampiri nya dengan gerakan yang berusaha terlihat biasa saja.
“Jadi kantor kamu di sini.” Ucap nya.
“Iya. Kantor kamu?”
“Bukan. Saya cuma di undang.”
“Oh.” Ucap Sienna sembari mengangguk-angguk. “Berarti tadi pagi itu kebetulan banget ya.”
“Iya. Kebetulan banget.” Ulang Chatura.
Ada jeda beberapa detik di mana keduanya sama-sama tidak tahu harus berkata apa lagi, jeda yang biasanya di isi oleh salah satu pihak dengan kalimat penutup lalu pergi.
“Sien.” Ucap Chatura akhirnya.
“Hm?”
“Besok kamu naik kereta yang jam itu lagi?”
Sienna menatap nya sebentar, lalu memasukkan berkas nya ke dalam map dengan gerakan yang sengaja ia buat lambat.
“Ya iyalah. Emang gua punya pilihan lain?” Jawab Sienna.
“Oke.” Ucap Chatura sembari mengangguk. “Kalau gitu, sampai ketemu besok.”
“Ya kalau ketemu.”
“Ketemu kok.” Jawab nya, lalu pergi, meninggalkan Sienna berdiri sendirian di ruang rapat yang sudah kosong dengan senyum yang benar-benar tidak bisa ia tahan lagi.
Sienna menepuk pipi nya sendiri sekali, pelan.
“Astaghfirullah Sien, dia cuma nanya kereta.” Desis nya kepada dirinya sendiri, lalu keluar sebelum ada orang lain yang masuk dan melihat nya berbicara sendirian di ruang rapat lantai lima.