Dua minggu. Kalau di hitung pakai kalender, dua minggu itu cuma empat belas kotak kecil yang bisa aku coret satu-satu. Tapi kalau di hitung pakai perasaan, dua minggu itu panjangnya minta ampun, kayak antrian di bank pas tanggal muda, kayak rapat yang gak ada ujungnya, kayak lagu sedih yang di ulang terus sama orang di sebelah kamar.
Dan selama empat belas hari itu, aku menghitung mundur hari pertunangan sahabatku sendiri.
Pagi-pagi aku sudah sampai di kantor, jauh lebih pagi dari biasanya. Bukan karena rajin, tapi karena kalau berangkat pagi, aku tidak perlu berpapasan dengan Dean di lobby. Dean itu tipe orang yang datang mepet, selalu, empat belas tahun gak berubah. Jadi kalau aku sampai jam setengah tujuh, aku aman. Aku bisa menyalakan komputer, menyeruput Americano, dan pura-pura sibuk dengan laporan nasabah sebelum dunia mulai berisik.
“Al, lo tidur di kantor ya? Kok pagi banget.” Ucap Fita yang datang setengah jam setelahnya, tas nya di banting ke meja, wajah nya masih setengah nyawa.
“Gua lagi rajin.” Jawab ku.
“Rajin apa ngindarin orang?” Sambung Lily yang tiba-tiba muncul dari balik pintu sembari membawa dua gelas kopi. Sialan memang, dua manusia ini bisa membaca aku seperti membaca struk belanja.
Aku tidak menjawab. Aku cuma menggeser satu map ke arah mereka, kode supaya mereka pura-pura kerja kalau ada orang lewat.
*****
Hari ketiga, papan bunga pertama datang ke kantor.
Aku tahu itu konyol, karena acara nya bahkan belum di mulai, tapi rekan-rekan satu divisi sudah patungan buat papan bunga yang nanti akan di kirim ke rumah Dean. Nana yang mengurus, dia bawa contoh desain nya ke ruangan ku, minta pendapat, seolah-olah aku ini wedding organizer.
“Mbak Al, ini warna nya gimana? Biru apa peach?” Tanya Nana.
“Peach.” Jawab ku asal.
“Terus tulisannya, Selamat bertunangan Dean dan Lulu , gitu ya mbak?”
“Iya.”
Nana pergi dengan senyum lebar, sementara aku duduk diam menatap layar yang sejak tadi menampilkan angka-angka yang sama sekali tidak aku baca. Ada yang lucu di dunia ini, dan kelucuan itu bernama aku: perempuan yang memilih warna papan bunga untuk pertunangan laki-laki yang ia cintai selama delapan tahun.
*****
Hari kelima, Dean menemukan tempat persembunyian ku.
Kafetaria lama di lantai bawah, tempat yang selalu sepi karena orang-orang lebih suka yang baru di dekat lobby. Aku duduk di pojok, kaki ku naik ke kursi sebelah, earphone terpasang. Tiba-tiba satu earphone di tarik dari telinga ku.
“Gua cari lo dari tadi.” Ucap Dean sembari duduk di hadapan ku tanpa permisi. Dia menaruh sebungkus roti di atas meja, roti yang biasa aku beli tiap kali malas makan siang. Dia hapal. Tentu saja dia hapal.
“Ada apa?” Tanya ku.
“Lo bisa gak nemenin gua fitting jas hari sabtu? Nyokap sibuk, Vinca ada kuliah, dan gua gak mau salah pilih warna terus di ketawain seumur hidup.” Ucap Dean.
Aku menatapnya lama sekali. Ada satu bagian dari diri ku yang ingin sekali berkata tidak. Bagian yang sudah capek, yang sudah babak belur, yang ingin sekali sekali saja menjaga diri nya sendiri. Tapi bagian itu selalu kalah, dari dulu, dari empat belas tahun yang lalu.
“Jam berapa?” Jawab ku pada akhirnya.
Dean nyengir. Dan aku, seperti biasa, kalah.
*****
Sabtu nya aku duduk di sebuah kursi beludru di toko jas, memegang tiga potong kain berwarna hampir sama, sementara Dean berdiri di depan cermin dengan pundak yang di tarik ke belakang seperti orang yang mau di foto untuk kalender.
“Yang mana Al?” Tanya nya.
“Yang tengah. Yang kiri kayak seragam satpam, yang kanan kayak lo mau ngelamar duit ke bank.”
“Gua kan emang kerja di bank.”
“Makanya, jangan bawa suasana kerja ke acara lo sendiri.” Ucap ku, dan Dean tertawa, tawa nya yang itu, tawa yang bikin mata nya ikut tersenyum, tawa yang selama delapan tahun terakhir jadi alasan aku bertahan di tempat yang salah.
Di perjalanan pulang, Dean bercerita tentang seserahan, tentang Eyang Uti yang ngotot mau ikut walaupun kaki nya sudah tidak kuat lama-lama duduk, tentang tetangga yang sudah menawarkan diri jadi tukang parkir dadakan. Aku mendengarkan, sesekali menjawab, sesekali diam. Di lampu merah, dia menoleh.
“Al.”
“Hm?”
“Yang waktu itu lo bilang, soal orang yang lo suka. Udah lo bilangin belum?” Tanya nya.
Jantung ku berhenti kira-kira satu detik, mungkin dua.
“Belum.” Jawab ku.
“Kapan?”
“Nanti. Kalau udah waktunya.”
“Jangan kelamaan, ntar keburu di ambil orang.” Ucap Dean sembari menginjak pedal gas lagi.
Aku memalingkan wajah ku ke jendela, menatap deretan lampu jalan yang mulai menyala. Iya De, gua tau. Gua juga baru sadar kalau kelamaan itu ternyata bisa se-mahal ini.
*****
Hari kedelapan, Fita dan Lily menyeret ku makan siang di luar kantor. Katanya biar tidak ada telinga tambahan. Kami duduk di sebuah kedai kecil dua blok dari kantor, tempat yang biasanya cuma kami datangi kalau ada yang perlu di bicarakan tanpa nama.
“Gua serius Al, lo masih punya waktu enam hari.” Ucap Fita.
“Buat apa?”
“Buat ngomong. Bukan buat batalin, bukan buat ngerusak, cuma buat ngomong. Biar lo gak bawa-bawa itu sampai tua.” Jawab Fita.
Lily mengangguk, mulut nya penuh dengan nasi. “Iya. Lo tuh bukan lagi nge harepin dia jadi punya lo, lo tuh lagi nge harepin diri lo sendiri bisa lepas. Dua hal itu beda loh.”
Aku menaruh sendok ku, menatap kedua nya bergantian. Kadang aku heran, kenapa manusia bisa se-pintar itu kalau soal hidup orang lain.
“Kalau gua ngomong terus dia jadi risih gimana? Kalau abis itu dia gak mau ketemu gua lagi gimana? Empat belas tahun loh, Fit. Gua gak punya cadangan sahabat.” Ucap ku.
“Ya berarti selama ini lo bukan takut di tolak, lo takut kehilangan.” Jawab Fita, dan kalimat itu nempel di kepala ku sampai berhari-hari setelahnya, seperti lagu yang tidak sengaja terdengar di minimarket lalu terus terbawa pulang.
Sisa nya kami makan sambil membahas hal lain, gosip mutasi, atasan yang katanya mau pindah, harga sepatu yang naik gila-gilaan. Tapi aku tahu, kami bertiga sedang sama-sama pura-pura tidak sedang membahas satu-satunya hal yang penting.
*****
Hari kesepuluh, aku bertemu Lulu di lift.
Cuma kami berdua, dua belas lantai, dan aku tidak tahu harus menaruh mata ku di mana. Lulu tersenyum duluan, dan senyum nya itu yang bikin aku susah membenci nya. Dia sopan, dia manis, dan dia sama sekali tidak salah apa-apa.
“Mbak Aliya dateng ya nanti?” Tanya Lulu.
“Iya, dateng.” Jawab ku.
“Makasih ya mbak, Dean tuh kalau cerita soal mbak Aliya panjang banget, kayak cerita soal saudara nya sendiri.” Ucap Lulu.
Saudara. Lagi-lagi kata itu.
“Iya, kita emang udah kayak saudara.” Jawab ku sembari tersenyum, dan lift berbunyi ting , pintu nya terbuka, dan aku keluar lebih dulu supaya dia tidak sempat melihat wajah ku berubah.
*****
Malam sebelum hari itu, aku tidak bisa tidur.
Aku duduk di balkon apartement, di temani kopi pahit yang entah gelas keberapa. Ponsel ku menyala, room chat dengan Dean terbuka. Aku mengetik.
De, gua mau ngomong sesuatu. Penting.
Aku menatap kalimat itu lama sekali, lalu aku hapus.
De, sebelum lo tunangan, gua mau lo tau kalau
Hapus lagi.
Gua suka sama lo. Udah delapan tahun.
Kursor nya berkedip. Empat kata yang harusnya aku ucapkan delapan tahun lalu, sekarang tinggal satu tombol jaraknya. Satu tombol, dan semuanya berubah. Satu tombol, dan mungkin empat belas tahun persahabatan itu selesai malam ini juga.
Aku menghapusnya, satu huruf demi satu huruf, sampai kolom chat itu kosong lagi.
Bukan karena aku tidak berani. Oke, iya, sebagian karena aku tidak berani. Tapi sebagian nya lagi karena aku sadar satu hal: besok pagi ada satu keluarga yang sudah menyiapkan tenda, ada Eyang Uti yang sudah menjahit kebaya, ada papan bunga warna peach yang aku pilih sendiri. Kalau aku bicara malam ini, aku bukan cuma menghancurkan diri ku sendiri, aku menghancurkan hari orang lain.
Dan aku terlalu sayang sama Dean untuk melakukan itu.
Aku menutup ponsel ku, membiarkan kopi yang tinggal setengah itu mendingin di atas meja balkon. Di dalam lemari, gaun warna sage yang sengaja aku beli minggu lalu sudah tergantung rapih, lengkap dengan sepatu nya. Aku bahkan sudah menyiapkan alasan kalau nanti ada yang bertanya kenapa aku datang sendirian.
Kalau di hitung pakai kalender, dua minggu itu cuma empat belas kotak kecil. Besok, kotak terakhir nya akan aku coret.
Selamat, De. Semoga lo bahagia.
Gua yang gak.