Aliya turun ke kafetaria jam setengah satu, memesan soto ayam, lalu duduk di meja pojok yang paling jauh dari pintu. Ia sengaja memilih tempat itu supaya bisa makan dengan tenang, dan seperti biasa, rencana nya gagal dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Kursi di seberang nya di tarik, lalu ada seseorang yang duduk tanpa permisi.
“Tadi pagi lo di anter siapa?” Tanya Dean.
Aliya tidak mengangkat kepala nya. Ia menyendok kuah, meniup nya, lalu memasukkan nya ke mulut sebelum menjawab.
“Lo tau sendiri kan jawaban nya, kalau nggak, lo gak bakal nanya.”
“Gua mau denger dari lo.” Ucap Dean.
“Gellar.” Jawab Aliya.
Dean mengangguk pelan, lalu menyandarkan punggung nya ke kursi. Wajah nya tidak marah, dan justru itu yang membuat Aliya jadi tidak enak. Kalau Dean marah, Aliya tahu harus bagaimana. Empat belas tahun ia hafal cara meredakan orang itu kalau sedang meledak. Tapi Dean yang diam adalah versi yang tidak pernah Aliya kuasai.
“Dari rumah lo?” Tanya Dean.
“Dia sarapan di rumah gua tadi pagi.” Jawab Aliya.
“Sarapan.” Ulang Dean.
“Iya, sarapan. Sama nyokap bokap gua. Di meja makan, pakai roti, bukan di gua sembunyiin di kolong meja.” Ucap Aliya.
“Gua gak bilang gitu.”
“Tapi muka lo bilang gitu.”
Dean mengusap wajah nya, gerakan yang sudah Aliya hafal sampai ke hitungan detik nya.
“Al, gua cuma kaget. Lo tuh biasanya cerita apa aja ke gua. Sekarang lo di anter orang ke kantor, dan gua tau nya dari anak-anak yang ngerumpi di depan lift.” Ucap Dean.
“Terus gua harus lapor gitu? Pagi De, hari ini gua di anter calon suami gua, mohon di catat .” Balas Aliya.
“Bukan lapor. Cerita.”
“Ya lo juga gak pernah cerita.” Ucap Aliya, dan kali ini sendok nya ia taruh di mangkuk agak keras. “Lo tau gak, sampai sekarang gua masih gak tau kenapa lo ngelarang gua deket-deket sama dia. Setahun lebih lo simpen itu. Gua tanya baik-baik, lo bilang bukan cerita gua . Dan sekarang lo minta gua cerita?”
Dean tidak menjawab.
“Nah kan.” Ucap Aliya.
Hening. Di meja sebelah ada dua orang yang tertawa keras, dan suara itu terdengar aneh sekali di tengah situasi mereka.
“Gua bakal cerita.” Ucap Dean akhirnya.
“Kapan?”
“Nanti.”
Aliya tertawa, tawa yang tidak ada isi nya. “Nanti. Kata favorit lo dari dulu ya.”
Dean membuka mulut nya, tapi Aliya sudah lebih dulu berdiri, mengambil nampan nya walaupun soto nya masih tersisa setengah.
“Al.” Panggil Dean.
“Gua masih ada kerjaan.” Jawab Aliya tanpa menoleh.
*****
Ia kembali ke ruangan nya dengan perut yang setengah kosong dan kepala yang penuh sekali.
Dan tentu saja, di depan pintu sudah menunggu dua orang yang paling tidak Aliya butuhkan siang itu.
“AL.” Ucap Lily.
“Gua gak mau denger.”
“Lo bahkan belum tau gua mau ngomong apa.” Ucap Lily sembari mendorong masuk, di ikuti Fita yang membawa dua es kopi.
“Lo mau ngomongin mobil hitam.”
“Ya kan.” Ucap Fita sembari menaruh satu gelas di meja Aliya. “Al, anak-anak di bawah tuh udah bikin teori macem-macem. Ada yang bilang lo di anter nasabah, ada yang bilang lo dapet dinas, ada yang bilang itu mobil kantor pusat.”
“Terus lo berdua bilang apa?”
“Gua bilang gak tau.” Jawab Lily. “Bohong sih, tapi gua bilang gak tau.”
Aliya menghela napas panjang, lalu menjatuhkan diri di kursi kerja nya.
“Nanti malam gua makan malam di rumah dia.” Ucap Aliya pelan.
Fita dan Lily langsung saling pandang.
“Sama orang tua nya?” Tanya Fita.
“Iya.”
“Berdua doang sama dia?”
“Iya.”
“Anjir.” Ucap Lily. “Al, itu tuh udah bukan kenalan lagi. Itu udah masuk babak berikutnya.”
“Ya gua tau.” Jawab Aliya sembari menutup wajah nya dengan kedua telapak tangan.
“Lo takut?” Tanya Fita.
Aliya diam agak lama sebelum menjawab.
“Bukan takut. Gua cuma... aneh aja.” Ucap Aliya. “Gua tuh dari dulu ngebayangin momen kayak gini bakal ada di rumah yang beda, sama orang yang beda. Sekarang tiba-tiba semuanya jalan, dan gua kayak ikut aja gitu, kayak penumpang.”
Fita duduk di ujung meja, menepuk pundak Aliya sekali.
“Al, lo tuh bukan penumpang. Lo yang bilang iya waktu itu.” Ucap Fita. “Yang bikin lo ngerasa kayak penumpang itu bukan perjodohan nya, tapi karena sampai sekarang lo masih nengok ke belakang.”
Aliya tidak menjawab. Kadang Fita bisa jadi orang yang paling menyebalkan justru pada saat perempuan itu sedang benar.
“Terus lo mau gua bilang apa?” Tanya Aliya akhirnya.
“Gak usah bilang apa-apa ke gua. Bilang nya ke diri lo sendiri.” Ucap Fita. “Al, gua kenal lo dari lo masuk sini. Lo tuh orang paling tegas di ruangan ini kalau soal kerjaan. Angka salah dikit lo omelin. Tapi kalau soal perasaan, lo tuh paling suka nunggu orang lain yang mutusin.”
“Sekarang gua di suruh mutusin apa?”
“Mutusin lo mau bawa siapa ke meja makan nanti malam.” Jawab Fita. “Badan lo bakal duduk di sana, itu pasti. Pertanyaan nya, kepala lo mau ikut atau nggak.”
Lily bertepuk tangan pelan. “Anjir, dalem.”
“Diem lo.” Ucap Fita.
Aliya tertawa, dan untuk beberapa detik ruangan itu terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
*****
Sore nya berjalan lambat sekali.
Aliya menyelesaikan dua berkas, membalas belasan surat elektronik, dan menandatangani entah berapa lembar yang di sodorkan Nana. Tapi setiap kali ia melirik jam di pojok layar, angka nya seperti tidak bergerak sama sekali.
Jam tiga.
Jam empat.
Jam empat lewat dua puluh.
Ponsel nya menyala.
Nanti saya jemput di lobby. Jam enam.
Aliya membalas dengan satu kata, iya, lalu menaruh ponsel nya lagi. Lima menit kemudian ia mengambil nya lagi, membuka kembali room chat itu, dan mengetik.
Mas, orang tua mas suka nya apa ya? Aku mau bawa sesuatu.
Kali ini balasan nya datang cepat.
Gak usah repot.
Aku udah bilang aku mau bawa.
Kalau gitu bawa bolu. Papa saya suka.
Aliya tersenyum sendiri sembari mengetik terima kasih, lalu langsung membuka aplikasi pesan antar dan mencari toko kue yang bisa mengirim ke kantor sebelum jam lima. Ia sampai membandingkan tiga toko sekaligus, membaca ulasan nya satu per satu, seperti orang yang sedang mengambil keputusan penting dan bukan sedang membeli bolu.
Kue nya sampai jam lima kurang sepuluh, di antar sampai ke lobby, dan Aliya harus turun sendiri untuk mengambilnya karena resepsionis nya sedang tidak ada di tempat.
Ketika ia kembali ke atas dengan kotak bolu di tangan, jam sudah menunjukkan pukul lima lewat dua puluh, dan barulah Aliya sadar bahwa ia masih memakai kemeja kerja nya yang sudah kusut sejak siang, bahwa paper bag berisi baju ganti nya masih tergeletak di atas kursi tamu, bahwa rambut nya masih di ikat asal-asalan, dan bahwa ia punya waktu kurang dari empat puluh menit sebelum seseorang berdiri menunggu di lobby.
“Ya Allah.” Desis Aliya.
Ia langsung menarik laci meja nya, memasukkan berkas yang berserakan tanpa di urutkan, mematikan laptop nya tanpa menutup aplikasi satu per satu, dan menyambar paper bag serta kotak bolu nya sekaligus sampai hampir menjatuhkan gelas es kopi yang di tinggalkan Fita tadi siang.
Di luar ruangan, orang-orang masih duduk santai di meja masing-masing. Jam pulang memang belum benar-benar datang, dan sebagian dari mereka bahkan baru mulai membereskan pekerjaan.
Aliya berjalan cepat ke arah kursi nya, meraih sepatu ganti nya dari bawah meja, dan mulai melepas sepatu kerja nya sembari berdiri, gerakan yang jelas terlihat aneh bagi siapa pun yang kebetulan lewat.
Dan tentu saja, ada yang kebetulan lewat.