Ice cream nya sudah mencair setengah ketika aku sadar bahwa sejak tadi aku sama sekali tidak menyentuhnya. Aku cuma memutar-mutar sendok plastik kecil itu di dalam cup, sementara di dalam sana, di ruang tamu yang di penuhi kursi dan kipas angin berdiri, Dean sedang tertawa bersama keluarga Lulu.
“Lo gak di makan?” Tanya Gellar.
“Di makan kok.” Jawab ku, lalu buru-buru menyendok satu suap besar sampai kepala ku sendiri nyut-nyutan karena dingin.
Gellar tertawa pelan. “Gak ada yang ngejar juga.”
Kami berdua duduk di kursi plastik yang di taruh agak jauh dari tenda utama, di bawah pohon mangga yang daun nya sudah setengah botak. Dari tempat itu aku masih bisa melihat semuanya, tapi tidak ada satu pun orang yang bisa melihat wajah ku dengan jelas. Aku suka posisi yang seperti itu. Sudut yang aman.
“Lo temen kantor nya Dean ya?” Tanya Gellar lagi.
“Sahabat nya. Dari SMP.” Jawab ku.
“Oh. Yang katanya udah kayak saudara sendiri itu?”
“Kok lo tau?”
“Dean sering cerita.” Jawab Gellar sembari mengangkat bahu nya. Aku mengangguk pelan. Lucu ya, dua orang yang belum pernah bertemu seumur hidup ternyata sudah saling tahu, cuma karena satu nama yang sama-sama mereka kenal.
*****
Acara nya selesai sekitar jam dua siang. Orang-orang mulai berdiri, mengantri untuk foto bersama, sebagian lagi sibuk membungkus makanan. Mbak Dewi menghampiri ku dengan Shiren yang sudah tertidur di gendongan nya, wajah nya sudah kusut sejak insiden di jalan tadi.
“Al, gua duluan ya. Shiren nya udah gak bisa di ajak kompromi. Lo pulang sama siapa?” Tanya Mbak Dewi.
“Gua nebeng orang aja mbak, santai.” Jawab ku.
Mbak Dewi menatap ku agak lama, tatapan yang artinya lo yakin gak apa-apa, dan aku cuma tersenyum sampai dia menyerah dan pergi. Setelah mobil nya keluar dari gang, barulah aku sadar bahwa aku baru saja kehilangan satu-satunya tumpangan pulang.
Belum sempat aku memikirkan solusinya, satu tangan menarik lengan ku dari belakang.
“Ikut gua bentar.” Ucap Dean.
Dia menarik ku sampai ke samping rumah Lulu, ke tempat yang cuma ada dua ember dan satu selang air. Wajah nya tidak seperti orang yang baru saja bertunangan. Wajah nya justru seperti orang yang baru saja kehilangan dompet.
“Kenapa sih?” Tanya ku.
“Lo tadi ngapain sama Gellar?” Tanya nya balik.
“Makan es krim. Emang kenapa? Dia yang nawarin.” Jawab ku.
“Lo kenal dia dari mana?”
“Ya dari tadi lah. Dia nebeng mobil nya mbak Dewi terus nyetirin kita ke sini.” Jawab ku sembari melipat tangan. “Kenapa sih De? Muka lo jelek banget kalau lagi curiga gitu.”
Dean menarik napas panjang, matanya menatap ke arah tenda, memastikan tidak ada yang mendengar. “Al, gua minta satu hal. Jangan deket-deket sama dia.”
Aku mengerjap. “Hah?”
“Jangan deket-deket sama Gellar.” Ulang nya, kali ini lebih pelan tapi lebih tegas.
“Kenapa? Dia jahat? Dia penipu? Dia buronan? Lo kasih alasan dong, masa main larang doang.” Ucap ku.
“Pokoknya jangan.” Jawab Dean.
“Ini hari pertunangan lo loh De, dan lo ngabisin waktu buat ngurusin gua mau temenan sama siapa?” Ucap ku, dan entah kenapa suara ku jadi lebih tinggi dari yang aku rencanakan. Dean diam, rahang nya mengeras, dan detik itu juga ada seseorang memanggil nama nya dari arah tenda, meminta dia kembali untuk sesi foto keluarga.
“Nanti gua jelasin.” Ucap Dean sebelum pergi.
Nanti. Kata favorit kami berdua sepertinya.
*****
Aku sempat masuk kembali, ikut satu foto bersama teman-teman kantor, menyalami orang tua Dean, mencium tangan Eyang Uti, dan mengucapkan selamat kepada Lulu dengan suara yang aku pastikan tidak bergetar sedikit pun. Setelah itu aku keluar, berdiri di pinggir jalan sembari membuka aplikasi taksi online yang isinya cuma tulisan tidak ada pengemudi di sekitar Anda.
“Butuh tumpangan?” Suara itu datang dari mobil yang berhenti tepat di depan ku. Gellar, dengan kaca jendela yang setengah turun.
“Katanya kunci mobil lo ilang?” Tanya ku.
“Ketemu. Di kantong jas. Malu-maluin emang.” Jawab nya.
Aku ragu sekitar tiga detik. Tiga detik yang isinya wajah Dean dan kalimat jangan deket-deket sama dia. Lalu aku membuka pintu dan masuk.
Ya. Gitu deh. Kalau di larang, manusia biasanya malah penasaran.
*****
Di perjalanan, kami tidak banyak bicara. Sampai di satu perempatan, Gellar tiba-tiba menoleh.
“Lo mau es krim lagi gak?”
“Serius? Tadi kan udah.”
“Yang tadi kan es krim kondangan. Gak berasa.” Jawab nya sembari belok masuk ke pelataran McD tanpa menunggu jawaban ku.
Jadilah aku, dengan gaun sage yang aku beli khusus untuk hari itu, duduk di sebuah gerai McD di pinggir jalan, memegang satu cone es krim seharga delapan ribu rupiah, di temani laki-laki yang baru aku kenal enam jam yang lalu.
“Lo kenapa keluar tadi? Yang beneran.” Tanya Gellar.
“Pusing.” Jawab ku.
“Bohong.”
“Ya terus lo mau gua jawab apa?”
Gellar mengangkat bahu nya. “Gak usah jawab. Gua cuma mau bilang, orang yang beneran pusing gak bakal masih sempet baca papan bunga satu-satu.”
Aku menoleh cepat. Dia tidak menatap ku, dia menatap lurus ke arah jalan, seolah-olah kalimat barusan itu bukan apa-apa. Aku memilih diam. Ada orang yang kalau di jawab malah makin pintar menebak, dan aku sedang tidak punya tenaga untuk itu.
Kami mengobrol hal-hal yang tidak penting sekitar dua puluh menit. Tentang macet, tentang harga bensin, tentang kenapa es krim McD selalu terasa lebih enak dari es krim manapun padahal jelas-jelas isinya sama. Dia tidak bertanya soal Dean lagi, dan aku tidak bertanya soal dia. Sampai ponsel ku bergetar, dan nama Ibu Widya muncul di layar.
“Halo bu? Iya bu. Oh, yang laporan kepatuhan itu ya bu? Iya, iya bisa bu, saya siapkan sekarang. Besok pagi ada di meja ibu.” Ucap ku, sementara Gellar sudah berdiri lebih dulu, membereskan tisu di meja tanpa aku minta.
“Ada kerjaan?” Tanya nya setelah aku menutup telepon.
“Iya. Klasik banget ya, hari minggu tetep di kejar kantor.” Jawab ku.
“Gua anter.”
“Ke apartemen aja, jangan ke rumah. Berkas nya di sana.” Ucap ku.
*****
Gellar menurunkan ku tepat di depan lobby apartement menjelang maghrib. Dia tidak turun, cuma menurunkan kaca dan mengangkat tangan sedikit.
“Duluan ya.” Ucap nya.
“Iya, thanks ya. Hati-hati.” Jawab ku.
Mobil nya menghilang di tikungan, dan baru setelah itu aku sadar bahwa kami tidak bertukar nomor sama sekali. Tidak ada yang bertanya, tidak ada yang menawarkan. Aneh, tapi ya sudahlah, toh dunia nya beda, mungkin tidak akan ketemu lagi.
Malam nya, ketika aku sedang duduk di lantai dengan laptop di pangkuan dan berkas berserakan di sekeliling ku, ponsel ku berdering. Dean.
“Lo di mana?” Tanya nya, tanpa halo, tanpa apa pun.
“Di apart. Ada kerjaan dari bu Widya.” Jawab ku.
“Gua ke rumah lo tadi, kata nyokap lo, lo udah pulang duluan. Kok gak ngabarin gua sih?”
“Ya lo lagi rame-rame nya, masa gua ganggu.” Jawab ku sembari menekan tombol enter di keyboard.
Hening sebentar. Lalu suara nya kembali, lebih pelan.
“Lo pulang sama siapa tadi?”
Aku menahan napas satu detik. “Sendiri.”
“Al.”
“Apa?”
“Yang gua bilang tadi siang, gua serius. Jangan sama dia.” Ucap Dean.
Aku menatap tumpukan berkas di lantai yang belum selesai, lalu menghela napas panjang. Empat belas tahun kenal orang ini, dan baru kali ini aku merasa ada satu ruangan di dalam diri nya yang tidak pernah dia buka untuk ku. Padahal biasanya kami tidak punya rahasia apa-apa, bahkan sampai hal yang paling memalukan sekalipun.
“Iya. Udah ya, gua masih banyak kerjaan. Besok gua berangkat pagi.” Jawab ku, lalu aku matikan telepon nya sebelum dia sempat mengulang larangan yang sama untuk ketiga kalinya hari itu.
Aku kembali menatap layar laptop ku, tapi angka-angka di sana tidak masuk sedikit pun ke kepala. Yang berputar di sana justru dua hal yang sama sekali tidak berhubungan: senyum Dean waktu memasangkan cincin ke jari Lulu, dan satu kalimat dari laki-laki asing di pinggir jalan tadi.
Orang yang beneran pusing gak bakal masih sempet baca papan bunga satu-satu.
Sialan. Kenapa juga harus orang itu yang nyadar.