"Jadi Arzan gak mau diajak nikah sama lo?" Jessica berucap heboh, cukup keras, hingga suaranya memenuhi cafe yang begitu rame siang ini.
Harin, melirikkan matanya ke samping dan betapa malunya saat semua mata kini tertuju pada mereka dengan tatapan tak suka. "Suara kamu brisik banget jess,bagusnya pake toa tau gak,"
Jessica memasang wajah malas, "suara gue emang dari lahir kayak gini, seharusnya mereka mengerti dong, sama ciptaan tuhan kayak gue."
Harin hanya bisa menghela nafas melihat sahabatnya ini. Jessica memang gadis yang suka berisik ketika sedang bicara, dan gadis itu sangat susuah untuk mengontrol dirinya ketika sudah bergosip. Jessica Selalu terlihat antusias jika sedang bercerita apalagi menyangkut cowok, Jessica akan bercerita 24 jam sampai Harin dan Gwen terkadang hanya bisa mendengar tanpa bisa mencerna ucapan gadis berambut ombre biru itu.
"Balik lagi ke topik," Jessica menarik kursinya membuat jarak tubuhnya dengan meja tak tersisa, gadis itu mencondongkan tubuhnya menatap Arin yang sedang mengaduk jus strowberry nya.
"Jadi usulan Gwen kemaren gagal?" tanya Jessica dengan suara di kecilkan.
'Hhh'
Arin menatap Jessica dengan helaan nafas, ia begitu malas, membahas ini. bukankah sudah jelas, Arzan belum mau menikahinya. Dan mungkin impiannya menikah dengan Arzan tidak akan pernah terjadi. Karena Seperti yang terjadi kemarin, saat menemui pria itu. Arin sudah melihat sorot mata Arzan yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan, apalagi saat dirinya menagatakan bahwa ia mengandung anak Arzan. Walau Arin akui itu adalah kebohongan.
"Rin, kok lo diam aja?, Gimana reaksi Arzan kemarin saat lo bilang kalo lo lagi hamil anaknya. Gimana? " tanya jessica begitu penasaran.
Gadis yang tengah menatap keluar jendela kaca yang tebus pandang itu menghela nafas untuk kesekian kalinya. Memandang keluar dimana ia melihat keramaian di luar sana.
"Harin? " panggil Jessica dengan posisi yang sama mendekatkan kepala ke wajah sahabatnya itu.
Arin mendengus, sembari menatap jessica. mengeluarkan sesalnya yang tertahan, mukanya terlihat tak bersemangat, kemudian gadis itu mengalihkan tatapannya pada Jessica yang masih setia menatapnya dengan menunggu. "Dia syok banget, dan ekspresinya kayak gak percaya gitu" Arin berkata santai meraih gelasnya dan menyedot jus strowberry nya itu hampir setengah.
Jessica bertepuk sekali dengan keras, "Parah Rin! Cowok lo kayaknya emang gak serius sama lo, lo harus pastiin sekali lagi rin, gue saranin lo ketemu dia sekarang! " lagi-lagi Jessica berkata dengan suara keras, membuat semua orang merasa terganggu dengan mereka.
"Jess, suara kamu bisa di kecilin dikit gak, malu tau di lihat orang" Arin bersuara kecil, tak berani melihat sekelilingnya. Karena sejak tadi mereka di perhatikan dengan umpatan dan tatapan kesal oleh pengunjung cafe.
"Yaudah maaf deh, tapi gue saranin deh rin. lo bujuk sekali lagi si Zazan. Bilang kalo emang dia gak mau nikahin lo, biar gue langsung konfir ke Galih. Biar Galih aja yang nikahin lo." ucap Jessi seenaknya.
"Ih amit-amit! gak mau. aku maunya sama Arzan. bukan sama cowok gila kayak Galih ihhh, " Arin mengedikkan seluruh badannya merasa geli.
Ya Galih adalah cowok yang suka sama Arin, cowok itu bahkan mengejar Arin sampai pernah mengajak Arin ke pelaminan. Dan tentu saja Arin langsung menolak. Karena saat itu dia tengah berpacaran dengan Arzan. Galih memang tak seperti apa yang di pikirkan Arin. Galih tergolong sebagai cowok yang banyak digilai para cewek di kampusnya. Namun entah mengapa Arin satu-satunya cewek yang sama sekali tidak tertafik pada cowok itu.
Galih punya sisi romantis dan mampu menaklukan hati cewek dengan mudah namun Arin bukan tipe cewek yang ingin di permainkan seperti pacar-pacar Galih sebelumnya. Manis sepah dibuang, seperti itulah anggapan Arin terhadap Galih.
"Mending aku gak nikah selama-lamanya dari pada harus nikah sama Galih, "
Melihat wajah arin yang seperti ingin muntah, membuat Jessi tertawa. "Iya, iya gue hanya bercanda kok. Eh lo mau denger kabar gak? "
"Apa?" arin mengubah ekspresinya menjadi penasaran.
Itu membuat Jessi tersenyum jahil, "Eciee, tadi Amit-amit sekarang penasaran, "
"Ih dasar! Aku kira kamu mau ngomongin apaan. "
"Lo gak mau denger? Ini gosip terpanas loh, " kata Jessi mulai menggoda Arin.
"Nggak! " tolak Arin langsung menggeleng dengan cepat. Meraih gelas jusnya dan menyedot isinya sampai habis.
Jessi tersenyum mendekatkan wajah sambil berbisik, "Galih mutusin pacarnya yang kesepuluh dan itu karena lo Rin, hebatkan lo?"
Arin mempelototkan matanya. Ia cukup terkejut mendengar itu. "Ha? Yang bener Ajeng diputusin. Trus yang kemarin Aku yang lihat, mereka lagi pegangan tangan di kelas, abis itu sampai ciuman lagi. Untung cuman Aku yang liat,"
"Ya mungkin karena ada lo, makanya dia ngajak Ajeng ciuman biar lo Cemburu."
"Ih apa-apaan. Aku sama Sekali gak Cemburu sama dia."
Galih memang masih menyimpan perasaan pada Harin. Cowok itu sudah lama menyukai arin. Namun pesona Arzan lebih membuat Arin memilih cowok itu dari pada Galih yang terlihat mapan dan lebih dewasa.
Terdengar kabar cowok itu habis memutuskan pacarnya yang ke sepuluh dan alasannya karena hatinya masih menyebut nama Arin. Setiap mendengar kalimat itu Arin merasa geli dan ingin muntah.
Untung saja Arzan tidak mengetahui tentang hubungannya dengan cowok gila itu, karena jika cowok itu tau makanya Arzan tidak akan tinggal diam pasti Galuh udah hilang di muka bumi.
"Tapi gak ada salahnya lo buat Arzan Cemburu sekali-sekali, "
"Kamu mau aku sama Arzan putus?" Kali ini suara Arin yang refleks, gadis itu dengan cepat membungkan mulutnya sendiri.
Jessi hanya terkekeh mendengar itu, "Bukan gitu juga maksudnya Rin, selama ini kan lo suka Cemburu sama Arzan kalo dia lagi deket sama cewek, nah sekali-sekali kek, lo buat dia Cemburu, lo coba jalan sama Galih" ujar Jessi dengan muka licik.
Arin menggeleng "nggak, nggak! Aku gak mau. Arzan kalo marah lama sembuhnya."
"Ya kan cuma sekali, itung-itung lo bisa lihat seberapa besar cinta cowok lo" ujar Jessi seakan mencuci otak Arin.
Arin menatap Jessi cukup lama "kalau Arzan marah. Aku boleh lari ke rumah kamu Gak?" tawar Arin sepertinya menyetujui usulan Jessi.
"Rumah gue selalu terbuka buat lo Harin, "
Harin tersenyum "Oke Aku setuju" ucap Arin di barengi senyum.
"Gwen mana sih, kok belum datang?"
Tanya Arin menatap ke luar jendela. "Dia kemana sih?" Arin kembali bertanya pada Jessi yang sednag menggigit roti bakarnya.
"Gak tau coba aja lo telfon, " ujar Jessi kembali menggigit roti bakarnya.
"Males ah," ucap Arin malas
"Ya udah. "
'Arzan kok, gak nelfon aku. Padahal gue kangen suaranya' ucap batin Arin memandang layar ponselnya yang tergeletak di depannya.
Arin menghela nafas, sedangkan Jessi hanya bisa menggeleng pelan melihat keresahan Arin seperti itu. "Kenapa Arzan bisa buat lo sebodoh ini si Rin, mau Sampai kapan lo dijadiin kekasih bayangan sama dia?" tanya Jessi membuang tatapannya ke arah lain.
Arin hanya bisa menunduk. Jessi benar. mau Sampai kapan Arzan menutupi hubunganya dengan Arin?. Arzan jika sudah berada di kampus, cowok itu tidak pernah menganggap Arin gadisnya. Ya, Arzan hanya melakukan itu jika di luar kampus karena menurutnya mengumbar kemesraan bukanlah gayanya. Selama ini mereka hanya menganggap Arin dan Arzan hanya sebatas teman dekat, ya meski mereka sering terlihat mesra di mata mereka.
Arzan pernah berkata ia ingin mencintai Arin tanpa ada yang tau sebesar apa cinta cowok itu untuk kekasihnya. Dan Arin begitu bodohnya selalu mempercayai dan menuruti keinginan Arzan.
Karena bagi Arin mencintai adalah bagaimana dua orang bisa merasakan cinta itu tanpa membaginya dengan orang lain. Jika mereka memperlihatkan kemesraan mereka, sama saja mereka membagi kebahagiaan itu untuk orang lain.
Suasana di dalam cafe siang ini terasa hangat tak terlalu bayak yang datang, karena sejatinya mereka hanya menyempatkan waktu untuk bersantai saat mereka jam kos atau tidak ada mata kuliah.
Alunan musik yang di lantunkan juga menenangkan. Sampai musik terhenti karena para kru panggung tengah menyiapkan alat musik dan menyetel beberapa peralatan musik seperti gitar, piano dan bas. Seorang cowok juga terlihat memberi arahan agar panggung di atur sedemikian rupa.
Semua terlihat antusias saat baru saja pria berpenampilan rapi itu berjalan ke depan panggung dengan mic di tangannya. Ia berdiri di depan para tamu cafenya, cowok itu menyebarkan senyum ceria yang membuat setiap tatapan para gadis belia menjadi tertarik untuk menyaksikan sosok yang di idam-idamkan itu.
"Selamat siang semuanya, gimana nih kabarnya hari ini? "
Cowok itu menyapa dengan senyum yang tak pernah lepas, matanya melihat ke seluruh penjuru cafe. Membuatnya tersenyum saat semua terlihat berseru dan antusias.
"Kevin lo ganteng banget hari ini!"
Teriak seorang cewek tiba-tiba, gadis itu duduk di pojok dekat jendela bersama dengan temannya yang menampakkan wajah masam.
"Makasih makasih, lo juga cantik hari ini, " ucap Kevin melambaikan tangannya pada sosok cantik yang duduk di pojok sana.
"Argghhhh! "
Ruapanya pujian cowok bernama Kevin itu membuat sang cewek berteriak histeris. tak selang berapa lama karena teriakan itu membuat semua orang menyoraki dirinya dengan umpatan tak suka.
"Huuuuuuu!!! "
"Berisik lo jadi cewek! "
"Iya! ganggu aja dari tadi,"
"EH! LO KOK SEWOT SAMA GUE! KENAPA?! LO IRI? "
Cewek yang di tegur langsung berdiri mengebrak meja cafe tak terima dengan ucapan para cewek yang duduk di meja nomor 5 bersampingan dengan mejanya.
"Jadi cewek centil amat, " ucap cewek itu lagi seakan tak mau berhenti mengatai.
"Jess udah, lo sih. Jess, duduk
... " suruh Arin menarik tangan sahabatnya itu.
"Gue gak terima Rin, si Dinda anak Suripto ini, gak bakal berhenti ngehina gue. Rin seharusnya lo marah sama cewek kegatelan ini! Asal lo tau kemaren nih cewek ngajak Arzan jalan. sekarang dia berani ngatain gue cewek centil. Dasar cewek gak tau diri!" sergah Jessica dengan pelototan marah seakan ia tidak terima pada gadis itu.
"Eh lo jangan bawa-bawa nama orang tua dong, " Dinda juga berdiri menghampiri Jessica dengan kedua tangan bertolak pinggang.
Mereka saling menghunuskan tatapan tajam "GUE GAK PEDULI! LO MAU APA HAH?! " Jessica berjalan dan mendorong bahu Dinda dengan kedua tangannya secara tiba-tiba. membuat gadis itu terhuyung dan terjatuh ke lantai.
Dinda meringis berdiri menepuk roknya yang terkena debu lantai. "Resek banget si lo!" Dinda yang tak mau kalah mendorong bahu Jessica, namun Jessi tak akan kalah dengan gadis itu. Jessi melangkah dan mendorong Dinda hingga terjatuh ke lantai kembali. "Aaaah!"
"Makanya jangan cari masalah Sama gue!"
Arin hanya bisa memanyungkan mulutnya dengan tangan. Semua orang sama seperti Arin
Mereka tidak pernah berfikir Jessica yang melihat itu nampak terkejut. Sepertinya keributan itu benar-benar berlanjut, tak mau membuang kesempatan semua penghuni cafe mengeluarkan ponsel dan mulai merekam aksi Jessica dan Dinda.
"Jessica! Dinda! Udah jangan berantem!"
Arin melerai saat Dinda akan membalas dengan mendorong Jessica namun temannya sisil lebih dulu menarik Dinda membuatnya terduduk di kursinya kembali "Udah Din, kalo prof. Suripto tau, lo yang kena marah."
"Jangan mentang-mentang bapak lo Dosen di sini! Gue gak takut! " Jessica rupanya belum bisa mengontrol amarahnya. Bahkan Arin sudah berusaha menarik tangannya dan membuatnya terduduk dengan paksa.
"Rin jangan tahan gue. Gue belum selesai, rasa benci gue besar banget sama nih cewek b*****t!"
"Eh gue udah diam ya Jess, lo jangan mancing gue lagi! dan kalian semua berhenti merekam! " ucap Dinda dengan lantang membaut semua mengurungkan niat untuk kembali merekam dan meng upload kejadian panas yang sedang berlangsung di cafe itu.
Jessica mendengus, sembari memberi senyum miring pada Dinda. Mereka saling menatap tajam.
"Kali ini gue di permalukan sama lo, tapi berikutnya gue yang bakal buat lo malu ingat itu."ucap Dinda penuh penekanan lalu membuang tatapannya.
"Lo bilang apa? Gue gak dengar sama sekali, "
"Jess udah! " peringat Arin mulai emosi melihat Jessica yang masih ingin membuat ulah dengan melempar tissue ke arah Dinda. Untung saja dinda tak mau meladeni.
"Gak usah di lanjutin jess, lo mending duduk tenang habisin roti lo. Lo gak lihat semua ngambil gambar lo sama dinda. Dan mereka pasti udah nge upload di sosmed mereka. Gak ada gunanya juga kan berantem sama musuh di sini," Arin menekan kata musuh. Membuat gadis yang mengatai Jessica tadi memplototi Arin.
Namun Arin tak mau melirik sedikitpun, memilih menatap Jessica dengan tatapan khawatir.
Arin tidak ingin mereka jadi pusat perhatian. Sebenarnya Arin mengajak Jessica dan Gwen ke sini untuk menceritakan
"KAYAKNYA SERU AMAT BERANTEMNYA SAMPAI GUE DI ABAIKAN, GUYS GUE DI SINI BUKAN MAU LIHAT PERTENGKARAN. GUE KESINI KARENA SEBENTAR LAGI KITA KAN KEDATANGAN TAMU SPESIAL..."
Antusias semua pengunjung kafe kembali di depan panggung melihat cowok itu berdiri dengan sebelah tangan memegang mic. Sebelah tangannya di masukkan di saku celananya. Senyum yang memperlihatkan lesung pipinya itu membuat semua gadis yang berada di cafe menjadi terpekik karena kegantengannya itu.
"KELIAHATANNYA PADA PENGEN TAU SIAPA ORANGNYA KAN? OKE KALAU GITU SEMUANYA TENANG DONG, JAGANGAN ADA YANG BERANTEM LAGI. KALAU KALIAN MAU BERANTEM JANGAN DI SINI OKE? TAPI KALAU KALIAN MASIH MAU LANJUT JANGAN DI SINI. INI CAFE GUE BUKAN ARENA TINJU"
kevin terkekeh memperhangat suasana.
"OKE KALAU GITU LANGSUNG AJA. INI DIA PERSEMBAHAN DARI COWOK SPESIAL BUAT KALIAN SEMUAAAA! "
Kevin menoleh ke arah panggung di mana panggung itu tertutup tirai hitam. Kevin berlalu saat tirai mulai terbuka
Semuanya terlihat menunggu penasaran siapa cowok yang di maksud Kevin, hingga suara tepuk kan dan teriak kan mengisi suasana cafe bersamaan dengan seorang cowok yang naik menenteng gitar ke atas panggung. Cowok itu melemparkan senyum manis, tatapan sendu mematikan yang selalu membuat para gadis hampir pingsan.
Cowok itu begitu tampan hanya mengenakan kaos putih bermerek Guess dengan celana jeans panjangnya. Rambut yang bahkan acak-acakkan membuatnya terlihat tampan. Senyum tipisnya mulai terbentuk saat Matanya menatap pada satu Titik tertentu. Membuat degup jantungnya bertambah lebih cepat.
Cowok itu berjalan ke arah kursi dan mendudukinya. Mulai menyetel gitar sedangkan tatapannya melihat ke arah cewek yang duduk di pojok cafe tepat di samping pintu cafe.
Tatapannya tak lepas memandangi sosok cewek bersurai coklat itu dengan senyum bahagia. gadisnya siang ini begitu cantik dengan balutan dress sederhana. Rambutnya dipilin setengah. ia tidak sabar menghampiri gadis itu dan mencium keningnya sebagai tanda bahwa gadis itu adalah miliknya. Gadis juga sedang menatapnya dengan tatapan ekspresi terkejut.
Dinda tersenyum menatap Arzan di atas panggung. Cowok itu melihat ke arahnya membut dinda rasanya ingin gila, apalagi saat Arzan mulai memetik gitar.
Membuat alunan musik akustik itu terdengar di dalam cafe bernuansa putih biru menjadi tenang saat suara merdu cowok itu terdengar melantunkan sebuah lagu -perfect- Ed Sheeran.
Sepanjang lagu semunya terdiam menikmati lagu yang di bawakan Arzan. Suara Arzan yang terdengar berat bahkan hampir menyerupau suara aslinya.
Dinda tersenyum geer. Merasa dirinya lah yang ditatap oleh Arzan. Ia terus membalas senyum itu. Tanpa tau ada seorang gadis yang sudah berdiri di belakang dengan ekspresi yan sulit diartikan. Ia menatap Arzan cukup lama kemudian ia berlari keluar cafe dengan hati yang teramat sakit.
"Arin lo mau kemana?, Rin! Tunguuin gue!"
Seketika Arzan berhenti bernyanyi. Melepas tali gitar yang mengalung di lehernya. Cowok itu buru-buru turun dari panggung dan berlari keluar Cafe untuk mengejar Arin namun cowok itu terhenti saat seorang cewek menarik lengannya. Arzan berhenti dan menoleh mendapati Dinda memeluk lengannya .
"Zan, lo mau kemana sih, di sini aja"
Arsan merasakan kepalanya panas, Atin sudah menjauh dan bahkan sudah pergi dengan menahan taksi.
"Lepasin Nda, gue mau pergi,"
"Kamu mau kemana sih? " tanya Dinda mulai kesal.
"Gue mau ngejar cewek gue. Puas!?" ucap Arzan dengan nada lantang. Membuat semua orang yang berada di dalam cafe mendengarnya.
"Cewek? Maksud kamu A-rin?. Arin cewek lo?" tanya Dinda menatap Arzan tidak percaya.
"Iya! Cewek yang sebentar lagi jadi istri gue! " ucapnya dengan mata memerah karena emosi.
Selanjutnya cowok itu melepas tangan Dinda dan pergi begitu saja. Meninggalkan Dinda yang terpaku di menatapnya depan cafe.