Line!!!
Zzan❤
Di mna syg?
Di hati kamu?
Aku nanya tempatnya :)
Kmu udh plng kn?
Ih gk tw org pengen mesra" aj!
Kta gk pernah chat"an mesra tau
Peka dung!
Pasti si gwen yg ngusulin
Tai kuda tuh anak!
Kmu jgn srg" deket dia bisa?
What za!?
Kamu minta aku jauhin gwen?
Gak juga :)
Gila sih tuh anak
Takutnya kamu ketularan syg.
Jngn dekat" ya sygq?
Iya!
Aku gk akn deket" kmu lagi!
Asal kamu tau zan, gwen itu sahabatku bahkan udah aku anggap saudara!
Kita putus za!
Bye?
What?
Syng :(
Hei.
Bukan itu mksud aku
Mksdnya si gwen bukan aku,
Gmna sih yang, main putus aja!
Aku cium nih!
Syg? :(
Read.
"Bangsaaaaat!" gerutu Harin dalam hati.
Harin melempar ponselnya begitu saja di atas kasur. Detik berikutnya gadis itu menghempas tubuh nya menjadi terlentang di atas kasur, helaan nafas lolos begitu saja dari bibir seksinya. sejenak ia memejam mata, mengistrahatkan pikirannya. Ia butuh ketenangan sebelum kembali memikirkan masalah-masalah lain di hidupnya.
Harin bingung sendiri dengan sikapnya akhir-akhir ini, ia selalu saja meributkan hal-hal yang semestinya tidak harus diributkan. Harin seakan merasa Arsan selalu membuatnya marah tidak jelas entah itu alasan apa harin merasa Arzan tak pernah memperdulikan perasaanya. Selain itu Arzan berlagak tidak bersalah dan mengabaikan kemarahan Harin. bukannya tidak percaya Arzan mencintainya, tapi hati Harin selalu mendadak gelisah ketika cowok itu selalu bungkam jika di tanya tentang hubungan mereka yang mulus-mulus saja 3 tahun terakhir ini. Hambar menurut Arin sendiri.
Mungkin itu sebabnya Arin mencoba menyinggung soal pernikahan pada Arzan dua hari yang lalu. Sebenarnya Arin juga belum siap menikah dengan cowok itu, tentu saja menikah di usianya yang masih muda itu tidak baik, belum lagi arin punya impian sendiri untuk kuliah S2 di luar negri. dan mereka sudah sepakat dengan keputusan akan menikah setelah sukses masing-masing. Arin tau sendiri apa yang ia perbuat itu tidak akan mengubah Arzan yang selalu menyembunyikan masalalunya padanya. Tapi harin terlalu sering untuk menghargai keputusan cowok itu, Arin merasa tidak pernah dianggap!.
Posel harin berbunyi tepat di atas kepalanya dan dengan malas, gadis itu berbalik dengan posisi tengkurap untuk menerima telfonnya.
"Halo Gwen! " harin menempel ponsel ditelinganya lalu merubah posisinya berbaring.
Tidak lama suara gwen terdengar sangat keras, "GILA!! LO PULANG GAK NELFON GUE! LO TAU GUE SAMPAI CAPEK BOLAK-BALIK PARKIRAN HANYA GUE KIRA, LO MASIH DI KAMPUS!!"
harin menjauhkan poselnya, meringis karena suara gwen yang hampir membuatnya tuli, "Gwen telinga aku bisa tuli!" kata harin merenggut kesal, bibirnya mengerut.
"Biarin, siapa suruh gak ngangkat telfon gue!"
"Ya... Maaf, "
"Maaf.... Maaf. lo kira gue gak khawatir apa, sampai mikir lo diculik sama orang jahat, "
"Aku bukan anak kecil Gwen... Lagian aku bisa pulang sendiri tanpa kamu anter, "
"Ya.. Iya tapi gue kasian sama lo, tadi siang lo muntah-muntah, "
"Aku baik-baik aja kok, itu tadi karena telat sarapan aja. Sekarang kamu dimana? "
Suara kendaraan disekitar gwen terdengar ribut, "Di jalan pulang, macet nih di lampu merah, "
"Ohh.. " harin beroriah sambil mangguk-mangguk. "Hati-hati gwen, tadi aku sama galih juga kena macet, " kata harin dengan nada lirih, Tangannya sibuk memutar-mutar ujung selimut.
"Ha!!! Bentar bentar. Lo bareng galih? " suara gwen seperti terkejut.
"Tadi galih gak sengaja liat aku nunggu taksi, Zazan juga gk bisa jemput, jadi gak papa deh sekali-kali terima tawaran dia, "
Harin mengerut alis ketika mendengar suara gwen yang tertawa keras, " kenapa ketawa? " tanya harin sangat polos.
"Ya lucu aja. Bisanya lo kalo liat muka galih bawaannya pengen muntah. Lah sekarang? Eh cieeee!!"
"Cie... Cie... Gigimu, aku sama galih gak ada apa-apa tau, itu cuma kebetulan aja, "
"Iyain deh, trus arzannya mana?. Eh ini gw udah jalan Alhamdulillah" kata gwen mengucap syukur setelah berjam-jam mobilnya terjebak macet.
"Arzannya gak bisa jemput, dia lagi bantuin temennya di caffe, "
"Ohh...eh Rin, udah dulu ya, gw lagi nyetir nih. Jadi gak fokus kalo ngomong sama lo, bawaannya pengen nabrak, "
"Asem kentut tikus!"
Gwen tertawa keras sebelum pada akhirnya Harin menekan kesal tombol merah.
"Huffhhh" dengus harin melipat kedua tangannya didada.
Harin diam menatap langit-langit kamarnya, gadis itu terus memikirkan Arzan yang tak kunjung menolfon. Apa cowok itu tidak mengerti Hatin sedang marah dan ingin di bujuk oleh kekasihnya. Harin merubah posisinya mengahadap kesamping, kini mata bulatnya memandang tirai kamarnya. Tirai putih itu melambai-lambai seprti hatinya.
Tok... Tok.... Tok...
"Neng Arin! Ada Den Arzan nyariin neng! " panggil pembantunya dari luar.
Harin tiba-tiba bangkit menatap pintu kamarnya, "bilangin Arin lagi males ketemu, " Harin balas berterteriak, "Males ketemu dia, " lirihnya mendengus kesal.
"Tapi kasian Den Arzan udah nunggu dari tadi. "
"Apa!!! "
Harin bangun tiba-tiba kepalanya menoleh menatap pintu kamarnya yang di buka, wanita paru baya menongolkan kepalanya sambil tersenyum kecut.
"Den Arzan udah sejam lo di bawah, saya kasian dia nunggu dari tadi,"
Dari tadi? Arzan menunggunya. tapi kenapa cowok itu tidak menelfon? Harin semakin kesal dengan sikap cowok itu.