Seperti apa yang diucapkan oleh penyiar radio tadi, hari valentine memang terjadi sebentar lagi. Sekitar satu minggu dari hari ini.
Dan itu sudah cukup untuk Dion mempersiapkan semuanya, sebisa mungkin ia akan membuat pada hari itu adalah hari yang paling berkesan sekali.
"Kita ke rumah aku aja dulu ya," ucap Dion, yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Keysa.
"Memang harusnya juga pulang ke rumah kamu dulu kali, Mas. Eh, orang tua kamu itu ternyata nggak nyariin kamu ya?" jawab Keysa, dan berlanjut diberi pertanyaan pada akhir kalimatnya itu.
"Kan udah aku bilang sebelumnya, kalau orang tua aku itu enggak mungkin bakal nyariin aku. Apalagi, mereka itu tahu kalau aku perginya sama kamu," sahut Dion, lalu membelokkan kendaraannya itu.
Mengikuti rute jalan, yang akan membawa mereka hingga menuju ke rumah milik Dion.
Sebenarnya, perjalanan hari ini cukup membuat kedua orang itu merasa sangat kelelahan, tetapi karena adanya sang kekasih yang di samping.
Membuat rasa lelah itu langsung menghilang, entah pergi ke mana. Hanya saja, masih tersisa rasa kantuk yang sepertinya cukup susah untuk diajak kompromi.
Dan setelah beberapa menit mereka lalui, dengan menyanyi tidak jelas secara bersama-sama, mengikuti lagu yang diputar dai dalam radio.
Kini, kendaraan roda empat yang dibawa oleh Dion pun sampai juga di halaman rumah milik Keysa.
"Fiuh! Akhirnya sampai juga ya, Mas," ucap Keysa, dengan raut wajah yang terlihat sangat senang sekali.
"Ih, mukanya keliatan seneng banget. Udah kangen sama mama aku?" tanya Dion, kedua mata laki-laki itu langsung disipitkan, dan juga menatap Keysa penuh curiga.
"Eum ... ya, bisa jadi aku kangen sama mama kamu, tapi keknya lebih tepat kalau aku itu udah capek banget. Hehe," sahut Keysa, lalu mengeluarkan cengiran andalannya itu.
Tangan kiri Dion bergerak untuk mengusap pelan puncak kepala Keysa, lalu berucap, "Ya ampun, ya udah abis ini langsung masuk ke dalam kamar aja. Terus istirahat."
Namun, Keysa justru langsung menggelengkan kepala dan menjawab, "Kalau aku itu langsung istirahat, terus pasti enggak bakal enak lah sama keluarga kamu, Mas."
"Santai aja, keluarga aku enggak ada yang jahat kok, apalagi ngeliat calon keluarganya lagi kecapean kek gitu," sahut Dion, dan langsung mengulas senyum.
"Udah yuk turun aja! Daripada bahas kek ginian, lebih baik langsung dilaksanakan aja," ajak Dion, dengan tangan kanan yang langsung bergerak untuk membuka pintu mobil tersebut.
Keysa juga melakukan hal yang sama, ia segera membuka pintu mobil tersebut, dan mereka pun masuk ke dalam rumah secara bersamaan.
"Loh, kok keadaannya udah sepi banget sih, Mas?" tanya Keysa, dengan raut wajah yang penuh dengan tanda tanya.
"Ya, mungkin karena acaranya emang udah selesai, atau mungkin juga semuanya itu masih stay di rooftop," jawab Dion, setelah kedua bahu miliknya terangkat.
Tak ada sahutan apa pun yang keluar dari mulut Keysa, membuat Dion memutuskan untuk kembali berucap, "Ya udah, kalau gitu kamu langsung masuk ke dalam kamar itu aja, gih!"
"Kamu sendiri mau ke mana?" tanya Keysa, seraya menatap wajah kekasihnya itu.
"Aku? Itu, mau ke rooftop. Siapa tahu mereka ada di sana," jawab Dion, dengan tangan yang mengusap lembut kepala Keysa.
"Loh, kalau kamu ke rooftop. Masa iya aku langsung masuk ke dalam kamar? Ya enggaklah, yuk kita ke situ sama-sama!" ajak Keysa, dan tanpa meminta persetujuan sama sekali perempuan tersebut langsung meraih pergelangan tangan Dion.
Melangkahkan kaki segera untuk menaiki tangga, yang menghubungkan hingga tiba di rooftop. "Dasar keras kepala!"
"Dih, bukan keras kepala kali! Tapi emang ngerasa enggak enak aja gitu, udah ah bahas kek gini terus. Bosen," jawab Keysa, dan di akhir kalimat, perempuan itu langsung menggerakkan tangan kanan untuk mengibas tepat di depan wajah.
Dion hanya menganggukkan kepala, lalu tangan kanan yang tadi digenggam oleh Keysa, kini berpindah dan beralih menjadi merangkul pundak sang kekasih.
"Eh, kok masih sepi aja ya?" gumam Dion, dengan nada yang bertanya-tanya.
"Nah, kan. Keysa juga enggak tahu sama sekali, apa ditelepon aja kali, ya?" usul Keysa, dan tanpa menunggu persetujuan sama sekali. Ia langsung merogoh kantong celana, untuk meraih ponsel.
Mencari nomor telepon sang calon mertua, lalu segera menekan tombol telepon, dan ponsel tersebut segera didekatkan di samping telinga.
"Yah, enggak diangkat, Mas," ucap Keysa, raut wajahnya langsung menunjukkan jika perempuan tersebut tengah bingung.
"Ya udah, gimana kalau kita aja yang ngerayain pesta ini? Lumayan juga, kan, masih ada hawa pesta gitu," usul Dion, diiringi dengan tawa kecil.
Dengan sangat semangat sekali, Keysa langsung menganggukkan kepala, dan menjawab, "Boleh, yuk!"
Mereka pun segera melanjutkan langkah kaki yang tadinya terhenti, lalu mendekat ke arah kue ulang tahun yang masih tertutup dengan sangat rapi.
"Loh, ini juga masih bener, Mas?" tanya Keysa, dengan tatapan bertanya-tanya.
"Mungkin Mama itu emang sengaja buat kue ulang tahun ini enggak dimakan, supaya kita berdua bisa ngerayain?" sahut Dion, tetapi di dalam nada bicara laki-laki itu tersirat keraguan.
"Sok tau kamu, Mas!" Namun, setelah berucap seperti itu, Keysa justru membuka tutup kue yang berada di atas meja, dan perempuan itu ternyata menemukan satu lembar kertas berisi tulisan.
Membaca terlebih dulu isi dari surat tersebut, sebelum akhirnya berucap, "Mas, bener dugaan kamu tadi!"
Dion yang sama sekali tak mengerti pun hanya mengernyitkan dahinya saja, lalu menggerakkan kedua kakinya untuk mendekat ke arah Keysa.
"Nih, baca sendiri aja ya, Mas," ucap Keysa, dengan tangan kanan yang menyerahkan surat tersebut.
Tanpa jawaban apa pun, Dion pun langsung menerima surat tersebut, lalu membaca isinya dengan sangat pelan dan juga teliti.
"Selamat ulang tahun, Sayang!" seru Keysa, saat Dion baru saja membalikkan tubuhnya. Berniat untuk mengajak Keysa untuk berbicara lagi.
Tak ada kata-kata apa pun yang keluar dari mulut, bahkan yang dilakukan oleh Dion hanyalah menggelengkan kepala saja.
"Mas, minta doa dulu dong, atau bahasa gaulnya itu make a wish!" titah Keysa, seraya mengulas senyum dengan sangat lebar sekali.
Ternyata apa yang baru saja diucapkan oleh Keysa itu, langsung dilaksanakan laki-laki tersebut.
Dion memejamkan matanya terlebih dulu, mulutnya tidak bergerak sama sekali, tetapi hatinya saja yang berucap dan mengutarakan semuanya.
Membuka kedua mata, itu adalah pertanda jika apa yang diinginkan oleh Dion itu selesai. Perlahan, meniup api yang berada di lilin, di atas kue tersebut.
"Terima kasih banyak ya, Sayang," ungkap Dion, lalu mengecup singkat puncak kepala Keysa. Tentu saja dengan penuh kasih sayang sekali.