Tidak terlalu susah untuk menemukan kontak milik keluarga Keysa, karena saat Dion membuka aplikasi w******p, yang berada di urutan paling atas adalah nomor milik adik Keysa.
Dengan segera Dion meraih kertas dan juga bolpoin. Mobil milik laki-laki itu memang sangat lengkap, dengan fasilitas yang juga beragam.
Setelah hatinya tenang, kini Dion memutuskan untuk mengirimi Keysa pesan, tetapi tentu saja Dion tidak mengirim pesan pada ponsel Keysa. Melainkan pada ponselnya sendiri.
Pesan tersebut berisi tentang dirinya yang tidak bisa menunggu Keysa di dalam mobil terus-terusan. Sehingga, jika memang Keysa sudah selesai dengan proses pembelajaran, silahkan memberitahu dirinya melalui w******p.
Entah akan mendapat balasan atau tidak, Dion sama sekali tidak peduli akan hal itu. Ia lebih memilih untuk segera pergi dari parkiran kampus tersebut.
Tujuan dari Dion adalah menuju ke kantor, dan yang paling utama bukanlah tentang kerjaan yang ada di kantor, tetapi ingin segera menelepon adik dari Keysa menggunakan telepon kantor.
Di dalam hati Dion, ia tak henti-hentinya untuk berharap. Supaya nanti adik dari Keysa itu dapat berkompromi dengan dirinya, perihal tentang rencana renovasi rumah tersebut.
Menuju ke kantor yang ia kelola, tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, kaena memang jalan raya tidak terlalu ramai seperti biasanya. Sehingga Dion bisa dengan segera menambah kecepatan.
Sesampainya di kantor, sesuai dengan rencana tadi yang pertama kali, Dion langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangannya itu dan duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Meraih telepon yang berada di atas meja, mengetikkan nomor telepon milik adik dari calon istrinya itu, tetapi saat akan melakukan panggilan. Tiba-tiba saja Dion mengingat sesuatu.
"Astaga! Saya baru ingat, kalau sekarang kan adik Keysa itu pasti lagi sekolah," gumam Dion, dengan tangan kanan yang langsung mengusap kasar wajahnya itu.
Untung saja ia tidak sampai melakukan panggilan, kalau sampai sudah memanggil. Maka bisa saja apa yang akan dilakukan oleh Dion itu mengganggu Sulis.
"Huft! Kalau kek gini mah, lebih baik saya lanjut kerja aja, sekalian nunggu telepon yang masuk dari Keysa," ujar Dion lagi, lalu ia pun segera menyalakan komputer yang berada di depannya.
Namanya juga seorang pengusaha, maka tidak ada satu detik pun yang akan terlewat. Jika bisa menjadi produktif, mengapa tidak?
Cukup lama Dion menunggu dering telepon dari Keysa, tetapi sama sekali tak ada. Laki-laki itu langsung melihat ke arah pergelangan tangan, melihat jam saat ini.
Mengangkat telepon milik Keysa, dan menyalakan layar ponsel tersebut. Ternyata sudah banyak sekali telepon dan juga pesan masuk.
Dion langsung memiliki niat untuk segera menjemput Keysa tetapi saat ia membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh Keysa, Dion memutuskan untuk duduk manis seperti pada awal.
Hati Dion langsung memanas, padahal kelalaian ini bukan karena kesengajaan, tetapi kekasihnya itu mengapa justru memilih untuk pergi dengan laki-laki lain.
Pasangan mana yang tak cemburu jika seperti itu, Dion menarik napas alam-dalam, dan juga langsung menghembuskan napas secara perlahan.
Berusaha untuk meredam rasa kesal, amarah, dan yang lain lagi. Apalagi untuk menetralkan rasa sakit yang ada di dalam hati, sangat susah sekali.
Namun, ini semua juga salah Dion. Jika ia bertemu dengan Keysa pun, pihak yang salah pasti dirinya.
"Huft! Daripada harus nahan rasa cemburu, lebih baik langsung ngomong aja," gumam Dion, yang langsung menggerakkan tangan kanannya untuk meraih ponsel Keysa lagi.
Mencari nama dirinya di dalam kontak ponsel Keysa, lalu memilih opsi untuk memanggil sang kekasih.
Ternyata, bayangan Dion yang akan langsung terhubung dengan Keysa tidak mulus sama sekali.
Keysa dengan sangat terang-terangan sekali menolak panggilan darinya, itu bahkan sudah keempat kalinya, dan sekarang Dion kembali mencoba.
Pada panggilan kelima yang dilakukan oleh Dion, Keysa mengangkat panggilan tersebut, tetapi tidak mengucapkan apa pun.
"Sekarang lagi ada di mana?" tanya Dion, memecah keheningan beberapa menit yang lalu.
"Bukan urusan kamu, toh lagian kamu juga udah enggak peduli, kan sama aku?" jawab Keysa. Itu bukanlah jawaban yang diharapkan oleh Dion.
"Sayang, maksud kamu apa sih bilang kek gitu? Kamu tahu enggak apa alasan aku kenapa enggak jawab semua yang kamu lakuin tadi?" sahut Dion, dan juga berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.
Keysa melirik ke arah Dion yang saat ini berada di depannya, laki-laki itu terlihat tengah fokus pada makanan di atas meja.
"Aku enggak butuh penjelasan apa pun dari kamu, bisa aja kan kamu manipulasi semuanya," ucap Keysa, yang langsung membuat Dion kembali merasa sakit.
"Sekali lagi aku nanya ya, Key. Sekarang kamu itu lagi ada di mana?" tanya Dion, dengan suara yang sebisa mungkin untuk lembut.
Padahal, pada aslinya Dion tengah menahan amarah yang bisa langsung keluar kapan saja. Namun, tentu saja Dion masih sadar. Jika yang lagi ia telepon adalah kekasihnya sendiri.
"Dan sekali lagi juga aku jawab, kalau ada di mana pun aku saat ini, enggak ada urusannya sama sekali sama kamu!" Tanpa izin sama sekali, Keysa langsung menutup sambungan telepon tersebut.
Mendapat perlakuan yang seperti itu, membuat Dion harus menarik napas dalam-dalam, dan mengucap kata sabar di dalam hati.
Kemana harus ia mencari sang kekasih? Tetapi jika harus mencari Keysa, maka akan ada kemungkinan untuk pekerjaan dirinya yang berada kantor itu terbengkalai.
Sehingga, Dion memilih untuk melanjutkan pekerjaannya saja dulu. Persetan dan juga biarlah apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting adalah tidak ada kata kasar yang diucapkan oleh Keysa tadi.
Dion juga memaklumi hal itu, bahkan jika dirinya yang mengalami hal itu, maka akan melakukan hal sama.
Namun, berniat untuk fokus pada pekerjaan, tetapi hal itu tidak dapat dilakukan oleh Dion. Pikiran laki-laki itu selalu tertuju pada Keysa, dan juga apa yang dilakukan oleh sang kekasih.
"Huft! Kenapa enggak ngehargain saya yang udah jadi kekasih, sih?" gumam Dion, masih dengan suara yang ditahan untuk tak sampai marah.
Hatinya itu terasa seakan ada yang mencubit pelan, tetapi untuk diobati juga entah bagaimana caranya. Memutuskan untuk meraih ponsel lagi, lalu menghubungi sang kekasih.
"Ada apa lagi, sih?" tanya Keysa, dengan suara yang sama sekali tak senang, jika Dion kembali menghubungi dirinya.
"Key, aku mau jemput kamu sekarang, tolong kasih tau kamu ada di mana ya," pinta Dion, tetapi justru langsung dimatikan sambungan telepon tersebut.
"Astaga! Memang separah itu ya? Sampai-sampai baru aja nelepon langsung dimatiin," gumam Dion, yang mulai kacau dan juga frustasi tentang apa yang terjadi saat ini.