Dengan langkah berat Kira berjalan menuju meja kerjanya dan langsung terduduk di kursinya sambil melepaskan heels yang sejak tadi menyiksa kakinya. Ia baru tahu kalau pekerjaan menjadi sekretaris begitu melelahkan, bahkan dirinya harus bangun pagi-pagi untuk menjemput bosnya yang terlihat sudah rapi begitu ia datang. Setelah menjemput sang bos di apartemennya, keduanya langsung menuju sebuah restoran untuk menghadiri meeting yang entah kenapa di jadwalkan terlalu awal. Bahkan, setelah meeting di satu tempat mereka tetap berpindah ke tempat lain dan menjalankan meeting lain.
Kira menatap arloji di lengan kanannya lalu mendengus kesal melihat jam yang telah menunjukkan jam dua siang, yang mana waktu makan siang telah terlihat begitu saja.
Seharian ia berlari ke sana sini tanpa sarapan dan makan siang membuat perutnya kini berbunyi kencang. Agra yang baru saja keluar ruangan mematung di tempat mendengar suara perut Kira yang cukup kencang. Keduanya saling tatap dengan canggung tanpa satu pun memulai pembicaraan, Kira yang hendak membuka pembicaraan langsung kembali menelan ucapannya begitu ia menyadari kalau Agra sudah mendadak hilang dari hadapannya.
“bahkan setelah mendengar suara perut ku, dia malah pergi begitu saja” gerutu Kira kesal kemudian menarik posisi kursinya dengan benar sambil menatap layar komputer di hadapannya dengan wajah murung.
“Lupakan saja, pulang kerja nanti aku akan makan sepuasnya” gumamnya lagi sambil terus mengetik hasil dari beberapa meeting yang mereka hadiri tadi.
Tok...
Tok...
Suara ketukan pelan dari ujung meja Kira membuat Kira mengalihkan perhatiannya dari komputer di depannya. Matanya membulat begitu melihat Elwin sudah berdiri ramah di depannya sambil melambaikan sebelah tangannya.
“Hai, bagaimana hari kedua bekerja dengan Agra?” Tanya ramah sambil meletakan kedua tangannya ke atas meja.
Kira mendongakkan kepalanya hanya tersenyum kecil kemudian kembali menatap layar komputernya sambil menghela nafas panjang.
“Melelahkan” jawabnya singkat.
“Pftt....” terlihat jelas kalau pria itu mencoba menahan tawanya, namun beberapa menit kemudian ia meletakan sebuah paper bag di atas meja Kira sebelum akhirnya berlalu masuk ke dalam ruang kerja Agra.
Kira melirik paper bag yang di tinggalkan Elwin di atas mejanya. Dengan malas tangannya terjulur untuk meraih paper bag yang isinya cukup berat itu. Ia melihat ke dalam paper bag dan mendapati dua porsi tuna Sandwich yang masih terlihat segar dan sekitar pasta di dalamnya. Begitu melihat makanan wajah Kira berbinar-binar, ia buru-buru berdiri kemudian mengetuk jendela sambil melambaikan tangannya pada Elwin kemudian mulutnya membentuk kata terima kasih.
Elwin yang melihat itu hanya tertawa lebar sambil membalas lambaian tangan Kira. Ia kemudian duduk di kursi Agra sambil menaikkan kedua kakinya ke atas meja, ia kemudian mengeluarkan ponselnya sambil tersenyum.
“Pengiriman selesai”
“ya”
“Kenapa kau tidak memberikannya secara langsung?”
“Dia membenciku”
“???”
“tampaknya dia lebih menyukaimu”
“Heh? Hahaha... sayang sekali wanitaku lebih cantik darinya”
Elwin menutup ponselnya setelah membalas pesan dari Agra. Agra yang sejak tadi entah pergi kemana tiba-tiba saja sudah muncul di hadapannya menatapnya dengan tatapan curiga.
“Wanita apa? Yang mana lagi?” tanya Agra bertubi-tubi dengan tatapan curiga.
Elwin hanya tersenyum jahil, kemudian menurunkan kakinya dari atas meja sambil berdiri dari tempat duduknya.
“melihat raut wajahmu sepertinya tetap sama saja seperti sebelumnya” tambah Agra lagi merasa rasa penasarannya telah sia-sia.
Tentu saja ia tahu betul betapa banyaknya wanita yang temannya kencani setiap tahun. Namun, dari semua wanita itu jelas ada seorang wanita yang selalu ia cari hingga saat ini. Berbanding terbalik dengan dirinya yang bahkan untuk berbicara dengan seorang wanita saja ia butuh menyiapkan mental.
Setiap kali ia berhadapan dengan seorang wanita ia langsung keringat dingin, bahkan selalu kehilangan kata-kata dan bingung harus memulai topik pembicaraan dari mana. Itu sebabnya ia terlihat lebih ketus dari sudut pandang orang-orang yang tak mengenalnya termasuk sekretaris barunya Kira Morgan.
Beberapa kali Agra terlihat menangkap wanita itu terus mencibirnya dan merasa tak nyaman jika harus berada di sekitarnya. Namun, berbanding terbalik saat ia bersama Elwin. Bahkan, ia terlihat tersipu malu saat Agra menyinggung soal Elwin pada makan siang kemarin.
“ku rasa Kira tidak membencimu, hanya perasaanmu saja karena kau tidak bisa berbicara dengan normal dengannya” Elwin mengalihkan pembicaraan mereka sambil melirik keluar jendela melihat Kira yang tampak sibuk di mejanya setelah menyelesaikan makan siangnya.
Agra tak menjawab dan hanya memilih kembali duduk di meja kerjanya, kemudian membenamkan dirinya kembali pada pekerjaannya.
“lihatlah, kau bahkan mengabaikanku”
“Aku tidak tahu harus berkomentar seperti apa” jawab Agra tanpa menoleh pada Elwin.
Lagi-lagi Elwin tertawa lebar, ia menarik pena yang dipegang Agra kemudian memutar pena tersebut di jemarinya.
“setidaknya kau bisa menjawab, apakah benar? Atau bisa juga, sepertinya tidak seperti itu... sebenarnya ada banyak cara untuk menanggapi ucapanku”
Agra mendongakkan kepalanya, bukannya ia tak mau menanggapinya seperti yang Elwin katakan namun rasanya terdengar aneh seolah-olah ia mencari kebenaran kalau Kira tidak benar-benar membencinya. Lagi pula untuk apa ia repot-repot memikirkan hal tersebut, jika Kira tidak betah bekerja dengannya ia bisa kapan saja mencari sekretaris baru.
“aku sudah dapat menebak isi kepalamu, mau sampai kapan kau terus berganti sekretaris” omel Elwin yang langsung dapat membaca isi kepala Agra setelah melihat raut wajah rumit darinya.
“Kembalikan pulpen ku... dan pulanglah... lakukan sesuatu yang lebih bermanfaat jika kau merasa bosan”
“Ck...” Elwin berdecak kesal kemudian meletakan pulpen milik Agra ke atas meja.
“lebih baik aku menemui Anthony dan Lucas, mereka tidak membosankan sepertimu” gerutu Elwin yang langsung keluar dari ruang kerja Agra bahkan sebelum Agra membuka mulutnya untuk membalas ucapan Elwin.
Melihat itu Agra hanya bisa menggelengkan kepalanya, namun perhatiannya langsung tertuju keluar ruangan begitu mendengar suara tawa Kira.
Ia mengintip dari jendela dan mendapati wanita itu tertawa lebar mendengar keluhan Elwin.
“Berisik sekali” gumamnya sambil menutup tirai jendela dengan kesal.