"Apa maksudmu kita akan bulan madu? kapan kita menikah?" tanya sang ibu tak suka dengan Kepala pelayan yang santai duduk di ruang makan rumahnya tanpa merasa bersalah. Baru saja pulang dengan kecepatan kilat, sekarang saja tangannya masih gemetaran memegang cangkir berisi teh panas. Masalahnya pulang mengunakan kekuatan iblis, hanya menutup mata 1 menit kemudian sudah berada di rumahnya sendiri. Kalau ingat dulu dirinya keluar dari rumah itu membutuhkan 3hari perjalanan, sungguh menyebalkan.
Gerakan halus sang ibu membuat Kepala pelayan bertambah gusar. Secara hukum dan agama sudah bahkan sampai darah, mengapa juga masih menolak, tidak habis pikir tentang wanita. Dari segi manapun, ia berhak mendapatkan apa yang diinginkannya yaitu menikmati bulan madu bersama istrinya. Dulu tak bisa karena Rafael lalu sekarang apa lagi pikirnya kesal.
"Tadi kita sudah menikah darah, puluhan tahun lalu juga sudah. Sudahlah, aku mau tidur" jawabnya kesal bergerak menuju kamar. Sang ibu kaget mendengar kalimat itu, mana bisa seenaknya pergi untuk tidur. Iapun mengikuti dari belakang. "Hei, tidur jangan dikamar ku!" teriak sang ibu begitu menyadari jika Kepala pelayan membuka baju di kamar miliknya. "Lalu, aku harus kemana, istriku ada disini" keluhnya berbalik menghadap sang ibu dan langsung menyambar pinggangnya. Spontan tangan sang ibu ada di d**a Kepala pelayan. "Kamu... mau apa" kata sang ibu mulai panik, ingat terakhir kali melakukan itu, ia nyaris tak bisa bangun karena badannya mau remuk. "Tentu saja mengambil yang menjadi hak". Kepala pelayan menundukan kepalanya, mencium bibir sang ibu dengan lembut, menggoda untuk membuka sehingga bisa mengeksplorasi semua isinya.
Kepala pelayan tahu sehabis ini tak akan mudah jalannya, sang ibu terbuai oleh dirinya mengikuti irama yang diberikan.
Sementara itu, rumah mewah Van de blu. Nyonya besar mengelus bulu Mr James kucing hitam dengan penuh kasih sayang. Rafael berdiri dekat jendela, matanya muram melihat pemandangan diluar dan tangannya memegang erat gelas wine.
"Dia milikku, Bu" katanya tak terima. "Kamu sendiri yang memulai, dilihat dari fotocopy dokumen, semua tertera jelas namanya. Kita tak boleh menyinggung atau melakukan kesalahan jika tak mau kita mati sia-sia" tegur nyonya besar pelan.
Sungguh tak adil baginya, lahir dari sendok emas tapi tak bisa memiliki kebebasan memilih hidupnya sendiri pikir Rafael.
"Kepala pelayan sudah menginstruksikan kepada bawahannya untuk sementara waktu mengantikan dirinya berbulan madu, ibu harap kamu menjaga perilaku baikmu" ucap nyonya besar meletakkan Mr James di bawah lantai, ia berniat ke kamar mandi untuk beberes diri. "Bu, aku akan menjaga perilaku baik tapi aku membutuhkan waktu untuk sendiri, aku harap ibu mengerti" setelah mengatakan itu Rafael keluar dari kamar sang ibu.
Nyonya besar mematung melihat putra kesayangannya menjadi seperti ini tapi nasi sudah menjadi bubur, mau dibuat seperti apapun bentuknya tak mungkin kembali lagi menjadi nasi. Tak peduli ia tetap melakukan niatnya yaitu kamar mandi.
Rumah ini sangatlah besar, terkadang Rafael membenci lahir di tempat ini, kemana-mana harus di awasi atau dikawal, mana mungkin ia lupa jalan menuju kamarnya sendiri. Tangan hendak memegang gagang pintu kamar ketika melihat orang kepercayaannya datang menghampiri.
"Tuanku" panggilnya sambil menunduk sedikit badannya lalu berdiri tegak. "Ada apa?" tanyanya mengubah posisinya menjadi bersandar pada pintu, pelayan yang mengikuti sudah pergi mengundurkan diri saat tiba di kamarnya. "Tuan Gospar membawa nyonya Santanael ke kediamannya" jawabnya. "Ah, putriku. Besok kita kesana, aku ingin tahu tanpa siapapun pendukungnya, bisa apa dia" katanya senang akhirnya mendapatkan berita yang lebih baik. "Bantu aku menyiapkan semuanya" katanya lagi, membuka pintu kamar kemudian masuk diikuti orang kepercayaannya. Pintu tertutup rapat, Rafael membuka kemejanya.
"Apa kamu tidak merindukan aku sayang?" tanya orang kepercayaannya memeluk dari belakang. "Aku tahu kamu akan datang sendiri, buat apa aku merindukanmu" jawab Rafael berbalik menghadapnya kemudian menciumnya.
Sebuah cahaya sedikit berpendar di sekitar orang kepercayaannya saat dicium, mengubah bentuk menjadi seorang wanita.
"Apa aku cantik?" tanyanya membelai wajah yang dirindukan setiap saat. "Tentu saja, selalu" jawabnya pelan. "Sampai kapan kamu akan menyembunyikan aku di balik kekuatan iblis mu, ini sudah 5tahun Rafael" keluhnya cepat.
"Kamu tahu nyonya besar sangat takut pada raja iblis dan aku belum bisa membunuhnya, aku masih belum kuat, apa kamu meminum pil KB, hmm... kamu harum" katanya berusaha mengalihkan perhatian menuju kenikmatan yang dicarinya. Tak berkutik bahkan menjawabnya, orang kepercayaannya hanya bisa pasrah melakukan apa yang diinginkan Rafael.
Angin berhembus kencang di balik rumah besar Van de blu, nyonya besar mengurai rambutnya pelan.
"Rafael anak nakal, bermain-main dengan kekuatannya hanya akan memberi kesedihan, sampai kapan anak itu belajar" gerutunya kesal. Sebuah tangan melingkarinya, wajah bertengger di lekuk lehernya. "Sayang, anak kita belum cukup umur, biarkan saja ia bermain-main" tegur Mr James.
Sama seperti putranya, ia mampu mengubah kekuatan menjadi apapun yang diinginkannya. "James, dia sudah saatnya berfikir tentang hidupnya, tak selamanya kamu membantunya menyingkirkan banyak orang". Nyonya besar menyandarkan kepalanya di d**a mr james yang bidang, terasa nyama.
"Dia keturunanku. Apapun itu aku pasti akan membantunya, termasuk mendapatkan pujaan hatinya yang terlambat seperti kita" bisiknya pelan di telinga nyonya besar dengan gairah besar yang tidak dapat dilawan.
Mr James membuat nyonya besar tertidur pulas setelah melakukan percintaan yang dasyat, ia tak pernah puas melakukan hal ini padanya. Ia bangkit dari tidurnya menuju luar kamar lalu terus berjalan menuju ruang bawah tanah.
Rafael duduk dengan santai, matanya kosong memandang sel di depannya. Pria tua menunduk di dalamnya dengan ketakutan, tubuhnya bergetar tapi tak dapat lari, kaki dan tangannya terikat rantai besi yang kuat.
"Sudah datang hmm... jangan katakan kamu kasihan padanya" seru Mr James berusaha tetap tenang membuka pintu sel. "Tidak ayah! aku hanya ingin tahu reaksi ibu jika tahu ayah sebenarnya memanipulasi kematian suaminya" kata Rafael cepat tak ingin Mr James salah paham, ia tak mau pendukung setianya akan berbalik melawannya.
Mr James hanya melirik sekilas putranya lalu menarik rantai tangan pria tua itu keatas. "Lakukanlah dengan cepat, satu kali tusuk, ambil energi intinya" perintahnya pada Rafael. Walau tak ingin dan jijik, ia terpaksa melakukannya kalau ingin kekuatannya bertambah kuat.
Rafael membayangkan wanitanya yang tertidur di atas ranjangnya tadi, melakukan apa yang diminta Mr James dalam sekali tusuk dan menarik inti kehidupan hingga kering tak bersisa.
Pria tua itu hanya bisa terbaring mati dengan tubuh kering kerontang, mata terbelalak, mulut menganga.
Rafael cepat membersihkan dirinya sementara mr James membakar pria tua itu dengan cepat.
"Ibumu adalah milikku! pernikahan darah sialan membuat semuanya berantakan, siapa suruh dia mengambil wanitaku, sejak puluhan tahun sudah aku ingatkan tapi tak mau. Cih!" ujarnya kesal menatap kobaran api yang menghabiskan tubuh pria tua.
Rafael mengelengkan kepalanya, ia sendiri tak peduli apapun dengan urusan mr James. "Bagaimana ayah bisa mengakali pernikahan darah jika saja semua dilihat tetua?" tanya Rafael.
Terkadang Mr James merasa putranya bodoh keterlaluan. "Anak bodoh, untuk apa aku menyamar menjadi kucing jika bisa" jawab Mr James keluar dari sel setelah memastikan apinya mati.
"Benar juga, aku tak mungkin mendapatkan sang ibu" keluhnya pelan. "Mungkin tidak tapi kamu coba saja dulu, dia manusia jangan lupakan itu" ujarnya melangkah naik menuju atas diikuti Rafael di belakangnya.
"Bagaimana dengan Santanael?" tanya Rafael gusar, anak setan itu terlihat masih kecil tapi mengesalkan. "Bunuh saja sebelum kekuatan yang dimilikinya semakin besar dan usahakan tidak tercium" perintahnya kemudian Mr James kembali ke kamar nyonya besar.
"Seusai perintah, akan dilakukan", Mata Rafael berkilat senang mendengar perintah Mr James, ia berbalik menuju kamarnya sendiri. Malam ini tak terlalu buruk meski hasilnya ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya.