Rafael menghela nafasnya melihat Gospar manyun kayak anak kecil di ruangan kantornya. Niatnya ingin mengajak makan siang jadi batal. "Tak bisakah kamu lebih dewasa lagi, ini sudah 14hari dari waktu itu" tegur Rafael mengambil ponselnya dari atas meja. "Kamu harus tanggung jawab, aku tak bisa menemukan istriku" keluhnya. "Sudahlah, ayo makan siang" ajaknya sebelum terpengaruh oleh naik turun lebay. Rafael bergerak menuju pintu, terpaksa Gospar mengikuti.
"Aku mau ke restoran di depan kantor, baru saja buka kemarin" Rafael memijit tombol lobi di papan lift. "Terserah" ucapnya acuh tak acuh, mana bisa makan jika sampai detik ini tak bisa melihat istrinya, liat saja nanti kalau bertemu sang ibu gerutu Gospar penuh kekesalan.
ting....
Pintu lif terbuka lebar. Mereka berdua segera keluar, semua pegawai menganguk hormat. Para pegawai sangat hormat dan menyukai atasan mereka yang memiliki kadar ketampanan mirip tokoh utama di film-film tapi sayang tak satupun ada yang berhasil menggaet mereka. Pandangan menjijikkan itulah yang bikin Gospar malas makan di luar ruangan kantornya.
Mereka berdua menyebrang jalan depan kantor, jalan trotoar sedikit ramai karena jam makan siang. Wangi harum makanan tercium hingga pinggir jalan. Tak jarang orang akhirnya berhenti untuk makan di restoran.
"Kita duduk saja di sini, aku pesan dulu" tunjuk Rafael ke meja no 21 yang menghadap taman buatan dan jendela. Pemandangan sederhana tapi mampu menyulap sebagian orang untuk betah berlama-lama disini. Gospar hanya mengangguk saja dan duduk, sementara Rafael memesan makanan. Matanya melihat seluruh restoran ini.
Meja no 21 menghadap tangga melingkar yang menghubungkan taman dan lantai satu. Kerutan Gospar bertambah banyak ketika tak sengaja melihat wanita kecil turun.
"Santanael" gumamnya cepat berdiri berusaha mendekati Santanael yang berdiri di anak tangga terakhir. Ada pria kecil disampingnya berdiri di dekatnya, tanda tanya di kepalanya bertebaran. Apalagi melihat beberapa kali, Santanael tertawa lepas mentertawakan sesuatu yang dikatakan pria kecil itu.
"Kak Adam, mengapa bibi peri lama?" tanya Santanael celingukan kesana kemari matanya hingga ia melihat Gospar yang berjalan cepat kearahnya. "Antri bayar di kasir. Tunggu saja" jawab Adam memperhatikan ponselnya, beberapa pesan muncul dari teman-teman sekolahnya. Santanael sedikit mengeryitkan alisnya merasa ada yang salah dengan kemunculan Gospar disini. Insting melarikan diri anak kecilnya berbunyi.
"Santanael" panggil Gospar begitu di hadapannya, memegang tangan Santanael cepat, ia takut salah lihat. "Pak tua, kok disini?" tanya Santanael kebingungan sekaligus bersikap tenang, datang-datang main pegang tangannya. Gospar belum sempat menjawab ketika terdengar suara menyelanya. "Maaf tuan. Tolong lepaskan tangan adikku" tegur Adam pelan, tadi ia kaget ada orang memanggil nama Santanael dan memegang tangannya. "Adik?" tanya Gospar bingung, sejak kapan Santanael memiliki seorang kakak. "Ya adik" jawab Adam mulai tak suka, ia menepis tangan Gospar lalu menarik Santanael di dekatnya. Ia tak takut jika berurusan dengan orang yang lebih tua. Kata Victoria ibunya, ia harus menjaga Santanael, bukankah ia juga sudah berjanji menjaga hingga berumur 15 tahun.
"Kamu siapa! kembalikan istriku!" teriak Gospar kencang, ia lupa kalau berada di tempat umum. "Istri? eh om, sadar dong, Santana masih umur berapa! jangan-jangan om penjahat yang dikatakan monster oleh ibu" kata Adam tak mau kalah berusaha menebak monster Santanael, mungkin maksud ibunya adalah ini sehingga memberikan tugas untuk menjaga.
"Monster? hei! jaga bicaramu. Kamu anak siapa bisa kurang ajar begini" tuduh Gospar kesal. Tangannya berusaha meraih tangan Santanael tapi Adam gesit menghalangi. "Siapa yang kurang ajar? tadi bukankah aku bertanya baik-baik, siapa paman?" tanya Adam tak mau kalah.
Beberapa orang mulai terusik dengan keributan mereka berdua. Rafael bergegas mendekati keributan, kaget melihat Santanael ada di sini. "Ada apa?" tanya Rafael bingung.
"Kalian? mengapa buat keributan disini?" tanya Victoria bingung juga, tadi ia baru saja selesai membayar ketika berjalan mencari Santanael dan Adam, buru-buru melihat keributan di dekat tangga. "Mami, paman ini tiba-tiba memegang tangan Santanael, Adam tanya eh malah marah" jawab Adam mengadu. Santanael menganguk membenarkan perkataan Adam.
Rafael bertambah bingung terlebih melihat wajah Gospar seperti ingin mengamuk.
"Astaga Gospar, tak bisakah kamu menjaga image dirimu" keluh Victoria segera menggendong Santanael. "Maaf...maaf...ini hanya salah paham" kata Rafael sebelum terjadi keributan yang lebih meluas. Mau diletakkan dimana wajahnya jika semua orang akan tahu tentang mereka berdua.
"Mengapa kalian disini?" tanya Victoria menghalau tangan Gospar yang hendak mengambil alih Santanael berkali-kali. "Kami mau makan siang, kantor kami ada diseberang restoran, kalian mengapa disini? bisakah kita meja no 21, tak enak dengan lainnya jika berdiri disini" tanya Rafael berusaha menjelaskan sambil menunjuk ke arah bangku meja no 21 yang sudah di pesan supaya tak menganggu tamu lain yang hendak makan disini.
Tak mau kalah Gospar tetap berusaha mengambil Santanael sementara Adam mulai tak suka dengan tingkahnya. "Kami baru saja selesai makan, besok pagi Santanael sudah harus pulang ke rumah orang tuanya. Gospar, apa yang kamu lakukan?" tanya Victoria kesal, Santanael di dudukan di kursi tapi belum sempat duduk di kursi samping, Gospar sudah duduk di sampingnya Santanael mendahului Victoria, sungguh kekanakan.
"Rindu. Aku sudah lama tak bersama istriku" jawabnya tak tahu malu. Adam mengerutkan keningnya, Santanael disebut istrinya, sebenarnya siapa pria ini. Santanael yang sedari tadi tak mengerti hanya melihat saja tapi dalam hati mendonggkol, dipanggil istri seenaknya, ia takut Adam salah paham. Victoria ingin marah-marah tapi di tahan mengingat berada di tempat umum. Adam menatap tajam kearah mereka berdua dari tempat duduknya di depan Santanael sementara Victoria duduk di depan Gospar, karena kurang satu bangku terpaksa Rafael meminta satu bangku lagi pada pelayan restoran.
"Bagaimana kalau kalian makan lagi?" tanya Rafael memecah kekakuan mereka semua yang hanya menatap Santanael. Ia juga tertarik pada Santanael, seperti ada magnet yang menganggu sistem sarafnya. "Maaf kami sudah kenyang" jawab Victoria berusaha halus demi sopan santun. "Ayolah, mungkin sekedar minuman" ajak Rafael memberikan buku menu kepadanya, tak lupa dilihatnya Santanael yang diam saja sejak tadi.
"Santana, kamu kemana saja. Apa kamu tahu aku merindukanmu?" tanya Gospar tak tahu malu. "Aku berlibur di rumah bibi peri, pak tua. Mengapa kamu merindukan aku? bukankah kita baru saja kenal?" tanya Santanael bingung. "Monster suka begitu Santana setelah itu kamu akan dimakannya" jawab Adam santai, Gospar menoleh kearahnya lalu ke arah Victoria. "Ini pasti tipuan darimu, Victoria" tuduh Gospar sewot. "Apa ! aku tak melakukan apapun" seru Victoria cepat. "Kamu mengajarkan anakmu dengan kata monster dan pasti juga kata pak tua, itu darimu" tuduh Gospar tak senang.
Victoria dan Gospar saling berpandangan sewot mengukur kekuatan masing-masing. Rafael mengeluh dalam hati, sejak kapan Gospar mirip anak ABG labil kalau sudah berhubungan dengan Santanael.
"Tak bisakah aku makan dengan tenang? kalian buat Santana ketakutan" keluh Rafael begitu pelayan meletakkan kursi uang dimintanya sekaligus makanan yang dipesannya.
Victoria bangkit berdiri, "Adam, Santana, ayo kita pulang, biar paman makan siang" ajaknya. Gospar sigap mengendong Santanael hingga Santanael sendiri terkejut. "Gospar!" teriak Victoria lantang tak bisa lagi menahan sopan santunnya. "Dia bersamaku! biar aku yang mengantarkan ke rumah orangtuanya" tolak Gospar seketika bikin Victoria marah. Adam bingung melihatnya, pria tua itu sangat aneh, ia harus menyelamatkan Santanael darinya.
Rafael seperti tak terusik dengan keributan di depannya, ia masih asyik makan makanannya sambil menenangkan sarafnya yang bergerak liar. Sungguh sial, pertemuan dengan Santanael sangat membuatnya berpandangan banyak hal.
Hari ini, Santanael mengunakan kaos putih dan celana panjang jins, tak ada yang spesial tapi entah mengapa terlihat cantik sekali di mata banyak orang.
"Gospar jangan main-main denganku" peringatan Victoria bikin bulu kuduk merinding. "Aku tak main-main, kamu membawanya tanpa izinku keluar rumah, seharusnya kamu tahu jika ia sudah terikat denganku" katanya menatap tajam kearah Victoria. "Kamu juga harus tahu, kamu berada di dunia mana, disini hanya berlaku hukum manusia" tunjuknya pada orang-orang disekitarnya yang mulai tertarik melihat keributan mereka berdua.
Santanael yang memegang leher erat Gospar takut jatuh karena perdebatan itu. "Pak tua, turunkan aku sekarang, kalau tidak kamu tak akan pernah melihat aku lagi" bisik Santanael pelan di telinganya. Ia bukan anak kecil sembarangan jadi bisa mengerti tentang satu atau dua hal. Gospar menoleh kearahnya dengan wajah bingung. Namun, tatapan Santanael sedikit menganggu, terpaksa diturunkan.
Victoria cepat berputar lalu mengendongnya, "Kami pulang dulu"ujarnya langsung mengandeng Adam untuk mengikuti. Gospar hendak mengikuti tapi tangannya di tahan Rafael. "Makanlah! jangan buat keributan disini, kalau nanti ada orang kantor yang tahu kamu suka dengan anak lima tahun, bagaimana harga saham perusahaan kita nantinya" keluhan panjang lebar membuat Gospar kembali duduk di kursinya.
Acara makan siang dilalui Gospar dengan wajah marah. "Jika aku kehilangan jejak istriku lagi! aku akan membuat perhitungan denganmu!" katanya tegas meninggalkan Rafael berjalan seorang diri keluar dari restoran. Rafael menghela nafasnya melihat tagihan di tangan, mau tak mau terpaksa ia harus membayarnya.
Hiruk pikuk jalanan tak membuat reda kemarahan dalam diri Gospar, asistennya datang tergopoh-gopoh menghampiri tapi tak berani mengatakan apa-apa.