Alunan musik terdengar lembut mengalun di ruangan perjamuan. Gelas-gelas di isi hingga penuh menambah sensasi. Suara-suara percakapan mendominasi di tengah suara kereta makanan di dorong. Gelak tawa tak dipungkiri ada satu dua terdengar.
Black mencecap rasa wine bercampur darah yang disediakan khusus untuk kaumnya. Kepala pelayan berdiri di dekat nyonya besar mengawasi jalannya perjamuan.
Victoria muncul bersama setan kecil. Mata melotot kepala pelayan di acuhkan. Ini perjamuan perjanjian darah jadi setiap keturunan harus hadir tak terkecuali.
Gospar tertegun melihat kecantikan alami yang dipancarkan Santanael saat melangkah mendekati Black. Victoria santai menggandeng tangan kecil Santanael. Umur belum mencapai lima tahun tapi menarik perhatian sebagian besar orang yang ada di ruang perjamuan.
"Ayah" Victoria menganguk pelan. "Bawa setan kecil, heh?" Black menatap tajam ke bawah, Santanael cemberut mendengar panggilan itu. "Aku Santana, Kakek" katanya menggembungkan mulutnya, tak terima. "Hei, jangan salahkan aku jika memanggil begitu. Harusnya kamu marahin ayahmu. Aku bukan kakek mu" Black tak suka mendengar panggilan Santanael kepadanya, enak saja memangil kakek.
"Kalau tak mau dipanggil kakek, panggil Santana!" ucapnya melotot kearahnya. "Dasar...." Ucapannya terhenti ketika kepala pelayan menatapnya tajam seperti ingin membunuhnya. "Menindas anakku, heh!" Suara halus yang didengar Black bikin kesal saja.
Sungguh penampilan mengemaskan di mata Gospar, berniat melanjutkan langkah ketika satu tangan menghalangi jalannya.
"Satu lagi melangkah, nyawa menghilang" Otomatis Gospar menoleh kearah suara yang mengancamnya. Jarak antara dirinya dan kepala pelayan cukup jauh tapi suara itu terdengar nyata di telinga. Alisnya bertautan hingga helaan nafas berat di keluarkan oleh Gospar.
Disudut lain, Rafael menaruh minat terhadap Santanael. Nyonya besar mengangguk senang melihat kedatangannya yang dramatis. "Cantik sekali, aku sangat menyukainya" katanya tak lepas mengelus kepala kucing hitam.
Suara dengkuran kucing hitam turut mewarnai suasana perjamuan. Orang-orang mulai duduk menempati kursi masing-masing, piring-piring dibalik, siap untuk diisi.
"Ayo Santana, jangan pedulikan kakek" Victoria sengaja memanggil Black dengan kakek hanya untuk menyindir. Wajah Santanael berubah senang, lidahnya dijulurkan untuk mengejek kearah Black.
"Anak durhaka!" geramnya kesal tapi ia tersenyum lembut. Makanan mulai disajikan, beberapa jenis makanan ada yang dibedakan.
Kepala pelayan masih diam disamping nyonya besar kedua, matanya memperhatikan gerak-gerik Santanael yang duduk anggun di antara Black dan Victoria. Tak ada kecanggungan membuatnya bertanya-tanya dalam hati sedang apa sang ibu.
Ting....Ting... gelas wine di pukul untuk menarik perhatian para tamu undangan sekaligus keluarga Van de blu. Nyonya besar berdiri.
"Saudara sekalian. Sungguh terhormat kalian semua bisa hadir di perjamuan. Untuk mengawali musim kali ini, ada beberapa orang baru yang saya perhatikan muncul di tempat ini"
Orang-orang mulai memperhatikan satu sama lain. Ada yang mengagumi, mengangguk bahkan ada yang mengerutkan kening. Batas antara manusia dan iblis hanya dibatasi celah kecil di tengah meja. Gospar sengaja duduk di batas tersebut agar mudah melihat calon istri masa depannya.
"Mari perkenalkan diri sebelum dimulai acara perjamuan ini. Saya harap untuk mempertimbangkan sopan santun di meja"
Ucapan terakhir nyonya besar menarik untuk disimak mengetahui apakah akan ada perubahan struktur kekuasaan dan kekuatan.
Mata semua orang memperhatikan saat satu persatu orang memperkenalkan diri, hingga tiba giliran Santanael.
"Jangan bergerak dari tempatmu, adikku sayang" Terdengar suara halus di telinga kepala pelayan. Ia bukan tak ingin bergerak ke arah Santanael tapi ke arah dimana sang ibu. Suara terkekeh mengusik telinganya hingga kesal karena ejekan.
Santanael berdiri dengan anggun. "Aku Santanael. Aku putri kepala pelayan dan bukan putri Rafael Van de blu" teriaknya lantang.
brak!
Kaget mendengar suara pukulan di meja. Mata kepala pelayan mendelik kearah setan kecil, kepalanya langsung pening dibuatnya. Black tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat perkenalan Santanael sementara Victoria menampilkan senyum terbaiknya.
Rafael berdiri tak terima. "Apa maksudmu kamu bukan putriku? ibumu adalah istriku!" bentaknya kasar. "Benarkah? kamu nyakin itu paman, bolehkah aku melihat bukti jika ibuku adalah istri paman" jawab lantang Santanael. Hati Rafael mendidih dibuatnya.
Keberanian Santanael patut di acungi jempol, Gospar menatap kagum. Usianya memang masih belia tapi kekuatan, kecantikan dan keberanian sudah ditonjolkan.
"Kamu! Bukti! Ambil bukti itu di ruang kerjaku, pelayan! Anak tak sopan, bagaimana cara ibumu mendidik anak seperti mu!" teriak Rafael kencang. Urat-urat lehernya menonjol, matanya bersinar penuh kebencian, tangan mengepal marah sementara Santanael berdiri di atas kursinya dengan wajah polos tak berdosa. Semua orang memperhatikan interaksi keduanya dan mulai menilai situasi.
"Ah paman. Mengapa kamu membawa ibuku di sini? tak baik paman. Dengar baik-baik paman! aku datang kemari untuk mewakili ibuku dan atas kemauan ku sendiri. Bukankah ini perjamuan wajib dihadiri setiap keturunan" ucapannya lembut tapi matanya memancarkan perasaan tak suka.
Kepala pelayan mendengus tak sabar ingin mencincang putri kecilnya, mulutnya sangat tajam.
"Kau!" Tangan Rafael menunjuk tak terima. Nyonya besar menarik tangan Rafael pelan turun. "Rafael, dimana sopan santun mu dimeja makan?" tegur nyonya besar pelan berusaha menengahi keributan yang mungkin saja terjadi.
Mata Santanael menyipit melihat wanita bersahaja di tengah meja perjamuan. "Ah anda sangat cantik dan elegan, apakah saya bisa duduk sekarang" serunya tajam. Semua orang terperanjat mendengar kalimat Santanael yang lembut sekaligus menyanjung.
"Tentu saja" jawabnya. Santanael duduk cepat di kursi. Ia pegal harus berdiri. Perutnya juga sudah lapar. Ia bingung terhadap orang-orang dewasa mengapa untuk makan saja diperlukan perkenalan diri. Tetapi ada yang menganggu hatinya, ia secepat kilat berlari menuju kepala pelayan lalu meloncat cepat keatas, mau tak mau terpaksa di tangkap.
"Setan kecil" bisik kepala pelayan tak berdaya. Tindakan Santanael membuktikan kalau memang benar Kepala pelayan adalah ayahnya. "Paman, ini bukti dariku. Apa bukti paman?" tanya Santanael tak mau melepaskan Rafael dengan mudah.
Black mengangkat gelas wine miliknya kearah Santanael. Ia suka ini. Rafael benar-benar marah, ia di konfrontasi oleh anak kecil, sungguh memalukan.
Tepukan hangat di punggung Santanael mengalihkan perhatiannya kepada Rafael yang meninggalkan ruangan itu.
"Ayah, aku lapar. Bisakah kamu temani aku disana, aku tak suka sendirian" keluhnya pelan bagai domba kehilangan induknya.
Semua orang terpaksa memuji penampilan Santanael yang bisa mengusir Rafael tanpa paksaan dari ruangan ini. Nyonya besar hanya menarik nafas panjang. Mau marah tak bisa kecuali tersenyum.
"Saudaraku sekalian, kita sudah mendengar perkenalan. Mari kita makan lebih dulu sebelum inti acara hari ini" ajaknya berusaha mengalihkan perhatian dan pandangan mata kearah kepala pelayannya.