*Sasti Pov*
Pesawat baru saja mendarat di Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II, begitu tanda sabuk pengaman dapat dilepas menyala aku langsung berdiri dan mengeluarkan tas pakaianku beserta koper milik Pak Dirjen dari kabin diatas kursi kami. Untung saja kami duduk di business class, dan memang selalu di business class sih kalau terbangnya bersama Pak Dirjen, aku terkekeh dalam hati.
Begitu pintu pesawat dibuka, pramugari langsung mempersilahkan aku dan Bapak untuk turun dari pesawat terlebih dahulu, kebetulan sekali yang duduk di business class pada penerbangan kali ini hanya ada 2 orang saja, yaitu aku dan Pak Dirjen.
Pak Dirjen berjalan terlebih dahulu didepanku sedangkan aku bersusah payah membawa tasku dan juga koper milik Bapak. Sudah tidak heran lagi kalau melihat Bapak berpergian dengan membawa koper, meski hanya 2 atau 3 hari. Biarkanlah pak Dirjen berlenggang jalan didepanku, aku segera mengambil telepon genggamku lalu mencoba menghubungi Pak Udin, salah satu staff di Unit yang turut serta ikut ke Palembang.
Alangkah kagetnya aku saat dia bilang kalau dia batal menjemput atas permintaan Pengembang. Kenapa tidak dibicarakan terlebih dahulu denganku?
"Yang akan menjemput kita pihak pengembang pak." Aku memberitahukan hal tersebut kepada Pak Dirjen. Dan dia tidak protes ini itu, waw! tumben sekali batinku. Dapat kulihat Pak Dirjen hanya mengangguk pelan dan tetap berjalan lurus menuju pintu keluar atau lebih tepatnya pintu kedatangan yang terlihat cukup ramai.
Aku mengedarkan pandanganku, menyipitkan mataku mencoba menelusuri wajah-wajah orang-orang yang berkerumun di pintu kedatangan ini. Mencari diantara mereka yang memegang kertas bertuliskan nama Pak Dirjen. Dan pandanganku terhenti pada wajah yang telah aku kenali, Rahadhi Satria. Ya lelaki itu berdiri diantara kerumunan.
Mengenakan kemeja berwarna biru langit yang pas ditubuhnya dengan lengan yang digulung hingga sesiku dan wajahnya yang sumringah, kenapa dia terlihat berbeda? Ayolah Sasti tidak ada yang berbeda dari lelaki itu bisik telinga kiriku, aku menggelengkan kepalaku cepat. Enyah dari kepalaku, jangan berisik seruku cepat yang tidak ingin ada suara-suara nakal mengganggu pikiranku.
Pak Dirjen menyapa direktur muda itu, ia tampak kaget melihat pemuda itu datang menjemputnya. Hmm.. haruskah aku menyapanya? Atau aku diam saja menunggu disapa? Tiba-tiba aku merasa seperti orang bodoh. Dan akhirnya aku memilih diam, berdiri di dekat Pak Dirjen dengan membuang pandanganku ke arah lain.
Kami bertiga berjalan beriringan menuju lobi, atau lebih tepatnya Pak Dirjen dan Satria yang beriringan sedangkan aku mengekori dibelakang mereka berdua. Mendengarkan pembicaraan mereka berdua, sambil menggeret koper.
Sesampainya di ditempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang sudah ada mobil Pajero Hitam yang menunggu, seorang lelaki yang sudah berumur segera membukakan pintu untuk Pak Dirjen dan juga Satria. Setelah kedu bos itu masuk ke dalam mobil barulah lelaki berseragam safari berwarna hitam itu mengambil alih barang-barang dari tanganku. Aku membuka pintu depan lalu duduk dengan manis sambil memperhatikan susunan acara selama di Palembang yang baru saja dikirim oleh panitia ke emailku.
Entah kenapa aku ingin melirik ke arah belakang, kuberanikan diriku untuk melirik melalui ekor mataku, dan hanya sekilas karena aku langsung kembali menatap ke jalan yang ada di depanku.
"Sas, anakmu dititipin ke neneknya?" Pak Dirjen yang semula membicarakan perkembangan proyek dengan Satria, tiba-tiba menanyakan keberadaan anakku.
"Ehh..iya pak." Jawabku.
"Kenapa engga dibawa aja?"
Aku sedikit menyerngitkan dahi mendengar pertanyaan Pak Dirjen, "Ihh bapak, emang kita mau piknik pak bawa-bawa anak." Candaanku ini mampu membuat Pak Dirjen tertawa.
"Anakmu itu kan diem, penurut Sas, engga ngerepotin pasti." Tambah Pak Dirjen.
Aku mengakui dalam hati ucapan Pak Dirjen tersebut, namun tetap saja tidak terlintas dipikiranku untuk membawa Naresh ikut serta dalam perjalanan dinas seperti ini.
"Iya sih pak, tapi tetep aja lebih baik ditinggal dirumah." Elakku.
"Mba Sasti ini punya anak laki-laki Satria, umurnya itu..." Ucapan Pak Dirjen terhenti, sepertinya dia lupa umur anakku. Yah untuk apa juga dia mengingat umur anak sekretarisnya ini batinku.
"Umurnya 3 tahun pak." Aku menambahkan ucapan Pak Dirjen yang menggantung.
"Ohh iyaa 3 tahun..." Dan topik pembicaraan berubah menjadi membahas anakku.
Pak Dirjen begitu senang menceritakan Naresh, sedangkan Satria, lelaki itu hanya tersenyum dan tertawa sesekali mengimbangi cerita Pak Dirjen. Dan aku? Tentu saja ikut menimpali sesekali.
*Sasti Pov End*
--
*Satria Pov*
"Mba Sasti ini punya anak laki-laki Satria, umurnya itu......" Ucapan Pak Dirjen menggantung, mungkin dia lupa berapa umur anaknya Sasti.
"Umurnya 3 tahun pak." Sasti yang duduk di kursi depan menambahkan ucapan Pak Dirjen.
3 tahun... berarti dia sudah menikah kurang lebih 4 tahun.
Sambil mendengar Pak Dirjen yang bercerita tentang Naresh, nama anaknya Sasti. Sesekali aku mencuri pandang ke arah perempuan itu, namun aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Hanya tampak samping yang terlihat, dan dia terlihat cantik. Apalagi saat ia tertawa disela-sela ucapannya.
Aku kembali mencuri pandang ke arahnya, jemari tangan kanannya terangkat, dari pergerakannnya sepertinya ia ingin menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Dan benar saja ia menyelipkan rambutnya ke balik telinga. Perhatianku masih terpusat kepadanya, bukan, bukan ke wajahnya yang hanya tampak samping tapi ke jemari tangan kanannya.
Hmm.. tidak ada cincin di jari manisnya? Aku menyipitkan mataku berusaha memperjelas penglihatanku. Perempuan yang sudah menikah bukankah memakai cincin di jari manis tangan kanannya? Atau dia mencopotnya? Tapi kenapa?
Hei... kenapa aku harus memikirkan hal itu, memakai cincin atau tidak kan bukan urusanku. Aku mengalihkan pandanganku dari perempuan itu ke arah Pak Dirjen yang masih bercerita tentang Naresh. Sepertinya beliau sudah dekat dengan anak itu, atau memang beliau menyukai anak kecil?
Satu lagi hal positif yang aku ketahui tentang lelaki ini, benar-benar memiliki pribadi yang menyenangkan. Akhirnya mobil yang kami naiki memasuki kawasan hotel, begitu mobil berhenti di depan lobi hotel Sasti bergerak cepat turun dari mobil dan ia membukakan pintu mobil untuk Pak Dirjen. Jujur saja aku sedikit kaget melihat tindakannya yang begitu sigap, sedangkan aku turun dari sisi lain yang dibukakan oleh petugas hotel.
*Satria Pov End*
--
Setelah mendapatkan kunci kamar dari Pak Udin, Sasti bergegas ke kamarnya dan juga kamar Pak Dirjen yang terpisah satu lantai untuk menaruh barang-barang. Kenapa harus terpisah satu lantai? Heran Sasti. Sedangkan Pak Dirjen menunggu di lobi bersama Satria dan juga Pak Udin. Setelah menaruh koper Pak Dirjen di kamar, Sasti sedikit berlari menuju lift. Ia ingin segera turun ke bawah, tidak enak rasanya bila ditunggu oleh orang lain apalagi yang menunggunya adalah Pak Dirjen bosnya sendiri.
Keluar dari dalam lift Sasti segera ke lobi, namun matanya tidak menemukan kehadiran Pak Dirjen dan juga Pak Udin. Yang terlihat hanya Satria yang sedang asik dengan telepon genggamnya. Entah sedang serius atau terlalu asik dengan telepon genggamnya, Satria tidak menyadari keberadaan Sasti yang sudah berdiri disebelahnya.
"Pak, Pak Dirjen dan Pak Udin kemana ya?" Pertanyaan Sasti membuat Satria sedikit terlonjak.
"Ehh, saya ngagetin bapak ya? Maaf ya pak." Ucap Sasti merasa tidak enak.
"Pak Dirjen dan Pak Udin udah berangkat duluan, jadi kamu ke lapangan sama saya." Balas Satria sambil memasukan telepon genggamnya ke kantong celana. Ia tidak terlalu perduli dengan permintaan maaf Sasti.
"Ohh..." Sasti menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Satria yang sudah jalan lebih dahulu.
Kenapa sih dia tuh selalu jalan duluan di depan batin Sasti, ia sengaja melebarkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Satria. Baru saja mereka berdua keluar dari lobi, Pajero Hitam yang tadi menjemput Sasti di Bandara mulai terlihat memasuki lobi hotel. Petugas hotel segera membukakan pintu mobil, Satria yang berdiri di samping Sasti langsung masuk ke dalam mobil. Melihat hal itu Sasti sedikit melongo, dia berpikir Satria akan mempersilahkan dirinya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu tapi ternyata ia salah. Lelaki itu masuk tanpa memperdulikannya.
Karena aku cuma sekretaris makanya dia ga perduli? Kok engga ada adegan ladies first gitu sih ucap Sasti keki dalam hati tentunya.
Sasti menutup matanya lalu menarik nafas dan menghembuskannya kasar, ia membuka matanya kembali baru masuk ke dalam mobil. Duduk dengan menjaga jarak dari Satria.
Dalam perjalanan menuju ke tempat proyek dilaksanakan suasana di dalam mobil begitu hening, baik Satria maupun Sasti sama-sama diam. Hati Sasti yang mulai bertanya-tanya kemana mereka akan pergi, mulai merasakan gatal di lidahnya hendak bertanya kepada Satria.
"Hmm Pak, lokasinya jauh ya?" Tanya Sasti pelan takut mengganggu, ia merasa harus hati-hati dengan lelaki ini karena pribadi lelaki ini tidak bisa ditebak, tipikal yang berubah-ubah seperti bunglon.
Terhadap Pak Dirjen ia begitu ramah, tapi kenapa sama aku begini banget batin Sasti dengan mata yang terus menatap ke arah Satria. Menelusuri wajah tampan lelaki itu dari samping. Ia memiliki rahang tegas, alis tebal, mata yang tajam, hidung mancung, dan bibir yang tidak tebal tapi juga tidak tipis, sempurna batin Sasti.
"Sampai kapan kamu mau ngeliatin saya?" Ucap Satria tiba-tiba menengok ke arah Sasti membuat tatapan mereka bertubrukan.
Sial! Ini namanya malu-maluin seru Sasti dalam hati.
Dengan cepat Sasti langsung membuang muka ke arah jendela, "Sa..saya.. engga ngeliatin bapak kok." Suara Sasti terdengar gugup.
Haduuh bego bego bego batinnya, Sasti dapat merasakan wajahnya yang mulai memanas. Dilain sisi, Satria tersenyum kecil melihatnya ia tidak menyangka bisa menggoda perempuan itu.
"Ohh iya lokasinya engga jauh kok, kurang lebih setengah jam lagi kita sampai." Ujar Satria.
Setengah jam di daerah kayak gini sih itu namanya jauh batin Sasti.
Suasana di dalam mobil kembali hening, malah terasa canggung bagi Sasti. Ia merasa tidak punya keberanian lagi untuk melihat ke arah Satria.
25 menit kemudian...
Mobil yang mereka naiki berguncang pelan karena mulai memasuki kawasan proyek yang jalannya belum diaspal. Akhirnya mobil berhenti di depan bangunan semi permanen, tanpa menunggu dibukakan pintu oleh supir Satria langsung turun dari mobil. Ia berjalan mendekati pintu Sasti namun ia tidak membukanya, ia berdiri sambil berbicara dengan telepon genggamnya entah berbicara dengan siapa.
Sasti pun membuka pintu, saat hendak turun ia mengeluh ketika mendapatkan kondisi jalanan yang rusak. Sasti gantian menatap ke arah heels yang ia kenakan, lalu menghela nafas berat. Tidak terpikirkan sama sekali olehnya kalau lokasi proyek seperti ini, tau begini kan pakenya flatshoes aja dari Jakarta batinnya. Sasti menutup pintu mobil, lau berjalan dengan percaya diri namun tetap hati-hati. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan terjatuh karena kehilangan pijakan di jalan bebatuan dan berpasir ini.
Satria berjalan mengikuti Sasti dari belakang, ia masih sibuk dengan telepon genggamnya. Namun sesekali matanya menatap ke arah Sasti atau lebih tepatnya ke arah heels yang Sasti kenakan, ada kengerian yang terpancar dari mata milik Satria. Sasti yang berjalan tapi Satria yang meringis takut perempuan itu terjatuh.
"Sas..." Seru Satria membuat langkah Sasti terhenti.
Sasti pun membalikkan tubuhnya, "Iya pak?"
"Diam di situ." Perintah Satria.
Sasti menatap Satria bingung, kenapa disuruh diam? Batinnya. Namun Sasti menurutinya, ia diam tidak bergerak.
Satria berbalik ke mobil sambil berlari pelan, lalu membuka pintu belakang. Sasti bertanya-tanya dalam hati apa yang dilakukan pria itu, dan terjawablah saat ia melihat Satria menutup pintu mobil sambil menjinjing sepasang sendal jepit.
Sendal jepit?? Batin Sasti tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Satria kembali berlari ke tempat Sasti berdiri, lalu menyodorkan sendal jepit tersebut ke arah Sasti. Sedangkan Sasti menatapnya setengah melotot tidak percaya, "Ini maksudnya apa pak?"
"Ck..." Satria berdecak, dan kejadian selanjutnya benar-benar tidak terduga.
Satria berjongkok di depan Sasti, tangannya terjulur hendak melepas heels yang Sasti kenakan.
"Pak..pak.." Sasti yang kaget nyaris kehilangan keseimbangan, untung saja ia langsung berpegangan pada pundak Satria.
"Lepas heels kamu, ke tempat kayak gini kok pake heels." Ujar Satria dengan nada heran.
"Pak, tapi masa saya pakai sendal jepit." Tolak Sasti pelan. Gede juga ukurannya tambah Sasti dalam hati.
"Nanti jatuh, kalau jatuh bisa keseleo Sas. Nah kalau itu sampai terjadi jadinya nyusahin orang." Ucap Satria yang ngotot mencopot heels yang Sasti pakai lalu meletakkan sendal jepit tepat di depan kaki kiri Sasti yang sudah tidak memakai heels.
"Pak..heels saya pak." Sasti menolak untuk mengenakan sendal jepit, kaki kirinya pun berjinjit agar sama tinggi dengan kaki kanannya yang masih mengenakan heels.
"Kamu nih ngeyel banget sih, udah pake sendal jepitnya buruan." Satria memaksa Sasti, bahkan ia juga mencopot paksa heels di kaki kanan Sasti. Ingin rasanya sasti menendang lelaki aneh di depannya itu, namun ia menahan diri untuk tidak ikut serta bertindak gila.
Mau tidak mau Sasti pun mengenakan sendal jepit kebesaran berwarna abu-abu tersebut, dan suatu kebetulan yang tidak terduga sendal jepitnya tampak serasi dengan rok yang ia kenakan. Satria tersenyum puas melihat Sasti, lalu ia berjalan sambil menenteng heels milik Sasti. Lagi-lagi jalan duluan batin Sasti.
"Pak.. heels saya siniin pak." Sasti menahan lengan Satria meminta heelsnya.
"Engga.. nanti kamu pakai lagi." Balas Satria menjauhkan tanganna yang memegang heels milik Sasti, agar perempuan itu tidak bisa mengambilnya.
"Pak, beneran deh engga akan saya pakai, sini biar saya yang pegang heels saya." Pinta Sasti memelas. Ia merasa sangat aneh apabila heelsnya dijinjing oleh seorang lelaki yang tidak ia kenal.
"Bener?" Satria menaikkan sebelah alisnya.
"Beneran pak." Jari telunjuk dan jari tengah Sasti membentuk huruf V.
Satria mengedikkan sebelah bahunya, "Okelah, ini..." Ucapnya sambil menyerahkan heels hitam setinggi 10 cm itu kepada pemiliknya. Lalu berjalan meninggalkan Sasti menuju tempat Pak Dirjen berdiri yang tidak begitu jauh dari tempat mereka berdiri.
Tanpa sepengetahuan Sasti, senyum puas mengembang di wajah Satria.
--