Satria menggendong Sasti ala bride keluar dari mobil lalu masuk ke dalam hotel. Mengundang tanya para tamu dan petugas hotel yang kebetulan sedang berada di lobi.
"Perlu kami ambilkan kursi dorong pak?" Tanya petugas hotel yang datang menghampiri Satria.
Satria menggeleng pelan, bibirnya membentuk kalimat Terima Kasih kepada petugas tersebut. Petugas tersebut seakan tersadar dengan suaranya yang cukup besar tadi mengangguk dengan wajah meminta maaf kepada Satria. Ia pun membantu Satria menekan tombol lift, dan ikut masuk ke dalam lift menemani Satria. Begitu sampai di lantai tempat kamar Sasti berada, petugas lift membantu menahan pintu lift hingga Satria keluar dari dalam lift. Saat petugas tersebut hendak memencet tombol menutup, Satria langsung menahan pintu lift menggunakan kakinya.
"Ikut saya." Ucap Satria dengan sangat pelan namun pelafalan di bibirnya begitu jelas. Petugas hotel pun mengangguk lalu keluar dari dalam lift mengikuti Satria yang telah berjalan terlebih dahulu.
Satria berhenti di depan kamar 412, "Ambil kuncinya di dalam tas, resleting kecil." Perintah Satria masih dengan suara yang pelan seraya menunjuk dengan dagu tas milik Sasti yang berada di pundaknya.
Padahal ia asal tebak saja mengenai letak kunci yang berada di tas bagian resleting kecil, namun ternyata tebakannya benar. Sasti menaruh kunci kamarnya disitu. Petugas hotel membuka pintu kamar Sasti, lalu memasukkan kartu kamar Sasti pada kotak putih di dinding.
"Oke.. terima kasih." Ucap Satria pelan lalu masuk ke dalam kamar.
"Iya pak." Balas petugas tersebut lalu menutup pintu kamar nomor 412 tersebut.
Satria meletakkan Sasti di ranjang dengan perlahan, karena takut membangunkannya. Setelah mencopot heels yang Sasti kenakan ia menarik selimut sampai sebatas perut Sasti.
Satria duduk dipinggir ranjang matanya menatap wajah Sasti lamat, seolah merekam wajah Sasti dengan baik ke dalam memorinya. Tangan Satria terulur hendak merapihkan rambut Sasti yang menutupi sedikit wajah perempuan itu, baru saja menyentuh rambut Sasti belum juga merapihkannya tiba-tiba mata Sasti terbuka. Bagai terhipnotis Satria terus menatap bola mata berwarna coklat yang terbingkai dengan bulu mata lentik dan alis tebal tersebut, tangan Satria berpindah menyentuh wajah Sasti yang begitu lembut. Ia menyelipkan ke empat jarinya ke balik telinga menyentuh tengkuk Sasti sedangkan ibu jarinya mengelus pipi Sasti.
Perlahan tapi pasti Satria memajukan tubuhnya mendekati Sasti yang juga menatapnya. Bibir Satria pun melumat lembut bibir Sasti, tidak ada perlawanan dari Sasti namun Sasti juga tidak membalas ciuman tersebut. Tiba-tiba Sasti memalingkan wajahnya membuat bibir Satria terlepas dari bibirnya, seakan tersadar dari perbuatannya Satria langsung menarik tangannya dari tengkuk Sasti. Jantung Satria berdegup lebih cepat, tiba-tiba ia merasa bodoh sekali karena berani mencium Sasti. Dan sekarang otaknya seolah berhenti bekerja, lidah Satria pun kelu ia tidak tahu harus berbicara apa.
"Saya mau istirahat pak." Ucap Sasti pelan tanpa menatap wajah Satria, matanya terus menatap ke arah lampu yang ada diatas nakas di samping ranjangnya.
Satria mengangguk pelan, ia pun berdiri dari pinggir ranjang Sasti. Satria mengusap celananya berulang kali tanda kalau dirinya gugup.
"Sa..saya keluar dulu." Ucap Satria lalu berjalan dengan cepat keluar dari dalam kamar Sasti. Begitu menutup pintu kamar Satria berjalan lunglai menuju lift, berulang kali ia mengusap wajahnya dengan kasar.
Bodoh bodoh bodoh Satria berulang kali memaki dirinya sendiri. Kenapa lo kehilangan kontrol Satria, bodoh sekali batinnya.
Begitu pintu lift terbuka, Satria bergegas masuk lalu ia menekan tombol 6. Dan lift pun bergerak naik ke atas membawa dirinya serta perasaannya yang tidak karuan ke lantai 6.
--
Kecelakaan yang menimpa Sasti dan Satria membuat Pak Dirjen merubah jadwal kepulangan ke Jakarta, yang semula besok hari Kamis dimajukan menjadi hari ini, Rabu dengan penerbangan jam 9 lewat 45 menit.
Sedangkan Pak Nurwan, Pak Udin, dan juga Asep tetap di Palembang karena Pak Nurwan harus menggantikan Pak Dirjen untuk pertemuan besok pagi di Kantor Dinas.
Satria pun harus tetap di Palembang sampai empat hari ke depan karena ada beberapa hal di proyek yang harus dia tangani. Ia bertekad untuk berbicara terlebih dahulu dengan Sasti sebelum Sasti kembali ke Jakarta. Namun sepertinya keinginannya tersebut tidak dapat terwujud karena posisi Satria yang masih dalam perjalanan menuju Bandara dari tempat proyek.
Berulang kali Satria menatap jam Rolex yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, selalu ada harapan sekecil apapun itu batin Satria.
"Panggilan terakhir untuk para penumpang Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 3174 tujuan Jakarta agar segera masuk ke dalam pesawat."
Petugas bandara melakukan panggilan terakhir untuk penumpang, dimana suara tersebut menggema ke seluruh Bandara. Sasti dan Pak Dirjen yang duduk di business class tentu saja sudah masuk ke dalam pesawat. Sasti bahkan sudah memejamkan matanya bersiap untuk tidur sejenak, karena ia tidak bisa tidur semalaman. Perbuatan Satria telah mengacak-acak hati dan juga pikirannya. Setelah Satria keluar dari kamarnya Sasti terus menerus memegang bibirnya.
"Pemberitahuan kepada seluruh penumpang Garuda Indonesia sebelum pintu pesawat ditutup bahwa nomor penerbangan GA 3174 ini bertujuan ke Jakarta."
Terdengar suara pramugari dari langit-langit pesawat.
Lima menit kemudian bunyi mesin pesawat mulai terdengar nyaring, perlahan burung mesin raksasa itu berjalan mundur untuk mengambil posisi take off. Sasti membuka kembali matanya, ia menatap ke luar jendela. Saat pesawat melaju dengan kecepatan tinggi lalu mulai naik ke udara Sasti merasa seperti ada yang memanggilnya. Ada yang menyebut namanya entah siapa....
--
"Maaf bapak pesawatnya sudah take off." Ucap salah seorang petugas bandara saat Satria mencoba masuk.
Seketika tubuh Satria lunglai, pikirannya berkecamuk mengingat kejadian semalam. Kenapa semalam tidak langsung minta maaf , kenapa langsung pergi begitu saja batin Satria yang tidak habis pikir dengan tindakannya yang dirasa bodoh itu.
Jantung Satria kembali berdetak tak beraturan saat mengingat kembali kenekatan dirinya mencium bibir Sasti. Satria masih bisa merasakan sensasi saat ia mencium bibir Sasti yang kenyal dan wangi buah itu. Ia menikmatinya, ya lelaki itu tidak menyesal telah mencium Sasti. Ada rasa yang meledak-ledak di hatinya setelah mencium Sasti, dan hingga sekarang rasa itu terus ada. Satria kau pasti sudah gila, Sasti itu sudah menikah dan punya anak ia bukan wanita lajang!! relung hati Satria berteriak.
--
Pesawat yang membawa Sasti dan Pak Dirjen dari Palembang telah mendarat sempurna di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta. Sasti dan Pak Dirjen keluar dari dalam pesawat langsung menuju pintu keluar dimana supir Pak Dirjen telah menunggu.
"Kau istirahat saja Sasti, tak perlu lah kau datang ke kantor. Datang saja hari senin nanti ya." Ucap Pak Dirjen sebelum masuk ke dalam mobil.
Sasti mengangguk pelan kepada bos nya itu, "Iya pak."
"Kau pulang naik taxi kan? Janganlah kau naik damri lagi." Tambah Pak Dirjen.
"Iya pak nanti saya naik taxi."
"Hati-hati ya, coba nanti kau mampir lagi ke rumah sakit periksakan kepala kau itu ya. Nanti saya lihat hasilnya." Ucapan Pak Dirjen yang lebih terdengar seperti perintah itu pun dijawab Sasti dengan anggukan kecil.
"Iya pak, nanti saya periksa lagi ke dokter." Balas Sasti tersenyum.
"Hmm... yasudah kalau begitu." Pak Dirjen pun masuk ke dalam mobil, Sasti langsung menutup pintu mobil tersebut.
Tiin tiin..
Supir Pak Dirjen membunyikan klakson mobil sebelum Toyota New Camry Hitam tersebut melaju meninggalkan pelataran Terminal 2F. Sedangkan Sasti naik ke dalam salah satu taksi yang berhenti tidak jauh dari tempatnya mengantar kepergian Pak Dirjen.
Sasti menyalakan telepon genggamnya, ia menatap nanar foto Naresh yang menjadi wallpapernya tersebut. Ia merindukan bocah itu, sangat merindukannya. Namun Sasti harus menahan kerinduannya sehari lagi. Tidak mungkin pulang ke rumah ibu dengan keadaan seperti ini batin Sasti.
Tring!
Sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya. Sasti mengerutkan kening saat melihat siapa pengirim pesan tersebut.
Pak Satria.
Tidak ada keinginan sama sekali dihatinya untuk membaca isi pesan tersebut, Sasti pun memasukkan kembali telepon genggamnya ke dalam tas. Ia membuang pandangannya ke arah jendela taksi, menatap jalanan Jakarta yang begitu padat. Sasti memejamkan matanya, namun bayangan Satria yang menciumnya begitu lembut kembali muncul. Sasti menghembuskan nafas dengan kasar, ia kembali membuka matanya. Tanpa ia sadari tangannya menyentuh bibirnya, kenapa Satria melakukan itu kepadaku kenapa dia menciumku hati Sasti terus bertanya-tanya.
--
Kamis pagi..
Satria memang sedang berada di dalam ruangan dimana manajer lapangan sedang melakukan presentasi perkembangan proyek kepadanya. Namun pikiran Satria tidak berada di tempat itu, ia berulang kali menatap telepon genggamnya.
Kenapa Sasti tidak membalas pesan yang aku kirim sejak kemarin pagi batin Satria.
"Sekian perkembangan yang bisa saya laporkan kepada bapak." Manajer lapangan mengakhiri presentasinya, namun Satria yang sedang melamun tak mendengarnya.
"Maaf pak, Pak Irfan sudah selesai presentasi." Asisten Satria yang baru tiba di Palembang kemarin siang menyentuh pundak Satria.
"Oohh.. iyaa.. bagus bagus." Jawab Satria tergagap, ia pura-pura membaca hardcopy yang diletakkan di depannya lalu mengangguk berulang kali.
"Oke.. nanti saya panggil kalau ada yang tidak saya pahami." Ucap Satria kemudian ia berdiri dari kursinya lalu keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Asisten Satria memandang dengan heran sikap bosnya tersebut, tidak biasanya Pak Satria tidak fokus seperti ini batin Yoga.
Ia pun membubarkan peserta rapat yang ikut menyaksikan presentasi manajer lapangan, lalu menyusul Satria keluar.
"Pak apa ada masalah?" Tanya Yoga begitu langkahnya telah sejajar dengan Satria.
"Saya harus kembali ke Jakarta hari ini juga." Jawab Satria yang terus berjalan menuju mobilnya.
"Tapi pak, besok ada pertemuan penting dengan...."
"Kamu saja wakili saya dan buat laporan pertemuan tersebut." Satria langsung memotong ucapan Yoga sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
Yoga yang sudah mengerti dengan baik perangai bosnya pun tidak melanjutkan kata-kata yang dipotong tersebut.
"Saya yang menyetir saja pak." Yoga pun menawarkan diri untuk mengantar Satria, dan lelaki itu tak menolak ia turun dari balik kemudi lalu pindah ke kursi belakang. Yoga pun masuk ke dalam mobil mengambil alih kemudi.
"Bapak mau ke hotel atau langsung ke bandara?" Tanya Yoga seraya memundurkan mobil lalu menyetir keluar dari kawasan proyek.
"Bandara saja, ini kunci kamar saya kamu ambil barang-barang saya." Jawab Satria sambil menyerahkan kunci kamarnya kepada Yoga.
"Baik pak.” Balas Yoga tanpa bertanya lagi.
--
"Kepada para penumpang dalam waktu 30 menit kita akan turun dari ketinggian 35.000 kaki diatas permukaan laut, waktu di Jakartamenunjukkan pukul 12 lewat 40 menit, tidak ada perbedaan waktu antara Palembang dan Jakarta."
Pilot pada penerbangan nomor GA 2417 mengumumkan informasi terkait penerbangan kepada para penumpang. Pramugari mulai berkeliling dari satu kursi ke kursi yang lain untuk melihat kesiapan penumpang dalam pendaratan yang akan segera dilakukan.
"Maaf bapak, mohon untuk diletakkan kembali layar videonya." Ucap seorang pramugari kepada penumpang business class yang duduk di sebelah Satria. Penumpang tersebut pun mengembalikkan layar video ke tempatnya semula.
Satria memandang ke luar jendela, daratan dibawahnya mulai terlihat dan perlahan semakin dekat. Pikirannya kembali melayang kepada Sasti. Haruskah dia menghubungi perempuan itu, atau langsung datang ke kantornya.
Sedetik kemudin Satria tidak yakin kalau Sasti sudah datang ke kantor hari ini, mengingat kepribadian Pak Dirjen pasti beliau melarang sekretarisnya itu untuk masuk bekerja pasca kecelakaan yang terjadi di Palembang kemarin.
Atau menanyakan alamatnya ke kantornya saja ya, tapi mana mungkin aku datang kerumahnya. Bagaimana kalau ada suaminya, apa yang harus ku katakan? Maaf saya ingin meminta maaf karen telah mencium istri anda. Pikiran Satria bertanya sekaligus menjawabnya sendiri.
"Arrghh.." Satria mengusap wajahnya dengan kasar, ini benar-benar membuatku gila batinnya kesal.
--
Satria berjalan Santai keluar dari dalam pesawat, ia merogoh saku celananya mengeluarkan telepon genggamnya. Setelah telepon genggamnya menyala, Satria langsung menghubungi sekretarisnya di kantor.
"Halo rin..."
"............"
"Coba kamu cek ke kantor Pak Dirjen, beliau ada di tempat atau tidak."
"..........."
"Ok."
Setelah sambungan terputus Satria kembali memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celananya. Sesampainya di pintu keluar, Satria menangkap wajah seorang lelaki yang begitu familiar. Karyo- supirnya telah berdiri di dekat pintu keluar.
"Selamat siang pak." Sapa Karyo begitu Satria sudah didepannya. Satria mengangguk tersenyum lalu mengikuti Karyo dari belakang.
"Maaf bapak tunggu disini dulu ya, saya ambil mobil ke parkiran." Ucap Karyo.
"Tidak perlu, saya ikut saja ke parkiran." Tolak Satria.
"Baik pak.." Karyo pun terus berjalan menuju parkiran mobil dan Satria mengikutinya dari belakang hingga sampai ke tempat mobilnya di parkir.
Mobil milik Satria baru saja keluar dari kawasan Bandara Internasional Soekarno Hatta ketika telepon genggamnya kembali berdering. Masuk sebuah panggilan dari Arin.
"Ya..."
"........."
"Ohh begitu, oke makasih ya."
Sambungan terputus, Satria terus menatap layar telepon genggamnya yang meredup. Pak Dirjen tidak ada di kantor, tidak mungkin kalau dia datang kesana. Satria terus menimang telepon genggamnya, hatinya meragu antara menghubungi Sasti atau mengirimkannya pesan. Kalau kirim sms belum tentu dibalas, tapi kalau telpon belum tentu juga diangkat. Tapi setidaknya kalau sms Sasti pasti akan membacanya bukan, Satria terus berbicara kepada dirinya sendiri. Perlahan kedua jempol Satria pun mulai bergerak di layar telepon genggamnya, mengetik sebuah pesan untuk Sasti.
Hai, apa kabar?
Satria mengerutkan keningnya saat membaca kalimat yang ia ketik, lalu ia menghapusnya.
Selamat siang, apakah kita bisa bertemu? Ada yang ingin saya bicarakan
Satria menatap pesan tersebut dengan tidak yakin, ia pun kembali menghapusnya.
Maaf, ada yang ingin saya bicarakan. Bisakah kita bertemu?
Satria membaca berulanh kali kalimat yang ia ketik, dengan ragu jempol kanannya pun menyentuh tanda send pada layar handphonenya. Pesan terkirim.
Deg deg deg!
Satria dapat merasakan jantungnya yang berdegup kencang seperti ingin melompat keluar. lima menit telah berlalu, belum ada balasan dari Sasti membuat Satria frustasi menatap layar telepon genggamnya. Apakah dia tidak membacanya pikiran Satria pun mulai menebak-nebak.
Satria menatap langit yang mulai mendung dari jendela mobil, ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Mungkin lebih baik kalau menelpon saja batin Satria.
Ia pun menekan nama Sasti hingga panggilannya tersambung.
Tut..
Tut..
Tut..
Jantung Satria berdegup semakin kencang menunggu panggilannya dijawab.
"Halo...." terdengar suara lembut Sasti dari balik telpon. Satria diam tidak berkutik, kata-kata yang telah ia rangkai telah lenyap begitu saja dari kepalanya.
--