102
“AKU MASIH tidak percaya kau tidak pernah naik pesawat sebelumnya,” seru aku saat Damon duduk dengan tegang di kursi tunggu bandara. Pria itu memeluk lengan aku erat, sembari menatap pesawat terbang yang bergerak mulus di landasan bandara.
Setiap kali ada bunyi mesin pesawat yang besar dan keras, Damon akan meringis. Dia akan meremas lengan aku saat melihat pesawat landing, atau melihat pesawat yang take off di kejauhan.
Baiklah, mungkin duduk di kursi yang paling dekat dengan jendela gelas kaca masif yang bisa memperlihatkan pemandangan di landasan bandara bukan lah hal yang bagus bagi seorang pemula.
Tapi bandara ini cukup penuh, dan aku tidak ingin mencari tempat lain.
Lagi pula, ada kepuasan tersendiri melihat Damon yang takut dan bersikap konyol. Bisa kalian bayangkan Damon