92
LILITH MEMBASAHI bibir. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha untuk tidak merasa iba terhadap pria di depannya. Lilith menggeleng dan melengos saat melihat sorot mata Talon yang miris. Sangat kontras dengan gelak harsa yang dia keluarkan.
Gadis itu terus mengangkat dagu, menolak untuk terasa terintimidasi dengan rasa kasihan dan postur tubuh Talon yang tidak lagi tegak dan tegas. Tubuhnya yang masif seperti mengecil beberapa senti. Bahunya tidak lagi lebar, tapi jatuh ke bawah. Senyum tipis itu masih ada di bibir saat Lilith akhirnya menatap dia lagi. Gadis itu bersungut.
“Menolak?” suaranya pelan dan nyaris tidak terdengar.
Talon mengangguk. “Kau sama saja dengan menolak aku sekarang.”
“Aku bisa . . . melakukan itu?”
Talon terdiam. Dia mengobservasi Lilith yang terlihat seperti s