Pemuda dengan tubuh tegap itu berjalan menyusuri padang rumput, mengikuti sosok berjubah hitam didepannya. Pemuda itu melihat ke sosok di depannya yang melayang sekitar satu kaki di atas tanah, terus melayang maju tanpa berhenti. Ia terus mengikuti sosok itu, hingga sampai ke sebuah bukit tak jauh dari tempat mereka tadi bertemu. Di atas bukit, tanah diselimuti rerumputan halus yang tumbuh tidak sampai setinggi mata kaki, meski beberapa tetap tumbuh melebihi mata kakinya. Tidak ada pohon tinggi yang tumbuh di atas sana, seperti pepohonan di hutan. Hanya ada beberapa pohon setinggi pemuda itu dan beberapa lain lebih pendek tumbuh disana. Dari atas bukit itu, ia menoleh ke arah samping bukit, dimana rumah orang tuanya dan pemuda itu tinggal. Meski tidak nampak seluruh bagiannya, masih dapat terlihat bagian puncak atap rumah itu.
Melihat rumahnya itu, pemuda itu berhenti sejenak, lalu memandangi rumah di bawah sana. “Itu dia!” seru pemuda itu. “itu rumah kami, dimana kami tinggal.
Aku masih ingat, ketika ayah kami menebang pohon di samping rumah kami, lalu dari kayu pohon itu ia buat pagar mengelilingi rumah kami. Bekas tebangan pohon itu ia biarkan sampai sekarang disana. Terkadang, kami gunakan sebagai meja dan terkagang kami gunakan sebagai alas untuk memotong kayu bakar yang ibu gunakan untuk memasak. Tapi sesekali aku melihat ibu duduk di atas sana, ketika menjahitkan baju untuk kami menggunakan tangannya. Lihatlah! Baju yang aku kenakan ini juga baru ia buatkan untuk ku kemarin. Ia juga menjahitnya sambil duduk disana.”
Sosok hitam yang tadi melayang di depannya, kini melayang-layang di samping pemuda itu, ikut melihat ke arah mana mata pemuda itu memandang. Sesuatu yang disebut oleh pemuda itu rumah, hanya terlihat sebagian kecil atapnya saja. di sekelilingnya, tertutup oleh dedaunan hijau dari pepohonan yang tumbuh disana.
Pemuda itu masih berbicara padanya, menceritakan seperti apa kehidupanya di rumah itu, bersama dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
“Aku tidak tau apa yang ayah kami kerjakan setiap hari. Tapi ia selalu pulang membawa makanan. Buah-buahan, daging buruan, banyak yang ia bawakan untuk kami. Jadi saat aku sudah tumbuh lebih tinggi dan kuat dari ayah kami, aku menebang beberapa pohon dekat sana,” kata pemuda itu menunjuk ke arah beberapa jauh dari rumahnya. “Aku merapikan tanahnya, lalu dari kayu itu juga aku membuat pagar mengelilingi tanah itu. Setelahnya aku membangun seperti rumah, tapi itu bukan rumah, karena kami tidak tinggal disana. Tempat itu aku jadikan kandang untuk beberapa hewan yang aku tangkap, lalu aku pelihara disana.
Aku mencari hewan-hewan itu di padang agak jauh dari sana. Sepertinya waktu itu kami berjalan hingga dekat gunung yang ada disana itu. Disana, kami mendapatkan kambing, domba, sapi, beberapa burung. Kami tidak mengambil semuanya…” jelas pemuda itu, sembari mengalihkan matanya kepada sosok hitam disampingnya sejenak. “Kami hanya mengambil beberapa pasang saja dari masing-masing hewan. Selebihnya kami biarkan mereka tetap hidup di dekat gunung itu. Dan kami juga tidak mengambil anak hewan yang masih menyusui atau induk yang masih menyusui anaknya. Yang kami ambil hanya hewan yang kira-kira masih muda dan segar, serta sudah tidak menginduk lagi. Kami mengikat mereka berkelompok, sesuai jenis mereka, lalu menuntun mereka berjalan selama beberapa hari menuju rumah kami.
Itu menjadi perjalanan terpanjang yang pernah aku lakukan. Dan perjalanan itu tidak mudah. Beberapa hewan buas mendatangi kami dan hewan-hewan yang kami tangkap. Itu sungguh membuat hewan-hewan yang kami bawa tidak terkendali. Begitu juga dengan kami yang harus mengusir mereka, sembari menjaga hewan-hewan itu untuk tidak kabur. Sayangnya, hewan-hewan buas itu mendapatkan beberapa hewan dari kami, sehingga kami hanya berhasil membawa beberapa ekor saja dari masing-masing hewan itu. Tapi itu tidak masalah. Hewan-hewan itu masih ada jantan dan betina, cukup untuk kami pelihara. Jadi kami masih dapat membiakannya di tempat kami.
Setelah sampai, setiap pagi aku akan membuka kandang mereka, membawa hewa-hewan itu berjalan di padang rumput agar mereka dapat makan. Aku pikir mereka akan kabur ke dalam hutan, sehingga aku membawa tongkat yang ku buat dari batang pohon bersamaku, ketika ku bawa mereka ke padang. Diluar dugaan, mereka cukup tenang. Hanya perlu ku ayunkan tongkatku, seperti ini…” ia memperagakan bagaimana ia mengulurkan tangannya kedepan, seolah ia memegang tongkat kayunya itu. Terlihat dari gerak tangannya, ia menyentuhkan tongkat kayunya ke arah hewan ternaknya dengan perlahan, tanpa memukul hewan itu secara kasar. “…Lalu mereka akan kembali ke kawanan mereka lagi. Begitulah aku mebawa mereka ke padang dan kembali lagi ke kandang mereka.
Meski aku juga memagari sekeliling padang itu, supaya hewan-hewan buas tidak mendatangi ternakku, aku tetap menjaga mereka disana. Tentu saja aku juga membuat beberapa senjata dari batu disana. Supaya jika ada hewan buas masuk, lalu ingin memangsa salah satu dari hewan ternaku, aku dapat melawan mereka.
Sangat menyenangkan melihat hewan-hewan itu menjadi terbiasa dengan sekeliling mereka. Mereka dapat makan dengan tenang di padang rumput itu, saat aku mengeluarkan mereka dari kandang. Ketika aku membawa mereka kembali ke dalam kandang waktu matahari hamper terbenam, juga tidak sesulit saat pertama kali kami membawa mereka kemari.
Lihat disana!” seru pemuda itu, sembari menunjuk sebidang lahan di bagian timur mereka. Nampak tanah di sana ditumbuhi dengan beberapa pohon yang menghasilkan buah, dimana pohon buah-buahan itu tidak tumbuh dengan sendirinya, namun seperti sengaja ditanam oleh seseorang, melihat bagaimana tumbuhan disana tumbuh dari dalam tanah dengan begitu rapid an tertata membentuk garis panjang yang saling berjejer. “Kakakku menanam berbagai macam buah dan sayur. Lihat!” ia menunjuk kearah lading itu sekali lagi. “Ladang yang diolah kakakku juga memberikan hasil di tahun ini, sama seperti ternak-ternakku yang melahirkan anak-anaknya. Itu membuat kami senang, kami mendapatkan hasil bersama seperti ini. Lalu kami…” pemuda itu tidak dapat melanjutkan kata yang ingin ia ucapkan. Senyumnya yang sedari tadi menghiasi wajah lembutnya dan mata berbinarnya ketika berbicara, kini lenyap, seperti cahaya dari matanya tidak pernah ada sebelumnya.
Sekali lagi, ia tak dapat menopang tubuhnya dengan kedua kakinya. Ia terduduk lemas di atas tanah, yang kini bahkan tidak mengenali kehadirannya disana. Dengan suara nyaring ia menangis, meraung.