Pemuda itu terkejut, ia bisa melihat bagaimana kakaknya tertawa. Ia tidak pernah menyangka akan hal itu. Ia berharap itu adalah sebuah ketidak sengajaan saja. Mengetahui kakaknya bisa menjadi seseorang yang tidak pernah ia kenal seperti saat ini, membuat hatinya semakin perih. Membuatnya kembali menangisi apa yang telah terlanjur terjadi.
Pemuda itu masih menangis, ia sungguh tidak menyangka kakaknya yang telah memisahkan nyawa dari raganya itu. Kini ia tidak dapat lagi berpikir mengapa ia melakukannya. Bahkan, jika pun bisa, tidak akan ada yang berubah. Kini ia telah berada pada dunia yang berbeda dan tidak seharusnya masih berada di sana. Ia mengetahui hal itu. Meski demikian, ia masih menangisi apa yang telah terjadi.
Ia melihat ke arah kematian yang masih setia berdiri tidak jauh dari nya. Kini ia mulai berpikir, untuk apa sosok misterius itu berdiri dihadapanya? Ia yakin, itu bukan sebuah kebetulan. Hanya sosok itu yang melihatnya, sementara kakaknya tidak bisa. Hal itu menjawab sebagian pertanyaan dalam kepalanya.
"Apa yang akan terjadi padaku sekarang?" kata sang adik.
Ia bertanya pada kematian dengan wajah sendunya. "Apakah kau datang untuk membawaku pergi?"
Kematian memandang ke arah pemuda tampan itu. Matanya masih penuh diliputi dengan kesenduan, meskipun kini ia terlihat lebih tenang. Dapat terlihat dari bagaimana ia bertanya pada Kematian, bahwa kini ia telah menerima kenyataan pahit yang terjadi padanya.
Kematian melayang haanya beberapa jauh dari atas tanah, mendekatkam dirinya ke arah pemuda itu, lalu mengulurkan tangan lentik nan putih miliknya. Tanpa ragu sedikitpun, pemuda itu meraih tangan Kematian yang terulur padanya.
Pemuda itu melihat ke wajah Kematian dengan mata birunya yang jernih, tanpa dapat tertutupi oleh sisa kepedihan sesaat lalu. Kerudung hitam diatas kepala Kematian yang menutupi kepalanya, kini berkibar, seolah tersapu menjaih dari wajahnya oleh angin lirih yang berhembus, memperlihatkan jelas wajah putih bersih dibaliknya. Mata biru tajam dan jernihnya, dapat menyaingi kilau jernih pemuda di depannya tanpa ampun. Tak dapat dipungkiri, pemuda itu seketika terpana dengan ketampanan sang Kematian dihadapannya itu.
"Anda memiliki wajah menawan seperti seorang malaikat, tuan," kata pemuda itu sembari tersenyum.
Tanpa menghiraukan ucapan pemuda itu, Kematian melampaikan tangannya ke arah samping. Seketika, rerumputan hijau yang menyelimuti tanah berubah menjadi tanah bebatuan nan dingin. Tidak ada satupun manusia atau tanda kehidupan dari makhluk lain disana. Seolah tak ada satu pun dapat hidup bahkan sehari disana.
Tak ada apapun disana, pemandangan jauh ke depan maupun ke belakang hanya ada bentang langit hitam sendu tidak berujung. Hembusan angin seakan-akan enggan berhembus di tempat itu, menambahkan gelegar dingin menusuk.
Kamatian menuntun pemuda itu berjalam semakin jauh ke dalam kegelapan tempat itu, tanpa sekalipun menghentikan langkah kaki mereka.
Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di ujung jalan berbatu. Tebing terjal menjadi batasan jelas antara tempat yang kini mereka pijak dwngan sesuatu dalam kegelapan di arah sana. Di depan mereka, terpampang anak tangga menuju ke bawah. Selangkah demi satu langkah berani, pemuda itu terus mengikuti Kematian berjalan menuruni anak tangga terjal itu.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, mereka terus berjalan melangkahkan kaki, usai anak tangga terakhir mereka pijak. Setelah melangkah maju beberapa puluh langkah, mereka berhenti disana. Tidak ada apapun disana, selain kelebat putih kain yang mulai menguning karena usia yang dikenakan pemuda itu, tidak ada lagi warna lain yang terlihat. Hanya kegelapan menyelimuti mereka.
"Tempat apakah ini, tuan?" tanya pemuda itu. Ia memandang kesekitar, namun tidak menemukan apapun. Jika bukan karena kain putih yang ia kenakan, mingkin ia akan yakin bahwa matanya kini menjadi buta.
"Apakah saya akan berada di tempat ini mulai sekarang?" Intuisi pemuda itu memang tepat, ia akan berada di tempat itu tanpa batas waktu.
Kematian mendekatkan wajahnya ke depan wajah pemuda itu, agar ia dapat melihat wajah Kematian. Dengan penuh perhatian, pemuda itu memperhatikan mulut Kematian yang mulai terbuka dan merapalkan kata demi kata.
"..."
Untuk yang terakhir kalinya, pemuda itu tersenyum kepada Kematian, usai ia mengatakan beberapa kata.
"Saya mengerti, tuan. Terima kasih karena anda masih memberikan waktu kepada saya."
Dengan perlahan, kegelapan merayap dari bawah kaki pemuda itu, menjalar semakin naik, hingga menyelimuti seluruh tubuh si pemuda. Kain putih yang ia kenakan, kini tidak mampu lagi menandingi hitam kelam kegelapan yang telah menelan jiwanya. Senyum kerelaan yaang terpancar pada wajahnya pun kini telah terbungkus oleh hitam gelap dari kegelapan yang menyelimutinya.
Usai pemuda itu terlelap dalam kehampaan, Kematian mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Ia melambaikan tangan ke arah udara, seolah ada sebuah pintu di sana, tempat tadi kini berubah kembali menjadi pemandangan sebuah rumah, tempat yang pernah ditunjukan oleh pemuda itu sebagai rumahnya. Tanpa melangkah lebih dekat, Ia mendengar tangis suara seorang bayi dari dalam rumah itu. Usai sebuah kematian, kehidupan lain datang menghampiri rumah itu.