Asap dari wajan itu mengepul tepat ketika azan magrib selesai berkumandang dari masjid di ujung gang. Galang mengaduk nasi goreng kambing dengan gerakan yang sudah ia hafal sejak umur tujuh tahun—miring sedikit ke kiri, sentakkan dua kali, balik. Bukan gerakan yang ia pelajari dari sekolah masak. Tidak ada sekolah masak di hidupnya. Gerakan itu ia warisi dari tangan ayahnya, lewat ratusan malam berdiri di samping gerobak kaki lima yang catnya sudah mengelupas di mana-mana.
"Bang, satu lagi yang pedes banget!" teriak seorang tukang ojek dari trotoar.
"Siap, Bang Karno. Pedes level neraka, kan?" Galang menyeringai, melempar dua cabai rawit utuh ke wajan.
Gerobak itu bernama "Sari Rasa". Nama itu ditulis ayahnya, Pak Hadi, dengan kuas dan cat merah yang sekarang sudah memudar jadi merah jambu. Pak Hadi meninggal delapan bulan lalu. Serangan jantung, di tengah kerumunan pelanggan, sambil memegang sutil. Galang masih ingat bagaimana ayahnya jatuh tanpa sempat melepaskan pegangan, seakan-akan bahkan dalam kematian pun ia tak mau berhenti memasak.
Sejak itu, gerobak ini jadi milik Galang. Dan Galang, dua puluh tiga tahun, tidak punya apa-apa lagi di dunia ini selain gerobak ini dan resep-resep yang tersimpan di kepala dan lidahnya.
Ia mencicipi sedikit nasi goreng itu dengan ujung sutil. Kurang. Ia menambahkan sejumput gula merah serut. Mencicipi lagi. Pas. Manis dari gula merah itu membulatkan rasa kecap dan asin dari kaldu kambing—trik kecil yang ayahnya ajarkan suatu malam sambil berbisik, seakan itu rahasia negara.
"Lidahmu itu warisan, Lang," kata Pak Hadi dulu. "Bukan tanganmu yang masak. Lidahmu yang masak. Tangan cuma ngikutin."
Galang menuangkan nasi goreng ke piring kertas, menaburkan bawang goreng, lalu menyodorkannya pada Bang Karno yang sudah menunggu sambil menahan lapar.
Suapan pertama. Bang Karno memejamkan mata. "Ya ampun, Lang. Ini... ini sama persis kayak bikinan bapak lu."
Galang tersenyum tipis, tapi ada sesuatu yang menusuk di dadanya. Sama persis. Itu pujian sekaligus beban. Sama persis berarti ia belum jadi siapa-siapa. Ia masih bayangan ayahnya.
Malam itu seperti malam-malam lainnya. Gerobak Sari Rasa berdiri di pinggir Jalan Mawar, di antara warung kelontong dan tukang tambal ban, melayani buruh pabrik yang pulang malam, sopir taksi, mahasiswa kantong tipis, dan siapa pun yang lapar dan tak punya banyak uang. Galang menjual nasi goreng kambing seharga lima belas ribu. Porsinya banyak. Rasanya, kata orang-orang, melebihi harganya.
Sekitar pukul sepuluh, ketika lalu lintas mulai sepi, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tak jauh dari gerobak. Mobil itu tampak salah tempat di gang sederhana ini, seperti berlian yang jatuh ke selokan. Pintunya terbuka, dan keluarlah seorang pria berjas mahal, mungkin pertengahan empat puluhan, dengan rambut tersisir rapi dan jam tangan yang nilainya barangkali setara dengan gerobak Galang dikali sepuluh.
Pria itu mendekat, mengamati gerobak dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan jijik. Bukan juga kagum. Lebih seperti seorang penilai yang sedang bekerja.
"Nasi goreng kambing, satu," kata pria itu. Suaranya datar, terlatih.
"Pedes apa nggak, Pak?"
"Apa adanya. Saya mau rasa aslinya."
Galang mengangkat alis. Jarang ada pelanggan yang bilang begitu. Ia memasak dengan saksama, lebih saksama dari biasanya, entah kenapa. Mungkin karena tatapan pria itu terasa seperti ujian. Ia menyajikan piring kertas itu dengan dua tangan.
Pria itu tidak duduk di bangku plastik yang disediakan. Ia berdiri, mengambil sumpit, dan mencicipi satu suapan dengan cara yang aneh—pelan, dengan mata setengah terpejam, mengunyah seakan menghitung sesuatu. Hampir semenit ia diam.
"Kambingnya direbus pakai apa?" tanya pria itu akhirnya.
"Air kelapa, Pak. Sama serai, jahe, sedikit kayu manis."
"Kenapa kayu manis?"
Galang ragu sebentar. "Buat ngilangin bau prengus, tapi bukan ditutup pakai rempah keras. Kayu manis cuma sedikit, biar wanginya halus, nggak nabrak."
Pria itu memandangnya lama. Lalu, untuk pertama kalinya, sudut bibirnya naik sedikit. "Siapa yang ajarin kamu?"
"Bapak saya."
"Dia chef?"
Galang menggeleng. "Dia tukang nasi goreng. Di gerobak ini."
Pria itu meletakkan piring yang sudah kosong—habis tak bersisa. Ia merogoh saku, mengeluarkan selembar kartu nama putih bersih, dan menyodorkannya. Galang menerimanya dengan tangan yang sedikit kotor minyak.
Di kartu itu tertulis: ARDIANSYAH WIJAYA — General Manager, Restoran Auriga.
Galang tahu nama itu. Semua orang yang pernah dekat dengan dunia kuliner tahu nama itu. Auriga. Restoran bintang lima paling bergengsi di kota ini, tempat sepiring makanan harganya bisa setara penghasilan Galang sebulan.
"Saya nggak salah pesen makanan ke sini," kata Ardiansyah. "Datang ke Auriga minggu depan. Saya mau lihat apa kamu cuma beruntung, atau memang punya sesuatu."
Lalu ia berbalik, masuk ke mobil hitamnya, dan pergi. Meninggalkan Galang berdiri di samping gerobak ayahnya, memegang kartu nama yang terasa lebih berat dari seharusnya, dengan jantung berdebar untuk alasan yang belum ia mengerti.