Dara melipat mukena yang telah selesai digunakannya untuk sholat subuh lalu menyampirkannya di punggung kursi belajarnya. Kemudian gadis itu bergegas keluar kamar. perutnya keroncongan minta diisi. Sesampainya di ruang makan Dara langsung membuka tudung saji di atas meja dengan penuh harap. Tapi matanya melotot melihat apa yang ada di bawah tudung saji itu hanyalah sepotong kepala ikan goreng dan sambal terasi yang sudah setengah kering.
“Maaaak…. Mamak!...” teriak Dara sambil bergegas ke arah dapur.
Tak mendapati ibunya di dapur, gadis itu berbalik menuju ke kamar orang tuanya. Di dalam kamar orang tuanya, ibunya nampak tengah memasukkan dompet ke dalam tas yang biasa dipakai untuk bepergian.
“Mamak mau kemana?” tanya Dara heran melihat ibunya yang sudah rapi sepagi ini.
Bu Usman mengangkat wajahnya menatap anak gadis semata wayang yang tengah berdiri dihadapannya.
“Mamak dan ayah mau antar penganten ke Tebing,” Jawab ibunya sambil merapikan baju kurung yang dikenakannya.
“Siapa Mak?” tanya Dara.
“Si Dani, anaknya Wak Atik yang punya kedai sampah di muka lorong dua belas,” Bu Usman menjelaskan kepada anaknya.
Dara ingat Dani, laki-laki itu sebaya dengan abangnya, Andri. Dulu saat Andri belum merantau ke jawa, Dani sering main ke rumahnya. Bahkan laki-laki itu kadang suka mengganggunya. Andri dulu suka meledek kalau Dani itu naksir Dara dan jelas membuat Dara uring-uringan mendengarnya.
“Terus mamak gak masak hari ini?” tanya Dara.” Aku lapar, Mak.”
Mendengar Dara merengek, Bu Usman membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribuan.
“Nah, buat beli sarapan dan makan siang,” Kata Bu Usman sambil mengulurkan lembaran sepuluh ribuan itu ke arah anak gadisnya.
Dara melotot tak percaya.
“Sepuluh ribu? Mana cukup!” protesnya.
“Cukup,” Sahut ibunya, “Beli lontong buat sarapan lima ribu, beli indomie buat makan siang tiga ribu, beli telur buat makan malam dua ribu, buat jaga-jaga kalo Mamak pulangnya nanti kemalaman.”
Dara menatap ibunya dengan pandangan tak percaya. Sungguh penjelasan yang membagongkan.
“Ish, Mamak tega, masak siang aku cuma dikasih makan indomie sementara mamak makan enak di pesta. Aku mau beli nasi bungkus lah,” protes Dara.
“Gak usah beli nasi bungkus, Mamak udah masak nasi tadi, nanti sayang nasinya gak ada yang makan. Nah Mamak tambahin lima ribu lagi untuk beli gorengan.” bu Usman menarik selembar uang lima ribuan dari dalam dompetnya dan menyerahkannya ke Dara.
Dengan wajah cemberut Dara menerima uang itu dan memasukan ke dalam saku celana selututnya.
Ish, harus ngerayu ayah nih, bathin Dara berbisik.
Gegas ia keluar kamar dan menuju teras. Biasanya pagi-pagi begini ayahnya mempunyai kebiasaan duduk di kursi teras sambil minum kopi. Dan dugaannya tak salah.
Di teras nampak Pak Usman sedang menyemir sepatu hitamnya hingga mengkilat.
Dara menghampiri ayahnya yang sudah rapi berpakaian batik dan celana panjang hitam lalu duduk di salah satu kursi kosong yang ada di teras.
“Wuuiih, ayah ganteng kali pun,” dengan logat medan yang kental Dara mulai melancarkan rayuan mautnya.
Sebagai anak kesayangan ayahnya, rayuan maut dan rengekan Dara biasanya selalu berhasil meluluhkan hati ayahnya untuk mengabulkan semua permintaan dari anak gadis satu-satunya itu. Pak Usman tersenyum dan menatap anaknya sekilas.
“Mau minta apa, hhmm?” tanyanya to the point.
“He he he,,, Ayah tahu aja,” Dara menggaruk kepalanya yang memang gatal karena tadi malam dia tidak mandi dan sudah dua hari belum keramas.
“Ayah kan udah hafal kebiasaanmu.. sudah khatam sama rayuanmu,” sahut Pak Usman sambil melihat sekali lagi sepatu hitamnya yang sudah kinclong sehingga bisa menampilkan bayangan wajah dirinya di permukaan sepatu.
“Yah, tambahin dong uang jajanku. Masak Mamak Cuma kasih aku lima belas ribu buat beli lontong dan indomie. Aku kan pengen makan nasi bungkus pake rendang,” rengek Dara.
Pak Usman terkekeh mendengar rengekan putrinya itu. Tanpa berkata apa-apa ia mengeluarkan dompet dari saku belakang celana panjangnya dan menarik selembar uang berwarna biru.
Wajah Dara langsung berbinar ceria melihat pecahan lima puluh ribuan di tangan ayahnya. Tanpa basa basi lagi, diambilnya uang itu dan dimasukan ke dalam saku celana selututnya. Dipeluk dan diciumnya pipi sang ayah dengan rasa sayang. Dara memang sangat menyayangi ayahnya. Begitupun Pak Usman yang sangat menyayangi dan memanjakan Dara.
Bukan apa-apa, dulu setelah menikah dengan istrinya selama lima tahun mereka berdua belum dikaruniai momongan. Akhirnya mereka membawa Andri, anak dari kakak Pak Usman yang suaminya telah meninggal karena kecelakaan, untuk tinggal bersama dan dirawat layaknya anak kandung sekaligus sebagai pancingan agar istrinya bisa segera hamil.
Saat itu Andri berusia tiga tahun, ia mempunyai seorang abang berusia dua tahun lebih tua darinya dan seorang adik perempuan yang masih berusia enam bulan. Kedua saudara kandungnya tetap tinggal bersama ibu mereka di kota lain sementara Andri diajak pamannya, Pak Usman dan istrinya ke kota Medan untuk tinggal bersama mereka.
Dan benar saja, atas ijin Allah, dua tahun setelah membawa Andri, istri Pak Usman pun dinyatakan hamil. Lalu lahirlah Dara, yang menjadi putri satu-satunya keluarga Pak Usman.
Dara tumbuh menjadi gadis yang ceria dan cenderung tomboy. Ia sering ikut bersama Andri untuk main layang-layang dan kelereng. Bahkan tak jarang Dara ikut abangnya itu bermain sepeda hingga ke perbatasan kota, melewati perkampungan penduduk yang masih ada sawahnya.
Bu Usman sering dibuat stress dengan kelakuan putrinya itu, makanya ia sering mengomel jika Dara sudah mulai dengan tingkahnya yang kelaki-lakian. Bukan karena tak sayang, justru karena sayang lah makanya Bu Usman marah. Ia tak ingin putri semata wayang yang didapatnya dengan susah payah itu sampai celaka.
Walau tomboy, Dara ini berwajah cantik dan kulitnya putih. Bulu mata lentik, hidung bangir. Rambutnya tebal dan hitam. Tapi dasar Dara tidak terlalu suka berdandan, kadang rambutnya hanya diikat asal ke belakang.
Karena Dara malas mengurus rambutnya yang panjang, pernah suatu hari ia minta ijin untuk memotong rambutnya di tukang pangkas khusus laki-laki agar bisa di potong seperti model rambut Andri. Langsung saja Bu Usman mencak-mencak dan menjewer telinga Dara. Ada-ada saja kelakuan Dara.
Sedari kecil Dara dekat sekali dengan Andri. Ketika Andri lulus SMA dan di terima kuliah di Surabaya Dara sangat kehilangan. Ia bertekad ingin bisa kuliah di Surabaya juga agar bisa dekat dengan abangnya itu. Sekarang Andri sudah lulus sarjana dan bekerja di salah satu perusahaan multinasional di ibu kota Jawa Timur tersebut.
Bu Usman keluar dari pintu depan dengan dandanan rapi. Baju kurung dan rok yang terbuat dari kain songket dengan jilbab senada. Sambil sekali lagi memeriksa isi tasnya, ia menghampiri suami dan putrinya di teras.
“Nanti jangan keluyuran ya Dara. Kemarin kan kamu udah seharian pergi. Jangan lupa kasih makan Samson dan bersihkan tempat pup-nya. Nanti rumah di sapu dan di pel. Nanti sore tanaman disiram. Kalau sudah selesai masak dan matikan kompor jangan lupa periksa gas, ada bau bocor gak. Itu cucian di mesin cuci kalau sudah selesai langsung dijemur, jangan kelamaan, nanti bau apek… “ pesan dan kesan ibunya panjangnya dari Sabang sampai Merauke.
Pak Usman hanya geleng-geleng kepala mendengarnya. Sementara Dara mengangguk-angguk patuh. Ia tidak mau kena jewer ibunya, makanya di-iyakan saja semua pesannya. Lagi pula hari ini memang ia tidak ada rencana untuk keluar rumah.
Setelah kedua orang tuanya berangkat menuju rumah Wak Atik, Dara mengunci pintu pagar dan masuk ke arah rumah. Kepalanya celingukan mencari Samson, kucing jantan peliharaannya.
“Samson… puuusssss… puuussss…” teriak Dara memanggil kucingnya.
Tak lama dari balik kursi ruang tamu keluar seekor kucing berwarna putih abu. Kucing itu menguap lebar, sepertinya baru bangun tidur.
“Sini, kamu mau sarapan kan?” ajak Dara sambil melangkah ke arah dapur.
Dibukanya tutup tudung saji lalu diraihnya kepala ikan dan diletakkan di atas wadah khusus untuk makan kucing. Samson segera berlari menghampiri wadah makannya dan mengendus-endus kepala ikan itu lalu mulai menggigitnya dengan rakus.
Melihat kucingnya begitu menikmati sarapan, Dara jadi teringat dengan perutnya yang kosong. Bimbang antara keluar untuk membeli sarapan atau mau mandi dulu, secara tadi malam dia tidak mandi karena sangat mengantuk dan langsung tidur jadi badannya terasa lengket sekali. Akhirnya Dara memutuskan untuk mandi dulu. Tak berlama-lama di kamar mandi, setelah selesai gadis itu bergegas berpakaian dan keluar rumah untuk membeli sarapan.
Saat keluar pagar dilihatnya mobil rombongan pengantin baru mulai jalan. Semuanya ada tiga mobil. Biasanya di lingkungan tempat tinggalnya jika ada warga yang akan menikah di luar kota memang sebagian tetangga akan ikut mendampingi si calon pengantin dan keluarganya. Kehidupan warga disini memang sangat akrab, layaknya seperti keluarga sendiri. Selain itu, ayahnya yang berprofesi sebagai guru juga sangat dihormati disini. Ibunya sebagai ketua pengajian ibu-ibu setempat juga kerab diminta untuk ikut menemani keluarga dari calon pengantin.
Dara melangkah ke arah warung yang menjual sarapan yang hanya berjarak tiga rumah dari rumah orang tuanya. Dilihatnya ada dua orang yang sedang mengantri untuk membeli sarapan.
“Beli apa Dara?” tanya Wak Nur si penjual lontong.
“Lontong wak, biasa. Sama gorengannya dua.”
“Sebentar ya, Uwak bungkuskan pesanan Ibu Hasan dan Abang ini dulu,” Sahut Wak Nur sambil dagunya digerakkan mengarah ke dua orang yang sedang antri di depan meja jualannya.
“Kalo gitu gorengannya aku ambil satu dulu ya wak, lapar,” Kata Dara sambil mencomot bakwan goreng dan langsung menggigitnya.
“Eh, aduh, itu bakwan punya Abang ini, tinggal dua biji. Gorengan yang ada tinggal tahu isi dan tempe,” Bik Nur telat memperingatkan Dara.
Ups, Dara auto freeze dong. Langsung kaku dengan posisi setengah menggigit bakwan di tangannya.
“Uh… eh… ini maaf ya Bang, aku gak tau kalo bakwan ini punya Abang. Ini aku kembalikan,” Gugup Dara meletakkan kembali bakwan yang sudah ada bekas gigitannya ke atas tempat gorengan.
Laki-laki yang dimaksud menatap Dara dengan pandangan jengkel. Dara tak berani menatap wajahnya lama-lama, bukan karena takut, tapi malunya ini. mana Bu Hasan senyum-senyum lagi.
“Ya siapa juga yang mau makan bakwan bekas gigitan kamu,” Kata laki-laki itu pelan tapi jelas dan membuat Dara semakin grogi.
Wak Nur yang mengetahui kalau Dara merasa tak enak hati mencoba menengahi.
“Ya udah, itu bakwan yang sudah kamu gigit ambil aja Dara, biar abang ini gorengannya ditukar sama tahu atau tempe. Gimana bang?” tanya wak Nur sambil menoleh ke arah laki-laki tadi.
Dara ikut menoleh, dan ups… oh makjang, ganteng pulak wajah si abang ini, batin Dara. Dengan postur tinggi, kulit bersih dan alis tebal, belum lagi hidungnya mancung, asli gantengnya bukan kaleng-kaleng.
“Iya Bu, gak apa,” sahut si laki-laki itu dengan ekspresi datar. Mungkin dia masih kesal sehingga terpaksa menerima alternatif dari Wak Nur dari pada harus makan bakwan goreng bekas gigitan orang lain, ih.
Wak Nur menyerahkan plastik kresek berisi pesanan si laki-laki yang masih menunjukkan wajah cemberut itu. Setelah membayar pesanannya dan mengucapkan terima kasih laki-laki itu pun berlalu tanpa menoleh pada Dara.
Cih, emang sih ganteng, tapi sombong kali, kata Dara dalam hati. Tapi ekor matanya masih mencuri-curi menatap punggung laki-laki itu sampai berbelok di ujung gang.
“Ehem,” Bu Hasan berdehem yang menyadarkan Dara dari kegiatannya mencuri-curi pandang. Dara jadi salah tingkah kedua kalinya karena kepergok lalu nyengir menatap Bu Hasan yang tersenyum ke arahnya.
“Tadi waktu orangnya disini gak mau kenalan sekalian, udah jauh baru curi-curi pandang,” goda Bu Hasan.
Dara menggaruk-garuk kepalanya. Untuk mengatasi grogi, diambilnya kembali bakwan yang tadi sempat digigitnya.
“Siapa sih tadi itu wak? Koq aku baru liat. Orang baru ya?” tanya Dara sambil menggigit bakwan. Perut kosongnya sudah protes minta diisi.
“Oh itu tadi keponakan Pak Handoko, itu yang punya rumah besar di sebelah apotik. Kemaren waktu Bu Handoko beli sarapan dibawanya ponakannya itu dan dikenalkan sama Uwak, tapi Uwak lupa namanya. Katanya ponakannya itu dari Jakarta, calon dokter, kesini untuk KKN di daerah Kabanjahe sana. Nah kebetulan sudah selesai tapi sebelum balik ke Jakarta dia mampir ke rumah Pak Handoko dulu,” Wak Nur menjelaskan panjang lebar.
Sebagai pusat jualan sarapan pagi, warung Wak Nur memang banyak disinggahi pembeli baik dari warga sekitar maupun pendatang. Selain rasa masakannya enak, harga makanannya juga terjangkau. Jadi kalau Dara mau tahu info terbaru atau mendengar gibahan mengenai tetangganya, maka Wak Nur itu memang sumber informasi yang tepat.
“Kenapa Dara? Naksir ya? Ganteng kali kan abang tadi?” Bu Hasan yang sudah selesai membayar pesanannya sempat-sempatnya menggoda Dara.
“Ish, Ibu… Memang ganteng sih bu, tapi wajahnya jutek kali. Macam jam dua belas, ketat gitu gak ada senyum sikit pun. Tak selera pun awak nengoknya,” Dara berkilah.
“Ya macam mana dia gak jutek, kamu main comot aja bakwan dia.. ha.. ha, “ Bu Hasan mengejek Dara. Mau tak mau Dara dan Wak Nur pun ikut tertawa mengingat kejadian tadi.
Setelah Bu Hasan berlalu, Wak Nur mulai menyiapkan pesanan Dara. Tak lama muncul lagi dua orang pembeli. Memang dagangan Wak Nur ini lumayan laris. Makanya kalau kesiangan sedikit sering kehabisan.
Setelah membayar pesanannya Dara kembali ke rumah sambil membawa kantong plastik kresek berisi sarapannya. Wajahnya ceria membayangkan sarapan lontong Wak Nur yang terkenal lezat. Perkara kejadian memalukan tadi dia sudah melupakannya. Yang penting sebentar lagi cacing-cacing di perutnya akan berhenti demo berkat lontong sayur Wak Nur.
Selesai mengisi perut Dara mengerjakan semua perintah ibunya mulai dari membersihkan rumah, menjemur pakaian dan membersihkan kotak tempat kotoran kucing. Sebelum pukul sepuluh seluruh tugas sudah ia selesaikan.
Karena tak ada lagi yang harus dikerjakan Dara pun mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Lia, kawan sebangkunya di sekolah. Sambil berbaring di atas karpet di depan televisi Dara asik mengetik pesan di ponselnya.
Suasana rumah yang sunyi membuat Dara mengantuk tapi karena hari masih terhitung pagi ia tidak ingin tidur. Bosan berbalas pesan, Dara memutuskan untuk pergi keluar. Ia mengambil kunci sepeda motor milik ayahnya.Tak lupa diambilnya dompet berisi kartu pengenal dan SIM. Abaikan Surat tanda nomor kendaraan, karena sepertinya ada di dompet ayahnya.
Dara mengeluarkan motor matic yang ada di samping teras. Setelah menutup pintu pagar, ia mulai menstater motor dan menjalankan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.
Di ujung gang Dara berpapasan dengan Fatma, tetangganya yang sebaya dan pernah menjadi teman satu sekolah di SMP dulu. Gadis itu menenteng plastik kresek yang berisi belanjaan dari warung.
“Mau kemana, Ra?” tanya Fatma.
“Raon-raon (putar-putar) aja. Ikut?” ajak Dara.
“Mau kali pun aku, tapi gak bisa. Bos aku pergi antar pangantin, aku disuruh jaga adekku,” jawab Fatma dengan tatapan menyesal.
“Samalah. Mamakku juga ikut antar pengantin ke Tebing, makanya aku sendiri di rumah. Suntuk. Cari angin dulu lah.”
“Ya udahlah, Hati-hati ya,” Pamit Fatma lalu melambaikan tangan dan kembali berjalan menuju rumahnya.
Dara melanjutkan perjalanannya. Tak ada tujuan khusus. Ia hanya mengikuti kemana tangannya membelokkan stang motor. Diliriknya jarum indikator bahan bakar masih ada di tengah. Aman, pikirnya.
Setelah puas berkeliling tanpa tujuan, Dara mengarahkan motornya ke sebuah rumah makan padang favoritnya. Ia memarkirkan motor lalu memasuki pintu rumah makan itu. Walau belum jam makan siang tapi antrian pembeli sudah ramai.
Rumah makan ini buka 24 jam dan pembelinya tak henti-henti mengalir. Ciri khasnya ada di sayur tauco dan sambal keripik kentang yang tidak dijumpai di rumah makan padang lainnya.
Dara memesan nasi komplit dengan lauk rendang plus ekstra sambal ijo. Setelah membayar pesanannya ia pun melanjutkan perjalanan pulang.
Cuaca kota medan yang panas mulai terasa tak nyaman, terik matahari membakar kulitnya yang tak memakai jaket. Dara menambah laju kecepatan motornya. Di depan sudah terlihat gang untuk menuju ke rumahnya.
Tiba-tiba entah dari mana muncul dua ekor kucing yang saling berkejaran sambil menjerit-jerit. Dara yang terkejut tidak dapat menguasai motor yang dikendarainya. Salah satu kucing itu malah melompat ke arah Dara dan dikejar oleh lawannya.
Gubraaaak! Prang!