Dara sedang berada di Night Club malam ini dia akan bertemu dengan kekasihnya Arta. Mereka berdua biasa menghabiskan malam minggu dengan berdugem ria. Awalnya Dara tidak suka namun seiring berjalannya waktu dia menikmatinya. Bahkan mereka pernah hampir kebablasan namun Dara menahan sang kekasih.
Arta sedang menikmati secangkir kopi ditangannya saat jaga malam. Arta merupakan dokter muda cukup sukses. Arta banyak di ganduringi gadis gadis cantik namun hatinya masih milih Dara Wiguna.
"Sayang,kamu sudah sampai dimana?"ujar Arta tidak sabaran.
"Sudah samlai dipintu rumah sakit."ujar Dara sedang menuju temoat Arta menunggunya.
"Langusng keruanganku saja, aku mau melihat sicantikku sendirian."ujar Arta dengan nada jahilnya.
"Aish,sudah cukup matang untuk tidak melakukan itu. Kalau cium boleh-boleh saja."ujar Dara setengah menggoda kekasihnya.
"Baiklah,dengan senang hati nona."ujar Arta sedikit gieang.
"Hem,dasar jika ada maunya kamu ceoat sekali tanggap."ujar Dara dengan sedikit menggertak manja.
Darapun sampai di ruang kerja Arta dan langsung masuk. Disana arta duduk dan menunggunya untuk.makan siang. Arta sendiri sangat menyanyangi Dara dan dia memberikan sebuah cincin sebagai tanda pertunangan mereka beberapa hari yang lalu..
"Sayang, kamu makin cantik sajah. Silahkan duduk."ujar Arta menggoda kekasih hatinya.
"Sayang, kamu bisa sajah. Aku kira kamu tidak akan cepat menyambutku"ujar Dara dengan nada manjanya.
"Hem, memang kamu kira kamu lagi ngapain?"ujar Arta mejahili kekasihnya dengan pertanyannya.
"Kamu kira aku bodoh, menggoda suster Ratna tentunya."ujar Dara dalam hati.
"Akh, aku hanya becanda,sayang. Belakangan ini kamu amat sangat sibuk. Mama dan ayah menanyaimu mengapa tidak makan malam dengan mereka?"ujar Dara dengan nada tegasnya.
"Kamukan tahu aku dokter muda banhak sekali pekerjaan yang harus aku lakukan."ujar Arta dengan nada tegasnya.
Arta menganti pakaiannya dengan cepat dan bergegas memandu Dara keluar dari ruang kerjanya. Dara melirik sekilas kemeja Arta yang ditaruh diatas nakas dekat meja kerjanya. Ada tanda lipstik merah muda disana. Lirikan mata Dara hanya sekilas karena Dara belum mengumoulkan bukti perselingkuhan Arta dengan Ratna asistennya.
Arta dan Dara berjalan menuju rrstuarant arta pesan dengan mobil arta. Arta membawa bmw barunya. Arta mendapatkan mobil baru setelah pertunangannya dengan Dara diumumkan.
"Dara,sayang. Kamu ingin makan apa nanti?"ujar Arta menanyakan sang kekasih.
"Tunggu,aku mau makan masakan sederhana hari ini."ujar Dara lagi kepada Arta dengan nada manja didalam mobil.
"Baik, menurutmu wangi mobilku ini enak tidak?"ujar Arta kepada Dara menyombongkan diri.
"Hem, hadiah dari ayahmu pak Nathan Atmaja?"ujar Dara sedokit menyinggung ayah Arta.
"Hahaha benar sekali. Ayahku sangat royal kepadaku."ujar Arta dengan sombongnya.
"Iya, anak kesayangan papa."ujar Dara bergumam halus.
Setelah sampai Arta langsung memarkir mobilnya dengan
***
Disisi Lain Ervan Atmaja sedang mebahas berkas yang akan dia serahkan kepada ayahnya Mochtar Muis. Ervan sangat menyanyangi ayahnya dia adalah salah satu mempercayai dirinya. Kematian ibunya menyimpan duka mendalam bagi Ervan Atmaja. Ervan memiliki nama lain Widiya Adiguna(Nama kecilnya),karena suatu peristiwa nama itu di ganti menjadi Ervan Atmaja. Ervan sendiri baru kembali setelah puluhan tahun hilang.
Hari ini Ervan dipanggil ayahnya menghadapnya secara langsung. Ervan duduk dihadapan Mochtar dengan nada tegasnya.
"Ervan,bagaimana hidupmu selama ini nak?Apakah sulit?"ujar Mochtar bertanya pada anaknya.
"Tentu,tapi aku bisa melewatinya dengan baik. Bagaimana aku bisa di panti asuhan itu adslah pertanyaanku aaat ini."ujar ervan tegas.
"Itu sebuah kesalahan masa lalu. Jangan diambil hati,nak. Aku juga berslah kepadamu. Maka aku meminta Anita menjemputmu kembali."ujar Mochtar kepada anaknya
"Aku bahkan mengais-gais sampah untuk bertahan hidup. Bagaikan punuk merindukan bulannya."ujar Ervan mengenang masa lalu suramnya.
"Maaf....maaf...aku aku tidak bermaksud seprti itu."ujar Mochtar merasa kepedihan anaknya sendiri.
"Apa aku bisa secara langsung menerima ini?Bahkan aku harus bekerja keras untuk bisa kuliah dan menjadi pengusaha."ujar Ervan penuh amarah kepada ayahnya.
"Iii...ya... maaf..maaff... ayah tahu kesulitanmu. Makanya ayah akan menebusnya dengan menyerahakan oerusahaanku kepadamu dengab saham 50% ditanganmu,bagaimana?"ujar Mochtar dengan sedikit bernegosiasi.
"Baikk... aku terima pernawaran ayah. Aku minta ditanda tangani untuk sekarang."ujar Ervan dan mengambil.kertas sudah dia siaokan sebekumnya.
Dengan penuh rasa bersalah Movhtar menadatanganinya. Membuat Ervan sedikit terkrjut akan sikap ayahnya sendiri.Doa tidak menyangka ayahnya akan berkorban lebih.