Paman Akira menempelkan pistol ke kepala Sera. Deretan kontainer yang tinggi membuat polisi kesulitan mengambil posisi; setiap sudut tembak tertutup baja.
Albert menarik Akira dan Sofia ke balik kendaraan patroli, menempatkan tubuhnya sendiri di sisi luar. Di tengah lapangan, Sera berusaha tetap tenang. Ia tidak meronta, tidak berteriak, hanya menatap lurus ke arah saudara kembarnya.
“Lepaskan Sera!” teriak Sofia.
“Kau sudah bersembunyi terlalu lama,” balas paman Akira. Suaranya menggema di antara kontainer. “Bawa semua dokumen kemari, atau saudaramu mati.”
“Jangan berikan apa pun kepadanya,” kata Sera.
Paman Akira menekan pistolnya lebih kuat sampai kepala Sera terdorong miring. Salah satu polisi mengangkat senjata, tetapi Albert memberi isyarat dengan telapak tangan agar menunggu.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Albert, melangkah keluar sedikit agar suaranya terdengar.
“Akses ke rekening rahasia dan seluruh bukti yang membuktikan kesalahanku.”
“Setelah itu kau akan membebaskan Sera?”
“Aku akan mempertimbangkannya.”
Akira memandang Albert. Laki-laki itu tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa, meskipun tangannya mengepal begitu kuat sampai urat di punggung tangannya timbul.
“Jangan menyerahkan dokumen,” bisik Akira.
Albert mengangguk kecil. Ia menoleh kepada Sofia dan berkata pelan, “Beri dia alamat gudang. Alamat yang salah.”
Sofia mengerti tanpa perlu dijelaskan. Ia berdiri dan menyebutkan sebuah lokasi di ujung utara pelabuhan, lengkap dengan nomor blok dan warna pintunya, meyakinkan seperti orang yang benar-benar menyimpan sesuatu di sana.
Paman Akira menimbang sejenak, lalu mengirim dua orangnya untuk memeriksa.
Itulah kesalahannya. Begitu kedua orang itu meninggalkan tempat persembunyian dan melintasi ruang terbuka, polisi melumpuhkan keduanya tanpa satu pun tembakan meleset.
Paman Akira menyadari dirinya telah ditipu. Wajahnya berubah merah. Ia menarik Sera mundur menuju dermaga kecil tempat sebuah kapal motor ditambatkan.
Sera menunggu sampai lelaki itu setengah menoleh, lalu menghentakkan tumitnya ke tulang kering pamannya sekuat tenaga. Lelaki itu kehilangan keseimbangan. Dalam satu detik yang sama, polisi menembak tangannya hingga senjatanya terlepas dan jatuh berdenting ke beton.
Albert berlari dan menarik Sera menjauh, setengah menyeret perempuan itu ke balik kontainer.
Paman Akira tidak menyerah. Ia melompat ke kapal, melepas tali, dan mesin menderu. Polisi mengejar dengan perahu patroli, sementara Albert kembali dan memeluk Akira yang masih gemetar hebat.
“Sera selamat,” katanya, mengusap punggung istrinya. “Sudah, Akira. Dia selamat.”
Akira menatap ibunya. Sofia sedang memegangi bahu Sera dengan kedua tangan, memeriksanya dari kepala sampai kaki, lalu menangis melihat putrinya dan saudara kembarnya berdiri bersama dalam keadaan utuh.
Pengejaran berlangsung sampai ke tengah teluk. Paman Akira berusaha menyeberang ke sebuah kapal kargo yang sedang berlabuh, tetapi mesin kapalnya tiba-tiba berhenti dan hanya menyisakan asap. Polisi menangkapnya tanpa perlawanan. Lelaki itu duduk di lambung kapal dengan tangan terangkat dan wajah kosong, seperti orang yang baru sadar permainannya sudah lama berakhir.
Di kantor polisi menjelang pagi, paman Akira memberikan pengakuan panjang. Ia mengaku memanipulasi kematian ibu Albert agar terlihat sebagai bunuh diri. Ia juga mengakui memalsukan surat-surat dan menanam cerita agar Albert membenci keluarga Sofia sejak remaja.
“Aku hanya ingin menguasai perusahaan,” katanya sambil menatap meja. “Aku tidak menyangka kebohongan itu akan membuat kalian saling mencintai.”
Albert memandang Akira sebentar, lalu kembali kepada lelaki itu.
“Cinta bukan sesuatu yang bisa kau kendalikan.”
Paman Akira dibawa ke ruang tahanan. Pintu besi itu tertutup dengan bunyi yang membuat Akira menahan napas, lalu mengembuskannya perlahan seperti melepaskan sesuatu yang sudah terlalu lama ia bawa.
Sofia dan Sera memberikan kesaksian lengkap sampai matahari naik. Untuk pertama kalinya, kedua keluarga dapat melihat seluruh rangkaian kejahatan itu tersusun rapi di atas satu meja.
Namun, masih ada satu pertanyaan penting yang belum terjawab: siapa yang membantu paman Akira menghilangkan bukti selama bertahun-tahun?
Pak Surya datang siang itu membawa jawaban setengah jadi. Ia menemukan nama seorang notaris yang selama ini menyimpan kontrak palsu. Notaris tersebut kabur sebelum dipanggil, tetapi meninggalkan surat pengakuan di laci kantornya.
Di surat itu ia menulis bahwa seseorang dari keluarga Albert memintanya menyembunyikan bukti dengan imbalan besar.
Albert langsung memikirkan ibunya, dan rasa mual naik ke tenggorokannya. Namun Pak Surya menggeleng.
“Transaksi itu dilakukan sebelum ibu Anda meninggal, tetapi tanda tangannya palsu. Bukan tulisan tangan beliau. Kami sudah membandingkannya.”
“Lalu siapa?”
“Ada orang lain yang memiliki akses ke rekening keluarga,” kata Pak Surya. Ia membuka map berikutnya. “Dan kami menemukan sesuatu di catatan warisan lama.”
Ayah Albert ternyata pernah memiliki seorang saudara tiri bernama Marcus. Lelaki itu menghilang setelah konflik warisan dan namanya dihapus dari hampir semua dokumen keluarga.
Albert merasa masa lalu keluarganya kembali membuka pintu baru, dan di balik pintu itu ada lorong lagi.
Akira memegang tangannya. “Kita tidak harus mencari semuanya malam ini.”
“Aku ingin semua kebohongan berhenti.”
“Kebohongan bisa berhenti tanpa kita menghancurkan diri sendiri.”
Albert menatap Akira, dan pelan-pelan mengangguk. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak lagi hanya berisi balas dendam. Ada seseorang di sampingnya yang harus ia jaga, dan seorang anak yang belum lahir yang tidak berhak mewarisi perang ini.
Malam itu, Albert dan Akira mengunjungi Sofia di ruang tahanan sementara, tempat perempuan itu ditahan sampai statusnya sebagai saksi diputuskan. Sofia duduk di balik meja kayu dengan gelas air yang tidak disentuh.
Ia meminta maaf kepada Albert karena selama ini menyembunyikan kebenaran.
“Aku takut kau membenci Akira jika tahu semuanya,” katanya.
“Saya sudah pernah membencinya tanpa alasan,” jawab Albert. “Saya tidak ingin mengulanginya.”
Akira menoleh kepada Albert dengan mata berkaca-kaca. Ia menunduk cepat, tetapi Albert sempat melihatnya.
Setelah keluar dari kantor polisi, mereka berjalan menuju mobil. Hujan turun pelan, jenis hujan yang tidak membuat orang berlari, hanya membuat aspal berkilau. Aromanya mengingatkan mereka pada malam ketika mereka bermain hujan bersama, malam yang sekarang terasa seperti kehidupan orang lain.
Albert membuka payung dan merangkul Akira agar masuk ke bawahnya.
“Kamu masih ingin mempertahankan pernikahan ini?” tanya Akira.
Albert menghentikan langkah di tengah trotoar. Air menetes dari pinggir payung, membentuk tirai tipis di sekeliling mereka.
“Aku ingin mempertahankan kamu, bukan hanya pernikahan.”
Akira tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita mulai dari kejujuran.”
“Mulai dari kejujuran,” ulang Albert.
Mereka belum sempat masuk ke mobil ketika ponsel Albert berdering. Nama Pak Surya muncul di layar.
“Tuan Albert, kami menemukan Marcus. Dia berada di luar negeri dan bersedia memberikan kesaksian.”
Albert menahan napas. “Tapi?”
“Tapi dia meminta Anda datang sendirian.”
Albert menurunkan ponsel dan menatap Akira. Kali ini ia tidak menyembunyikan apa pun, bahkan tidak berusaha melunakkan kalimatnya.
“Aku harus pergi beberapa hari.”
Akira menggenggam tangannya. “Aku ikut.”
Albert tersenyum.
Mereka akhirnya menghadapi masa lalu bukan sebagai musuh, melainkan sebagai pasangan.