Gedung opera lama berdiri di pusat kota yang hampir tidak dihuni. Pintu utamanya tertutup debu, sementara poster pertunjukan puluhan tahun lalu masih menempel di dinding, warnanya sudah pudar menjadi cokelat seragam.
Albert dan Akira tiba beberapa menit sebelum tengah malam, ditemani Pak Surya yang menyamar sebagai pengemudi.
“Kita tidak benar-benar datang tanpa polisi,” kata Akira pelan saat mereka menaiki anak tangga.
“Tim sudah berada di sekitar gedung,” jawab Albert. “Mereka hanya tidak akan masuk sebelum kita memberi tanda.”
Mereka membawa alat komunikasi kecil yang diselipkan di kerah dan kamera tersembunyi di kancing jas Albert. Salinan dokumen ada di dalam tas, sedangkan bukti asli sudah dikirim kepada penyidik sore tadi.
“Kalau ada apa-apa,” bisik Albert, “kamu berlari. Jangan menoleh, jangan menungguku.”
“Aku tidak akan menjanjikan itu.”
“Akira.”
“Aku juga tidak berbohong kepadamu lagi, ingat?”
Di dalam aula utama, kursi-kursi beludru tua berjajar dengan kain yang sudah robek. Bau lembap dan kayu busuk memenuhi ruangan. Tiba-tiba lampu panggung menyala, menyilaukan, membuat mereka refleks menutupi mata.
Damian berdiri di tengah panggung dengan setelan gelap yang rapi, seolah datang ke resepsi, bukan ke gedung terbengkalai. Di sampingnya terdapat Marcus yang tangan dan kakinya terikat di kursi, lengannya masih dibalut perban rumah sakit.
“Lepaskan Marcus,” kata Albert.
Damian tersenyum tipis. “Kamu masih suka memberi perintah seperti ayahmu.”
Akira menatapnya penuh kebencian. “Paman dan keluargaku dihancurkan karena rencanamu.”
“Keluargamu hanya terlalu lemah untuk menolak.”
Damian memberi isyarat kepada dua orang untuk menjaga Marcus, lalu berjalan pelan di tepi panggung seperti orang yang menikmati panggungnya sendiri. Ia menjelaskan bahwa ia merancang konflik antara keluarga Albert dan Sofia untuk menguasai aset yang tidak bisa diwariskan secara langsung.
“Ibu Albert menemukan rekening rahasia. Sofia membantu penyelidikan. Aku membuat keduanya saling curiga, lalu menggunakan pamanmu untuk menyebarkan kebohongan. Sisanya kalian kerjakan sendiri.”
Albert mengepalkan tangan. “Mengapa kau memilihku sebagai alat?”
“Karena rasa kehilangan membuatmu mudah dibentuk.” Damian menoleh, dan senyumnya hilang. “Saya hanya perlu menunjukkan satu nama untuk membuatmu percaya bahwa keluarga Sofia adalah musuh. Anak berusia tujuh belas tahun tidak memeriksa dokumen. Dia hanya ingin seseorang untuk disalahkan.”
Akira menoleh kepada Albert. Wajah suaminya memucat. Namun ia tidak menyalahkan laki-laki itu; mereka sama-sama tahu Damian telah memanfaatkan luka lama yang tidak pernah sempat sembuh.
“Kamu membunuh ibu Albert?” tanya Akira.
Damian menggeleng santai. “Saya memberi perintah kepada orang lain. Saya tidak mengotori tangan sendiri.”
Pengakuan itu terekam jelas oleh kamera tersembunyi di kancing jas Albert.
“Sekarang,” kata Damian, “serahkan semua dokumen asli.”
Albert maju perlahan sambil membawa tas. Di saat yang sama, Akira menekan tombol kecil di saku jaketnya, mengaktifkan sinyal kepada polisi.
Salah satu penjaga melihat gerakan tangannya dan langsung menodongkan senjata.
“Berlutut,” perintah Damian kepada Akira.
Akira tidak bergerak. “Aku tidak akan membiarkan kalian membunuh orang lagi.”
Damian melangkah cepat dan menamparnya sampai kepala Akira terpelanting ke samping. Albert langsung bergerak, tetapi dua penjaga menahan kedua lengannya.
Dalam kekacauan itu, Marcus mengayunkan kakinya yang terikat dan menghantam lutut salah satu penjaga. Lelaki itu terhuyung, senjatanya terjatuh, dan Akira menerjang untuk merebutnya.
Suara sirene terdengar dari luar gedung, satu, lalu banyak, memantul di dinding kosong.
Damian panik. Ia menyambar kerah Marcus dan menyeretnya menuju pintu belakang panggung.
Albert melepaskan diri dan mengejarnya ke lorong di balik panggung, melewati tali-tali latar yang menggantung seperti hutan kain. Akira mengikuti setelah memastikan ikatan Marcus terlepas dan lelaki itu diserahkan kepada Pak Surya.
Damian naik melalui tangga besi menuju balkon opera. Di atas sana, ia berbalik dan mengarahkan senjata ke arah Albert.
“Jika saya jatuh, seluruh dokumen akan dibakar,” ancamnya.
“Bukti sudah dikirim kepada polisi sejak sore,” jawab Albert tenang. “Anda mengancam dengan tangan kosong.”
Damian tertawa keras. “Kamu belajar dari ayahmu.”
Albert terus bergerak mendekat, satu langkah, dua langkah, telapak tangannya terbuka.
“Aku tidak lagi seperti dulu. Aku tidak akan membunuhmu karena dendam.”
Damian menembak. Pelurunya mengenai pagar besi balkon dan memercikkan bunga api. Dari bawah, polisi membalas dan menembak jatuh senjatanya.
Damian terhuyung. Pagar tua itu patah di bagian sambungan, dan tubuhnya oleng ke belakang, hampir terlempar ke kursi-kursi di lantai bawah.
Albert melompat ke depan dan meraih tangannya tepat pada detik terakhir.
Mereka bertahan seperti itu beberapa saat. Damian menggantung, napasnya pendek-pendek, menatap wajah laki-laki yang seluruh hidupnya pernah ia kendalikan.
“Kenapa kau menyelamatkanku?” tanyanya.
“Karena saya tidak ingin menjadi seperti Anda.”
Albert menarik Damian ke atas dengan kedua tangan. Polisi yang sudah sampai di balkon segera memborgolnya.
Di lantai bawah, Marcus dibebaskan dari sisa tali. Ia berdiri dengan susah payah dan memeluk Albert dengan hati-hati karena lengannya.
“Ayahmu akan bangga,” katanya.
Akira menghampiri Albert dan memeriksa wajahnya yang terkena goresan serpihan besi.
“Kamu terluka.”
“Hanya sedikit.”
“Tetap saja, jangan membuatku panik lagi.”
Albert tersenyum dan menyeka sisa darah di pipinya dengan punggung tangan. “Aku akan berusaha.”
Damian dibawa ke kantor polisi malam itu juga. Pengakuannya, yang terekam lengkap, menjadi bukti penting untuk membuktikan bahwa keluarga Sofia dan ibu Albert tidak bersalah.
Pagi berikutnya, Pak Surya mengetuk pintu kamar hotel mereka sambil membawa berkas.
“Pengadilan akan membuka kembali kasus kematian ibu Anda,” katanya. “Dan nama Sofia akan dibersihkan secara resmi.”
Akira menangis ketika mendengar kabar itu. Bukan tangis kencang, hanya air mata yang jatuh terus-menerus sementara ia berusaha tetap berdiri tegak. Albert memeluknya tanpa berkata-kata cukup lama.
“Ibu saya tidak mati karena keluarga kamu,” katanya akhirnya.
“Dan ibuku tidak meninggalkan kita tanpa alasan,” jawab Akira.
Mereka berdiri di balkon hotel memandang kota yang mulai sibuk. Klakson, bel sepeda, seseorang membuka rolling door tokonya. Dunia berjalan seperti biasa, dan entah kenapa itu justru terasa melegakan.
“Setelah semua ini selesai, apa yang akan kita lakukan?” tanya Akira.
Albert menatapnya. “Menjalani hidup tanpa balas dendam.”
“Bersama?”
“Kalau kamu masih mau.”
Akira tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Albert.
Namun, ketika mereka hendak kembali ke dalam kamar, ponsel Pak Surya berbunyi. Laki-laki itu mengangkatnya, mendengarkan, lalu wajahnya berubah.
Damian memang tertangkap, tetapi satu rekening utama telah mengirim uang dalam jumlah besar ke luar negeri beberapa jam sebelum penangkapannya.
Pemilik rekening itu bukan Damian.
Namanya terdaftar atas nama Albert Kenzi Erdinata.