Hujan turun tipis ketika dua mobil polisi berhenti di ujung gang sempit di pinggir kota. Albert keluar lebih dulu, menutup pintu pelan-pelan, lalu menoleh ke Akira yang menyusul dengan payung kecil di tangan. Bau tanah basah bercampur asap dapur tetangga. Di teras rumah petak bercat kuning yang sudah mengelupas, seorang laki-laki berusia tiga puluhan berdiri dengan wajah bingung.
“Bapak saya sudah meninggal empat tahun lalu,” katanya sebelum ada yang bertanya. “Kalau soal utang, saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”
“Kami bukan mau menagih apa-apa,” kata Pak Surya. “Kami hanya ingin melihat barang peninggalan beliau. Kalau memang masih ada.”
Laki-laki itu diam sebentar. Matanya bergerak dari Pak Surya ke dua polisi berseragam, lalu ke Albert yang berdiri paling belakang.
“Masih ada,” katanya akhirnya. “Di gudang belakang. Ibu saya tidak pernah mau membuangnya.”
Gudang itu lebih mirip kamar kosong yang dipenuhi kardus. Debu mengambang di udara begitu lampu dinyalakan. Akira menutup hidung dengan punggung tangan, tetapi tidak mundur. Ia berdiri di samping Albert, memperhatikan polisi membuka kardus satu per satu.
Di kardus keempat, salah satu petugas berhenti bergerak.
Di dasar kardus, terbungkus kain sarung tua, ada sebuah pistol.
Ruangan itu mendadak sunyi. Yang terdengar hanya suara hujan di atap seng dan napas Albert yang menjadi berat.
“Jangan disentuh,” kata petugas itu pelan. Ia memakai sarung tangan, mengangkat benda tersebut hati-hati, lalu memasukkannya ke kantong bukti.
Di bawah pistol itu ada sebuah buku tulis bersampul cokelat. Halamannya lengket satu sama lain karena lembap. Pak Surya membukanya dengan ujung jari.
Isinya deretan tanggal dan angka. Catatan pengiriman uang. Rapi, seperti ditulis orang yang terbiasa dicurigai dan ingin punya perlindungan sendiri.
“Bapak Anda mencatat semua yang ia terima,” kata Pak Surya kepada putra Darto.
“Bapak saya cuma sopir dan pengawal,” jawab laki-laki itu. “Saya tidak pernah diberi tahu apa-apa.”
Albert mendekat. Matanya menyusuri kolom-kolom angka sampai berhenti di satu nama yang diulang belasan kali.
Rina.
Ia merasa lantai gudang itu miring sedikit. Akira menangkap perubahan wajahnya.
“Kamu kenal?” tanyanya.
“Dia sahabat ibuku,” kata Albert. Suaranya datar, tetapi jemarinya mengepal. “Dulu, kalau ibuku pergi ke mana-mana, perempuan itu selalu ikut.”
Laboratorium membutuhkan waktu dua hari. Hasilnya datang pada sore yang panas, ketika Albert sedang duduk di ruang kerja dengan berkas menumpuk dan kopi yang sudah dingin sejak siang.
Peluru yang disimpan Harlan cocok dengan pistol dari gudang itu.
Albert membaca kalimat tersebut tiga kali. Lalu ia meletakkan kertas itu, menyandarkan punggung, dan menutup mata sebentar.
“Berarti benar,” kata Akira dari ambang pintu. Ia membawa segelas air dan meletakkannya di meja. “Yang menembak bukan ayahmu.”
“Bukan,” kata Albert. “Tapi ada yang membayar Darto. Dan orang itu masih hidup.”
Rina tinggal di rumah kecil di kawasan lama, dikelilingi pot-pot yang terawat. Perempuan itu jauh lebih tua dari gambar dalam ingatan Albert. Rambutnya sudah putih di bagian pelipis. Ketika membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri di depannya, tangannya gemetar.
“Kenzi,” katanya lirih, memanggil Albert dengan nama yang sudah belasan tahun tidak dipakai siapa pun. “Kamu mirip sekali dengan ibumu.”
Mereka duduk di ruang tamu yang terlalu rapi. Rina menuang teh, tetapi tidak ada yang menyentuhnya.
“Saya mau tanya satu hal,” kata Albert. “Kenapa nama Tante ada di buku catatan Darto?”
Perempuan itu tidak menjawab dulu. Ia menatap cangkirnya lama sekali.
“Karena saya memang memberi dia uang,” katanya akhirnya.
Akira menegakkan punggung. Albert tidak bergerak sedikit pun.
“Berapa kali?”
“Saya tidak menghitung.” Rina mengusap wajah. “Anak saya waktu itu masih kecil. Ada orang yang menelepon, menyebut nama sekolahnya, menyebut jam pulangnya. Mereka bilang saya tinggal pilih: anak saya, atau diam.”
“Dan Tante pilih diam.”
“Saya pilih anak saya,” katanya. Suaranya pecah. “Saya kira uang itu hanya untuk membuat Darto mengawasi. Menakut-nakuti. Supaya ibumu berhenti.”
“Berhenti apa?”
“Menyelidiki.” Rina menarik napas panjang. “Ibumu sudah tahu terlalu banyak soal anak-anak itu, Kenzi. Soal panti, soal uang yang masuk. Saya hanya ingin ibu Albert berhenti menyelidiki,” katanya. “Saya tidak tahu Darto akan menggunakan senjata.”
Albert menatapnya lama. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak, dan ada bagian lain yang hanya merasa lelah.
“Tante tahu apa akibatnya?” tanyanya pelan. “Saya tumbuh dengan membenci ayah saya sendiri.”
Rina menutup mulut dengan telapak tangan. Air matanya jatuh tanpa suara.
“Saya tahu,” katanya. “Setiap hari saya tahu.”
Ia bangkit, masuk ke kamar, lalu keluar membawa kotak biskuit kaleng. Di dalamnya ada surat-surat lama yang kertasnya sudah menguning. Ia memilih satu, lalu menyerahkannya kepada Albert dengan tangan yang masih gemetar.
Surat itu pendek. Tidak ada tanda tangan, tetapi ada inisial di sudut dan tulisan tangan yang Albert kenal dari puluhan dokumen perusahaan.
Damian.
Isinya satu instruksi: pancing ibu Albert ke ruang kerja pada jam tertentu, pastikan tidak ada orang lain di lantai itu.
Akira membaca dari balik bahu Albert. Wajahnya memucat.
“Damian sudah merencanakan pembunuhan sejak awal,” katanya.
Kalimat itu menggantung di ruang tamu yang sunyi. Rina menunduk, seolah baru saja mendengar hukumannya dibacakan.
“Saya simpan surat ini karena takut,” katanya. “Kalau saya mati, setidaknya ada yang tahu.”
“Sekarang polisi yang akan tahu,” kata Albert sambil berdiri.
Surat itu diserahkan sore itu juga. Dua hari kemudian, jaksa menambahkan dakwaan baru untuk Damian: perencanaan pembunuhan berencana. Di ruang pemeriksaan, laki-laki tua itu membaca surat tersebut tanpa ekspresi.
“Tulisan tangan bisa ditiru,” katanya. “Dan saya tidak pernah memegang senjata.”
“Anda tidak perlu memegangnya,” jawab Pak Surya.
Damian hanya tersenyum tipis dan meminta pengacaranya masuk.
Malamnya, Harlan datang ke rumah membawa laptop tua. Laki-laki itu tampak tidak tidur berhari-hari.
“Saya ingat gudang arsip perusahaan keamanan masih menyimpan cadangan kamera lama,” katanya. “Saya cari sampai ketemu.”
Ia memutar rekaman itu. Gambarnya buram, hitam putih, penuh garis. Pukul 21.47, pintu samping rumah besar itu terbuka. Seseorang keluar dengan langkah cepat, menoleh sebentar ke arah kamera, lalu hilang di balik pagar.
Akira menahan napas.
Albert menghentikan gambar tepat pada satu detik ketika wajah itu terlihat.
“Perbesar,” katanya.
Harlan memperbesar. Butiran gambar melebar, tetapi garis rahang dan bentuk hidung itu cukup jelas.
Wajahnya mirip dengan Marcus.
Marcus dipanggil keesokan paginya. Ia datang sendiri, tanpa pengacara, dan berdiri lama di depan layar tanpa duduk.
“Itu bukan saya,” katanya.
“Tuan Marcus—”
“Saya datang ke rumah itu malam itu,” potongnya. “Saya tidak menyangkalnya. Tapi saya datang setelah mendengar suara tembakan.”