Laki-laki itu datang pada Senin pagi, tepat pukul delapan, dengan kemeja polos dan sepatu yang sudah berkali-kali disemir sampai kulitnya tipis.
“Leon,” katanya sambil mengulurkan tangan kepada Albert. “Pak Surya yang meminta saya datang.”
“Kepala keamanan baru,” kata Pak Surya dari belakangnya. “Saya kenal dia lima belas tahun. Kalau ada satu orang yang saya izinkan berdiri di depan pintu kamar bayi kalian, itu dia.”
Akira, yang sejak tadi berdiri di ambang ruang tamu dengan tangan bersedekap di atas perutnya, tidak ikut tersenyum.
“Duduk dulu, Pak Leon,” katanya. “Saya mau tanya beberapa hal.”
Albert menoleh sedikit. Setahun lalu, Akira tidak akan berani memotong tamu di rumah ini. Sekarang perempuan itu duduk lebih dulu dari semua orang dan menunggu jawaban.
“Silakan,” kata Leon.
“Bapak pernah kerja di mana saja?”
“Delapan tahun di perusahaan keamanan yang dulu memegang aset keluarga Erdinata,” katanya tenang. “Lalu enam tahun di logistik pelabuhan. Dua tahun terakhir saya melatih petugas keamanan rumah sakit.”
“Keluarga Erdinata,” ulang Akira. “Berarti Bapak kenal Darto.”
Leon tidak berkedip. “Saya kenal. Saya juga tidak pernah suka dengan dia. Kalau itu jadi alasan Ibu menolak saya, saya terima.”
“Bukan itu,” kata Akira. “Saya mau lihat catatan kerja Bapak. Yang asli. Bukan surat rekomendasi.”
Leon mengambil map dari tasnya, meletakkannya di meja, lalu mendorongnya ke arah Akira. Di dalamnya ada salinan kontrak, daftar penempatan, dan di halaman paling belakang, sebuah foto.
Foto itu sudah pudar. Diambil di lorong rumah sakit. Tiga orang berdiri berjajar: seorang perempuan berwajah lembut yang sedang tertawa kecil ke arah kamera, Harlan yang jauh lebih muda, dan Leon dengan seragam biru tua.
Albert mengambil foto itu dan tidak bisa langsung bicara.
“Ibu saya,” katanya akhirnya.
“Saya menjaga rumah sakit saat ibu Albert dirawat,” kata Leon. “Waktu beliau sakit tipus, tiga minggu. Beliau tidak mau dijaga, katanya bikin perawat tidak nyaman. Jadi saya disuruh duduk di kantin dan berpura-pura bukan siapa-siapa.”
Sudut bibir Albert bergerak sedikit. Itu memang ibunya.
Akira menutup map, lalu menyodorkannya kembali.
“Mulai hari ini, Pak Leon,” katanya. “Tapi kalau ada satu hal yang Bapak sembunyikan dari saya, sekecil apa pun, Bapak pergi hari itu juga.”
“Setuju,” kata Leon.
Dalam tiga hari, Leon mengubah lebih banyak hal daripada yang berhasil dilakukan Albert dalam tiga minggu.
Ia mulai bukan dari rumah, melainkan dari rumah sakit. Ia meminta daftar seluruh pegawai yang punya akses ke sistem rekam medis, lalu mencocokkannya dengan daftar pegawai yang benar-benar masih bekerja.
Selisihnya sembilan orang.
Sembilan akun hidup milik orang yang sudah pensiun, pindah, atau meninggal. Semuanya ada di bagian administrasi.
“Ini bukan peretasan,” kata Leon saat melapor. “Ini pintu yang memang sengaja tidak pernah dikunci. Ada orang di dalam yang merawatnya.”
Ia menutup kesembilan akses itu malam itu juga, memasang sistem pencatatan baru yang merekam siapa membuka berkas siapa, dan memindahkan data Akira ke sistem terpisah yang tidak terhubung ke jaringan rumah sakit sama sekali.
“Kalau mereka mau data Ibu sekarang,” katanya kepada Akira, “mereka harus masuk lewat badan saya.”
Alarm rumah berbunyi pada hari kesepuluh, pukul 02.14 dini hari.
Suaranya memenuhi seluruh rumah, memantul di dinding, membuat Akira terbangun sambil menjerit tertahan. Albert sudah lebih dulu turun dari ranjang.
“Tetap di sini,” katanya. “Kunci pintunya.”
“Albert—”
“Kunci pintunya, Kira.”
Di ruang monitor, Leon sudah berdiri dengan layar terbagi enam. Ia menunjuk satu kotak di pojok kanan.
Kamera kamar bayi.
Ruangan itu belum dipakai. Catnya masih berbau baru, boks bayinya masih terbungkus plastik, lampu tidur berbentuk bulan yang dibeli Sofia belum pernah dinyalakan.
Dan di tengah ruangan itu berdiri seseorang.
Bertopi, berjaket gelap, punggung membelakangi kamera. Tidak bergerak. Tidak menyentuh apa pun. Hanya berdiri, menghadap boks bayi, seperti orang yang sedang mengukur sesuatu.
Albert berlari. Ia menaiki tangga dua anak sekaligus, menghantam pintu kamar itu dengan bahu.
Kosong.
Jendela terbuka lebar, tirainya bergerak pelan tertiup angin malam. Bau cat baru bercampur udara dingin.
Dan di dinding di atas boks bayi, tertulis dengan huruf besar-besar, rapi seperti ditulis orang yang tidak terburu-buru:
“Kunci akan lahir dalam tiga bulan.”
Akira berdiri di ambang pintu. Albert tidak sempat menghalanginya.
Perempuan itu membaca tulisan tersebut, lalu mundur selangkah, dua langkah, sampai punggungnya menabrak dinding lorong.
“Dia berdiri di kamar anakku,” katanya. Suaranya nyaris tidak keluar. “Dia berdiri di situ, Albert. Di tempat bayiku akan tidur.”
Albert menangkapnya sebelum kakinya benar-benar hilang tenaga.
“Aku tidak mau di sini,” kata Akira. Ia mulai menangis, marah dan takut sekaligus. “Aku tidak mau melahirkan di rumah yang bisa dimasuki orang seperti itu. Aku tidak mau.”
“Tidak akan,” kata Albert. “Kita pergi sekarang juga.”
Mereka berangkat sebelum matahari terbit.
Rumah aman itu milik keluarga Marcus, berdiri di lereng, dikelilingi kebun yang cukup luas sehingga tidak ada bangunan lain dalam jarak pandang. Marcus menyerahkan kuncinya sendiri di depan gerbang, tanpa banyak bicara.
“Anak saya besar di rumah ini,” katanya. “Tembok belakangnya dobel. Jendelanya kaca laminasi. Dulu saya kira saya terlalu paranoid.”
“Ternyata tidak,” kata Albert.
“Ternyata tidak,” ulang Marcus.
Leon tinggal di rumah lama dua hari lagi bersama tim forensik.
Ia menelepon pada hari ketiga, dan suaranya lebih tegang dari biasanya.
“Tulisan di dinding itu sudah diperiksa,” katanya. “Bukan spidol biasa. Tintanya campuran, dipakai untuk penanda arsip lama—jenis yang tidak luntur dan tidak dijual bebas sejak dua puluh tahun lalu.”
Albert berdiri dari kursinya. “Kamu yakin?”
“Saya yakin, karena laboratorium mencocokkannya dengan satu sampel lain di berkas mereka.” Leon berhenti sebentar. “Tinta yang sama dengan pesan yang ditinggalkan di makam ibu Anda.”
Akira, yang duduk di sofa dengan selimut di pangkuannya, mengangkat kepala.
Pak Surya datang malam itu juga. Ia menaruh dua foto berdampingan di meja: batu nisan dengan tulisan pudar, dan dinding kamar bayi dengan huruf yang masih basah.
“Kalau tintanya sama, penulisnya kemungkinan besar juga sama,” katanya. “Dan barang seperti itu cuma ada di satu tempat.”
“Di mana?” tanya Akira.
“Gudang arsip lama,” jawab Pak Surya. “Yang bisa menulis pesan ini bukan orang sewaan. Dia orang yang punya akses ke arsip itu sejak dulu.”