Happy Reading!
Banyu menunggu Keana di tempat parkir biasa. Lelaki itu terus melirik jam tangannya, sudah hampir 15 menit bel pulang berbunyi namun Keana tak kunjung menampakkan diri.
Tadi, setelah Keana berlari keluar kelas, Banyu tak sempat mengejar karena bel masuk keburu berbunyi nyaring. Saat tadi bel pulang, Banyu juga sempat ke kelas Keana namun gadis itu ternyata belum kembali.
Banyu terus melirik ke koridor, tak lama sosok Keana muncul membuatnya langsung berjalan menghampiri.
“Na,” panggilnya pelan.
Keana yang tengah merunduk, mendongak pelan menetap Banyu yang tersenyum manis padanya.
Lagi-lagi, Banyu memaklumi sikap Keana yang pemarah dan ketus.
“Balik bareng gue yuk? Gue udah nunggu lo dari tadi.” Keana menghela napas, mengangguk pelan.
Banyu makin mengembangkan senyumnya, lalu menarim Keana pelan menuju motor.
Setelah itu motor Banyupun melaju pelan meninggalkan sekolah.
Selama perjalanan, tak ada percakapan yang menghiasi.
Keana terus diam dengan raut datar khasnya, begitupun dengan Banyu yang terus bergelut dengan pikiran.
Banyu terus melirik Keana lewat spion, membuat Keana yang merasa di perhatikan pun melirik, menaikkan alisnya melihat Banyu.
“Mau main dulu nggak?” tanya Banyu setengah berteriak.
Keana diam sebentar, setelahnya mengangguk pelan.
Banyu langsung membelokkan motornya ke kiri menuju sebuah tempat biasa mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah taman dengan danau yang indah.
Keana turun dari motor, berjalan lebih dulu ke saung yang ada di sana diikuti Banyu.
“Sorry, ya, Na.” Setelah lama sunyi akhirnya Banyu bersuara lebih dulu.
Keana menoleh. “Soal?”
“Tadi. Enggak seharusnya gue maksa lo.”
Keana menggeleng, “Gue yang salah.”
Banyu sontak menggeleng, “Gue tahu kok, lo lagi dikondisi nggak baik-baik aja.”
Keana merunduk, memang hanya Banyu yang paling mengertinya. “Gue juga nggak mau diem aja.”
Banyu mengangguk, mengusap pelan tangan Keana.
“Gue juga mau cari Mamah Bay.”
Banyu mengusap punggung gadis itu pelan. Banyu tahu, dari luar Keana terlihat kuat, dingin dan tak terpengaruh oleh orang lain namun nyatanya Keana hanyalah seorang gadis biasa yang lemah juga bisa menangis.
“Gue akan bantu lo cari tante Rianti, apapun caranya.” janji Banyu.
“Sebenarnya, gue udah punya cara.”
“Bagus dong, apa?”
Keana mendongak, menatap Banyu. “Pakai camera Mamah.”
“Hm?”
“Ini agak nggak masuk akal sebenarnya. Tapi dengan camera itu kita mungkin aja bisa cari keberadaan Mamah.”
“Tunggu dulu, gue nggak ngerti. Maksud lo apa?”
“Mamah punya camera yang bisa lihat masalalu orang lain Bay.” ulang Keana.
Banyu mengerjapkan matanya. Masih tidak mengerti apa yang dibicarakan Keana.
“Mamah gue punya camera yang bisa buat kita lihat masalalu orang lain.” ulang Keana.
Banyu menyugar rambutnya, membasahi biburnya sebentar, lalu menggenggam tangan Keana, membuat gadis itu mengeryit.
“Na, gue tahu lo lagi ngerasa kehilangan, tapi please jangan gini.”
“Gue serius.”
“Apasih Na,” Banyu masih tetap tak percaya.
“Bay,” Keana menatap Banyu mencoba meyakinkan. “Mamah beneran punya camera kayak gitu!”
“Udah-udah deh, jangan bahas itu lagi. Gue janji akan nemuin cara apapun buat bantu lo cari tante Rianti.” sela Banyu.
Keana menggeleng. “Susah Bay, bahkan polisi udah pake lacakan, cctv dan lain-lain. Hasilnya nihil.”
“Tapi pasti ada cara Na. Gue yakin.” Sahut Banyu.
“Ya udah, pakai camera Mamah.”
Banyu menggeleng. “Akan lebih nihil kalau kita percaya hal nggak masuk akal kayak gitu!”
Keana manatap Banyu kesal. “Lo pikir gue bohong?”
Banyu diam, tidak bisa menjawab itu.
“Bay, gue pernah ngebuktiin itu!” ujar Keana kesal. “Gue pernah lihat sekilas masalalu Papah.”
“Na, please lahh,”
Keana berdecak, keluar dari saung dengan kesal. Menghiraukan Banyu yang terus memanggil dari saung.
Banyu yang melihat itu menghela napas, mengejar Keana yang sudah jauh.
Keana dengan wajah datarnya berjalan ke danau, duduk di sana sambil bersidekap.
Keana tahu, pasti tidak akan ada yang percaya padanya sama halnya saat Mamah Keana mengatakan hal tak masuk akal itu juga pada Keana.
*Flashback On*
Dua bulan lalu...
Seorang wanita dengan rambut diikat khasnya mendudukkan bokongnya dengan perasaan lega.
“Mamah?” Gadis dengan earphone di bahunya memanggil pelan.
Rianti- Mamah Keana, menoleh ke belakang. Langsung tersenyum melihat putri semata wayangnya, dia menepuk pelan sofa di sampingnya.
Keana berjalan pelan ke ruang tamu, duduk di hadapan mamah. “Abis dari mana?”
“Biasalah,” jawab Rianti santai, membuka sepatunya.
Keana tak bertanya lebih, lalu tatapannya teralih oafa sebuah camera unik di dekat tas Rianti membuatnya perlahan mengambil camera itu.
Rianti yang melihat itu sontak terkejut, langsung mengambil camera itu dari tangan Keana.
Keana terjengit kaget. “Kenapa sih?”
Rianti menggeleng pelan, mengusap bahu Keana. “Enggak papa. Ini.. buka camera yang bisa disentuh siapa aja.”
“Aku juga nggak boleh nyentuh?” tanya Keana.
“Em, boleh Cuma-“
“Ya udah, lihat.” Keana langsung menarik cameranya lagi. Melihat camera itu dan mengusapnya pelan. “Bagus, buat aku boleh?”
“Jangan!”
Keana mendongak, menatap mamahnya aneh.
“I-itu, Mamah kan udah bilang, camera itu nggak bisa disentuh sembarangan.”
“Kata Mamah kalau aku boleh,” balas Keana.
“Ya tapi- jangan pencet itu Keana!” Rianti membentak saat Keana akan memotret pembantu rumah mereka.
Keana yang terkejut menoleh pada Rianti. “Mamah kenapa sih?”
“Jangan berani-beraninya foto pakai camera ini!” Rianti merebut kembali kameranya.
Keana menatap mamahnya aneh. Melihat Rianti yang memasukkan kamera itu ke dalam tas dengan cepat.
“Ini bukan camera biasa!”
Keana mengernyit.
“Camera ini bisa lihat masalalu orang lain.” Bisik Rianti.
“Mamah nggak papa kan? Mamah mabuk?” Keana malah bertanya keadaan Rianti.
“Mamah serius Keana!” Rianti melirik sekeliling rumah sebentar. “Camera ini yang bantu Mamah nyelesain soal kasus-kasus pembunuhan yang Mamah tanganin.”
Keana menatap mamahnya aneh, dia menggelengkan kepala akan beranjak dari sana.
“Kalau kamu nggak percaya, kamu bisa coba potret orang yang kamu pikirin pakai camera ini!”
Keana menoleh ke belakang, menatap Rianti yang terdengar serius dengan ucapannya.
Sejak saat itu, Rianti mulai memberitahunya rahasia besar soal camera itu.
*Flashback Of*
Banyu berlari, mengguncang bahu Keana, membuat Keana tersadar dari lamunannya.
Keana berdecak pelan, menepis tangan Banyu dan menjauh dari lelaki itu. Saat akan ke sisi danau lain, tak sengaja dirinya menubruk seseorang sampai jatuh, membuatnya lagi-lagi berdecak.
“Eh, sorry-sorry!”
Keana mendongak, menatap kesal orang itu. “Punya mata nggak sih?!”
“Sorry- loh lo yang tadi nangis kan?”
“Keana! Lo nggak papa?”
Keana mengernyit, dibantu Banyu berdiri.
Lelaki asing di depannya mengangguk, “Ingat gue nggak?”
“Siapa Na?” tanya Banyu, Keana mengangkat bahunya tak tahu.
-TBC-
01 Sep 2021