Setelah menginterogasi teman-teman sekelas sebanyak enam orang, Scarlett merasa sedikit lelah. Ia tidak ingin mengakuinya, tetapi tetap saja. Lagipula tidak semua interogasinya berjalan selancar yang ia pikirkan. Beberapa benar-benar berbentuk menjijikkan (menurutnya) sehingga membuat Scarlett ingin muntah. Beberapa yang lain tidak bisa diajak kerja sama, dan sisanya menolak diinterogasi karena merasa dicurigai padahal bukan dia (kata dia) yang melakukan pembunuhan itu. Mau bagaimana lagi, sudah berjalan tiga puluh menit sejak permainan pertama dimulai—yang diinformasikan oleh Emilia. Scarlett menghela nafas lelah ketika teman sekelas selanjutnya yang harus ia interogasi berbentuk seperti jeli raksasa berwarna daging. Terlihat lembab dan berair, gemuk dan sangat besar.
"Ada yang kau ketahui tentang Aries si korban?" tanya Scarlett, buku catatan dibawa di tangan kanan, sementara yang lain memegang pulpen.
"Entahlah, aku tak pernah mengenalnya," kata makhluk itu, bibirnya yang berbentuk seperti itu membuat Scarlett semakin jijik melihatnya. Ia menahan rasa jijik dalam dirinya dan melirik Oliver yang tampak sangat lancar melakukan interogasi. Scarlett tidak mengerti bagaimana Oliver bisa mengeluarkan kharisma sebagus itu. Oke, aku harus bisa, pikir Scarlett. Ia menarik nafas sejenak, enggan menghirup udara yang sama yang dihirup makhluk itu dan bertanya, "apa kau yakin hal itu?"
"Tentu saja. Aku baru saja masuk ke sekolah ini beberapa jam lalu," kata si makhluk lembek.
Scarlett mengucapkan terima kasih dan langsung berpaling pada teman sekelas lainnya. Ia tidak tahu kenapa bisa merasa jijik pada keragaman bentuk teman-teman sekelasnya, padahal tidak muntah melihat darah dan adegan pembunuhan di depan matanya sendiri. Ia menghela nafas dan menyipitkan matanya sebentar, merasa butuh energi tambahan. Keadaannya semakin buruk setelah mendengar pertengkaran di kelas yang ricuh dan saling menuduh satu sama lain tanpa bukti yang jelas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Oliver yang tiba-tiba datang, langsung menyangga tubuh Scarlett yang limbung dan hampir jatuh.
"Pusing," jawab Scarlett jujur. "Aku tidak kuat menghadapi mereka yang bentuknya menjijikkan."
"Ah, aku mengerti," kata Oliver seraya mendudukkan Scarlett di atas kursi terdekat setelah melihat makhluk lembek yang tadi diajak bicara Scarlett. "Duduklah dulu."
Wajah Scarlett tampak pucat sekali, ia tidak mengerti kenapa kelemahannya justru adalah hal yang bisa dilihat sebelah mata oleh orang lain. "Oliver, aku mau minum," pinta Scarlett.
Selagi memberikan Scarlett segelas air—yang dimunculkan dengan sihir—Oliver duduk di samping Scarlett dan berkata, "interogasi ini tidak terlalu berguna. Banyak yang tidak ingin diajak kerja sama."
Scarlett menatap langit-langit sambil menyender di kursinya, mengabaikan pernyataan Oliver. "Mungkin sudah waktunya kita memperhatikan pesan kematian Aries," kata Scarlett akhirnya. Ia mendapatkan kembali sedikit kekuatannya dan sudah bisa duduk tegak juga.
"Kau mendapat sesuatu tentang pesan kematian itu?" tanya Oliver.
"Tentu saja, ada yang mau menjawab tadi," jawab Scarlett bangga. "Dia bilang, dulunya teman Aries. Tapi sudah lama tidak melihatnya. Dia bilang, dia sedih karena Aries mati. Katanya Aries punya masalah disleksia."
"Jadi?"
Scarlett menghela nafas dan berkata lagi, "beberapa orang membuat terobosan bagi para disleksia agar bisa membaca setidaknya dengan cara yang tidak terlalu sulit. Jadi dibuatlah teks yang hurufnya diacak dan dikurang-kurangi supaya bisa terbaca oleh disleksia. Kurasa itulah alasan Aries membuat kode itu. Dia cuma menuliskan nama—atau ciri khas tertentu dari si pembunuh—dengan bahasa disleksianya sendiri."
"Benarkah?" tanya Oliver.
"Benar," yakin Scarlett. "Aku pernah membacanya, tapi aku tetap tidak ingat apa pun tentang kehidupan pribadiku dulu."
"Kalau begitu kita hanya perlu membuat seorang disleksia membaca tulisan itu?" tanya Oliver. "Mudah sekali."
"Tapi nyatanya mencari disleksia di antara tiga puluh satu murid selain kita adalah hal yang mustahil," jawab Scarlett. "Aku lebih menyarankan anagram."
"Bagaimana kita bisa membuat anagram dari huruf yang bahkan tidak kita ketahui maknanya?" Oliver menggerutu pelan, merasa sama bingungnya dengan sebelumnya.
"Tidak apa. Kurasa ini akan jadi mudah," kata Scarlett. "Disleksia membaca dengan huruf terbolak-balik, kan? Coba kita balik beberapa huruf yang ada."
"Yang bisa dibalik cuma huruf w saja," kata Oliver sambil mengamati kertas yang ia taruh di atas meja setelah mendengar Scarlett mulai menjelaskan.
"Angka-angka ini mungkin bisa kita rubah menjadi huruf, beberapa ada yang mirip-mirip, kan?"
"Entahlah."
"Ah, kau ini. Kenapa tidak pernah belajar yang seperti itu?"
"Maaf saja, ya. Aku tak pernah tinggal di Bumi."
Scarlett mendengus lalu kembali menjelaskan, "angka empat mirip huruf a, kan? Meskipun bisa juga dibaca four—for. Dan angka satu bisa kita rubah menjadi huruf i. Kemudian angka tiga bisa menjadi huruf e."
"Lalu?"
"Pertama-tama, aku akan mengasumsikan bahwa angka empat adalah a." Scarlett meraih pulpen dan menuliskan sesuatu di dalam kertas. "Kemudian huruf w adalah m setelah dibalik, angka tiga adalah e, dan huruf-huruf lain tidak akan kurubah terlebih dahulu. Lalu kita akan mendapatkan huruf-huruf ini."
4LW1i3 menjadi almiie. "Tapi kenapa dia mengubah huruf kecil menjadi besar aku tidak tahu."
"Mungkin agar si pembunuh tidak tahu kalau dia menuliskan namanya. Tunggu, ini nama, kan?" Oliver mulai membuat anagram dalam pikirannya, begitu juga Scarlett.
"Kita sudah tahu nama-nama murid di kelas ini?" tanya Scarlett tiba-tiba, mencoba mendeduksi kemungkinan nama teman sekelas sebagai tersangka tempat ia menaruh curiga.
"Kita minta ke Emilia saja terlebih dahulu," jawab Oliver acuh, masih memikirkan anagram pesan kematian Aries.
"Tunggu," balas Scarlett sambil menarik lengan jaket motor Oliver dan berkata, "katakan lagi tadi."
"Yang mana?"
"Semuanya."
"Eh, kita minta ke Emilia saja terlebih dahulu," ulang Oliver. "Kenapa? Oh!"
"Emilia," kata keduanya bersamaan, saling bertatapan kaget dan melirik Emilia yang mereka kenal, duduk di atas meja guru dengan santainya.
Oliver merangkul leher Scarlett dan menariknya mendekat. "Menurutmu dia yang melakukan hal itu?" tanya Oliver dalan bisikan sembunyi-sembunyi.
"Entahlah," jawab Scarlett. "Aku curiga kalau dia sengaja melakukan ini supaya kita bisa mati di tangannya."
"..."
"Maksudku, dia sengaja melakukan ini karena ingin membunuh seseorang saja, bukan memberikan permainan agar kita lulus dan naik ke lantai teratas," jelas Scarlett setelah melihat wajah bingung Oliver.
"Rasanya itu agak tidak mungkin, tapi sepertinya mungkin juga," kata Oliver setelah ber-oh ria. "Emilia, ya. Aries yang punya disleksia sepertinya tidak diketahui si pembunuh."
"Emilia!" panggil seseorang. Membuat Scarlett dan Oliver langsung berpaling ke sumber suara. Telinga mereka mendadak sensitif pada segala hal dengan t***k bengek tentang Emilia.
"Aku turut berduka cita atas kehilanganmu, kami semua tahu kau adalah salah satu temannya yang paling baik," kata makhluk yang tadi memanggil Emilia—yang ternyata adalah seorang murid. Makhluk itu berbentuk setengah kalajengking di bagian bawah tubuhnya, dengan capit yang cukup besar. Sementara Emilia tampak seperti manusia biasa, jika tidak ada yang memperhatikan kaki kambing dan tanduk di kepalanya. Daripada Aries si korban, Emilia terlihat lebih cocok dipanggil Aries.
Gadis itu memiliki rambut cokelat terang panjang yang agak kusut, mata kambing persegi panjang berwarna hitam, dan tanduk yang sepertinya baru setengah tumbuh. Scarlett tidak mengerti jenis kambing betina apa bisa memiliki tanduk, tapi itu tidak penting lagi. Ia saling bertatapan dengan Oliver seolah saling berkomunikasi dengan tatapan dan berkata, "kau bisa minta Emilia si guru kita untuk memberikan daftar nama murid? Aku akan menyapa Emilia lain di kelas kita."
"Oke," balas Oliver. Keduanya langsung berdiri dan mengerjakan tugas masing-masing.
Scarlett berjalan mendekati Emilia si teman sekelasnya yang merupakan makhluk setengah kambing, dan menyapanya, "halo."
"Hai," balas Emilia. Suaranya kecil dan Scarlett bisa mendengar suara embik yang ditahan Emilia. Scarlett tidak terlalu jijik melihat gadis setengah kambing itu, hanya saja melihat Emilia saja sudah sangat aneh di matanya.
"Kudengar kau adalah teman Aries?" tanya Scarlett, merasa tidak perlu menjelaskan siapa Aries.
"Benar, dia teman baikku," kata Emilia. Lalu gadis kambing itu mulai menangis.
Scarlett langsung gelagapan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. "Eh, jangan menangis," kata Scarlett akhirnya, bisa menguasai situasi. Ia melirik Oliver yang ternyata masih berusaha meminta daftar nama murid kelas F-81. "Aku memahami kesedihanmu, kok. Aku di sini karena ingin menanyaimu tentang Aries."
"Maaf, ya. Aku jadi emosional begini," kata Emilia sambil membersit hidung dengan sapu tangan. Mata kambingnya yang berbentuk persegi panjang terlihat lebih aneh bila dia sedang menangis. "Nah, apa yang ingin kau tanyakan ..., eh?"
"Scarlett," kata si pemilik nama. Ia duduk di bangku dekat Emilia dan bertanya-tanya bagaimana gadis yang kelihatan anggun nan lemah lembut ini mampu membunuh teman baiknya sendiri. "Aku ingin bertanya, dimana kau saat Aries terbunuh?"
Scarlett tahu jika alibi bisa dibuat-buat, apalagi dia tidak punya rekaman kamera pengawas yang benar. "Aku sedang berjalan untuk masuk ke kelas ini, tapi tersesat. Aries membantuku menemukan jalan, tapi dia pergi sebelum kami mencapai kelas," jawab Emilia diiringi suara embik rendah yang berusaha ia sembunyikan serta suara membersit hidungnya.
"Ada orang yang bisa menguatkan alibimu?" tanya Scarlett.
"Kenapa?" tanya Emilia. Ia menatap Scarlett dengan mata hitam persegi panjangnya dan bertanya, "kau mencurigaiku sebagai pelaku?"
"Aku tidak tahu Emilia. Menurutmu bagaimana?" tanya Scarlett tanpa nada, terdengar begitu kejam di samping Emilia yang lemah lembut.
"Bukan aku," cicit Emilia. "Aku bersama Sheryl saat itu."
"Sebelum masuk kelas atau setelah masuk kelas?" tanya Scarlett yang juga ikut bertanya-tanya siapa Sheryl yang dimaksud.
"Setelah masuk kelas, sih," jawab Emilia. "Tapi bukan aku pelakunya. Aku teman baiknya. Mana mungkin aku membunuhnya?"
"Dengar, Emilia," kata Scarlett, ia menatap tajam dan dingin pada gadis pemalu nan lemah lembut di depannya, lalu bertanya, "apa Aries punya musuh?"
"Aku tidak tahu," jawab Emilia. "Aries populer dan disukai semua orang, tapi banyak juga yang tidak suka padanya."
"Karena kepopulerannya?"
"Iya."
Scarlett bertanya-tanya kenapa nama Emilia ditulis dalam pesan kematian Aries. Apa yang coba disampaikan gadis itu? "Kalau begitu apa mereka ada di sini? Orang-orang yang tidak suka pada Aries?"
"Beberapa ada di sini," jawab Emilia. "Tiga orang sebetulnya."
"Bisakah kau memberikanku nama dan menunjuk wajah mereka?" tanya Scarlett.
"Tentu saja," sanggup Emilia. Senyum kecil terkembang di wajahnya, ia lalu berkata, "ada Emma, Lynx, dan Carol. Mereka ada di pojokan kelas di sana. Mereka satu geng bersama lima orang lainnya."
Scarlett menatap orang-orang yang ditunjuk Emilia sebentar dan melihat gadis kambing itu lagi. "Apa saja yang mereka lakukan pada Aries?" tanya Scarlett.
"Mereka mengejek Aries di belakangnya, menceritakan berita bohong, mencoret-coret barang pribadinya, bahkan mencuranginya di berbagai kesempatan," jawab Emilia, agak ragu mengatakan hal itu. "Mereka juga menyerangku karena tahu aku temannya."
"Apa reaksi Aries ketika mereka melakukan hal-hal buruk itu?"
"Beberapa kali Aries melapor ke pihak yang berwenang, tetapi ia masih juga diganggu." Emilia tampaknya sumber informasi bagus bagi Scarlett, dia tidak bisa melewatkan gadis kambing itu.
"Apa kebencian mereka sudah mendarah daging pada Aries?" tanya Scarlett lagi.
"Kurasa iya. Mungkin salah satu dari mereka yang membunuh Aries." Scarlett bisa melihat dendam di mata persegi panjang Emilia.
"Aku minta maaf sudah mengorek masa lalumu," kata Scarlett. "Tapi terima kasih. Kalau ada hal lain, boleh kutanyakan lagi?"
"Tentu. Silahkan saja." Emilia tersenyum manis, membuat siapa saja bisa terenyuh, termasuk Oliver sekali pun—yang tiba-tiba saja datang membawa kertas bertabel—kecuali Scarlett tentu saja.
"Oh, wow," puji Oliver. Ia membungkuk dan berbisik pada Scarlett, "ini Emilia?"
Scarlett mengangguk. Ia berkata, "terima kasih." Pada Emilia dan menarik Oliver menjauh. "Jangan terdistraksi. Aku tahu dia manis dan sepertinya tipemu, tetapi tolong fokus sampai akhir."
"Yeah, aku tahu," kata Oliver, sepasang mata biru elektriknya masih menatap Emilia si manis yang duduk dengan anggun di kursinya. "Tapi dia terlihat agak terlalu lemah lembut untuk sekadar berkata kasar."
"Aku tahu," balas Scarlett. "Tadi aku sudah menanyainya macam-macam, dan dia sama sekali tidak memberitahukanku tentang masalah disleksia Aries."
"Mana mungkin dia tidak tahu," balas Oliver. "Kalau dia memang benar teman baiknya, sih."
"Mungkin karena aku tidak bertanya padanya, dia tidak mengatakannya padaku," kata Scarlett. "Sulit untuk tidak mempercayainya. Dia terlihat terlalu lemah lembut untuk melakukan pembunuhan."
"Eits, jangan tertipu," kata Oliver—yang mendadak melupakan senyum manis Emilia tadi. "Dia mungkin saja menyembunyikan pisau di balik rambut lebatnya."
"Kukira kau menyukainya," kata Scarlett tidak mengerti. Sikap Oliver benar-benar berbeda tadi. Scarlett tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.
"Mungkin dia manis, tapi kalau ternyata menusuk dari belakang, bagaimana?"
"Terserah padamu," kata Scarlett. "Aku curiga padanya, tetapi aku belum tahu di mana dasar kecurigaanku itu. Aku butuh bukti atau setidaknya argumen yang lebih kuat. Ngomong-ngomong, dimana daftar namanya tadi?"
"Oh, ini dia."
Scarlett meraih kertas bertabel itu dan membaca perlahan-lahan. Kertas itu cukup lengkap, karena selain nama ada juga foto yang ditempel di sana. Banyak foto dengan beragam pose yang tidak semuanya formal, Scarlett membagi kertas itu pada Oliver dan berkata, "Emilia bilang, Aries punya satu geng yang membencinya. Tiga di antaranya ada di kelas kita."
"Oh, ya? Siapa saja?" tanya Oliver, langsung tertarik pada topik ini.
"Emma, Lynx, dan Carol," jawab Scarlett. "Tiga orang yang berdiri di pojokan kelas."
Oliver mendongak dari kertas dan menatap tiga teman sekelasnya di belakang kelas, menyender di dinding dengan wajah sombong, tampak sangat bermasalah. "Kalau mereka yang membunuh Aries, aku baru percaya."
"Sepertinya pembunuhnya cuma satu orang, Aries hanya menuliskan satu kata saja soalnya," kata Scarlett.
"Atau mungkin, Aries tidak punya cukup tenaga untuk menuliskan nama-nama lain." Teori Oliver juga terdengar masuk akal, meskipun masih ada lubangnya.
"Aku masih tidak mengerti kenapa Aries membawa-bawa Emilia dalam pesan kematiannya," kata Scarlett. "Jangan-jangan surat wasiat."
"Yang benar saja. Apa yang bisa diberikannya?"
"Yah, mana aku tahu."
"Bicara tentang itu, aku jadi ingat sesuatu. Apa kau menanyakan sesuatu tentang Aries pada Emilia si guru kita tadi?" tanya Scarlett.
"Tadi aku menanyakan tentang kelainan yang dimiliki Aries, dia bilang tidak tahu."
"Guru kita tidak tahu kalau Aries itu disleksia?" tanya Scarlett tidak percaya. "Rasanya kedua Emilia ini benar-benar mungkin menjadi kandidat pembunuh Aries. Aku curiga, tapi dasar kecurigaanku belum ada."
"Berarti itu yang harus kita cari tahu," kata Oliver.
"Pertengkaran di kelas tadi kau dengarkan tidak?" tanya Scarlett. "Mereka saling membuat cocoklogi tentang satu sama lain lalu menuduh orang-orang."
"Tentu, kenapa?"
"Ada baiknya kita menanyai mereka juga," kata Scarlett. "Kurasa informasi mereka akan berguna juga."
"Ada baiknya juga kita memperhatikan rekaman kamera pengawas."
"Betul juga, tadi sepertinya dibuat-buat. Apa ada yang memanipulasinya?" tebak Scarlett. "Tapi hasil editannya terlalu halus, membuatku hampir percaya dengan ucapan Emilia si guru kita tentang kerusakan kamera pengawas di lorong tempat Aries mati."
"Kawan, alasan itu terdengar sangat dibuat-buat meskipun terdengar masuk akal juga." Oliver menepuk leher Scarlett agak kencang, membuat gadis itu mengaduh pelan.
~•••~
"Memangnya di sana ada kamera pengawas?"
"Sudah kubilang kameranya rusak."
Begitulah jawaban yang Scarlett dan Oliver terima dari kedua Emilia. Kedua jawaban yang sama-sama membuat mereka saling menepuk jidat. Jawaban itu sama sekali tidak memuaskannya. Padahal menurut perhitungan Emilia (si guru), waktu sudah berjalan satu jam lebih sepuluh menit. Scarlett benar-benar tidak habis pikir, kenapa pula ada rekaman kamera pengawas jika sudah dimanipulasi? Memikirkan kesulitan dalam mencari tahu tentang kepalsuan rekaman kamera pengawas itu saja sudah membuat Scarlett berharap ia memercayai Emilia si guru yang mengatakan bahwa kamera itu rusak. Tetapi ia juga tahu, jika tidak ditelusuri hati-hati, jawabannya bisa saja salah. Dan Scarlett tidak tahu apa resikonya jika salah (selain kematian yang sangat menyakitkan).
"Ini semua salahmu!" teriak sebuah suara yang langsung mendapatkan atensi Scarlett. "Kalau bukan karenamu, kita tidak akan dicurigai seperti ini."
"Hei, kenapa jadi menyalahkan aku? Harusnya kalian yang membuat Emilia tutup mulut pada Aries!"
"Aries yang memaksa Emilia. Dia cuma gadis kambing bodoh. Dia bahkan tidak tahu teknologi masa kini."
Scarlett melirik Oliver dan memberi kode tentang masalah geng yang senang merundung Aries. "Menurutmu mereka benar tentang Emilia yang tidak mengerti teknologi?"
"Kurasa tidak. Para perundung, kan, suka berkata-kata secara hiperbola," jawab Oliver. "Ada baiknya kita bertanya tentang hal ini pada kedua Emilia di kelas ini."
"Apa rekaman kamera pengawas itu mudah diedit?" tanya Scarlett bingung, karena sama sekali belum pernah mengedit rekaman kamera pengawas—sejauh yang bisa ia ingat.
"Entahlah, aku juga tidak pernah mengedit rekaman, bahkan apa pun," jawab Oliver. Ia menoleh pada Emilia si gadis kambing dan melihat
"Kau mau kita menyelidiki ini secara terpisah?" tanya Scarlett, meminta persetujuan Oliver.
"Aku, sih, tidak apa-apa. Masalahnya itu kau," jawab Oliver. "Aku ditugaskan untuk menjagamu tetap hidup sebelum menghadap guruku. Jangan buat tugasku semakin sulit."
Ah, iya juga, pikir Scarlett. Oliver membantuku karena disuruh gurunya. Gadis itu kembali berkata, "aku tidak apa-apa. Kita bagi tugas: aku yang selidiki rekaman kamera pengawas, kau bagian TKP. Pasti ada sesuatu yang lain di sana."
Oliver tampak lega mendengar tugas sederhana yang akan dikerjakan Scarlett. "Baguslah," kata Oliver. "Aku akan kembali ke TKP dan memberitahumu jika ada sesuatu."
"Baiklah."
Oliver langsung pergi, sedangkan Scarlett ditinggal di kelas. Ia hampir-hampir tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gadis itu mengambil kaset rekaman kamera pengawas yang tadi ia dapatkan dari Emilia gurunya, lalu mengamatinya tanpa berbuat apa pun. Selama beberapa detik, Scarlett kembali diam seperti saat pertama kali bertemu Oliver. Suara gebrakan meja membuat kepala Scarlett mendongak dari kaset yang tadi diamatinya. Kelasnya kembali ribut.
"Bukankah aku sudah bilang agar jangan bertindak terlalu jauh?" Scarlett menoleh ke pojokan kelas, melihat trio geng yang merundung Aries, mereka sedang bertengkar.
"Aku tidak bertindak terlalu jauh! Bukan aku yang membunuhnya!" Scarlett tidak tahu yang mana yang bernama Lynx, Emma, atau Carol, sebab semua gadis itu tampak berwajah sama di matanya. Ketiga anak itu bertubuh besar dan separuh hewan. Ada yang separuh burung—tangannya adalah sayap—ada yang separuh kuda—seperti centaurus—serta separuh kucing.
"Kau pasti yang telah membunuhnya! Aku tahu kau iri padanya, karena dia jauh lebih cantik darimu, sampai pacarmu sendiri berpaling padanya!"
Wajah gadis yang diajak bicara langsung berubah merah padam, ia mengepalkan kedua tangannya dan balas berteriak, "bukankah kau yang paling membencinya? Kau yang tidak tahan melihatnya mengalahkan kepopuleranmu! Padahal kau adalah teman baiknya!"
"Aku tidak membencinya sebesar dirimu! Selalu menyalahkan Aries yang katamu telah merebut pacar-pacarmu. Padahal itu karena kau sendiri yang kurang cantik!"
"Jaga bicaramu. Berkacalah pada tingkah lakumu sendiri yang rela melakukan apa pun agar populer!"
Oh, jadi dua dari geng itu sangat membenci Aries? Tanya Scarlett dalam hati. Banyak juga yang memiliki motif selain Emilia. Tapi kenapa pesan kematiannya tertulis Emilia? Tunggu, apakah benar pesan kematian itu berarti Emilia? Mengabaikan pertengkaran dari kedua orang itu, Scarlett menatap kaset rekaman di tangannya lagi, lalu berjalan ke arah televisi yang berada di dekat Emilia si guru dan menyetelnya lagi.
Scarlett agak kesulitan, namun sejauh ini ia masih berpedoman pada tombol-tombol yang tadi ditekan Oliver, jadi dia merasa benar. Televisi kecil itu kembali menyala, menampilkan lorong gelap yang kosong. Oke, lorongnya memang sepi, tempat yang cocok untuk melakukan pembunuhan, pikir Scarlett sambil mengelus dagunya sendiri. Jangan-jangan memang benar kata Emilia tadi, kalau kamera pengawasnya sering rusak. Tapi orang-orang seperti dialah yang paling sering bohong.
Scarlett menonton rekaman membosankan itu, sesekali mempercepatnya. Namun apa yang didapatnya masih sama, lorong kosong yang tiba-tiba ada Aries mati di sana. Maka Scarlett mulai memperhatikan sekeliling Aries si mayat. Mengulang-ulang di saat mayat Aries mendadak muncul dalam rekaman, Scarlett melihat setiap detail yang terlihat di sana. Kalau rekaman itu dimanipulasi, seharusnya ada jejak yang tertinggal. Scarlett menatap tajam televisi itu begitu dekat, sampai ia menemukan sesuatu di sana.
Sebuah tangan yang terlihat bergerak selama sepersekian detik dan akhirnya menghilang begitu saja. Oh, pikir Scarlett kesal, pencarian seperti ini dan hanya tangan lewat saja yang kudapatkan?
"Waktu sudah berjalan hampir dua jam, anak-anak. Silahkan selesaikan permainan ini dan kalian bisa lanjut ke permainan selanjutnya," kata suara Emilia si guru, nada suaranya terdengar tidak peduli pada keadaan. "Bukannya aku membuat ini semakin sulit, tetapi hukuman tetap ada untuk yang tidak bisa menyelesaikan permainan ini."
Scarlett bisa membayangkan hukuman macam apa yang akan diterima murid-murid bila tidak menyelesaikan permainan. Aku harus gerak cepat, pikir Scarlett sambil mengacak rambutnya frustasi, kalau tidak menemukan hubungan di antara semua ini aku bisa mati. []