“Aku bisa melihat jauh.
Tapi hal yang paling dekat denganku
selalu yang paling sulit kupahami.”
~ Nozomi Hoshiko
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
“Hoshiko.”
Suara Hiro terdengar lebih rendah dari biasanya.
“Apa yang kau lihat?”
Aku masih menunjuk ke kegelapan. Tanganku tidak gemetar. Mataku tidak lelah. Justru semakin jelas.
“Kayak…” aku menyipitkan mata sedikit, “…kucing besar.”
Hening.
“Yang jahat,” tambahku polos.
“Matanya merah. Bulunya tebal. Taringnya panjang.”
Aku menoleh sedikit ke bawah untuk memastikan ia mendengarku. “Banyak.”
Beberapa prajurit Kaelvorn saling berpandangan. Ada yang mendengus kecil, ada yang jelas tidak percaya.
“Tidak mungkin,” salah satu dari mereka berkata. “Jarak pandang kita saja terbatas.”
“Benar,” sahut yang lain. “Bagaimana mungkin gadis sekecil itu—”
“Aku lihat kok,” potongku cepat, seperti anak kecil yang tidak suka dianggap salah.
Aku mengangkat dua jari, lalu berpikir, lalu menambah satu lagi.
“Hampir tiga kali lipat dari kita.”
Kini beberapa langkah benar-benar melambat.
“Mereka lari,” lanjutku tanpa beban. “Cepat. Dari arah selatan. Jaraknya… sepuluh kilometer.”
Saat aku menyebutkan itu, tanpa sadar mataku sedikit membesar.
Hiro melirik ke atas.
Dan ia melihatnya.
Pupil mataku—yang seharusnya coklat—menyala hijau terang sesaat. Seperti cahaya dedaunan di bawah matahari pagi.
Elf.
Hiro langsung mengalihkan pandangannya.
“Itu bukan kucing,” katanya tenang. “Itu Shadowolves.”
Aku memiringkan kepala. “Tetap aja kucing besar.”
“Serigala.”
“Kucing.”
Ia menghembuskan napas.
Pendek. Terkontrol.
“Tidak ada waktu untuk berdebat.”
Ia mengangkat tangan.
“Percepat langkah. Formasi siaga. Tetap bergerak.”
Prajurit Kaelvorn langsung bergerak tanpa ragu. Langkah mereka semakin besar, semakin cepat. Obor diangkat lebih tinggi. Senjata digenggam erat.
Kaelvorn bukan pengecut. Tapi mereka juga bukan bodoh.
Malam tanpa bulan bukan medan yang menguntungkan. Monster tingkat menengah ke bawah—yang hanya mengandalkan naluri lapar—berkeliaran tanpa akal sehat. Perang di waktu seperti ini hanya membuang tenaga dan korban.
Tujuan mereka satu: benteng.
Aku terdiam.
Suara langkah-langkah besar itu bercampur dengan suara hutan yang semakin hidup. Angin membawa bau tanah basah, daun tua… dan sesuatu yang lain.
Bau yang aku kenal.
Dadaku terasa sesak.
Tiba-tiba, dunia di sekitarku memudar.
❃.✮:▹◃:✮.❃
[Flashback On]
Aku masih kecil saat itu.
Dua belas tahun.
Air sungai dingin menyentuh kakiku. Aku duduk di batu besar, mengayunkan kaki pelan. Di sampingku, seorang anak laki-laki manusia tertawa keras, memercikkan air ke arahku.
“Jangan gitu!” protesku, meski aku ikut tertawa.
Ia lebih kecil dariku. Sepuluh tahun. Satu-satunya yang mau duduk di sampingku tanpa memandangku aneh.
“Besok kita ke sini lagi ya,” katanya. “Aku bawa roti.”
Aku mengangguk senang.
Malam itu gelap.
Tidak ada bulan.
Hanya suara air dan serangga.
Lalu mata merah muncul di balik pepohonan.
Aku membeku.
Ia tidak sempat berteriak.
Bayangan besar menerkamnya. Taring panjang. Suara tulang patah. Darah mengalir ke sungai.
Aku jatuh terduduk.
Shadowolves.
Aku tahu namanya sekarang. Tapi saat itu, aku hanya tahu satu hal—
Ia tidak menoleh padaku.
Tidak memakanku.
Seolah aku… tidak ada.
Aku bersembunyi sampai pagi.
Sendirian.
[Flashback Off]
❃.✮:▹◃:✮.❃
[Hoshiko's POV]
Dadaku berdenyut.
Tangan kecilku mengepal tanpa kusadari.
Panas.
Ada sesuatu yang mendidih di dalam diriku. Sesuatu yang tidak kukenal. Aku tidak tahu namanya. Aku hanya tahu rasanya menyakitkan.
Aku tidak bersenandung lagi.
Aku diam.
❃.✮:▹◃:✮.❃
[Author’s POV]
Kawanan Kaelvorn terus bergerak cepat di bawah malam tanpa bulan.
Langkah Raja mereka mantap. Fokusnya tertuju ke depan—ke benteng, ke strategi, ke jarak yang harus dipotong.
Ia tidak menyadari perubahan kecil di pundaknya.
Gadis yang biasanya tidak pernah diam kini sunyi. Tidak bertanya. Tidak tertawa. Tidak menunjuk apa pun.
Pupil matanya—yang seharusnya menyala hijau saat kekuatan elf terbangun—kini berwarna merah menyala.
Merah yang dalam.
Merah yang tidak berasal dari elf.
Tidak satu pun prajurit melihatnya.
Tidak juga Akihiro.
Dan bahkan Hoshiko sendiri
tidak menyadari
bahwa sesuatu
telah terbangun di dalam dirinya.
*•̩̩͙✩•̩̩͙˚˚•̩̩͙✩•̩̩͙˚*
Malam itu tetap gelap.
Tidak ada yang runtuh. Tidak ada yang berubah.
Setidaknya… belum.
Namun sesuatu telah bergerak,
pelan, tanpa suara,
seperti mata yang baru belajar terbuka.
Hoshiko tidak tahu apa yang terbangun.
Dan mungkin,
dunia juga belum siap mengetahuinya.
Satu pertanyaan tersisa—
apa yang sebenarnya sedang menatap balik dari kegelapan?