Setiap manusia punya mental dan cara berpikir yang berbeda-beda, tiap hati, selalu punya lukanya sendiri. Fiora pikir rasa sakit, yang ia terima sudah cukup banyak, dan mampu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak dalam jangka waktu lama, tetapi, seolah sedang mematahkan pikirannya, Fiora dihadapi persoalan baru.
Hidup ini tak mudah, setiap rasa sakit yang diterima akan dibayar dengan kebahagiaan, sama seperti ungkapan orang-orang menjelaskan bahwa akan ada pelangi sesudah hujan, atau akan ada canda tawa setelah kesedihan. Lantas, pernahkah mereka berpikir bahwa ketika kebahagiaan telah datang masalah baru sedang menanti di pengujung jalan? Maksudnya, setelah pelangi, akan ada terik matahari yang panas menyengat, menghilangkan paksa keindahan si benda warna-warni untuk menunjukkan, awal rasa sakit lain, yang harus diterima, meski memakan waktu berhari-hari lamanya, hanya demi menunggu hujan kembali datang, kemudian digantikan oleh pelangi yang baru---kebahagiaan yang baru. Manusia berhak memilih: menyerah atau tetap melangkah, sebatas itu. Hanya sebatas itu, demi tujuan hidup yang ingin diraih, sampai manusia telah habis massa di dunia.
Fiora tersenyum, tangannya melambai ke arah jendela mobil yang terbuka, lima detik kemudian, mobil tersebut melaju, setelah Bella membalas lambaian tangan Fiora. Selepas Bella pergi, Fiora membuang napas, menenangkan diri agar tetap terlihat baik saat nanti berhadapan dengan sang oma.
Pertamanya memang begitu. Dan seharusnya seperti itu.
Fiora berdiri kaku, beberapa tetangga berkumpul di depan rumah Erina. Wajah pura baik-baik gadis itu perlahan memudar, tergantikan oleh wajah khawatir yang membuatnya segera menghampiri kerumunan, tergesa.
"Ada apa?" Fiora bertanya, menatap penjelasan pada wanita beranak satu dengan pakaian bermotif bunga-bunga, bersama wanita paruh baya lainnya. Mereka saling berpandangan, lalu menatap ragu, Fiora berani bersumpah, sikap mereka yang seperti itu membuat denyut nadi Fiora bekerja tidak semestinya. Kening Fiora berkerut, ia sama sekali tak menginginkan untuk mendengar berita buruk. Tidak akan terjadi apa-apa, bukan?
Marisa mencoba membuka suara, pelan-pelan mengungkapkan alasan mengapa mereka berkumpul di sini. "Ibu masih belum yakin Nak Fi, tapi, Oma belum keluar dari pagi hari tadi, pas Nak Fiora berangkat sekolah. Pintunya juga masih dikunci dari dalem." Oma tidak akan pernah meninggalkannya. Tidak mungkin Erina tidak keluar dari rumah, sedangkan Erina sendiri begitu senang merawat kebun di halaman, Erina juga senang menyapa dan membantu para tetangga. Oma tidak akan pernah meninggalkannya. Fiora terserang rasa panik, ia merogoh semua saku mencari kunci rumah cadangan. Pelupuk Fiora terbendung air mata, ia menggigiti bibir, menyalurkan semua segala kerisauan negatif dalam benaknya. Oma tidak akan pernah meninggalkannya. Fiora menghapus air matanya kasar, meyakini bahwa tidak akan pernah terjadi apa pun pada Erina! Telapak tangan Fiora berkeringat setelah menemukan kunci cadangan di salah satu saku tas.
Alih-alih menggenggam kunci dan berjalan ke arah pintu, Fiora malah tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia gemetar, menjatuhkan kunci, mengambil dengan tak benar, layaknya tangan gadis berpakaian sekolah lengkap itu, berubah seperti bayi yang baru belajar menggenggam. Kunci kembali jatuh, Fiora terisak. Oma tidak akan pernah meninggalkannya, 'kan?!
"Nak Fi, nggak papa, Ibu aja yang buka ya, kita lihat sama-sama bareng Bu Nita sama Bu Rini." Marisa memberi solusi, Fiora tidak mengiyakan juga tidak menolak, maka Marisa menyimpulkan sendiri bahwa Fiora memperbolehkan tindakannya. Wanita satu anak itu mencoba memasukkan kunci lalu membuka knop pintu, Fiora berdiri di belakang memperhatikan lekat. Pernahkah kalian mengingat bagaimana Fiora melupakan satu pepatah kecil, bahwa, rencana yang manusia pikirkan, belum tentu sama dengan, rencana yang semesta inginkan. Dan sekarang adalah saat di mana semesta menunjukkan takdirnya.
Netra coklat Fiora membulat sempurna, gigitannya menguat, Fiora mati rasa, ia berlari segera menyusul Erina yang tergeletak di area dapur, disertai fungsi detak jantung sudah terhenti. Seakan waktu berhenti berputar, Fiora tuli akan semua suara yang ada di sekitar. Dinding ruangan tersebut berubah menjadi hitam, layaknya ruang hampa, menyisakkan Fiora sendiri bersama Erina. Pompaan jantung Fiora berdetak mengerikan, memberikan Fiora sebuah kengiluan yang menghujam tulang rusuk. Paru-paru Fiora menyempit, napasnya sulit dikontrol. Fiora tidak tahu apa yang harus dirinya lakukan selain, menangis sekencang-kencangnya, kemudian menjerit histeris memanggil nama Erina berulang kali.
Anak rambut Fiora berjatuhan, dari ikatan kepang yang dibuatkan Erina. Fiora tersedu, air mata membasahi pakaian kebesaran sang oma. Titik terang Fiora pergi, harapan gadis itu sekarat, selanjutnya berubah menjadi keputusasaan. Fiora sudah patah. Ia... retak seperti kaca. Fiora mengusap wajahnya hancur. Pertahanan gadis itu runtuh. Fiora kembali meraungkan kalimat sama mencoba membangunkan Erina yang sudah tidak lagi bernyawa. Namun, mengapa Erina tak kunjung membuka mata?
Hanya sebentar, baru sebentar Fiora bisa merasakan, bagaimana dicintai oleh salah satu bagian keluarga di masa lalu. Erina benar-benar pergi, meninggalkan Fiora dalam kegelapan menyesakkan. Padahal, Fiora sudah meyakini dirinya sendiri, bahwa Erina tidak akan pernah meninggalkannya, tetap bersamanya, selalu menemaninya. Apa yang salah dalam diri Fiora hingga harus merasakan penderitaan seperti ini? Fiora sesegukkan, hatinya terhujam pisau berkarat, sekali lagi, Fiora harus menerima kenyataan bahwa Erina sudah tidak lagi bernyawa.
Besoknya, acara pemakaman dilaksanakan, hanya pemakaman sederhana tanpa mengundang orang banyak juga tidak memberitahu pihak sekolah. Fiora membiarkan dirinya dicap membolos selama seminggu lamanya, dibandingkan memberitahu kabar duka, mengingat Fiora tidak menginginkan teman sekolah mengunjungi pemakaman sang oma. Fiora hanya tidak ingin terlihat menyedihkan oleh teman-teman seumurannya, akan tetapi, meski Fiora berusaha keras tak terlihat seperti itu, semua orang tetap memperhatikan Fiora menggunakan sorot prihatin. Merasa kasihan akan kehidupan Fiora yang dipenuhi masalah, terlebih mereka sekadar tahu bahwa Fiora hanya tinggal bersama oma.
Wajah Fiora berantakan, kedua matanya membengkak, kulit memucat, dan warna bibir memutih. Ia duduk di lantai, menghadap foto Erina yang tersenyum. Bagaimana mungkin Erina meninggalkan Fiora dalam keadaan seperti ini? Fiora mengepal kedua tangan, dengan air mata baru, yang belum lelah keluar dari pelupuk. Netra coklat Fiora tidak mau beralih dari objek sama---foto sang oma. Tubuh Fiora bergetar. Gadis itu mengeluarkan isakkannya.
Padahal Erina adalah satu-satunya, yang bisa menyayangi Fiora begitu dalam tanpa keluhan. Satu-satunya, harapan Fiora untuk tetap bertahan. Satu-satunya, yang mengatakan kelahiran Fiora merupakan berkat dari Tuhan. Lalu sekarang apa yang harus Fiora lakukan? Fiora mengerang lirih. Begitu salahkah bila Fiora menginginkan hal serakah bahwa Erina kembali hidup, tersenyum dan balas memeluk tubuhnya. Fiora ingin merasakan kehangatan yang sama. Tangisan Fiora mengeras memenuhi sudut ruangan. Fiora benar-benar berharap yang dirinya lalui hanyalah mimpi buruk belaka. Tetapi, bagaimanapun, Fiora memejamkan mata kemudian membukanya perlahan, kenyataan itu tetap sama, akan selalu sama, menyatakan secara terang-terangan bahwa Erina sungguh telah tiada.
Detik lalu menit menuju jam menggantikan dari pagi, siang, ke malam. Fiora berdiri menatap pantulan dirinya sendiri yang amat menyedihkan di hadapan kaca besar.
Fiora menyorot pilu. Ia berkedip sebentar, setelahnya, air mengalir keluar dari kelopak mata. Fiora tertegun menemukan penampilan yang teramat jauh dari kata baik.
Bulan bersinar di tengah kegelapan tak berbintang, sayup-sayup keremangan cahaya bulan menyatu, dengan sinar lampu memberi warna kilatan pada iris coklat Fiora yang redup. Pikiran Fiora terliputi kekosongan akan ketidakadaan Erina seperti biasa. Hati cedera Fiora terhiasi luka baru, luka yang takkan pernah menghilang, layaknya trauma lain gadis itu. Air mata berjatuhan dengan lebih banyak. Mengapa Erina harus pergi? Fiora merintih kecil. Rongga d**a gadis itu, terkoyak jarum berkarat.
Sedetik, dua detik, Fiora mengerjap, netra coklat gadis itu bergerak, matanya melihat gunting tergeletak di atas meja dekat lemari cukup jauh dari jangkauan tangan. Ahh Fiora ingat, Erina sering kali, membutuhkan gunting untuk merawat beberapa tanaman kecil, atau untuk membuka bungkus bahan makanan dari kota. Fiora melamun, kilasan Erina menyambut kedatangan Fiora dengan olahan makan malam, kilasan lain berdatangan, Fiora bisa melihat bagaimana Erina menyisir rambut gadis itu, kemudian menata, berakhir mengepang, Fiora mengingat satu demi satu kenangan sederhana yang diberikan Erina untuk gadis itu. Tangis Fiora pecah.
Satu ide terlintas dalam benak. Otaknya menyuruh mengambil gunting, dan menggunakannya pada diri sendiri. Fiora menatap pantulan refleksi wajah di kaca. Gunting dan dirinya. Mengabaikan rongga d**a panas, yang ingin memberitahu Fiora, bahwa ada hal salah yang terjadi di pikirannya, Fiora menepis semuanya. Ia mengambil gunting ukuran sedang itu dan berdiri di tempat yang sama. Dengan benda ini, apa Fiora bisa melupakan rasa sakit?
Fiora menatap pantulan kaca hambar. Rambut hitam terkepang berantakan disertai beberapa helaian yang keluar, dari ikatan. Fiora mengingat bagaimana ketika dulu dirinya tak pernah merawat rambutnya sendiri. Iris Fiora beralih menatap gunting lalu bergantian melihat wajah. Ia terdiam. Jam berdentang menghasilkan bunyi setiap detik, dan sekarang, terasa bergerak tepat di samping indra pendengaran, memberi tamparan pada Fiora mengenai kesendirian gadis itu, di dalam kamar Erina. Fiora melepas ikatan rambutnya lalu memotong helai demi helai. Memangkas habis sampai di pertengahan bawah tulang belikat, tepat setengah punggung.
Pakaian hitam Fiora terhiasi beberapa potong rambut, Fiora menunduk, mengamati gunting di dalam genggaman, pikirannya berdengung, bagaimana bila Fiora menyakiti dirinya sendiri, akan seperti apa rasanya? Jemari Fiora bermain menekan sisi tajam gunting, mencengkeram kuat hingga kulitnya berganti berwarna putih pucat, memerah pekat kemudian berdarah. Tidak sakit. Terluka itu tidak membuatnya sakit. Pintu terdobrak, bunyi pecahan beling terdengar, Fiora terhuyung, mendapat pukulan mendadak mengarah pada wajah gadis itu. Fiora jatuh di antara potongan rambut, ia mengangkat wajah, irisnya terbelalak, tubuh gadis itu tremor. Istari di sana, berdiri menjulang, menghalau cahaya lampu menatap Fiora bengis.