Gadis berambut hitam yang sering terikat satu tanpa poni itu bernama Sagita Bella. Anak satu-satunya dari keluarga Birawa. Ibu Bella bernama Manda Permata, bekerja sebagai aktris terkenal sedangkan ayah Bella bernama Damar Birawa, bekerja sebagai pengusaha.
Bella dikaruniai oleh banyaknya kekayaan yang melimpah ruah, hidupnya mudah dan menyenangkan. Apa yang diinginkannya akan segera dikabulkan. Dari dulu sampai sekarang, Bella hampir tidak pernah merasa kesusahan. Sifatnya mudah berbaur, tersenyum juga tertawa, Bella menikmati semua masa kanak-kanak bersama Damar dan Manda. Bagaimana mungkin, seorang Bella yang sedari awal tak pernah merasa sedih, diberikan masalah berat mengenai keretakkan hubungan orang tuanya? Bella tidak pernah mempermasalahkan disudutkan, untuk yang menjadi sempurna, selama dengan hal itu bisa membuat keluarga mereka baik-baik saja. Bella tidak masalah.
Bella tidak terlahir menjadi yang terkuat, apa yang tidak diinginkannya, selalu Bella ucapkan secara terang-terangan, apa yang diinginkannya akan Bella ungkapkan secara jelas, dengan kemudian, segera dikabulkan. Bella tidak pernah merasa sakit yang teramat menyakiti relung hati. Tidak pernah dijauhi oleh teman-temannya. Juga tidak pernah merasa, harus belajar susah payah, demi pelajaran yang dikuasai, mengingat gadis itu akan les setiap pulang sekolah. Lalu, mengapa Bella harus merasakan perasaan terluka seperti ini?
Masalah Bella hanya berputar mengenai kerumitan klise, yang hampir dirasakan oleh banyaknya remaja di seluruh dunia, mungkin di antara dari mereka, lebih menyakitkan dari apa dibayangkan. Dan Bella merupakan, salah satu pemilik mental lemah yang mudah patah. Bukan karena ia tidak bisa menjadi kuat, namun, karena sudah terbiasa menjadi yang paling bahagia.
Kedua orang tua Bella, memiliki prinsip berbeda, ketika Bella memasuki umur dua belas tahun. Masalah mengenai karir, nominal penghasilan, dan banyaknya pekerjaan menyita waktu luang, membuat mereka saling bertengkar hanya karena masalah kecil. Berteriak, mengeluarkan amarah, lalu melempar benda-benda yang berada di jangkauan mereka, membuat Bella harus merasakan pahitnya memiliki keluarga yang pecah. Tidak ada yang mau merasakan kehancuran. Bagi Bella, Damar dan Manda merupakan segalanya, dua orang yang menjadi titik tengah antara kesejahteraan atau keputusasaan bagi kehidupan Sagita Bella. Senyum Bella memudar, tawa gadis itu direnggut. Kesedihan mengikis, memberi segala banyak goresan, sampai sering merasakan tangisan.
Di umur memasuki empat belas tahun, Bella tak sengaja tergores pecahan piring kotor, di lantai. Awal di mana, dirinya merasa lebih baik, hanya dengan, melukai kulitnya sendiri. Ketika darah ke luar dari luka terbuka, membuat Bella menanggung nyeri ringan, sehingga ia bisa merasakan sensasi perih, dan sadar bahwa gadis itu harus tetap bertahan di tengah kesepian ini. Bella harus tetap baik-baik saja, di tengah pertengkaran kedua orang tuanya. Dan Bella harus tetap kuat, meski tangisan tidak bisa menyelesaikan masalah.
Tak ada lagi Bella yang mudah berbaur, tersenyum lebar atau tertawa senang, yang ada hanyalah Bella si cengeng bila tahu akan pulang sekolah, Bella yang sering tidur di kelas menutupi wajah menggunakan jaket, dan Bella yang tidak berminat menjadi juara kelas. Keadaan seolah mengubah kepribadian gadis itu. Menyebabkan Bella dikelilingi oleh kesendirian menyesakkan. Di umur memasuki lima belas tahun, Bella dipindahkan ke tempat yang jauh dari kota, disekolahkan dekat perbatasan demi pekerjaan Damar di kala itu. Dari sanalah Bella benar-benar menutup diri. Tak lagi mempedulikan dirinya bisa mendapatkan teman atau tidak. Sampai di umur yang keenam belas tahun, Bella naik kelas, ia menemukan Fiora, murid pindahan bersikap mudah peduli yang menjadi teman satu-satunya Sagita Bella.
Bella tidak berbohong mengatakan, betapa senangnya ia memiliki teman seperti Fiora, gadis misterius yang baru-baru ini, Bella menemui dirinya sedang mengalami trauma. Maka, ketika semakin kuatnya, jalinan pertemanan mereka, Bella ingin sekuat tenaga membantu gadis terkepang satu itu keluar dari masa terpuruknya, meski Bella sendiri tahu, bahwa dirinya pun, sama memiliki masalah rumit yang belum diselesaikan.
Bella memakan sarapan pagi dengan sereal, duduk di meja makan sendirian, tanpa ditemani ayah dan ibunya. Bella melirik sekilas nominal uang yang selalu berada di samping kotak bunga buatan, jumlahnya pun tidak perlu diragukan lagi. Gadis berambut ikat satu itu, menghabiskan suapan terakhir tanpa minat. Selalu seperti ini setiap hari. Damar bekerja hingga sering tidak pernah pulang ke rumah, sedangkan Manda mengutamakan dunia entertainment sebagai karir terbesar.
Bella bersiap untuk berangkat sekolah, mengikat tali sepatu, lalu melangkah ke luar rumah menuju mobil dengan supir yang sudah menunggu. Setelah sampai di kelas, Bella tidak menemukan keberadaan Fiora di kursi dekat jendela, bahkan teman sebangku Fiora yang sering diceritakan Fiora sendiri, bernama Juni, tidak pernah menampakkan diri. Membungkam, Bella memilih melanjutkan langkah ke tempat duduk. Ia menyandarkan wajah ke lipatan tangan, menunggu bel masuk. Satu jam pelajaran, dua jam pelajaran, bahkan sampai jam pelajaran terakhir matematika minat, Fiora benar-benar tidak memasuki kelas. Absensinya dikatakan alfa tanpa keterangan. Kening Bella berkerut, ia ingin mencoba menghubungi Fiora melalui ponsel, tetapi, Bella masih belum yakin untuk melakukan hal itu.
Senja datang, menyirami warna dasar sekolah menjadi oranye kekuningan. Bella melangkah ke luar gerbang menuju supir pribadinya, setelah jam menunjukkan pukul lima sore. Namun, sepertinya, itu bukanlah pilihan yang tepat. Bella disambut oleh pertengkaran Damar dan Manda yang tiada mungkin habis, hanya dengan raungan Bella memohon untuk segera berhenti melakukan tindakan kekanakkan. Bella bisa mendengar tangisan bercampur teriakan yang dikeluarkan Manda, selanjutnya, bunyi benturan benda-benda keras terdengar dari amarah Manda menentang pendapat Damar. Bella menggerakkan kaki menaiki tangga menuju kamar atas tanpa mengucapkan salam. Tidak apa. Di hadapan mereka, Bella bisa terlihat tidak mempermasalahkan pertengkaran keduanya. Tidak apa. Bella bisa berpura-pura.
Sehari, dua hari, lima hari terlewati, dan tepat ketujuh. Bella menjalani aktivitas seperti biasanya, bersama kedua orang tua yang tak pernah bisa berdamai. Bella tidak mempunyai teman lain, selain Fiora, akan tetapi, jangankan mereka bertemu, Fiora bahkan tidak pernah masuk ke kelas. Sudah seminggu lamanya, Bella tidak bertemu gadis itu, Bella benar-benar merindukan teman satu-satunya tersebut.
Langit menggelap, Bella melaksanakan makan malam di ruang tengah, ketika ia telah berada di meja yang sudah disuguhi makanan mahal, Damar dan Manda selalu sudah pergi entah ke mana. Bella akan ditinggal. Hanya ditemani pelayan dan pembantu bersih-bersih. Bella pikir hari ini akan berlalu seperti yang diduga gadis itu sendiri. Dan besoknya, ia akan memutuskan mengunjungi tempat Fiora, menanyai kabar akan ketidakadaan gadis itu di sekolah. Akan tetapi, dugaan seringkali tidak sesuai perkiraan. Bella tertegun mendapati amplop coklat samping televisi. Gadis itu membungkam, sedetik kemudian, irisnya membulat, dengan terburu-buru Bella mengecek amplop tersebut dan membuka isinya secara kasar. Bella termenung, ketika mendapati gugatan perceraian yang diajukan Manda pada Damar. Kedua mata Bella memanas, tidak mungkin berakhir seperti ini bukan?
Bella berjalan terhentak ke arah tempat sampah, membuang berkas tersebut, lalu melangkah naik ke kamar, buru-buru. Bella mulai mengeluarkan isakkan kecil, ia menggenggam ponsel mencari nomor Fiora. Saat merasa sedih, hanya nama Fiora yang terlintas di benaknya, ketika itu. Sembari menunggu nada sambung dan mencoba menelfon berkali-kali, Bella membenahi pakaiannya untuk bisa menginap di rumah Fiora beberapa hari, menghindari interaksi antar kedua orang tuangnya, dengan dirinya sendiri. Bella menyeka air mata yang mengalir. Nada sambung mulai terhubung, tanpa banyak berpikir, Bella berbicara tergesa."Fi, k-kamu nggak papa? Kamu udah nggak sekolah selama seminggu, loh."Notasi Bella terdengar sumbang, ia menekan bibir menahan tangis.
Kening Bella berkerut, sudut mata gadis berambut ikat satu itu kembali berair, Bella mengusapnya. "Fi, kamu ada di sana?" Bella bertanya yang sama sekali tidak ditanggapi Fiora. Gadis berambut hitam itu mulai merasa khawatir. Sebenarnya ada apa dengan Fiora? Di ujung telfon, samar-samar, Bella bisa mendengar napas Fiora yang terhembus berat, lalu bunyi hentakan benturan telfon genggam, membuat Bella semakin mengerut bingung. "Fi, kamu masih di sana 'kan?" Sama sekali tak ada suara. Bella mencoba untuk terakhir kali. "Fiora, Halo?"
Karena diliputi kecemasan yang amat besar, Bella memilih mengunjungi rumah Fiora dengan supir pribadi, tak lupa membawa sejumlah nominal uang beserta kartu penting yang bisa saja dibutuhkan nanti. Ia juga membawa beberapa pakaian di dalam tas. Kilasan Fiora yang ditemukan Bella sedang penuh trauma itu membuat Bella begitu sangat ketakutan. Bagaimana bila Fiora sedang tidak baik-baik saja, di sana?
Sesampainya di tempat Fiora, betapa terkejutnya Bella, akan semua kekacauan, yang ia saksikan di kamar dekat dapur. Dindingnya terpasang foto seorang wanita paruh baya tersenyum, Bella pikir, wanita itu merupakan nenek Fiora. Bella membulatkan mata, menatap Fiora yang berbaring, tak sadarkan diri, dengan beberapa noda darah mengering. Bella meminta bantuan supir pribadi, untuk membantu gadis itu, mengangkat tubuh Fiora, membersihkan pecahan beling dan genangan air, juga membereskan beberapa rambut Fiora yang berserakkan di lantai. Dengan gemetar Bella menelfon dokter memeriksa keadaan Fiora.
Bagaimana mungkin Bella menceritakan semua masalah yang sudah terjadi pada gadis itu, sedangkan Fiora sendiri memiliki beban lebih berat dibandingkan apa yang dibayangkan. Bella tidak mengerti, alasan apa yang membuat Fiora bertahan sampai sejauh ini. Kamar gadis itu yang kacau membuktikan bahwa telah terjadi pertengkaran hebat. Bella menggigiti kuku penuh tanda tanya, menyorot Fiora yang sedang diperiksa oleh dokter panggilannya. Bella hanya menanggung permasalahan klise dalam seumur hidupnya, tetapi Fiora, jangankan masalah, Fiora malahan memiliki trauma. Bella meringis tertahan. Apa yang harus Bella lakukan sebagai teman gadis itu?
Syarat suatu pertemanan ialah keterbukaan cara pandang masing-masing dalam menghadapi suatu masalah. Dengan Fiora, Bella tidak ingin memaksakan apa pun. Membantu gadis itu, adalah sebuah hal yang harus dilakukan, mengingat betapa banyaknya sikap baik dan sabar Fiora, menghadapi tingkah kekanakkan Sagita Bella menghadapi keretakkan keluarga. Bella sudah bilang 'kan bahwa Fiora merupakan satu-satunya teman di hidup gadis itu. Maka, hanya dengan pemikiran sederhana tersebut, Bella tidak masalah membantu Fiora sampai seperti ini.