"Fi, sayang, Oma udah buatin makan malam untuk kamu." Fiora mengangkat kepala, netranya berbinar senang, menemukan Erina menyambut kepulangan Fiora dengan kedua tangan terbuka, tanpa pikir panjang, Fiora melepas sepatunya lalu menerjang Erina dengan pelukan kuat. Oma-nya sudah baik-baik saja. Oma-nya sudah sembuh. Fiora tersenyum lebar. Seolah ada beberapa beban terangkat di bahu, Fiora lega luar biasa, meski masalah Fiora belum terselesaikan sepenuhnya, setidaknya Erina sudah kembali sehat.
Erina mengecup puncak rambut Fiora, ia mengelus punggung cucunya lembut. "Kenapa pulang terlambat, tadi di sekolah ada tugas yang belum selesai?" tanya Erina perhatian, wanita yang memiliki netra yang sama coklatnya seperti Fiora itu, memperhatikan penampilan sang cucu. Kali ini, Fiora benar-benar terlihat kotor, dan berantakan sekali, kelopak matanya juga membengkak. Dengan sabar, Erina menunggu jawaban si cucu.
Gadis terkepang satu tersebut menjawab sembari tersenyum. "Aku tadi bersihin kelas dulu, Oma."
Erina mengangguk, ia mengecup kening Fiora halus. "Kalau mata kamu, kenapa bengkak, hm?" Senyum Fiora melebar, kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Erina, secara jelas, membuat Fiora merasa dikasihi.
Ia menyahut. "Sekarang udah nggak papa, Oma."
Erina menyematkan poni miring Fiora ke belakang telinga, ia membiarkan Fiora menjaga masalah pribadinya sendiri, cepat atau lambat Fiora akan dewasa, sehingga harus bisa menyelesaikan selisih di kehidupan gadis itu, maka Erina tidak mencampuri urusan sang cucu. "Ya udah, sekarang kamu makan, ya." Fiora mengangguk antusias.
Esoknya, ketika Fiora memasuki kelas, gadis itu masih merasa tidak enak, dengan Juni, yang kini sedang membaca buku. Ada perasaan bersalah dan keinginan untuk meminta maaf, tetapi, Fiora sendiri merasa ragu memecah keheningan yang ada. Angin berhembus dari celah jendela, Fiora bisa melihat sepuluh menit lagi bel masuk, maka sebelum guru bahasa datang, Fiora harus cepat-cepat meminta maaf. Fiora menggigit bibir. "Um... Jun---"
"Fi aku---"
Membulatkan mata, Juni masih mau berbicara dengannya, senyum simpul terukir di bibir Fiora. "Juni aku... aku minta maaf," ujar Fiora cepat. Fiora menyaksikan perubahan ekspresi Juni terkejut akan pernyataannya, hingga mengabaikan buku bacaan di tangan gadis itu.
Kacamata Juni sedikit terangkat, saat gadis terkepang dua itu tersenyum lebar menanggapi Fiora. "Ahh leganya... aku pikir kamu masih marah, aku juga minta maaf karena secara nggak langsung udah ganggu kamu."
"Enggak kok!" Fiora memotong, seketika keduanya terdiam. Fiora tidak pernah berfikir bahwa kehadiran Juni telah mengganggunya, malahan Fiora bersyukur, adanya gadis itu membuat Fiora memiliki seseorang yang bisa dikatakan teman dekat. Kemarin, adalah di luar kendali Fiora sendiri, gadis itu tak mampu menahan semua trauma, yang menghujam sistem kesadaran gadis itu, hingga melampiaskan amarah pada Juni yang bahkan tidak tahu apa-apa. Sorot Fiora berubah sendu. "Aku... bener-bener minta maaf... aku... ngebentak kamu gitu aja padahal kamu udah tulus mau bantu aku." Tak ada kebohongan di sana, Fiora benar-benar mengungkapkan kejujuran dari lubuk hatinya sendiri.
Senyum Juni melebar. Gadis berkepang dua itu, mengambil sebuah bekal kecil dari dalam tas, lalu memberikannya ke meja Fiora. Fiora menoleh tidak paham. "Aku niat mau minta maaf sama kamu pake kue kering buatan Ibu aku, tapi ternyata udah kamu duluan yang ngomong." Juni menjelaskan, kemudian, membenarkan letak kacamatanya sebentar. "Sekarang, kuenya buat kamu aja, jangan ditolak loh ya," ujar Juni melanjutkan, memberi nada peringatan.
Fiora menggigit bibir. "Jun... kamu... uhh...." Bukan selalu orang buruk yang berada di sekitar Fiora, nyatanya bila Fiora benar-benar membuka mata, selalu saja ada orang yang membantu gadis itu, berbuat baik pada Fiora agar Fiora menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berputar pada masalah.
Wajah Fiora memperlihatkan keharuan. "Kemarin... beneran, aku yang salah, ha-harusnya kamu nggak ngasih kue dan sebaik ini sama aku. Aku... bisa nangis ini Jun," kata Fiora mendramatisir. Fiora tidak berbohong mengatakan kemungkinan menangis sebab kebaikan Juni yang luar biasa.
Juni tertawa. "Nggak, kemarin aku juga salah," akunya. "Sekarang kamu terima ya kuenya?" tanya Juni mengalihkan pembicaraan.
Kini giliran Fiora yang menggeleng. "Gimana kalau kita setengahan, aku nggak enak nerima semuanya," sahut Fiora kemudian. Juni kembali tertawa, padahal tak ada niat sedikit pun Fiora mengajaknya bercanda. Kalau diperhatikan sekali lagi, Juni Astina memang seceria itu. Fiora tersenyum menanggapi.
Juni kembali menguasai diri, ia berujar, "Nggak deh, buat kamu aja." Tepat saat Juni membalas, bel berbunyi, guru berpakaian rapih berwarna hitam itu, berjalan memasuki kelas, pelajaran pertama adalah bahasa indonesia. Fiora berbisik, "Kalau gitu makasih ya Jun, bakalan aku abisin kok." Juni mengangguk. Fiora menaruh bekal pemberian Juni ke kolong meja, lalu bersiap berdiri memberi salam pada Pak Alwi.
Pria dengan kerutan wajah tersebut, mulai berdiri di tengah papan tulis, salah satu tangannya menggenggam setupuk kertas berwarna putih. Pak Alwi membuka suara. "Murid-murid Bapak sudah mengoreksi hasil puisi di kelas ini, murid yang terpilih, akan membacakan hasil tulisannya dalam acara pentas kesenian yang diadakan besok." Penghuni kelas diam, menunggu kelanjutan Pak Alwi mengungkapkan siapa orang dengan tulisan terbaik.
Pak Alwi menarik napas. "Dan yang terpilih ialah," Jeda, Pak Alwi berjalan menghampiri tempat duduk barisan ketiga dekat jendela, pria paruh baya itu tersenyum tulus. "Fiora." Dan suara yang terdengar setelahnya mampu membuat Fiora terlonjak tidak percaya. Pak Alwi memberi hasil tulisan Fiora di meja, ia menyorot hangat. "Selamat ya, Nak. Besok kamu bisa menjadi perwakilan kelas MIPA dua."
Sebuah perasaan manis hinggap di hati, seolah ingin mengingatkan Fiora bahwa tak selamanya keadaan selalu memberi Fiora hal yang buruk. Fiora tersenyum cerah. "Terima kasih, Pak."
Pak Alwi mengangguk, berjalan menjauhi tempat duduk Fiora menuju barisan terjauh dekat jendela yang mengadap ke koridor---tepat di tempat duduk paling belakang. Guru bahasa indonesia itu berdiri, melipat kedua tangan di depan d**a, menatap tajam seorang lelaki yang kini hanya merapatkan bibir terbungkam. "Ravin Cakrawala nilai kamu kosong karena tidak mengumpulkan tugas. Sekarang kerjakan tugas puisi, lalu menghadap Bapak setelah jam istirahat!" Pak Alwi bertitah tegas yang diangguki Ravin tanpa membantah.
Fiora mematung, apa barusan indra pendengarannya mendengar nama yang sama seperti nama seorang anak lelaki empat tahun lalu? Fiora menoleh, menemukan lelaki yang sama ia temui kemarin, dan kemarinnya lagi. Fiora menelan saliva, nyatanya mereka sekelas? Apa maksudnya semua ini.
Juni tersenyum lebar, ia mengamati tulisan puisi Fiora dan berdecak kagum. "Aku nggak tahu kamu bisa bikin kata-kata jadi sebagus ini, nggak habis pikir deh." Fiora tak mendengarkan, fokusnya terbagi. Ia mengerutkan kening, atensi gadis terkepang satu itu kini beralih ke Juni. Fiora menyorot Juni penasaran. "Siapa dia, Jun?" tanya gadis itu dengan mata menunjuk ke arah Ravin.
Juni mengerjap, ia membenarkan kacamatanya yang turun. "Siapa?" tanya Juni sekali lagi.
Fiora menyahut, "Itu tadi," kata gadis itu yang beruntungnya Juni mengerti akan maksud Fiora. "Oh itu, namanya Ravin, tadi kan kamu denger sendiri dari Pak Alwi pas nyebut nama dia." Mendengar hal itu Fiora menggigit bibir. Ia kembali membuka suara. "Ravin siapa?"
Merasa gemas, Juni memincingkan mata jengkel. "Ya ampun, tadi Bapaknya kan udah nyebut, namanya Ravin Cakrawala, masa kamu nggak denger, aneh-aneh aja deh."
Fiora masih merasa tidak tenang, mengapa nama panjang mereka berdua pun sama miripnya. Fiora sama sekali tidak melupakan detail tentang Ravin Cakrawala empat tahun yang lalu. Lantas, mengapa sekarang sikap lelaki itu pada Fiora seperti seseorang yang tidak pernah saling bertemu? Fiora meremas jemarinya gelisah. "Terus kenapa kemarin-kemarin aku nggak pernah ngeliat dia?"
Juni mengembalikkan kertas puisi Fiora, kemudian mengeluarkan buku tulis mencatat tulisan kapur Pak Alwi di papan tulis, gadis dengan rambut kepang dua itu menjawab, "Em, soalnya dia sering bolos, tapi bolosnya di sekitaran sekolah, makanya ketahuan sama guru-guru terus dihukum. Kemarin dia juga masuk sebelum kamu dateng, tapi karena mungkin emang kebiasaannya. Dia bolos lagi, Fi."
Fiora mengangguk, ia menyimpan terlebih dahulu kertas puisi buatannya, mengikuti Juni mengeluarkan buku tulis dan memulai mencatat. "Kenapa sekarang dia masuk kelas?"
Juni berdehem sebentar seolah sedang berfikir, lalu membalas, "Mungkin karena abis pelajaran bahasa Indonesia ada ulangan biologi. Kadang aku agak merhatiin dia sih, kalau lagi ada ulangan harian pasti dia masuk."
Masih belum cukup, Fiora kembali mengutarkan pertanyaan. "Loh kok dia bisa tahu hari ini ada ulangan biologi?" Juni mengangguk menanggapi dengan tangan yang masih asik menulis. "Kan dia juga punya temen, Fi. Lagian, pacarnya banyak tahu!"
Oh jadi seperti itu. Fiora mulai mengerti. Ia melanjutkan catatannya dengan pikiran setengah fokus. "Ngomong-ngomong tadi kamu bilang hari ini ulangan biologi?" Terasa baru tersadarkan Fiora menoleh menuntut jawaban Juni menyangkut hidup dan matinya. Masalahnya, jangankan tahu bahwa hari ini ulangan biologi. Kemarin saja, Fiora dihukum tidak boleh mengikuti pelajaran Pak Reno.
Juni mengangguk ringan. "Iya, kemarin aku mau ngasih tahu kamu, eh tapi kelupaan." Fiora menggigit bibir menahan geraman, mau bagaimana lagi? Kemarin mereka memang agak berselisih, sehingga mengakibatkan kurangnya komunikasi. Ia meringis sedih meratapi nasib. "Uhh... aku... sama sekali nggak belajar...." ujar Fiora mengerang lirih.
Juni tertawa, "Maaf, kalau gitu aku minta nomor kamu dong." Fiora mengangguk. "Boleh, nomor telfon rumah ya." Juni mengiyakan. Setelahnya mereka pun berbagi nomor telfon layaknya sedang mempertipis jarak agar semakin kuatnya tali pertemanan.
"Fi." Juni memanggil, kini mereka sedang mengerjakan tugas mengarang yang diberikan Pak Alwi. Fiora menyahut berdehem. Juni melanjutkan, "Aku seneng banget puisi kamu bisa kepilih, besok aku bakalan berdiri paling depan ngeliatin kamu!" seru gadis itu antusias.
Fiora tersenyum. "Janji ya kamu berdiri paling depan?" tanya Fiora yang dibalas anggukkan semangat Juni. "Iya dong!"
"Um... aku penasaran deh," Juni kembali membuka suara ia menoleh menatap Fiora yang sedang menulis. Fiora menyahut singkat. "Apa?"
Juni mengetuk-ngetuk ujung pena ke kening."Kenapa puisi kamu dikasih judul lentera?" Fiora terdiam, gadis berponi miring itu menghentikan aktivitasnya sejenak, ia membalas sorot Juni yang penasaran. "Lentera artinya harapan kecil."
Mendengar jawaban Fiora, kening Juni berkerut dalam. "Maksudnya?" tanya gadis itu berwajah aneh.
Fiora melanjutkan sembari tertawa misterius. "Ada deh!"
Merasa jengkel dengan jawaban Fiora, Juni mendengkus kesal. "Fi!"
Bel istirahat pun berbunyi, setelah melewati berbagai sulitnya, dan lupanya Fiora pada materi biologi, membuatnya mengasal mengisi jawaban. Fiora membuka bekal makan, melupakan kengasalannya. Ia menoleh menatap Juni yang justru mengeluarkan kertas polio dari dalam tas. Fiora berucap bingung. "Kamu ngerjain apa, Jun?"
Juni tersenyum. "Kamu tahu Kak Riki? Dia cowok populer di sekolah kita. Kemarin, dia minta tolong bantuan sama aku buat ngerjain tugasnya."
Fiora mengerutkan kening, ia melahap sesuap nasi beserta wortel dan sepotong ayam ke dalam mulut. "Kok gitu, dia kakak kelas?"
Mendengar pertanyaan Fiora, Juni menyahut ceria. "Iya dia kakak kelas, katanya cuma aku cewek paling baik yang bisa diminta-tolongin." Wajah Juni memerah membicarakan mengenai lelaki bernama Riki itu. Kerutan kening Fiora mendalam. "Tapi 'kan itu pelajaran jurusan IPS, dia anak IPS?"
Fiora terdiam ketika malah Juni terkekeh senang. "Bener, Kak Riki emang jurusan IPS. Dia minta tolong sama aku buat ngerjain tugasnya yang menurut dia susah banget." Juni memegang kedua pipinya malu. "Oh apa menurut kamu Kak Riki punya perasaan sama aku?"
Fiora menelan suapan ketiga dengan susah payah, ia terdiam mencoba memproses semua ucapan Juni yang terdengar aneh di telinga. Fiora mengucap ragu. "Juni... tapi... kenapa kamu yang harus nulisin?" Benar, Fiora merasa ada hal janggal pada kakak kelas bernama Riki itu. Entah firasat Fiora mengatakan ada hal tersembunyi yang disimpan Riki diam-diam. Tidak mungkin bukan firasat Fiora kali ini benar?
Wajah Juni malah berbinar, ia tersenyum lebar, teramat lebar hingga Fiora takut bibir itu akan robek. Juni membalas, "Dia bilang tulisan aku bagus. Katanya, dia nggak bisa kerjain tugas geografi ini karena lagi ada urusan, makannya aku bantu dia." Jeda sebentar, Juni menarik nafas, kemudian melanjutkan cerita yang lebih panjang. "Aku nggak pernah dideketin cowok seganteng Kak Riki, jangankan ganteng, dideketin cowok biasa-biasa aja nggak. Tapi, Kak Riki muji aku, dia bikin aku seneng sama semua pujiannya. Dia juga bilang kalau aku cewek paling pinter yang pernah dia temuin."
Fiora menahan napas, ia membungkam dengan tenggorokan tercekat. "Jun."
"Hm?"
"Siapa nama panjangnya?"
Juni terkikik, menjawab antusias. "Tadi aku lupa ngasih tahu nama panjangnya ya? Namanya Riki Irwana. Kakak kelas paling ganteng pokoknya. Besok-besok aku bakalan tunjukkin ke kamu orangnya."
Fiora menggigit bibir khawatir. "Terus kamu nggak mau makan?"
Juni menggeleng, ia melanjutkan tulisannya. "Nggak, Kak Riki adalah yang paling penting!" Fiora memakan suapan ke lima, ia merenung, dari ceritanya saja, Fiora bisa menyimpulkan bahwa Riki Irwana bukanlah pemuda yang baik. Lalu, mengapa Juni tidak menyadari bahwa Riki sendiri memiliki maksud tersembunyi dengan memuji Juni terlebih dahulu. Apa Fiora akan membiarkan Juni dengan semua kebahagiaan semu-nya? Untuk kali ini Fiora membungkam tidak tahu harus melakukan apa.