Lea berjalan disamping pria yang baru saja membicarakan pernikahan dengannya. Pria itu tinggi tegap seakan tak tergapai dengan tangan mungil milik Lea. Apalagi tinggi badan yang tak sepadan dengan Lea yang bisa dikategorikan mungil.
Aroma tubuh pria itu seakan sudah terekam dalam ingatannya secara langsung. Mereka berdua melangkah mendekati ruang pertemuan tadi. Ketika mereka berdua masuk ke dalam ruangan.
Semua tatapan mata menatap mereka berdua. Chaiden menghentikan langkahnya yang membuat Lea ikut berhenti. Terlalu fokus dengan pikirannya sendiri membuat Lea lupa akan dunia nyata yang sedang dijalaninya.
Lea menatap semua orang yang juga sedang menatap mereka dengan tatapa bertanya-tanya meminta penjelasan.
"Saya akan menikahi Lea" ucap pria itu yang membuat semua orang menghela nafas lega.
"Ya, kami semua sudah setuju" celetuk Mama Chaiden dengan semangat. Semua orang sedang berbahagia atau sangat berbahagia mendengar berita ini. Tetapi Lea sedikit merasa jika pria yang akan menikahinya ini tidak merasakan apapun di dalam hatinya, hampa.
"Saya ingin acaranya dilaksanakan minggu depan"
*-*-*
Sebuah tepukan pelan di pipi Lea membuat perempuan itu membuka matanya. Tidurnya terasa terganggu dengan tepukan itu.
Dilihatnya pria dengan wajah dingin tengah duduk di sampingnya. Dengan cepat Lea bangun dan menarik selimut.
Pria itu terlihat kaget dengan respon Lea ketika melihatnya. Lea segera memeriksa tubuhnya yang ternyata masih menggunakan pakaian lengkap.
"Apa yang kau lakukan dikamarku ?" teriak Lea yang membuat pria itu memutar matanya. Bagaimana bisa masih ada wanita malu-malu seperti Lea di dunia ini. Aiden yakin jika semua perempuan akan berteriak dan mengajaknya untuk bersenang-senang jika dihadapkan fakta di dalam berdua dengan Aiden.
Tetapi Lea bukanlah perempuan lain, dia berbeda.
"Hari ini kita ada fitting baju. Aku mengambil cuti untuk ini jadi segera bergegas bersiap" ucap Chaiden dengan melangkah pergi.
Lea mengusap rambutnya pelan ketika merasa kesal dengan pria itu. Dengan seenaknya masuk ke dalam kamarnya ini.
"Aku menunggu dibawah" suara itu terdengar lagi yang membuat Lea segera beranjak.
Setelah bersiap dan membawa barang yang mungkin dibutuhkannya. Lea turun ke lantai bawah dan menemukan Chaiden dengan bersandar denga bermain ponsel.
Pria itu terlihat tampan walaupun dipandang dari jarak yang jauh. Mungkin ini yang dinamakan orang ganteng mah bebas.
Dilihat dari segi apapun pria itu terlihat tampan. Begitu cocok menjadi seorang modem daripada seorang pengusaha muda.
"Sampai kapan kau disana dan membuang waktu?"
Suara itu membuat Lea tersadar dan segera menatap Chaiden yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi.
"Ayo pergi" ucap Chaiden dengan melangkah keluar rumah meninggalkan Lea.
Pernikahan kami akan diadakan lima hari lagi. Setelah keinginannya yang menikahi dalam seminggu di terima oleh tetua keluarga.
Chaiden menyanggupi mempersiapkan pernikahan megah untuk Lea. Tentu saja dia sanggup karena uangnya dimana-mana.
Siapa yang akan meragukan kekayaan keluarga Darlan ? Walaupun keluargaku masih bisa dikatakan keluarga kaya tapi masih berbeda jauh dengan keluarga Darlan.
Dari semua persiapan pernikahan. Mereka berdua hanya berpartisipasi dalam fitting baju karena memang itu hal yang paling penting.
Sedangkan kebutuhan dan persiapan yang lainnya di urus sebagaian oleh Mama Chaiden serta Mama Lea. Sebagiannya lagi diurus oleh bawahan Chaiden.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Mereka berdua sampai di butik ternama yang ditunjuk oleh Mama Chaiden.
"Masuklah dulu aku mau merokok dulu" ucap Chaiden ketika mereka keluar mobil.
Dengan mau tidak mau Lea berjalan menuju butik itu. Pria itu sering sekali merokok dihadapannya. Sebenarnya Lea tidak menyukai orang perokok karena itu baik untuk kesehatan.
Tapi Lea sangat takut untuk menegur pria itu. Apalagi dengan segala sikap dinginnya itu. Dibukanya pintu butik dengan perlahan.
Pekerjaan di dalam butik terlihat sibuk. Namun ketika Lea membuka pintu semua mata menatapnya dan pekerjaan otomatis berhenti semua.
"Nona Lea. Ayo silahkan masuk" sebuah suara membuat Lea menoleh dan menemukan seorang pria yang gemulai menghampirinya.
Dengan perasaan ragu Lea mengikuti langkah kaki pria itu dan mengabaikan semua tatapan para pegawai disini.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah ruangan yang begitu nyaman dan santai. Disana terdapat gaun-gaun pernikahan yang begitu indah.
"Dimana, Mrs Darlan ?" tanya seseorang membuat Lea menoleh dan menemukan seorang perempuan cantik.
"Oh, jadi kamu ya calon istri Chaiden" ucap perempuan itu dengan mendekatinya.
"OMG kau mungil sekali! Dulu Chaiden mengatakan jika dia ingin perempuan yang tinggi semampai" ucap perempuan itu dengan girangnya. Tiba-tiba perempuan itu memeluk Lea dengan erat. Suara kekehan membuat Lea makin bingung.
Aiden yang melihat hal itu hanya menggaruk kepalanya bingung ingin mengatakan apa ataupun berkomentar apa.
"Bahkan kau tidak terasa apapun" ucap perempuan itu dengan senyumannya.
Lea bingung perempuan itu sedang menghinanya atau sedang bersikap ramah dengannya. Sejak tadi ucapan perempuan itu seakan menohok hatinya. Lea meneguk ludahnya susah payah dan hanya tersenyum canggung
"Jangan membully calonku" sebuah suara membuat mereka berdua menoleh.
Chaiden tengah berdiri di pintu ruangan dengan wajah dinginnya. Perempuan itu mendekati Chaiden dan memeluknya.
Bahkan Chaiden juga membalas pelukan perempuan itu tak kalah erat. Lea hanya diam saja melihat mereka berdua.
Memang apa yang harus dilakukan Lea ? Marah ? Tentu saja tidak. Tapi entah kenapa semua terasa canggung.
"Buang wajah dinginmu itu! Atau calon istrimu ini akan lari" ucap perempuan itu yang membuat Chaiden memutar matanya.
"Perkenalkan ini Cindy, dia sepupuku sekaligus pemilik butik ini" ucap Chaiden dengan melirik Cindy.
Cindy mengulurkan tangannya kearah Lea yang segera dibalasnya. Perempuan itu memamerkan senyuman yang begitu manis.
"Aku Cindy, aku tak bermaksud apa-apa berkata seperti itu. Jangan diambil hati oke ?" ucap Cindy.
"Lea, tidak apa" ucap Lea.
"Baiklah, kita hapus jauh-jauh kecanggungan ini. Mari kita lihat baju kalian" ucap Cindy dengan melangkah menjauh.
*-*-*
"Kita akan kemana ?" tanya Lea ketika mobil yang disupiri Chaiden berjalan menuju tempat yang tidak di kenal Lea.
"Kau akan tau nanti" ucap Chaiden dengan senyum sinis.
"Jangan-jangan kau mau cari kesempatan dalam kesempitan ya ?" ucap Lea yang seketika membuat Chaiden menghentikan mobilnya.
Lea semakin panik ketika Chaiden memutar badannya menghadap dirinya. Sebuah senyuman muncul lagi di sudut bibir Chaiden.
"Memang kenapa jika aku mengambil kesempatan itu ?" ucap Chaiden.
"Tidak! Kita belum nikah" jerit Lea yang membuat Chaiden tersenyum.
"Diluar sana hanya berpacaran saja mereka melakukan apapun. Apa kita yang mempunyai status akan menikah tidak bisa melakukannya juga ?"
Chaiden mendekatkan tubuhnya dengan perlahan. Lea semakin panik dan ingin membuka pintu mobil. Tapi ternyata sudah terkunci.
"Tidak, menjauhlah" ucap Lea dengan perasaan panik.
Saat Lea ingin memukul Chaiden pria itu menggenggam tangannya dan memegangnya erat.
"Tenanglah, mungkin aku hanya mengambil sedikit" ucap Chaiden yang membuat Lea diam dengan rasa takutnya.
Wajah pria itu makin dekat dan semakin dekat. Lea memejamkan matanya takut. Hingga sebuah bibir menempel di bibirnya dengan lembut.
"Milikku" gumam Chaiden dengan menjauhkan tubuhnya.