"Lo kenapa?" Nana langsung memeluk tubuh Darrel erat, ia benar-benar takut sekarang.
"Gu...gue takut,"
"Lo kenapa?" Terlihat jelas guratan khawatir di wajah cowok itu saat melihat keadaan Nana sekarang.
Bukannya menjawab, Nana malah semakin mengencangkan suara tangisannya, membuat beberapa orang yang berada di sana menatap Darrel dengan tatapan curiga. Dan Darrel yang sadar akan hal itu meringis pelan sambil berusaha menenangkan Nana yang masih belum menghentikan tangisannya.
Perlahan Darrel berusaha melonggarkan pelukan Nana, tangannya terangkat untuk mengusap air mata gadis itu. Ia menatap Nana dengan tatapan cemas.
"Lo kenapa hm?"
"Lo diganggu orang?" tanya Darrel lembut, dan Nana mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
Raut wajah Darrel berubah dalam sekejap, rahangnya mengeras, dan dahinya mengerut, menampilkan sosok Darrel yang terlihat dengan aura yang berbeda.
"Siapa yang ganggu Lo?" Suara Darrel terdengar berat, membuktikan kalau dia benar- benar marah sekarang.
Nana masih terisak, "Itu!" tunjuk Nana ke belakang tubuhnya.
Darrel mengedarkan pandangannya, tidak ada apapun di sana. Sepertinya orang yang mengganggu Nana sudah pergi. Darrel menghela napas pelan, mengelus pelan surai pendek Nana, berusaha menenangkan gadis itu.
Blush, pipi Nana merona karena perbuatan Darrel. Jantungnya berdebar cepat,
"Darrel," cicit Nana lirih.
"Kenapa?" tanya Darrel sambil menatap wajah Nana yang sudah terlihat tidak sedih lagi, sedangkan tangannya pun masih terus bergerak mengelus rambut Nana.
"Ini kenapa?" tanya Nana sambil memegang tangan Darrel yang berada di kepalanya.
"Kenapa emang?" tanya Darrel bingung.
Nana menunduk lemah, "Ini kenapa tangannya di kepala gue?" tanya Nana gugup dengan tatapan puppy eyes- nya
Darrel mengerutkan keningnya bingung, "Buat nenangin Lo, salah ya?"
"Ihh! Kok Lo nggak peka sih? Lo ngelus kepala gue kayak gitu, kalau gue baper gimana?" ucap Nana sedikit kesal membuatnya tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan.
Darrel tersenyum mendengar penjelasan Nana. Ia tidak menyangka akan ada seorang gadis yang bisa se- baper ini hanya karena ia mengelus kepalanya.
Tapi itu sudah tidak menjadi hal yang tabu bagi Darrel. Yang Darrel tahu, Nana selalu menjaga dirinya, gadis itu tidak pernah mengizinkan seorang pria menyentuhnya, jalankan menyentuh, bersenggolan saja Nana sudah akan sangat sedih dan langsung meminta maaf pada Fian. Entah ini Nana yang terlalu naif, atau Fian yang terlalu bodoh sudah menyia- nyiakan gadis se cantik, se baik, dan se perfect Nana, Darrel tidak tahu.
Darrel dengan sengaja mengacak- acak puncak kepala Nana, membuat rona merah di pipi gadis itu semakin terlihat.
"Darrel!"
Darrel tertawa kecil, " Ke sana yuk!" Darrel mengajak Nana untuk duduk di sebuah kursi panjang yang ada di luar taman.
Darrel masih menatap Nana, setiap pergerakan gadis itu tidak lepas dari mata tajam Darrel.
"Kenapa sih?" tanya Nana mendadak kesal karena Darrel terus menatapnya dengan tatapan genit itu.
"Rambut Lo kayak habis kesetrum," ucap Darrel asal.
Nana segera mengambil ponselnya, dan ternyata ucapan Darrel benar. Rambutnya, terutama di bagian poni sudah sangat acak- acakan. Nana berdecak kesal, sangat sulit merapikan rambutnya, walaupun rambutnya lurus, tapi sulit jika hanya merapikannya dengan jari-jari tangannya saja.
Tanpa sengaja Nana melihat sebuah kucir rambut di pergelangan tangan Darrel.
"Kenapa?" tanya Darrel curiga saat Nana terus menatap tangannya.
"Lo ngapain pake kayak gituan buat gelang? Kurang kerjaan ya? Sini buat gue aja!" Entah itu Nana sedang meminta atau memaksa, Darrel tidak tahu. Tiba-tiba Nana menarik tangannya dan mengambil kucir rambut di tangannya secara paksa.
Nana tersenyum senang, lalu mengucir bagian poninya saja. Rambutnya terlalu pendek, jadi agak susah jika mengucirnya menjadi satu dengan poninya.
"Dahi Lo bagus juga,"
Padahal niat Darrel adalah memuji, tapi Nana malah berpikir kalau dirinya sedang mengejek gadis itu. Dasar cewek!
"Bilang aja kalau dahi gue kayak lapangan sepakbola," ujar Nana kesal.
Darrel tidak menanggapi ocehan Nana. Ia menarik kepala bagian belakang Nana, lalu mengecup pelan dahi putih itu.
Nana membelalakkan matanya tidak percaya, ia menyentuh dahinya yang baru saja dicium Darrel.
"Darrel! Kok Lo cium gue sih? Lo suka ya sama gue? Dulu Fian juga pernah cium gue sekali," ucap Nana tanpa sadar, lalu setelahnya ia langsung mengingat suatu fakta yang sangat menyakitkan,
"Oh iya, Fian kan nggak suka sama gue," ujar Nana lemah.
Darrel langsung tertawa keras mendengar ucapan Nana. Gadis itu benar- benar terlihat sangat lucu sekarang. Sebenarnya ia juga tidak tahu kenapa ia mencium Nana tadi, karena tadi ia hanya mengikuti instingnya saja.
"Diem Lo," ucap Nana kesal karena Darrel terus menertawakannya.
"Kenapa gue baperan banget sih?! Dicium buaya aja udah deg- degan. Emang cowok nggak ada yang manusia!" ucap Nana kesal.
"Lah, kan Lo yang baper. Kenapa sebangsa gue jadi Lo sangkut pautin," ucap Darrel tidak terima.
"Biarin aja! Gue kesel banget sama Lo! Tadi udah makein gue helm, megang tangan gue, meluk gue, terus barusan cium gue. Lo pikir gue nggak baper apa digituin?!" omel Nana tanpa sadar.
Darrel menyeringai, lalu mendekatkan kepalanya.
"Jadi Lo baper?" tanya Darrel menggoda Nana.
"Ngapain Lo deket-deket? Mau cium gue lagi? No way!" Nana segera menjauh dari Darrel, bahkan sampai ia duduk di kursi yang paling ujung, bahkan ia sampai menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Darrel kembali tertawa terpingkal-pingkal. Gadis itu benar-benar sangat polos, kelewat polos malahan. Setelah lelah, Darrel berhenti tertawa. Sungguh, ucapan Nana terlalu polos untuk ukuran gadis seusianya.
Darrel melirik kresek di sampingnya, lalu memberikannya kepada Nana yang sepertinya merajuk padanya.
"Nih makan!"
Mata Nana langsung berbinar melihat isi dari kresek hitam itu. Ia menerimanya dengan senang hati.
"Kok cuma satu?" tanya Nana sambil menatap Darrel yang juga menatapnya.
"Gue nggak suka es krim," jawab Darrel asal.
"Masa sih?" Nana membuka es krim coklat kesukaannya, lalu dengan iseng mendekatkan es krimnya ke bibir Darrel, membuat Darrel reflek menjauh,
"Apaan sih Na,"
"Ayolah makan dulu, satu gigitan aja dulu. Jangan bilang nggak suka kalau belum coba. Nih,"
Dengan terpaksa Darrel membuka mulutnya,
"Enak kan?" tanya Nana. Setelah Darrel memakan satu gigitan, ia pun ikut makan di bekas gigitan yang sama dengan Darrel.
Darrel tersenyum, entah sudah keberapa kalinya Darrel dibuat tersenyum karena gadis di depannya ini, sepertinya sudah sangat banyak. Ia kagum dengan Nana yang tetap memakan bagian bekas gigitannya.
"Lo pasti benar-benar nyesel!" batin Darrel.
"Oh iya! Nasi goreng Kael!"
Suasana romantis itu mendadak kacau karena pekikan Nana.
Darrel menggeleng- gelengkan kepalanya, "Gue lupa kalau dia masih bocah,"
.
.
.