Kedua orang itu menoleh dengan tatapan terkejut karena kehadiran Nana, "...selamat, baru jadian kan? Atau udah anniv ke berapa?" tanya Nana dengan lancar.
"Nana..." Kedua orang itu berdiri,
"K--kok Lo di sini? Darrel?" tanya si cewek dengan tatapan tak percaya.
"Emang ini restoran nenek moyang Lo?" tanya Darrel dingin.
Sedangkan si Pria menunduk dengan perasaan bersalah. Ia tidak menyangka semuanya akan terbongkar hari ini, "Maaf,"
Cuma itu? Nana merasakan sesak yang mendalam di ulu hatinya. Dan bisa-bisanya pria itu hanya mengucapkan kata 'maaf' dengan semua yang terjadi sekarang. Bodoh! Itulah yang bisa Nana deskripsikan mengenai dirinya sekarang.
"Ke..kenapa? Kenapa kalian..." Nana tak bisa melanjutkan kata-katanya, sekujur tubuhnya bergetar. Ia menggenggam erat bajunya dengan tangan tergenggam erat.
Nana tidak bisa menahan dirinya, ia menangis dan langsung berlari pergi sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri di sana.
Darrel hanya melirik kepergian Nana. Dalam hitungan detik Darrel langsung memukul pria di depannya itu, hanya dengan sekali pukulan saja ia dapat menghancurkan meja itu dengan dibantu oleh tubuh lawannya.
Beberapa orang di sana mencoba melerainya, tapi Darrel hanya menulikan telinganya, ia meraih kerah baju pria itu lalu menghempaskannya dengan sangat keras. Darrel berusaha mengatur napasnya, lalu ia menarik tangan pria itu agar berdiri di hadapannya.
"Gue emang b******k. Tapi ternyata kakak gue jauh b******k daripada gue!" ucap Darrel sambil menunjuk Fian, kakaknya.
Darrel menoleh, menatap seorang gadis yang tadi bersama dengan Fian.
"Dan Lo!" ucap Darrel sambil menunjuk gadis itu.
Darrel mengangkat kedua tangannya, "Gue nyerah! Ternyata Lo lebih terampil dari yang gue pikir. Gue nyerah!" ucap Darrel lalu berdecih, dan berlalu pergi dari sana.
.
.
.
Setelah lima belas menit akhirnya Darrel berhasil menemukan Nana. Dengan canggung Darrel berjalan mendekati Nana yang sedang duduk meringkuk di bawah pohon. Darrel tebak, pasti sekarang gadis itu sedang menangis.
Darrel ikut mendudukkan dirinya di samping Nana. Dan sepertinya Nana langsung tersadar dengan kehadiran seseorang di sampingnya, ia mengangkat kepalanya lalu menoleh ke samping. Dan saat itu Darrel juga sedang menatap Nana lembut, membuat tatapan keduanya bertemu selama beberapa detik hingga keduanya sama-sama mengalihkan pandangan mereka.
"Kenapa Lo di sini? Mau jadi tameng buat kakak Lo?" tuduh Nana sambil menghapus air matanya.
Darrel mengangkat tangannya, ia mengelus pelan rambut Nana, dengan harapan gadis itu bisa lebih tenang dengan perlakuannya ini.
"Gue udah lama tahu tentang mereka," ucap Darrel.
Nana menoleh, "Maksud Lo?"
Darrel menarik tangannya dari kepala Nana, lalu sedikit meregangkan lengannya ke depan.
"Fian cuman manfaatin Lo. Dia pacaran sama Lo karena dia suka sama Klara," ucap Darrel.
Nana terkejut dengan penjelasan Darrel, ia kembali menumpahkan air matanya, ia tidak bisa berpura-pura tegar, hatinya terlalu hancur mendengarkan semua fakta itu.
Bagaimana tidak hancur? Ia dan Fian sudah berpacaran selama tiga tahun, hari ini adalah anniversary dari hubungan mereka. Dan di hari yang ia pikir akan indah ini, ia malah mengetahui sosok yang sangat ia cintai ternyata hanya memanfaatkan dirinya untuk mendekati sahabatnya. Ya, Klara adalah sahabatnya, tepatnya ia sudah bersahabat dengan Klara sejak ia masih SD dulu.
"Ka..kalau Lo tahu...kenapa Lo nggak ngasih tahu gue hiks," tanya Nana.
"Itu alasan gue bilang berkali-kali sama Lo. Jangan terlalu bucin sama cowok!"
"Ya mana gue tahu kalau Fian bakal kayak gini?" Nana menutupi wajahnya yang pasti terlihat jelek saat menangis, di saat-saat seperti inipun ia masih memikirkan image-nya dihadapan orang lain.
Darrel ingin kembali mengelus rambut Nana, tapi terurung saat Nana tiba-tiba berdiri sambil mengusap air matanya. Nana menunduk, menatap Darrel tajam, dan pria itu juga menatapnya.
"Lo tadi bilang suka sama gue kan?!" Darrel mengernyit bingung, masih belum paham dengan pertanyaan Nana.
"Hari ini kita pacaran!"
....
Aqilla Nadine Chalondra, atau gadis yang biasa dipanggil Nana itu berusaha tegar dengan membuka lembaran baru dalam kehidupannya. Batinnya seakan tertekan habis-habisan oleh masalah yang terus menerus menghampirinya.
Koridor sudah sepi, karena tadi Nana tiba di sekolahan tepat satu menit sebelum bel berbunyi, entah apa yang akan terjadi jika ia melewatkan satu menit saja, pasti ia akan bergabung dengan murid-murid telat lainnya untuk menjalani hukuman. Ini merupakan rekor terbaru Nana berangkat se-siang ini, karena biasanya Nana lebih sering berangkat awal. Tahulah alasannya, untuk mencontek pr dari teman-teman sekelasnya, hehe.
Nana tiba di depan kelasnya, anak-anak cowok yang sedang berbincang di ambang pintu terkejut dengan kedatangannya, bukan karena keterlambatan Nana, tapi karena penampilan baru Nana saat ini. Nana yang dulu sangat menyayangi rambut panjangnya, karena dengan bangga dia akan mengatakan jika Fian menyukai rambut panjangnya, sekarang rambut itu sudah dipotong sampai di atas bahu. Nana berusaha mengembangkan senyumannya lalu masuk ke dalam kelas.
Hampir seluruh penghuni kelas menatap penampilan Nana yang terlihat baru di mata mereka. Begitupula dengan kedua sahabat dan satu mantan sahabat Nana.
"Nana, ini beneran Lo?" tanya Lisya cukup terkejut setelah melihat Nana.
Nana melirik gadis yang duduk di samping Lisya sekilas, lalu ia mengintruksi Kana yang duduk sebangku dengannya untuk memberikannya jalan masuk.
Lisya dan Kana cukup terkejut dengan sikap Nana. Tidak seperti biasanya gadis itu mendiami mereka seperti ini, bahkan gadis itu memasang wajah datar dan dingin. Cukup aneh memang, kala mengingat karakter Nana yang biasanya ceria.
Lisya menggeser kursinya mendekati kursi Kana.
"Kenapa tuh?" bisik Lisya sambil menunjuk Nana yang sekarang sedang memasangkan earphone ke telinganya.
Kana menoleh sekilas, lalu mengendikkan bahunya tidak tahu. Ia mendorong kursi Lisya menjauh dengan kakinya. Lalu Kana mengambil ponselnya,
Lisya mencibir pelan, sudah bukan hal mengejutkan lagi Kana bersikap dingin seperti ini. Seperti julukannya, 'Ice Princess Beauty Gamers'. Entah siapa yang sudah memberikannya julukan itu, tapi sejak ia menginjakkan kakinya di SMA ini, hampir semua orang memanggilnya dengan nama itu. Dan dengan julukan itu juga, sudah diketahui kalau Kana adalah seorang gadis dingin yang sangat gila dengan yang namanya game.
Bukan cuma Kana saja yang terkenal di sekolahannya, tapi juga sahabatnya yang satunya, Nana. Nana cukup terkenal karena sikap apa adanya, karakter ceria, dan ramah tamahnya. Nana juga sering bertingkah imut dengan segala kelucuannya, bahkan tanpa berekspresi sekalipun gadis itu masih bisa terkesan imut. Bisa dibilang karakter Nana dan Kana itu bertolak belakang.
Sedangkan ia dan Klara? Mereka hanya terbilang beruntung karena bisa berteman dengan kedua gadis itu. Lisya dan Clara hanyalah siswi biasa seperti yang lainnya.
Tak lama setelah itu, seluruh kegiatan di kelas itu berhenti dengan masuknya seorang guru mata pelajaran Matematika.
.
.
.