Kristin hampir membatalkan janji ketika melihat pintu kantor tempat konsultasinya. Ia berhenti di seberang jalan dan memandang pantulan dirinya pada kaca sebuah toko.
Rambutnya rapi. Wajahnya tidak memperlihatkan malam yang dihabiskan dengan tidur terputus-putus. Orang yang lewat mungkin mengira ia sedang menunggu teman.
Hanya tangannya yang tidak bisa diam.
Ia meraba tali tas, memastikan map masih ada, kemudian menyeberang sebelum pikirannya kembali mencari alasan untuk pergi. Di meja penerima tamu, ia menyebut nama Kristin dengan suara yang sudah begitu terbiasa digunakannya.
Seorang pengacara perempuan menemuinya beberapa menit kemudian. Tidak ada sambutan berlebihan. Wanita itu memperkenalkan diri, menjelaskan pertemuan mereka, lalu memberi Kristin kesempatan memulai.
Kristin mengeluarkan salinan pesan Caramella.
"Aku melakukan sesuatu yang bodoh."
Pengacara itu membaca tanpa segera menyetujui cara Kristin menyebutnya.
"Ceritakan apa yang Anda lakukan."
Kristin menceritakan permintaan uang. Pada awalnya ia menggunakan kalimat yang sama seperti ketika berbicara dengan Caramella: terdesak, bingung, suami bermasalah. Tetapi setiap kali ia melewati bagian yang sebenarnya dilakukan, pertanyaan berikutnya membawanya kembali.
"Apakah cerita tentang penjaminan itu benar?"
"Tidak."
"Apakah orang yang ikut menguatkan cerita itu mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar?"
Kristin menatap mapnya.
"Iya."
Untuk pertama kali, ia mengatakan bahwa dirinya sengaja meminta bantuan orang lain untuk membuat Caramella percaya. Bukan salah paham, bukan angka yang keliru dicatat.
Ia memberikan cara menghubungi orang itu melalui percakapan lama yang masih tersimpan. Jemarinya gemetar ketika menyerahkan ponsel, seolah benda tersebut jauh lebih berat daripada sebelumnya.
***
Membicarakan uang ternyata tidak menjadi bagian yang paling sulit.
Ketika pertanyaan beralih pada tekanan yang sedang dihadapinya, Kristin menyebut Robie. Ia memperlihatkan beberapa pesan dan menceritakan bagaimana pria itu terus mengaitkan keinginannya menikah dengan sesuatu yang diketahuinya.
"Apa yang dia katakan dia ketahui?"
Kristin mengambil gelas. Airnya bergerak hingga menyentuh bibir gelas, tetapi ia tidak meminumnya.
"Dia mengancam akan berbicara kepada seorang detektif."
"Detektif mengenai apa?"
Di luar ruangan terdengar langkah sepatu melewati pintu. Kristin memandang ke arah suara itu, berharap ada gangguan yang dapat menghentikan pertanyaan.
Tidak ada yang masuk.
"Kasus lama."
Pengacara tersebut menunggu. Kristin merasa kesal pada kesabaran itu. Ia lebih siap menghadapi tuduhan daripada ruangan yang memberinya waktu untuk mendengar kebohongannya sendiri.
"Ada dua orang meninggal," katanya.
Wanita di depannya meletakkan catatan ke samping dan meminta Kristin menjelaskan lebih jauh. Mereka membicarakan kebutuhan pendampingan untuk persoalan yang berbeda dari uang Caramella. Tidak ada janji bahwa mengaku tertekan oleh Robie akan menghapus perbuatannya sendiri.
Kristin mendengarkan, tetapi pikirannya sudah kembali pada sebuah nama yang bertahun-tahun berusaha dijauhinya.
"Aku pernah menggunakan nama Joana."
Kalimat itu keluar begitu pelan hingga ia hampir berharap tidak terdengar.
Pengacara tersebut tidak berpura-pura terkejut untuk membuatnya bicara lebih banyak. Ia hanya menanyakan apakah nama itu berkaitan dengan perkara yang baru disebut.
Kristin mengangguk.
Sesudah itu, ia menangis.
***
Tangisnya tidak menyerupai tangis ketika meminta uang kepada Caramella. Kali ini tidak ada orang yang diharapkan mengeluarkan cek atau mengatakan akan membereskan semuanya.
Ia menangis karena setelah nama itu diucapkan, ia tidak dapat lagi berpura-pura kedatangannya hanya mengenai masalah keluarga biasa.
Pengacara menunggu sampai ia dapat berbicara kembali.
"Aku tidak ingin menikah dengannya," kata Kristin.
"Anda tadi mengatakan itu dengan jelas."
"Tapi dia membuatku merasa hanya itu jalan keluarnya."
Mereka membahas pesan yang telah ditunjukkan. Kristin diminta menyimpan komunikasi yang ada dan menjelaskan kejadian tanpa menghapus bagian yang terasa memalukan. Bantuan untuk menghadapi ancaman tidak digantungkan pada kesediaannya menjadi pasangan Robie.
Kristin mendengar itu dengan perasaan aneh. Selama ini ia terbiasa menganggap setiap bantuan selalu mempunyai harga yang disembunyikan.
Lalu ia teringat Caramella. Putri Derick itu pernah memberikan uang karena mengira sedang menolong seseorang yang akan menjadi korban tindakan ayahnya.
Kristin memandang tasnya.
"Aku sudah menghabiskan sebagian uangnya."
"Berapa yang masih ada?"
Ia tidak tahu angka tepatnya. Jawaban tersebut membuatnya malu dengan cara yang berbeda. Ia dapat mengingat harga gaun yang diinginkan, tetapi tidak berani menjumlahkan uang orang lain yang telah digunakannya.
Mereka mencatat bahan tambahan yang perlu dibawa. Kristin tidak diperbolehkan mengubah persoalan itu menjadi janji pengembalian yang tidak sanggup dipenuhi. Ia perlu melihat keadaan keuangannya sendiri terlebih dahulu.
Untuk urusan Joana, pembicaraan belum selesai. Namun ia setuju membicarakan langkah pendampingan berikutnya, bukan sekadar menunggu Robie menentukan kapan hidupnya akan runtuh.
***
Ia keluar ketika langit mulai mendung. Di dekat halte, ponselnya berbunyi.
Robie.
Kristin menatap layar sampai panggilan itu berakhir. Sesudahnya datang pesan yang menanyakan ke mana ia pergi. Kata-katanya tampak biasa jika dibaca tanpa mengetahui percakapan mereka sebelumnya.
Ia tidak menjawab dengan cerita palsu tentang perawatan wajah.
Ia menulis bahwa ia tidak bersedia bertemu dan tidak akan membicarakan pernikahan. Setelah mengirimnya, ia segera memotret layar percakapan dan menyimpan pesan sebagaimana dibicarakan dalam konsultasi.
Tanggapan Robie datang cepat.
Ia mengatakan Kristin akan menyesal karena tidak mendengarkannya.
Dulu kalimat itu cukup untuk membuatnya menelepon kembali. Sekarang Kristin berdiri dengan napas pendek, tetapi tidak menekan tombol panggil.
Ia meneruskan kabar ancaman tersebut kepada pengacaranya melalui saluran yang telah disepakati, lalu menaiki taksi. Sepanjang perjalanan ia melihat ke belakang dua kali. Tidak ada yang dapat dipastikannya dari deretan kendaraan di jalan.
***
Di apartemen, Kristin membuka laci tempat menyimpan perhiasan. Gelang pemberian Robie masih ada di sana. Ia tidak memakainya.
Benda itu dahulu sempat terasa seperti bukti bahwa seseorang menginginkannya. Kini ia hanya melihat sesuatu yang akan mengingatkannya pada harga yang diminta pria tersebut.
Ia menutup laci tanpa membuang gelang itu.
Di meja, ia mulai menyusun daftar pengeluaran. Angkanya semakin panjang dan semakin sulit dibantah. Beberapa kuitansi masih tersimpan; beberapa lainnya sudah hilang. Pada bagian yang tidak diketahui, ia meninggalkan ruang kosong.
Kemudian ia menarik selembar kertas lain.
Joana.
Ia menulis nama itu, memandangnya, lalu menulis Kristin di sebelahnya. Kedua nama tersebut tidak mengubah perempuan yang sedang duduk sendirian di depan meja.
Selama ini ia mengandalkan wajah yang berbeda dan orang-orang yang tidak saling mengenal. Namun Derick mempunyai seorang putri, putrinya mengenal keluarga Ramsey, dan Robie telah bertemu seseorang yang membawa foto lama.
Kristin menutup mata. Ia belum tahu seberapa jauh semuanya sudah terhubung.
Yang ia tahu, untuk pertama kalinya ada seseorang yang mendengar nama lamanya tanpa diminta menikahinya, membayarnya, atau berbohong untuknya.
Ia mengambil ponsel dan mengonfirmasi pertemuan pendampingan berikutnya.
Sesudah pesan terkirim, ia tetap merasa takut. Tidak ada kebebasan mendadak yang datang bersama kejujuran pertama itu. Di meja masih ada angka yang harus dijelaskan, dan di kepalanya masih ada dua nama yang tidak pernah benar-benar menghilang: Karina dan George.
Malam itu, Kristin membiarkan kertas berisi nama Joana tetap terbuka.