Masa kini, Tahun 1886.
Setelah acara pembinaan selesai dan juga cerita para narapidana yang juga sudah selesai Pustin dengarkan, dia memutuskan untuk keluar dari gereja dengan tatapan yang sulit diartikan.
Suasana sepi, entahlah seperti mencekam meskipun sama seperti biasanya namun kali ini terasa begitu berbeda. Dia berjalan asal, ya dia ingin sekadar berjalan-jalan santai sambil melihat keadaan.
Ketika sampai di sisi lapangan, Pustin menghentikan langkahnya. Dia menatap seseorang yang lumayan jauh dari tempatnya berdiri termenung. Pustin semakin merasa ada sesuatu yang harus dia lakukan, namun dia tidak bisa terburu-buru, semua butuh waktu dan rencana yang matang.
Ada hal yang direncanakan Pustin, tetapi masih belum jelas arahnya. Namun, yang jelas dia harus bergerak atau semuanya ak