Karena sebuah kesalah fahaman, Renaldo Fendo Edwich terpaksa harus menikahi seorang gadis yang belum terlalu dia kenal. Karena sebuah penggerebekkan, dia berniat menolong malah di tuduh dia berbuat asusila. Edo di gebukkin warga, terus di suruh nikah dengan gadis itu.
Ya karena harus segera menikah dengan gadis itu, hari itu juga Edo menikahi gadis itu walau tanpa restu orang tuanya.
Edo membawa istri terpaksanya pulang ke rumah, Daddy dan Mommynya kaget Edo menikah tanpa bicara apapun dengan mereka. Tapi mereka juga bahagia, karena Edo anak mereka akhirnya setelah sekian lama melepaskan masa lajang.
Edo memang tidak mau menikah, padahal orang tuanya sudah memaksanya menikah. Tapi Edo selalu menolak, dia benci wanita. Semua wanita sama hanya mengicar uang dan kekuasaan yang dia miliki, tak ada yang mencintainya setulus hati. Hanya Mommy dan Almeera, wanita yang terbaik tidak memandang harta.
Bagi Edo, cinta itu cuma kata yang enak di dengar dan mahal harganya. Dia sudah pernah membelinya sekali, dan yang dia dapat cuma malu.
Sementara itu Eline, Mommy Edo, tidak pernah menyerah. Setiap kali bertemu, yang di bicarakan cuma satu, kapan Edo menikah. Sampai akhirnya Eline meminta bantuan Almeera, sepupu Edo, untuk mencarikan Edo seorang calon. Almeera setuju, dan dari situlah semua benang mulai kusut.
Ada Diska Anindya Permata, wanita berhijab yang lembut, sabar, dan diam-diam sudah lama menyimpan rasa. Diska yang mencintai Edo bukan karena harta, tapi tak pernah berani mengatakannya sendiri.
Ada juga Arlita Melina Safara, gadis yang tidak pernah Edo rencanakan, tidak pernah Edo pilih, dan justru menjadi istrinya lebih dulu. Gadis yang selalu merasa kalah sebelum bertanding, yang tetap bertahan walau setiap hari di rumah itu dia di anggap tamu yang tidak di undang.
Dua wanita, satu pria yang keras kepala, dan satu kesalahpahaman yang tidak bisa di putar kembali.
Tapi semua itu belum terjadi.
Semua itu bermula dari sebuah malam yang biasa saja, dari seorang pria kepala tiga yang pulang kerja terlalu larut dan terlalu lelah untuk memikirkan apa pun.
***
Lampu ruang kerja Edo baru mati jam sembilan lewat. Berkas terakhir sudah dia tanda tangani, laptop sudah dia tutup, dan bahunya terasa seperti di ganjal batu. Dia melonggarkan dasinya sambil berjalan ke lift, membalas anggukan satpam di lobi, lalu masuk ke mobilnya tanpa menyalakan musik. Jalanan sudah sepi. Bagus. Setidaknya ada satu hal yang tidak menyusahkan hari ini.
Sampai di rumah, Edo langsung melempar jas dan dasinya ke sofa. Dia bahkan malas menyalakan lampu ruang tengah. Baru saja dia duduk di tepi ranjang, ponselnya bergetar di saku celana. Di layar tertulis satu kata yang membuatnya menghela napas panjang.
Mommy.
"Assalamualaikum, Mom."
"Waalaikumsalam. Kamu di mana? Mommy telfon dari tadi sore nggak di angkat."
"Maaf Mom, Edo baru selesai kerja. Ada apa?"
"Ada apa gimana? Mommy ini nanya kabar anak Mommy, salah?" Suara Eline terdengar sedikit sebal, tapi Edo hafal betul, sebentar lagi arah pembicaraannya akan berbelok. Dan benar saja. "Do, kamu itu umurnya sudah berapa? Temen-temen kamu anaknya sudah masuk sekolah semua. Kamu masih sendirian aja di rumah segede itu."
Edo memijat pangkal hidungnya. "Mom, Edo capek. Besok aja ngomongnya, ya?"
"Besok, besok terus. Setiap Mommy tanya jawabannya besok."
"Ya soalnya Mommy nanyanya tiap hari."
"Renaldo!"
Edo langsung diam. Kalau Eline sudah memanggil nama lengkapnya, itu tandanya lampu sudah kuning, sebentar lagi merah.
"Mommy nggak minta yang aneh-aneh," ujar Eline, kali ini suaranya melunak. "Mommy cuma nggak mau kamu sendirian terus. Nggak semua wanita itu seperti Karin, Do."
Nama itu. Selalu nama itu yang berhasil membuat Edo kehilangan kata-kata. Dia menatap lantai kamarnya cukup lama sebelum menjawab.
"Iya Mom, Edo tau."
"Tau tapi nggak berubah."
"Edo usahain, Mom."
"Janji?"
"Iya, Edo janji." Padahal Edo sendiri tidak tau janji itu untuk apa. Yang penting Mommynya berhenti dulu malam ini.
Setelah beberapa pesan wasiat lain yang isinya jangan lupa makan, jangan tidur terlalu malam, dan jangan lupa sholat, telfon itu akhirnya di tutup. Edo membuang badannya ke kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap.
Perutnya berbunyi. Dengan malas Edo bangun dan turun ke dapur. Dia membuka kulkas, dan seperti biasa isinya cuma air mineral, dua butir telur, dan sisa buah yang entah sudah berapa hari di sana. Edo mengambil air, meneguknya sampai habis, lalu berdiri bersandar di meja dapur sambil memandang ruang makan.
Meja makan itu panjang, kursinya ada enam. Dia sendiri cuma memakai satu, itu pun jarang. Rumah sebesar ini, dan yang menyalakan lampunya cuma satu orang.
Nggak semua wanita itu seperti Karin, Do.
Edo menaruh gelasnya agak keras. Gampang sekali Mommy bicara begitu. Yang dulu di tinggal bukan Mommy, yang dulu di tertawakan teman-temannya juga bukan Mommy. Orang yang belum pernah jatuh memang selalu punya banyak saran soal cara berdiri.
Edo mematikan lampu dapur dan kembali ke kamarnya. Sudah, tidur saja. Besok masih panjang.
Belum sempat matanya terpejam, ponselnya bergetar lagi. Kali ini nama yang muncul lebih berbahaya daripada yang tadi.
Almeera.
"Apa Al? Ini udah malem."
"Malem-malem gini loe pasti belum tidur, jadi jangan sok ngantuk," balas Almeera dari seberang. Di belakangnya terdengar suara anaknya yang belum mau tidur. "Besok loe ke rumah gue, ya."
"Ngapain?"
"Dateng aja. Ada yang mau gue omongin."
"Al, gue kerja."
"Besok libur, Do. Loe pikir gue nggak tau jadwal loe?"
Edo mendengus. Percuma berdebat dengan Almeera, dari kecil dia tidak pernah menang sekali pun.
"Iya, gue dateng."
"Awas kalau nggak. Gue samperin loe ke rumah, gue seret."
"Iya, nyonya."
Telfon di tutup. Edo meletakkan ponselnya di nakas, menarik selimut asal-asalan, dan memejamkan mata. Badannya sudah kalah duluan sebelum pikirannya sempat bertanya, sebenarnya apa yang mau di omongkan Almeera besok.
Malam itu Edo tertidur dengan cepat. Tapi seperti malam-malam sebelumnya, tidurnya tidak pernah benar-benar miliknya sendiri. Ada suara perempuan yang selalu datang, tertawa, lalu mengucapkan kalimat yang sama, yang sudah dua kali lipat lebih menyakitkan karena Edo hafal setiap katanya.