"HEI! KESINI KAU!" teriak seorang guru berkumis tebal dengan kopiah hitam di kepala serta penghapus papan tulis yang ia acungkan.
"Gamau! Bapak galak kek badak cap kaki kuda!"
Dengan dasi abu-abu yang terikat di kepala, gadis itu terus berlari menghindari sang guru hingga menabrak semua objek yang menghalangi jalannya.
"JANGAN KE SINI! LANTAINYA BARU GUE PEL!"
"Yah, terlanjur! Lo ngomongnya kelamaan."
"STARLA!!!"
Yap! Namanya Starla Keina Fazwa. Gadis bermata sipit dengan pipi bulat yang sering dibilang mirip bakpao itu adalah satu-satunya siswi di SMA Galakti Nusantara yang bikin para guru pusing akan tingkahnya.
Starla punya julukan tersendiri yang sudah dikenal hampir semua warga sekolah. Yaitu, The Queen Of Remedi alias Ratu Remedi yang selalu dapat nilai merah saat ulangan maupun praktek. Walaupun dengan adanya julukan itu Starla jadi dicap sebagai murid paling malas di sekolah, tapi sisi baiknya adalah namanya jadi populer mulai dari adik hingga kakak kelas.
Starla berhenti berlari saat dirasa sudah tak ada lagi yang mengejar. Ia menunduk, memandang jam di tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit.
"Ngantin aja la-ADUH!" Starla memekik seraya mengusap telinga kanannya yang terasa panas.
"Starla! Ke ruang BK sekarang!"
Memanyunkan bibirnya sebal. Seingatnya, yang tadi mengejarnya itu Pak Juntak. Tapi kenapa sekarang malah Bu Banu yang menghukumnya? Starla punya firasat, guru dengan sanggul membahana itu pasti memiliki dendam tersembunyi padanya. Yakin, deh.
"Berhenti ngedumel! Gak ada capeknya buat ulah kamu ini, Starla!" Bu Banu mendaratkan rotan di
tangannya ke lengan Starla hingga membuat gadis itu mengaduh keras.
"Besok suruh orang tuamu datang ke sekolah lagi dan temui saya serta kepala sekolah," lanjutnya.
"Iya, Bu."
"Biologi merah, sejarah merah, Indonesia merah, fisika juga merah! Sebenernya kamu ini di rumah kerjaannya apa?! Nilai penuh sama merah semua!" geram Bu Ami menatap Starla galak.
Menghela napas panjang. Hari ini Starla benar-benar kurang beruntung. Tadi, tepat saat keluar dari ruang BK, Starla langsung ditarik oleh wali kelasnya dan dimarahi habis-habisan setelah banyak guru melaporkan nilai pelajarannya yang anjlok.
"Kalau begini terus, bisa-bisa gak naik kelas kamu. Mau?!"
"Kapasitas otak saya cukupnya segitu, Bu."
"Ngejawab terus!"
"Kan, ibu nanya."
"Starla!"
"Hadir!" seru Starla mengangkat tangannya.
Memijit keningnya frustasi, Bu Ami mendudukkan dirinya di kursi dan menarik tas jinjing yang ada di atas meja. Ia mengambil ponsel, melirik Starla sebentar, lalu menempelkan benda pipih persegi panjang itu ke telinganya.
"Halo, selamat pagi, bu. Maaf mengganggu waktunya."
"..."
"Betul, ini masih perihal nilai-nilai Starla selama di sekolah, bu. Karena sebentar lagi sudah pergantian semester dan Starla belum ada kemajuan, jadi pihak sekolah semakin tegas dalam menyikapi nilai-nilai Starla yang sangat kurang."
"..."
"Ditunggu kehadirannya besok di ruang kepala sekolah ya, Bu. Terimakasih atas waktunya."
Bu Ami menutup panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil menatap Starla sangar.
"Sudah, kamu boleh kembali ke kelas. Jangan bolos-bolos lagi!" peringat Bu Ami.
"Setelah ini pelajaran siapa?"
Starla menggelengkan kepalanya. Boro-boro ingat sekarang jam pelajaran siapa, buku yang dibawa aja masih belum diganti sejak dua hari yang lalu. Karena biasanya Starla minjem catatan temannya kalau lupa bawa buku. Lagi pula, catatan punyanya juga gak lengkap. Paling banyak cuma lima lembar yang ada catatannya dan sisanya kosong, ditambah bagian belakang buku yang penuh dengan coretan.
"STA-"
"Saya pamit Bu permisi!"
Dengan kecepatan tinggi, Starla segera berlari keluar ruangan sebelum Bu Ami kembali mengomel.
"Huft! Susah ya jadi siswi paling teladan di sekolah."
Suara decitan kursi di tengah-tengah keheningan kelas itu membuat hampir seluruh pasang mata memperhatikan cowok yang tengah berjalan ke meja guru dengan lembar soal di tangannya.
Meskipun situasi seperti ini sudah sering terjadi, tapi tetap saja rasanya masih takjub saat seseorang menyelesaikan empat puluh soal hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Memang bisa kalau ngasal. Tapi ini Angkasa, gak ada kata ngasal dalam kamusnya.
"Sa, tadi nomer lima jawabannya apa?" tanya Alden setengah berbisik saat guru di depan sana tak memperhatikan mereka.
"Jangan dikasih tau, Sa. Makin ngelunjak nanti."
Alden menatap Calvin yang tengah memutar pulpennya penuh permusuhan.
"Sirik bilang!" Menggulirkan tatapannya ke arah Angkasa.
"Jawabannya apa woy, Sa?"
Angkasa menoleh sekilas. Setelah memberikam decakan ketusnya, ia mengatakan jawaban dari soal yang ditanya Alden. Dan seperti biasa, bukan hanya Alden yang menyalin jawabannya, tapi hampir seluruh penghuni kelas yang sejak tadi memasang telinga.
Alden tiba-tiba berdiri dari duduknya, "Tarik sis, semongko! Ah, mantap! Jujur sa-"
"YANG BELAKANG ITU KENAPA?!"
"Kesurupan, Pak."
Satu kelas tergelak mendengar celetukan Azka sementara Alden melotot tak terima. Lain halnya dengan Angkasa yang tengah memainkan ponsel tak mempedulikan keadaan sekitarnya yang sudah heboh.
Tok! tok! tok!
"Permisi, Pak."
Kemunculan seorang siswi yang berdiri di depan pintu kelas dengan tumpukan buku di tangannya itu membuat suasana mendadak hening.
"Masuk."
Gadis itu melangkahkan kakinya masuk sambil berusaha untuk tak mempedulikan tatapan-tatapan yang mengarah padanya. Menggerutu dalam hati, inilah sebabnya ia gak pernah mau kalau disuruh ke kelas orang. Tapi karena tadi atas paksaan pak Juntak yang tak bisa diganggu gugat, jadilah ia terpaksa masuk ke sini.
"Starla! Kembaran lo ngupil mulu, nih!" lapor Alden seraya menunjuk cowok di sebelah Angkasa yang masih asik mengorek hidung dengan jari kelingkingnya. Sang empu tetap asik pada kegiatannya, begitupun dengan penghuni kelas yang sudah terbiasa akan kebiasaan cogan yang satu itu. Selagi tak menimbulkan perfitnahan di kelas seperti kentut, mereka masih bisa
memaklumi.
"Gue gak kenal dah beneran," sahut Starla seraya meletakkan tumpukan buku ke atas meja.
"Awas lo!" ancam Azka yang disambut cengiran lebar oleh Starla.
"Ini sudah semua atau masih ada anak yang belum mengerjakan?"
"Udah semua, Pak," jawab Starla.
"Baik kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas."
Starla mengangguk. Ia berbalik dan hendak keluar kelas. Namun baru dua kali melangkahkan kaki, ia mendadak berhenti dan berbalik menghadap sang guru dengan wajah bingung.
"Anu, Pak. Saya disuruh bawa Angkasa ke ruang guru."
"Ya, silahkan. Pelajaran saya juga sudah selesai. Yang belum mengumpulkan ulangan, saya tunggu sampai istirahat." Setelah berkata demikian, guru itu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kelas
yang mulai kembali berisik seperti pasar.
"Angkasa ay-"
Brukk!
"HAHAHAHA!"
Insiden terpaduknya Starla karena tali sepatu itu sukses mengundang gelak tawa seluruh orang di kelas, bahkan Angkasa yang biasanya masa bodo sampai mengangkat kepalanya untuk melihat objek di depan sana.
"Kembaran b****k emang," celetuk Calvin. Tingkah konyol Starla benar-benar gak jauh beda dari Azka.
Starla merapalkan doa, lalu segera bangkit dan berjalan ke meja tempat dimana Angkasa berada dengan santai, seakan beberapa detik yang lalu tak pernah terjadi apa-apa. Luarnya memang tampak biasa aja, padahal dalam hatinya sudah menjerit kencang, kakinya juga gemetar karena terlalu malu.
"Sukurin! Kualat kan lo sama gue!" ledek Azka saat Starla sudah berdiri di
---samping mejanya.
"Maaf anda siapa?"
Azka mendelik. Cowok bermata sipit itu menggerutu tanpa suara. Sedangkan Starla tampak tak peduli dan memilih menarik lengan seragam Angkasa.
"Ayo!"
Angkasa menyingkirkan tangan Starla dengan sekali sentakan. Dia berdiri, dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan kelas tanpa berkata apapun. Starla melongo di tempat. Lebih lagi saat banyak pasang mata di sana menatapnya iba. Ia buru-buru berlari mengejar Angkasa sambil menahan malu. Sudah dibilang, Angkasa itu cowok paling kejam yang pernah ia kenal.
"Angkasa, tungguin!"
---