Jam tangan dengan merk terkenal itu kini melingkar di tangan sang empunya untuk melengkapi penampilan dari seorang lelaki bertubuh tinggi, dengan tubuh proporsional yang ia miliki. Kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna abu dan jangan lupakan dasi abu yang semakin membuat penampilannya semakin memukau dan terlihat sangat berwibawa. Parfum beraroma maskulin ia semprotkan di beberapa titik tubuhnya. Kini ia siap untuk memulai harinya di usianya yang kini menginjak 25 tahun.
Pukul 07:15, masih ada waktu untuknya sarapan dengan keluarganya. Ia menuruni tangga untuk sampai di ruang makan. Disana sudah ada orang tua beserta adik perempuannya. Senyuman hangat diberikan kepadanya oleh ibunya. Seorang asisten rumah tangga langsung menyiapkan piring beserta dua buah roti dengan selai coklat di atasnya serta segelas s**u coklat panas.
"Sean Laksamana Ocean, ganteng banget anak Laksamana Viero," ucap Ratih-Ibunda Sean.
"You're so gorgeus Ms. Laksamana," balas Sean. "Dimana Papa?" lanjutnya.
"London," jawab seorang gadis berpenampilan tomboy di sampingnya.
"Racyla Ghysty Laksamana, Abang gak nanya kamu." Sean mengacak rambut sang adik hingga membuat sang empunya merasa kesal.
Dering ponsel Sean mengalihkan perhatian Ratih dan Cyla, raut wajah Sean membuat mereka berasumsi bahwa telah terjadi suatu hal di kantor lelaki itu.
"Sean berangkat ke kantor sekarang, ada masalah di bagian keuangan."
Sean meraih tangan Ibunya untuk ia salim serta merengkuh tubuh Ratih untuk ia peluk. Cyla, jangan lupakan gadis cantik itu, ia juga harus mendapatkan pelukan dan ciuman di kepalanya.
***
"Kenapa bisa sampai sebesar ini pengeluaran untuk proyek itu?! Dalam rapat kemarin sudah ditentukan bahwa pengeluaran untuk proyek itu hanya sebesar 1 triliyun, kenapa bertambah menjadi hampir 3 triliyun?!"
Ruangan yang berisi dua puluh lima orang itu terasa mencekam saat pimpinan mereka murka atas kesalahan pada proyek yang sedang dijalankan. Sean memang orang yang tegas dan sering memarahi karyawannya, namun untuk marah besar seperti ini sangat lah jarang.
"Panggilkan orang yang bertanggung jawab dengan keuangan proyek ini, sekarang!"
"Maaf Pak, orang yang Bapak maksud menyerahkan surat resign kepada saya dua hari yang lalu," ucap salah satu pimpinan divisi di ruangan tersebut.
Darah Sean langsung mendidih mendengan informasi itu, tangannya menonjok meja dengan tidak merasakan sakit sama sekali, bahkan di beberapa titik mengeluarkan darah. Sean sangat tidak suka ada yang bermain belakang di wilayahnya, dan kantor ini merupakan wilayah kekuasaannya.
"Cari dia, bawa dia kesini. Saya tunggu sore ini di ruangan ini."
Setelah mengatakan itu, Sean langsung bergegas keluar dari ruangan itu. Ia berjalan cepat dengan melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya serta jas yang langsung ia buka. Sean membutuhkan pelampiasan untuk mengeluarkan semua emosinya, karena jika tidak, pasti emosi itu akan melukai orang-orang disekitarnya melalui sikap ataupun perkataannya.
"Maaf, Bapak mau kemana?" tanya asistennya.
"Tidak ada hal penting 'kan?"
"Di ruangan Bapak ada ketiga sahabat Bapak," jawabnya.
Membatalkan rencananya, Sean lebih memilih untuk memasuki ruangannya untuk bertemu dengan tiga sahabatnya karena jika tidak, ia takut kantornya ini akan berubah menjadi pasar loak karena sahabat-sahabatnya yang tingkahnya tidak layak dikatakan lelaki berusia 25 tahun.
"Sean sayang ku! Mas Hasbi kangen banget sebulan gak ketemu, amer sepertinya bagus untuk saat ini!"
Hasbi Banu, seorang lelaki bertubuh tegap dengan sebuah lesung pipi yang membuat wajahnya begitu manis. Hasbi merupakan salah satu sahabat Sean sedari Sekolah Dasar, mereka telah berteman kurang lebih 20 tahun lamanya. Hasbi merupakan seorang yang bijak, namun sifat itu tertutupi oleh tingkah konyolnya di setiap saat.
"Sean, kenapa ya gue selalu suka cewek yang namanya aisyah, Khadijah, Annisa, Jannah, dan nama-nama islami lainnya. Capek gue..."
Noel Joshua, lelaki non islam yang selalu menyukai perempuan beragama islam. Sama dengan Hasbi, Noel juga merupakan sahabat Sean sedari Sekolah Dasar. Permasalahan hidup Noel dari jaman SMP sampai sekarang berusia 25 tahun dengan kekayaan yang ia punya adalah selalu dihadapkan dengan hubungan beda agama.
Sean menghembuskan napas jengah, terlintas di kepala Sean untuk menghajar dua orang menjengkelkan di depannya ini untuk mengeluarkan emosinya, namun sepertinya itu adalah ide yang buruk, pasti kedua orang itu malah akan membuatnya kesulitan.
Matanya menangkap satu orang lagi sahabatnya yang duduk dengan tenang di sofa ruangannya sembari membaca buku yang ada di tangannya. Tanpa bertingkah aneh seperti Hasbi dan Noel, Andri Al Fachrul hanya menaikkan sebelah alisnya untuk menyapa Sean. Untuk sahabatnya yang satu itu memang berbeda, Andri memang tidak banyak berbicara, tidak banyak tingkah, kaku, dan dingin.
"Ngapain di kantor gue?" tanya Sean.
"Ngajak minum amer."
"Curhat!"
"..."