Kalan menggandeng Luna menyusuri jalan setapak berbatu di antara hamparan kebun teh yang menghijau, udara menjelang sore yang sejuk dan cenderung dingin menerpa wajah Luna dan membuat kulit wajahnya terasa menebal. Keduanya tak menyangka kalau hamparan kebun teh ini merupakan sebuah lereng gunung.
Luna mendekatkan wajahnya ke arah pucuk-pucuk daun teh untuk menghirup dalam-dalam aromanya, tapi tentu saja ia tidak mencium aroma teh seperti yang ia temukan di super market. Ia mengangkat wajahnya dan mendapati Kalan sedang asyik memotretnya.
"Aku perlu menyimpan banyak fotomu." Kalan bicara sambil menatap satu-satu hasil fotonya melalui layar kamera. Ia tersenyum, mengerutkan keningnya, tertawa kecil, mungkin ada pose Luna yang menggelikan di sana. Sedang Luna berusaha merekam semua momen-momen Kalan menciptakan ekspresi khasnya. Karena ia pasti akan merindukan sosok di depannya ini.
Dua tahun? Semoga itu waktu yang paling lama, semoga Kalan bisa menyelesaikan kuliahnya lebih cepat. Boston? Ah...jauhnya..keluh Luna dalam hati. Kalan mendapat beasiswa penuh untuk kembali ke Boston menempuh S2-nya. Dan mengingat keterbatasan keluarganya Kalan tentu tak bisa pulang ke Indonesia hanya untuk sekadar berlibur. Ia meyakinkan Luna kalau ia akan berusaha selesai dalam waktu kurang dari dua tahun.
"Pulang yuk...kayaknya mau hujan." Kalan meraih tangan Luna dan menggandengnya. Gerimis perlahan turun dan membuat mereka berlari-lari kecil menuju jalan besar.
Mereka ada di Wonosobo, Kalan datang ke sini untuk bertemu dengan kakek dan neneknya dari pihak ayahnya yang sudah hampir dua belas tahun tak pernah ia kunjungi. Ia kesini tak hanya dengan Luna tetapi dengan Ibunya untuk berziarah ke makam ayahnya.
Hujan semakin deras dan memaksa mereka untuk berteduh di pos yang tak jauh dari perkebunan. Keduanya berdiri memandang keluar di antara tetes-tetes hujan yang turun begitu rapat. Luna mengeluh dalam hati saat melihat hujan seperti ini, hujan membuat kesedihannya berlipat-lipat.
Kalan membuka ranselnya dan menyodorkan air mineral ke hadapan Luna. Mereka memutuskan untuk duduk di bangku kayu yang tampak ringkih. Satu-satunya penghuni pos tua ini.
"Dia kelihatan ringkih, tapi kuat." Kalan duduk terlebih dahulu, dia menggerak-gerakkan tubuhnya memastikan bangku kayu itu kuat menopang tubuhnya. Luna akhirnya duduk di bagian ujungnya, setidaknya ia percaya bagian ujung bangku lebih solid karena ada kaki bangku yang menopang.
Kalan mengulurkan selembar kertas dan sebuah pena ke arahnya. Luna menerimanya dengan ekspresi bingung. Namun saat ia melihat tulisan di sana, ia tersenyum. Kalan menuliskan semua tentangnya.
"Kamu lihat selalu ada jeda kosong di antara setiap kalimatnya kan?"
Luna mengangguk.
"Aku mau kamu mengisi jeda kosong itu."
"Tapi aku nggak pintar nulis puisi." Keluh Luna.
"Tulis apa aja yang kamu rasa tentang aku." Kalan memandang Luna penuh harap. "Plisss..." Kalan memberi ekspresi manis yang membuat Luna tak bisa menahan tawanya.
"Oke aku akan coba, tapi kalau udah selesai nanti jangan diketawain ya..."
"Oke, aku kasih kamu waktu sampai hujan reda."
Luna memutar tubuhnya ke belakang, ia tak mau menulis di bawah tatapan Kalan, ia pasti tak akan bisa konsentrasi. Luna menggigit-gigit ujung penanya, sudah dua menit berlalu tapi tak ada yang bisa ia tulis. Hujanpun sudah tak sederas tadi.
"Aku nggak bisa." Rengek Luna, kepalanya menoleh ke arah Kalan.
"Kamu bisa. Ayolah...sebentar lagi hujan reda loh."
Luna kembali berbalik. Tangannya mulai bergerak. Terus bergerak. Setelah lima menit kemudian, setelah hujan hanya menyisakan tetes-tetes airnya yang luruh dari dedaunan, Luna berbalik menghadap Kalan. Dengan ragu ia menyodorkan kertas di tangannya.
To the Moon in the Sky
Namanya Luna artinya bulan
Namanya Kalan artinya langit
Bulan menerangi seperti mentari
Langit adalah pelindung tempat bergantung
Ia seperti bulan purnama ketika tertawa
Ia seperti langit biru yang hangat merengkuh
Ia adalah bulan separuh saat tersenyum malu-malu
Ia adalah langit jingga kala menatap penuh cinta
Langit dan bulan tak terpisah meski di siang yang gelisah
Mereka semakin erat bersama saat malam menyapa
Luna menggigit bibirnya menahan rasa malu dengan apa yang ditulisnya, sementara di depannya Kalan membacanya dengan serius. Ia cukup lama membacanya dan membuat Luna khawatir kalau tulisannya sama sekali tidak indah.
"Wow..." Kalan memandang Luna tanpa berkedip. "Ini yang kamu pikirkan tentang aku?"
Luna mengangguk.
Kalan tersenyum, matanya berbinar karena terlalu gembira. Ia menggeserkan tubuhnya mendekat ke arah Luna dan mendekap cewek itu penuh cinta, saat mata mereka bertemu Kalan menurunkan kepalanya dan bibirnya mengecup kening Luna.
Krek. Krek.
"Awwww..." jerit Luna. Keduanya terjatuh di lantai yang kotor dan agak basah, dengan masih menyisakan ekspresi terkejutnya keduanya tertawa. Bangku kayu yang memang tampak ringkih itu akhirnya kehilangan kedua kakinya. Keduanya meringis melihat nasib bangku kayu itu dan juga karena menahan sakit.
Kalan berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Luna untuk membantunya bangkit. Kalan menarik tangan Luna cukup kuat hingga membuat tubuh Luna tertarik masuk ke pelukan cowok itu dan bibir mereka tak sengaja bertemu. Luna menarik kepalanya cepat. Mereka terdiam, berdebar dan hanya bisa saling memandang. Kepala Kalan bergerak ingin mendekat namun Luna dengan cepat mendorong tubuh cowok itu menjauh.
"Kalau ada yang lihat, kita bisa diarak keliling kampung."
Kalan langsung tertawa dan merangkul bahu Luna untuk segera pergi dari sana. Keduanya kembali menyusuri jalan pulang. Saling bergandengan dan berjanji dalam hati setelah dua tahun nanti mereka akan kembali ke sini, mungkin saja bangku kayu tadi akan menyambut mereka lagi dengan kondisi yang jauh lebih baik. Semoga.