Joe terdiam, dia takut gagal. Sherla yang sudah punya firasat gak enak akan hal ini, lantas langsung melihat apa yang sekiranya akan terjadi di beberapa waktu ke depan.
Sherla gak bisa ngebiarin Angga gitu aja buat dijadikan objek percobaan.
Ira sama Joe mungkin bisa berhasil meracik ramuan itu tapi, cowok bernamakan Daniel mungkin bisa saja menghancurkan semua nya.
"Biar gue aja yang jadi objek percobaan," Sherla memberanikan diri untuk dijadikan objek percobaan. Karena Sherla gak mau, Angga yang terlalu baik malah dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang hendak berbuat jahat.
"Gak bisa. Kan Angga udah bilang sendiri, kalau dia mau dijadiin objek percobaan," tolak Daniel.
Sherla gak suka Daniel "ok, fine. Asalkan lo gak ikut-ikutan buat ngeracik ramuan penangkal virus itu." Sherla udah lihat sendiri, kalau Daniel punya niat jahat ke Angga.
Tapi, belum juga lama mereka selesai berdiskusi, bel sudah berbunyi nyaring dengan ada nya peringatan bahwa mereka telah melanggar peraturan diskusi.
"Perasaan belum ada sepuluh menit kita diskusi, udah selesai aja?" panik Zahra.
"Iya nih, kok tiba-tiba udah bel aja sih?" tambah Joe gusar.
Satrio menatap datar papan tulis "di jam tangan saya masih jam segini, kamu pasti curang!"
Sang guru tertawa "anak zaman sekarang kayak nya gak ada sopan santun nya sama sekali ya sama guru."
Satrio berdecih, dia tahu kalau guru licik itu mempercepat waktunya sendiri, jadi buat apa dia berlaku sopan?
"Saya punya hak untuk mempercepat waktu di jam tangan saya dan kalian sudah melewati batas waktu diskusi."
Brak. Pintu terbuka, dua zombie buatan bu Diah datang mengejar mereka semua yang berada di ruang kelas.
"Kalian boleh buat ramuan nya sekarang."
Setelah itu, layar di papan tulis mati dengan sendiri nya, meninggalkan anak murid yang sedang panik kebingungan karena kehadiran dua zombie yang sewaktu-waktu siap menjadikan mereka sebagai saudara kembar nya.
Mereka berlari menghindari zombie sedangkan Angga sibuk berpikir, siapa yang bakalan dia jadikan umpan tapi, siapa juga yang mau dijadikan umpan?
"Ira, Joe! Ambil ramuan nya, biar gue sendiri yang jadi umpan," Angga berlari mengejar zombie yang sedang mengejar Daniel cs.
"Sini woi, lawan gua!" teriak Angga.
Zombie yang tadinya hanya sibuk mengejar Daniel cs, kini malah berputar balik dan mengejar Angga yang dengan gila nya ngebiarin dua zombie itu mengejar dirinya.
Kesempatan langka ini, benar-benar Ira dan Joe pergunakan buat meracik ramuan itu, hingga pada akhirnya Daniel datang, mengacaukan segala nya.
Tanpa disengaja, Daniel menabrak tubuh Ira, menumpahkan ramuan yang sedang Ira pegang hingga menjadi tumpah mengenai sepatu nya sampai tembus ke permukaan kaki.
"Arkh." Ira merintih kesakitan, kaki nya terkena siraman zat kimia yang seharusnya dia berikan pada zombie.
"Sialan!" Satrio menendang kesal tubuh Daniel.
Layar di papan tulis kembali menyala.
"Kalau kalian gagal meracik ramuan, kalian bisa menumbalkan satu di antara kalian untuk dijadikan zombie baru peliharaan saya."
Setelah itu layar kembali mati setelah membuat keributan yang cukup besar. Satrio meludah kesal wajah Daniel yang masih terduduk lemas di atas lantai.
"Udah, mendingan dia aja yang dijadiin tumbal. Gak ada guna nya juga dia di sini, yang ada malah jadi beban."
"Jaga omongan!" kesal Daniel. Raksa yang diam-diam punya ide buruk, lantas berjalan mendekati Satrio dan brak! Satrio tersingkir.
Daniel dan Raksa segera memegangi tangan dan kaki Satrio secepat mungkin.
"Mau apa lo?! Lo yang bakal kita jadiin tumbal!" balas Daniel senga.
Tanpa basa-basi lagi, Daniel menyeret tubuh Satrio kehadapan dua zombie tadi agar dimakan akan tetapi, tidak semudah itu, kawan.
Brak! Aksel dan Wira menendang kencang tubuh Daniel secara bergantian, "lawan kita dulu kalau kalian berdua mau celakain dia!" teriak Aksel kesal.
"Woi cowok-cowok gila! Bukan nya ngebantuin gue malah asyik ribut sendiri. ini gimana? Tolongin gue, zombie nya ngejar gue terus nih," teriak Mila.
Sherla tertawa terbahak-bahak, kayak nya dua zombie itu tertarik sama Mila.
"Emang nya apa sih yang lo bawa?" tanya Sherla saat melihat Mila menenteng satu plastik hitam berukuran sedang.
"Daging mentah," jawab Mila santai.
Sherla tersenyum puas. Mila memang rada aneh anak nya tapi, justru malah pemikiran nya yang aneh itu lah yang suka menyelamatkan mereka dari kejadian buruk.
"Udah, lempar aja tuh daging ke si Daniel biar dikejar balik," balas Sherla.
Mila menurut, dilempar nya plastik hitam berisikan daging segar itu ke arah cowok-cowok yang saat ini malah melongo kaget di tempat.
"Kabur!"
Aksel berlari cepat saat satu kantong plastik hitam mendarat tepat di dekat nya, begitu pun dengan cowok-cowok tadi yang asyik berkelahi.
Kini, mereka berlarian ke sana-kemari, berupaya menjauhkan diri dari hadapan dua zombie gila yang sama sekali tak memedulikan intensitas mereka sebagai manusia.
Mila tertawa terbahak-bahak "hahaha, zombie nya malah lebih milih mukbang daging daripada harus ngejar kalian yang super duper gak ada manfaat nya."
Di keadaan yang cukup sangat berisik ini, Angga berusaha untuk membantu Ira dan juga Joe untuk meracik ramuan yang tak kunjung jadi setelah dia berlarian kesana-kemari.
"Ini bagaimana? Kita kurang tiga bahan," Joe gak tahu harus berbuat apa, dia sama sekali gak berani buat megang zombie.
Ira juga takut kalau semisalnya dia disuruh buat megang zombie.
Padahal, baik Ira maupun Joe, bisa aja sembuhin dua zombie tadi buat balik jadi manusia dengan cara pegang tubuh dua zombie itu.
"Kita kasih ini aja dahulu." Tanpa permisi, Cantika merebut ramuan nya dari tangan Ira dan brush.
"Krkrkrkrkrkrk."
Zombie tadi malah makin menggila akibat terkena siraman dari zat-zat kimia yang belum sempurna di racik.
Joe berteriak frustrasi "cewek b**o!"
Sudah tahu ramuan masih belum jadi, ini malah asal main siram aja. Lagian kan dosis nya juga gak boleh sembarangan, harus sesuai takaran.
Bukan nya mempermudah pekerjaan, Cantika malah semakin membuat keadaan semakin menjadi runyam.
Zombie yang awalnya tak secepat Aksel saat berlari, kini mendadak seperti atlet lari dadakan saat mengejar mereka.
Angga berusaha untuk tetap tenang, dia yakin kalau dia bisa, meski tanpa adanya bantuan dari Ira, Joe.
"Kalau semisalnya kalian berdua emang bener-bener gak mau pegang tangan sama kaki tuh zombie, biar gue aja yang pegang," ujar Angga.
Sherla berdiri tegak di belakang Angga "gue ikut bantuin lo," Sherla gak mungkin ngebiarin Angga berjuang sendirian.
Ira meringis "maaf, Angga. Gue takut." Begitu pun dengan Joe, seperti pecundang, dirinya terus berlari sembari terus berteriak lantang memanggil "mamah! Mamah! Tolongin, Joe!"
"Ada yang punya tali gak?" tanya Angga.
Mila inget, kalau dia bawa kabel listrik di dalam tas sekolah nya, "bentar-bentar. Kayak nya gue ada kabel listrik deh di dalam tas. Gak panjang-panjang banget sih, tetapi cukup lah buat ikat leher zombie"
Lagi-lagi Sherla dibuat takjub oleh Mila yang suka banget bawa barang-barang aneh ke mana pun dia pergi. Buru-buru, Mila mengambil kabel listrik dari dalam tas nya, di saat dua zombie itu sibuk mengejar anak-anak yang lain.
"Tangkep!" teriak Mila sembari melempar kabel itu ke arah Aksel. Aksel pun berhasil menangkap nya.
"Sini!" Angga berusaha mendekati Aksel namun, lagi-lagi, zombie itu malah mengejar dirinya tanpa ampun.
"Sel! Kepret aja muka zombie nya pake kabel biar kapok," teriak Angga.
Mila tertawa "kasian woi anak orang, jangan di kepret!"
"Kalian kok bercanda terus sih dari tadi?!" tegur Ayu yang udah tegang banget.
Mila melengos "kayak kalian bisa bantu aja!"
Ayu memutar mata jengah, "santai aja dong! Gak usah sinis kayak begitu."
Mila melengos "ngajak ribut lo?"
"Ayo! Siapa takut! Gue berani ya sama lo meskipun lo aneh!" balas Ayu sengit.
"Awas!" Angga berlari ke arah mereka berdua, mau gak mau, Ayu dan Mila pun, pada akhirnya ikut berlari, menjauh dari kejaran dua zombie yang semakin menggila.
Aksel yang sampai saat ini masih memegang kabel listrik pemberian dari Mila hanya bisa berusaha, mengejar balik dua zombie itu agar terjerat kabel listrik nya.
Namun, mau sekeras apa pun dirinya berusaha, Aksel tetap gagal. Cling. Layar di papan tulis kembali menyala, kali ini ada tawaran yang begitu menggiurkan untuk Daniel cs.
Guru jahat itu memberikan mereka satu kesempatan bagus untuk memilih pilihan, pilihan nya ada dua, menumbalkan salah satu teman dari kelas sendiri atau menumbalkan satu orang dari kelas lain.
Tanpa pikir panjang Daniel menjawab "anak dari kelas lain! Saya tumbalkan anak dari kelas lain!" jawab Daniel tegas.
"Daniel!" geram Angga.
"Aish, jahat!" Satrio gak habis pikir sama Daniel yang terlampau menyebalkan.
Setelah mendengar jawaban dari Daniel, zombie berhenti dengan sendiri nya, seakan mereka adalah sebuah mannequin.
Dan gak lama dari itu, secercah cahaya muncul dari jendela kelas.
"Kok aku ada di sini?" tiba-tiba saja, ada satu gadis lugu berseragam yang sama dengan mereka sedang berdiri kebingungan di tengah-tengah kelas.
"Tiga,"
"Dua,"
"Satu,"
Angga berlari cepat ke arah gadis itu, namun nahas, dia telat, tepat di hadapan nya, gadis itu dimakan hidup-hidup dengan darah yang telah bermuncratan, membasahi wajah dan seluruh tubuh Angga.
"Haaaaa, sakit, tolong," gadis itu menangis kesakitan saat wajah dan perut nya di serang brutal oleh dua zombie tadi.
Angga ingin menarik kedua kaki gadis lugu itu, tapi, lagi-lagi, Daniel malah berbuat onar dengan cara menginjak lengan nya sampai Angga tak bisa berbuat apa-apa selain menangis.
"Mati lo, mati!" pekik Daniel.
Satrio yang melihat itu lantas mendorong kencang tubuh Daniel.
"Mau apa lo?! Gak usah sok-sokan mau sakitin dia kalau di sini masih ada gue!" pekik Satrio.
Untuk pertama kali nya dalam hidup Angga, dia menangis sesegukan di hadapan banyak orang. Dirinya berteriak sekencang mungkin karena tak terima melihat gadis lugu itu mati tanpa adanya pertolongan.