Megah. Meriah.
Itu adalah dua kata yang pertama kali terlintas dalam benak Miranti ketika melihat pemandangan gedung hotel tempatnya berada saat ini. Dua kata itu pula yang berhasil membuat kakinya mendadak lemas, tak sanggup lagi berpijak pada dunia yang telah mengkhianatinya. Rasa sesak, marah, kecewa, semua berpadu padan menjadi satu ketika melihat pemandangan beberapa foto serta rangkaian bunga ucapan selamat atas pernikahan dua sejoli yang wajah mempelai prianya begitu familiar dalam ingatan Miranti.
Seiring dengan genangan yang mulai membanjir di pelupuk mata, Miranti kembali memberanikan diri untuk melihat foto yang dikirimkan Nia padanya sejak dua hari lalu. Tadinya ia tidak ingin memercayai foto undangan pernikahan bergaya mewah nan elegan ini, yang menampilkan foto dan nama sang kekasih hati, Bagas Aditya, bersama dengan seorang wanita bernama Farah Aninda. Semua ini sekilas terasa seperti mimpi buruk semata bagi Miranti. Tetapi kini ia menyaksikan sendiri bukti kalau undangan itu memang benar adanya, pernikahan Bagas benar-benar nyata, bukan mimpi.
Sungguh rasanya sakit sekali dikhianati seperti ini. Padahal Miranti telah rela merantau jauh ke negeri orang, meninggalkan keluarga yang begitu dicintainya hanya demi memperjuangkan harga diri Bagas agar dia tidak segan lagi berhadapan dengan orang tuanya. Tapi apa balasan yang Miranti dapat? Setelah mengirimkan sebagian uang hasil jerih payahnya, pria itu malah menikahi wanita lain. Padahal Miranti di sini sibuk terlena sendiri membayangkan pernikahannya di kemudian hari bersama sang pujaan hati.
Kini, Miranti hanya bisa menangis meratapi nasib yang menimpa dirinya. Hancur sungguh hancur sekali batinnya melihat pria yang begitu dicintainya bersanding dengan wanita lain. Terlebih ketika melihat raut bahagia para tamu yang hadir, ia jadi bertanya-tanya apakah itu berarti sang pengantin juga tengah berbahagia?
Miranti menggeleng pelan sambil terus tertunduk menangis. Ingin sekali ia masuk ke dalam untuk menemui Bagas dan menuntut penjelasan darinya. Tapi ia tak sanggup. Rasa sesak dan pedih yang mendera batinnya terasa begitu kuat sampai membuatnya tak sanggup lagi melakukan apa pun. Bahkan untuk sekedar mengutarakan kekecewaannya saja ia tak mampu.
“Kenapa ... kenapa kamu tega melakukan ini ke aku, Bagas ...,” ratap Miranti pilu. “Apa salah aku? Apa kurangnya aku? Aku udah mengorbankan segalanya demi kamu, tapi kenapa kamu malah mengkhianati aku?”
Miranti mulai sesenggukan, orang-orang berjas yang melaluinya pun saling sahut-menyahut mencibirnya. Tatapan tajam nan mengintimidasi mereka seolah mempertanyakan, siapa wanita asing yang berani-beraninya menangis di acara bahagia ini? Hal itu terus berlangsung selama beberapa menit tanpa sedikitpun Miranti mengutarakan pembelaan. Sampai akhirnya para petugas keamanan yang mulai berdatangan mengerubungi Miranti berhasil menghentikan rentetan cibiran tersebut.
“Selamat siang, Bu,” ucap salah seorang petugas keamanan berseragam jas hitam-hitam. “Apa Ibu salah satu tamu undangan di sini? Bisa tunjukkan undangannya?”
Miranti berhenti menangis sekilas, pandangannya menatap kosong entah kemana.
“Harusnya saya yang bersanding bersamanya. Harusnya saya yang menjadi mempelai wanitanya, bukan wanita asing itu yang bahkan saya nggak tahu siapa dia,” racaunya tak karuan.
Mendengar itu, para petugas keamanan saling tatap bingung. Tapi kemudian, karena merasa kehadiran Miranti sepertinya berpotensi mengacaukan acara, mereka memutuskan untuk mengusirnya.
“Anu ... maaf sebelumnya, tapi sepertinya Ibu harus segera pergi dari sini,” ucap salah satu petugas keamanan. “Kami tidak bisa menerima tamu tanpa undangan.”
Miranti mendongak, memperlihatkan mata sembab serta sorot pilunya pada sekumpulan pria berjas yang mengelilinginya. Perlahan ia mulai bangkit berdiri walau kakinya hampir tidak kuat menopang berat tubuhnya.
Kemudian dengan sedikit bergetar Miranti menyodorkan ponselnya yang masih menampilkan foto undangan kiriman Nia.
“Saya punya ini,” gumamnya parau, matanya terlihat kembali berkaca-kaca. “Boleh saya masuk?”
Para petugas keamanan sibuk berbisik-bisik sendiri, sepertinya mereka kebingungan harus bagaimana. Terlebih melihat kondisi Miranti yang saat ini terlihat begitu terguncang dan tidak stabil. Tapi mau menolak pun mereka tidak bisa karena Miranti telah menunjukkan undangan yang sebagian memang disebar secara virtual. Pada akhirnya, mereka pun terpaksa mengiyakan dan membiarkannya masuk.
Dengan langkah gontai Miranti melangkah ke dalam aula hotel yang menjadi spot utama acara resepsi ini. Di kejauhan, ia melihat sepasang mempelai pria dan wanita yang tengah berbincang ria dengan beberapa tamu. Raut wajah mereka tampak begitu bahagia, seperti tidak ada penyesalan sama sekali walau ada hati yang telah mereka hancurkan dengan adanya pernikahan ini.
Menyaksikan itu, rasa sesak yang begitu dahsyatnya kembali menerjang d**a Miranti. Air mata yang sedari tadi sudah mati-matian berusaha dibendungnya ketika berhadapan dengan para petugas keamanan, kini kembali menetes. Bahkan rasanya lebih panas dari sebelumnya, pertanda kalau rasa sakit yang menusuk relungnya semakin menjadi-jadi.
Namun Miranti tetap bersikukuh untuk menghampiri mereka. Sebentar saja, ia ingin mendengar suara pria yang begitu dirindukannya. Walau dadanya akan semakin terasa nyeri menghadapinya, Miranti ingin tetap menyapa Bagas untuk kali terakhir. Tidak apa walau pria itu tidak memberi penjelasan apa pun mengenai pengkhianatan ini. Toh begitu lebih baik bagi Miranti.
Perlahan demi perlahan, Miranti semakin dekat dengan keberadaan Bagas beserta sang mempelai wanita. Semakin ia maju, semakin banyak pula pasang mata yang berbisik-bisik membicarakannya. Sungguh ini terasa jauh lebih berat dari apa yang Miranti perkirakan. Seberapa keras pun usahanya untuk membendung air mata, ia malah semakin menangis menjadi-jadi. Dan itu membuat dadanya jadi semakin sesak bahkan sampai membuatnya sulit bernapas.
Lima menit berikutnya, kini sorot mata Bagas mulai mengarah ke lain sisi, hingga akhirnya bertemu pandang dengan Miranti. Membuat wanita itu menghentikan langkah seketika dan refleks membalikkan tubuhnya. Sementara Bagas, ia langsung menegang begitu menyadari siapa sosok yang sedang ia tatap.
“Miranti?” gumamnya tanpa sadar, membuat sang mempelai wanita menoleh dan ikut menatap ke arah pandangnya.
Miranti sadar tindakannya barusan salah. Ini jelas tidak sesuai dengan rencana yang barusan dikukuhkannya. Tapi bertatapan dengan Bagas dalam situasi ini, rasanya ia tidak sanggup. Boro-boro mau melancarkan niatnya untuk menyapa pria itu untuk kali terakhir. Alih-alih rasa sesak tak terkira kembali datang menghantamnya, membuatnya pada akhirnya memilih untuk melangkah menjauh ke sembarang arah. Dengan harapan itu bisa sedikit mengurangi beban rasa sakit yang tengah dideranya saat ini.
Namun ternyata tidak mempan. Rasa sesak ini belum berkurang sedikit pun meskipun Miranti sudah berbalik arah menjauhi Bagas. Masalahnya pria itu tidak menunjukkan respon penyesalan apa pun. Itulah yang membuat Miranti jadi semakin merasakan sakit tak terkira.
Karena sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini, Miranti berlari kecil ke sisi lain aula kemudian masuk ke dalam lift yang mengarah ke lantai atas. Ketika pintu lift hampir tertutup, mata Miranti sempat bertemu tatap lagi dengan mata Bagas yang tengah memandangnya datar. Benar-benar tidak ada raut penyesalan dan rasa bersalah sedikit pun di wajah pria itu. Sepertinya memang benar, Bagas telah melupakannya.
Ting, pintu lift terbuka di lantai delapan. Pemandangan taman kecil yang dibatasi pagar beton terbentang di hadapan Miranti.
Sejenak Miranti hanya berdiam diri di depan lift, menatap lurus ke arah langit mendung di balik pintu kaca. Lalu perlahan, ia mulai berjalan keluar melewatinya, kemudian berdiri di tepi pagar beton pembatas.
Matanya terpejam, pikirannya melayang entah kemana.
“Bagas ...,” gumamnya bergetar. “Semudah itu kah kamu melupakan aku?”
Sekali lagi air mata mengalir membasahi pipinya.
“Sekarang aku harus gimana?” gumamnya lagi. Lagi-lagi ia memegangi dadanya yang terus merasakan ngilu tak berkesudahan. “Selama lima tahun ini aku hidup untuk kamu ... aku berjuang untuk kamu ... aku pulang pun untuk kamu ....”
Miranti menarik napas dalam, kemudian membuka matanya perlahan. Menatap sendu pemandangan kota yang tengah diselimuti langit mendung.
“Aku ... rasa sesak ini terlalu menyiksa, Bagas.” Miranti memukul-mukul dadanya cukup keras. “Aku ingin segera mengakhirinya ....”
Tanpa sadar, Miranti naik ke atas pagar beton, lalu berbalik menatap pintu kaca tempat ia masuk tadi.
“Ibu ... Bapak ... dan Maya. Maaf ... aku nggak bisa pulang dengan keadaan kacau seperti ini,” ucap Miranti bergetar. “Aku ingin tersenyum di hadapan kalian, tapi rasanya sulit sekali karena rasa sesak ini begitu menyiksa. Aku ingin mengakhirinya ... tapi aku hanya tahu satu cara.”
Miranti kembali memejamkan mata, sambil menarik napas dalam-dalam dan membentangkan kedua tangannya.
“Bu, Pak, Maya ... aku izin pergi boleh, ya?” gumam Miranti lagi, kali ini diiringi dengan tetesan air mata. “Selamat tinggal, aku sayang kalian.”
‘Dan aku juga sayang kamu, Bagas,’ sambungnya dalam hati. ‘Sangat, sangat sayang, sampai aku nggak sanggup melihat kamu bersanding dengan wanita lain.’
Sayangnya, itu adalah kalimat terakhir yang bisa Miranti ungkapkan pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia melemparkan tubuhnya ke belakang, menyerah pada kehidupan. Ya, itulah satu-satunya cara baginya untuk menghilangkan beban rasa sakit yang telah menghujaninya dengan begitu dahsyatnya selama satu jam terakhir.
~~~