Hal paling gila* dalam hidup Ina terjadi!
Dia belanja bersama Aire demi membantunya terlihat cetar di nikahan sang mantan. Kemudian pada saat yang bersamaan, bos besar mengikuti mereka dari belakang.
Like... menemani mereka belanja.
Bayangkan betapa gilanya itu!
Memang, Sean ada disini karena Aire. Tapi tetap saja. Kenapa seorang Sean Abraham, orang nomor satu di Imperio Group, mau-maunya melakukan hal semacam ini kalau bukan karena ada sesuatu.
Jangan-jangan gosip yang beredar kalau ada karyawati disana yang berhasil menarik perhatian Sean itu benar adanya.
Yaampun, memikirkan gosip padahal yang bersangkutan ada di belakangnya membuat Ina merasa ngeri-ngeri sedap.
Lemas saja bawaannya kalau mengingat Sean ada di belakang mereka. Menatap dengan tatapan setajam sinar laser dengan wajah yang datarnya minta ampun.
Padahal Ina belum melakukan kesalahan apa-apa. Belum.
Mereka berjalan bertiga di lantai dua. Aire di kiri, Ina di kanan, dan Sean tiga langkah di belakang dengan kemeja yang lengannya sudah digulung sampai siku serta dasi yang entah sudah ditinggal di mana. Tanpa dasi pun aura orang itu tetap saja seperti sedang memimpin rapat direksi.
Orang-orang yang berpapasan menoleh. Bukan menoleh biasa. Menoleh yang disertai bisik-bisik ke telinga pasangan masing-masing.
Ina ingin sekali menjelaskan pada seluruh isi mall bahwa dia bukan siapa-siapa dalam formasi ini. Dia hanya karyawan kantin yang mantannya mau menikah. Sudah. Itu saja.
"Na, yang itu gimana?" Aire menunjuk sebuah gerai dengan etalase penuh dress.
"Boleh, mbak."
Mereka masuk. Sean tidak ikut masuk, tapi juga tidak pergi. Dia berdiri di luar, di dekat pilar, satu tangan di saku celana, matanya mengikuti Aire ke mana pun cewek itu bergerak di balik kaca.
Ina menelan ludah. Ternyata gosip di kantor itu ada benarnya.
***
Ina mencoba tiga dress.
Yang pertama warna biru muda. Aire mengacungkan jempol. Ina keluar dari kamar pas dengan senyum lebar, memutar badan sekali di depan cermin besar.
Lalu terdengar suara dari arah pintu.
"Ngga."
Ina langsung berdiri tegak. Sean sudah bersandar di kusen pintu gerai, entah sejak kapan.
"Ngga apanya, Pak?" Aire bertanya, agak sewot karena merasa acara belanjanya diinterupsi.
"Warnanya bikin dia keliatan capek."
Ina menoleh ke cermin.
Ya ampun.
Betul.
Kenapa dia baru sadar setelah dibilangin?!
Yang kedua warna hitam dengan potongan lurus. Kali ini Aire yang mengernyit duluan. "Kayak mau takziah, Na."
"Iya ya." Ina meringis.
Yang ketiga warna hijau lumut, lengannya panjang dan jatuh, roknya melebar sedikit di bawah lutut. Begitu Ina keluar, Aire langsung menepuk kedua tangannya sendiri.
"Nah! Ini!"
Dari pintu, Sean cuma mengangguk sekali. "Itu."
Dan entah kenapa anggukan satu kali itu terasa lebih berbobot daripada tepuk tangan Aire. Ina sampai merinding.
Cewek itu berbalik ke cermin, tangannya meraih label harga yang menggantung di ketiak dress.
Satu juta dua ratus.
Senyum Ina memudar pelan-pelan. Uangnya tiga ratus. Itu pun sudah termasuk jatah sepatu, tas, dan ongkos ojek pulang.
"Kayaknya yang pertama aja deh, mbak," katanya sambil buru-buru masuk lagi ke kamar pas.
Aire diam sejenak. Cewek itu paham betul apa yang barusan terjadi, karena dia pernah ada di posisi yang sama. Berkali-kali, waktu masih anak magang.
"Na, kita cek rak diskon dulu yuk," Aire menawarkan setelah Ina keluar dengan pakaiannya sendiri. "Biasanya model begitu ada versi tahun lalunya."
"Ngga usah, mbak. Ngga apa-apa kok."
"Ya udah, aku yang mau lihat."
Ina tertawa kecil, mengikuti.
Tapi begitu mereka sampai di rak paling belakang, seorang pramuniaga menghampiri sambil membawa paper bag. Paper bag yang isinya sudah dilipat rapi dan ditutup kertas tisu.
"Maaf, mbak. Ini pesanan Bapak yang tadi."
"Hah?"
"Sudah dibayar. Yang warna hijau, ukuran M."
Ina memutar badan secepat kilat.
Sean masih berdiri di dekat pilar, sedang menatap layar ponselnya, seolah tidak ada urusan apa pun dengan dunia sekitarnya.
"P-Pak! Ngga bisa gitu, Pak!" Ina setengah berlari, sambil menyerahkan paper bag itu balik dengan kedua tangan seperti sedang mengembalikan piala bergilir. "Ini kemahalan, Pak. Saya ngga berani."
Sean menurunkan ponselnya. "Kamu karyawan Imperio?"
"I-iya, Pak. Kantin."
"Kantin itu bagian dari Imperio." Datar. Seolah sedang membacakan poin dalam notulen rapat. "Anggap bonus."
"Bonus dari mana, Pak?" Aire yang menyahut, sudah menyusul dengan tangan bersedekap.
"Dari saya."
"Itu bukan bonus namanya."
"Terus namanya apa?"
Aire membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Lalu membuka lagi. Tidak ada satu pun kata yang keluar, karena jujur saja, Aire juga tidak tau namanya apa.
Sean mengembalikan paper bag itu ke tangan Ina. "Ambil. Datang ke kondangan itu dengan kepala tegak. Jangan sampai orang yang pernah nyakitin kamu merasa dia menang."
Ina memeluk paper bag itu.
Dan matanya panas.
Sungguh, Ina tidak pernah menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut orang yang selama ini dia bayangkan seperti boneka raksasa di film Squid Game.
"Makasih, Pak," cicitnya.
Sean sudah berbalik duluan.
***
Toko sepatu ada di ujung koridor yang sama.
Aire menyusuri deretan flat shoes sambil menahan senyum yang ngga jelas juntrungannya. Tadi itu... ya, tadi itu. Aire tidak mau membahasnya, bahkan di dalam kepalanya sendiri.
Ina pamit ke toilet sebentar, jadi tinggallah Aire memilih sendirian. Sedangkan Sean duduk di bangku panjang dekat kasir, kaki disilang, seperti suami-suami yang sedang menunggu istrinya selesai.
Aire mengambil satu pasang. Krem, polos, hak rata, tanpa hiasan apa-apa.
Belum sempat dia memanggil pramuniaga, Sean sudah lebih dulu mengangkat dua jari.
"Mbak. Yang itu ada nomor tiga puluh tujuh?"
"Ada, Pak. Sebentar ya."
Aire mematung dengan sepatu di tangan.
Dia menoleh perlahan. "Pak."
"Hm?"
"Kok Bapak tau ukuran sepatu saya?"
"Sepatu yang kamu pakai sekarang saya yang beli."
Oh. Benar juga. Logis. Aire hampir saja menghela napas lega.
Hampir.
Karena satu detik kemudian otaknya mengejar sendiri, dan Aire kembali menoleh dengan alis bertaut. "Tapi waktu beli yang ini Bapak juga ngga nanya ukuran saya."
Sean tidak menjawab.
Laki-laki itu hanya menatapnya. Tenang. Terlalu tenang, sampai Aire merasa ada sesuatu yang sedang disimpan rapat-rapat di balik ketenangan itu.
"Coba dulu," katanya akhirnya.
Aire menurut. Bukan karena disuruh, tapi karena bingung mau bilang apa.
Sepatu itu pas. Pas sekali. Tidak menggigit di tumit, tidak longgar di jari.
Dan Aire baru sadar satu hal lagi. Dari sekian banyak model di rak itu, Sean menunjuk yang tanpa pita. Padahal yang paling ramai dan paling cantik justru yang ada pitanya.
Aire memang tidak pernah beli yang ada pitanya. Tali dan simpul di punggung kaki selalu bikin kulitnya lecet.
Cuma... dia belum pernah cerita soal itu ke siapa pun di kantor.
Aire menatap sepatu di kakinya lama.
Rasanya seperti pernah ada orang lain yang tau hal sekecil itu tentang dirinya. Dulu sekali. Zaman ketika lututnya masih sering luka dan ada seseorang yang berjongkok untuk membetulkan tali sepatunya.
Tapi begitu Aire berusaha mengingat wajahnya, yang muncul di kepala cuma kabut.
"Kenapa?" Sean bertanya.
Aire mendongak.
Dan untuk sepersekian detik, entah karena lampu toko atau karena matanya yang lelah, Aire merasa cara laki-laki itu menatapnya barusan bukan cara Sean Abraham menatap karyawannya.
"Ngga apa-apa, Pak," jawabnya pelan.
Padahal jelas-jelas ada apa-apa.
***
Ina kembali dari toilet tepat pada waktunya untuk menyaksikan pemandangan langka. Pramuniaga menyerahkan dua paper bag, dan yang menerima bukan Aire.
Tapi Sean.
"Pak, biar saya aja," Aire berusaha merebut.
"Ngga usah."
"Itu sepatu saya, Pak."
"Nanti juga sampai ke kaki kamu."
Aire menyerah. Percuma berdebat dengan orang yang bahkan tidak menganggap perdebatan itu sedang terjadi.
Mereka keluar dari toko. Sean berjalan di depan sekarang, dua paper bag tergantung di tangan kirinya, tangan kanannya masuk saku. Aire dan Ina mengekor.
"Mbak," bisik Ina sambil menyenggol lengan Aire.
"Apa?"
"Aku ngga bakal cerita ke siapa-siapa di kantor. Sumpah."
Aire menoleh cepat. "Cerita apa?"
Ina cuma tersenyum. Senyum yang artinya : mbak, aku punya mata.
Uh.
Aire mempercepat langkah dan pura-pura sibuk melihat etalase.
Padahal dari tadi yang dia lihat cuma punggung orang yang berjalan di depannya.
***
[]