Di ruangan Ibu Guru Meyra..
Tampak Raven berdiri sambil bersandar pada tembok dengan kaki terlipat dan kedua tangan yang masuk ke saku celana.
Sementara Ibu Guru Meyra sedang duduk di kursinya sambil mengelap air matanya dengan sapu tangan berwarna merah.
"Kau tidak harus memberitahunya, jelas mereka akan sulit mempercayainya," ujar Raven,
"Ibu sudah tidak tahan lagi, mereka membuat berita buruk tentang kita dalam dua tahun ini," ucap Ibu Guru Meyra.
"Lalu kau ingin mereka mengetahui berita burukmu yang sebenarnya?" tanya Raven menatap datar,
Ibu Guru Meyra menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak.."
"Kau ingin semuanya tahu kalau aku anak dari hasil pemerkosaan yang di lakukan Ayahnya Juna padamu 19 tahun yang lalu begitu?" tanya Raven lagi,
"Tidak, tidak Raven, bukan itu maksud Ibu.." Ibu Guru Meyra beranjak dari duduknya lalu menghampiri Raven, "Jangan katakan itu lagi anakku.." katanya sambil memeluk Raven.
***
Sore itu akhirnya Raven menemukan alamat rumah Jen, Jen tinggal di sebuah rumah kontrakan tepi jalan yang tak jauh dari sekolah.
Tok tok tok.. Raven mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban, Raven kembali mengetuk pintu hingga akhirnya Jen membukakan pintunya.
"Ra-Raven?! kenapa kau bisa ada disini??" tanya Jen kaget,
"Aku di beri alamatmu, Ibu Guru menyuruhku kesini untuk memulai pelajaran yang kau tinggal tadi pagi," jawab Raven sambil menunjukkan bukunya,
"Begitukah?" Jen mengambil dan memeriksa halaman terakhir buku milik Raven, "Ini kisi-kisi soal ujian??"
"Ibu Guru nya perhatian sekali sampai mengirim mu kesini, aku jadi merasa bersalah, maaf merepotkan kalian.." ucap Jen dengan raut wajah menyesal.
"Bukan hanya dirimu, di setiap kelas pasti ada murid yang di suruh mengunjungi murid lainnya yang tidak masuk kelas saat akan membahas soal ujian untuk minggu depan. hal itu berguna untuk menambah nilai persen keberhasilan para murid di sesi akhir ujian," jelas Raven panjang lebar.
Jen tersenyum, "Mari, silahkan masuk."
Raven dan Jen masuk ke kontrakan tersebut, disana Jen tinggal seorang diri, dalam kondisi rumah yang berantakan.
"Kau tidak pernah membersihkan rumahmu?" tanya Raven,
"Ya, kuharap kau tidak ilfeel.." jawab Jen tersipu malu,
"Tidak masalah, mari mulai belajarnya."
***
Setelah selesai belajar, Jen menyuguhkan segelas teh, tampak Raven beristirahat sejenak dengan menikmati teh yang di suguhkan oleh Jen.
"Kenapa kau tidak masuk kelas hari ini?" tanya Raven memulai obrolan,
Jen termenung, dia mengingat kejadian kemarin, saat Mellan dan dua cs nya membully dirinya dan membakar tas nya.
"Lingkungan sekolah itu memang keras, kau mungkin tidak merasakan hal itu di sekolah lama mu, tapi di sekolah baru mu ini, kau harus punya mental yang kuat," tutur Raven,
"Raven sebenarnya sejak awal.. aku memang menyukaimu, kau pria yang baik, tapi murid yang bernama Mellan itu.. dia bilang aku tidak boleh mendekatimu, apa dia pacarmu?" tanya Jen blak-blakan.
"Dasar bucin, memangnya apa tujuan mu sekolah? mencari pacar? kau bisa mencari pacar tanpa harus sekolah," jawab Raven dingin,
"Jahat sekali, bukan begitu maksudku, aku memang mau sekolah, tapi kan perasaan ini muncul begitu saja, lagipula kan aku sedang masa puber, jadi wajar kalau aku jatuh cinta di lingkungan sekolah.." ucap Jen cemberut,
"Ya ya ya, ngomong-ngomong soal Mellan, dia hanya wanita pencari sensasi, aku tahu dia sedang mengincarku, dia akan berpindah haluan saat ada mangsa yang lebih baik dariku," kata Raven,
Jen membulatkan mulutnya Oooo...
"Aku pulang dulu ya," Raven berkemas,
"Lalu bagaimana soal perasaanku?" tanya Jen menunggu kepastian,
"Maksudnya?" tanya Raven menaikkan sebelah alisnya,
"Ya itu.. apa kau mau jadi pacarku?" tanya Jen sambil memalingkan wajahnya yang merah padam,
"Tidak tahu," Raven melengos pergi melewati pintu keluar rumah.
Jen terdiam sambil menatap pintu keluar rumahnya, dia tidak mengerti dengan jawaban Raven, "Tidak tahu?" gumamnya.
***
Hari ketiga.. Jen kembali masuk kelas.
Seperti biasa dia duduk di bangku yang pertama kali dia duduki. Jen menatap Ruby yang juga masuk kelas dan duduk di bangku pojok, Ruby tersenyum saat Jen menatapnya.
Tak lama kemudian, rombongan Juna datang ke kelas tersebut.
"Woy, yang mau ikut pesta di villa gue silahkan isi data diri dan nomor telepon lo di selembaran yang gue bagiin ini," teriak Juna,
Beberapa murid pun mengambil selembaran kertas yang di bawa Juna. Juna berjalan menghampiri bangku Jen, dia menatap Jen sambil tersenyum, "Kau baru ya?"
Jen yang sedang duduk santai lantas mengangguk mengiyakan.
"Ikut ya, pesta pertama mu bersama anak-anak sekolah Tribuana lainnya," ucap Juna sambil memberikan selembar kertas itu pada Jen.
"Pesta apa?" tanya Jen menatap bingung,
"Pesta setelah ujian, tenang aja, itu gratis," jawab Juna,
Jen pun ikut mengisi data diri dan nomor ponselnya, setelah selesai dia dan murid lainnya mengembalikan selembaran kertas itu pada Juna.
"Oke, makasih atas partisipasinya, sampai jumpa di pesta ya," Juna pergi meninggalkan kelas tersebut untuk kemudian pergi ke kelas lainnya.
***
Jen dan Raven mulai akrab, baru kali ini seorang Raven terlihat peduli dengan seorang gadis, karena di ketahui sejauh ini Raven adalah pria sopan yang tidak pernah menjalin kedekatan lebih dengan murid perempuan yang ingin mendekatinya.
Mellan yang tak terima, memutuskan untuk pindah sekolah, dia sudah putus harapan apalagi setelah kejadian tempo lalu, saat dia dan Ibu Guru Meyra berdebat hingga mengungkap sebuah fakta kalau ternyata Buk Meyra adalah Ibu Kandung Raven.
"Mel! lo kenapa mendadak pindah sekolah? padahal sebentar lagi kita mau ujian kenaikan kelas loh!" Theo membuntuti Mellan yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah, Theo mencoba membujuk Mellan agar dia tidak pindah sekolah,
Mellan menepis tangan Theo yang meraih pergelangan tangan kanannya, "Gak usah sok peduli lo sama gue!" bentak Mellan melotot,
"Kali ini aja Mel, gue mohon lo jangan begini, lo ada masalah apa? kalau lo gak nyaman sama keberadaan gue, biar gue aja yang pindah," ujar Theo,
"Hah? jangan kegeeran lo! emangnya lo siapa nya gue?! dah lah, gue benci lo semua!" Mellan pun memasuki mobilnya lalu menyuruh sopir pribadinya untuk jalan meninggalkan tempat tersebut.
Theo ambruk berlutut pasrah di depan gerbang masuk sekolah. Tibalah Juna dan Riko untuk menjemputnya kembali ke kelas.
"Sabar tte, lupain aja dia, masih banyak kok cewek yang lebih baik dan lebih menghargai lo daripada dia," ujar Juna sambil menepuk bahunya,
"Lagian lo udah di putusin sama dia masih aja nekat deketin, lo tahu kan dia cuma mamfaatin ketenaran lo di sekolah ini makanya dia deketin lo dulu," tambah Riko,
"Kalian gak usah ngejelekin Mellan, gimana pun juga dia satu-satunya cewek yang membawa kebahagiaan di hidup gue." Theo bangkit berdiri, lalu mereka pun kembali ke kelas.