Telepon itu berdering pukul setengah dua pagi, dan Renung tahu sebelum mengangkatnya bahwa malam ini ia tidak akan tidur lagi. Dering tengah malam di Bukit Denai hanya berarti satu hal: sesuatu yang seharusnya hidup sedang sekarat.
"Bu Dokter," suara Pak Lurah Talang Rambai bergetar di seberang. "Ada harimau. Di kebun karet Wak Saleh. Kena jerat. Mengaum-aum dari tadi. Orang sudah ramai bawa parang."
Kata terakhir itu yang membuat Renung melompat dari ranjang. Bukan harimaunya. Parang itu.
"Jangan ada yang mendekat," katanya, sudah menarik celana lapangan ke kakinya. "Suruh semua mundur. Saya berangkat sekarang. Lima belas menit."
Ia menyambar tas anestesi dari rak di samping pintu, tas yang selalu setengah siap karena di tempat seperti ini kesiapan penuh adalah kemewahan. Di dalamnya: satu vial ketamin yang tinggal separuh, medetomidin yang stoknya menipis, sumpit bius dengan tabung gas yang tekanannya harus ia tebak dengan tangan. Tidak ada tim bius lengkap. Tidak ada dokter kedua. Hanya dirinya, sebuah motor trail tua, dan jalan tanah yang basah oleh hujan sore tadi.
Gerimis turun tipis saat ia membelah gelap. Lampu motornya menjilat batang-batang sawit di zona penyangga, lalu karet, lalu kerumunan obor dan senter di ujung kebun. Tiga puluhan orang. Renung mematikan mesin dan suara mereka langsung menerjangnya — marah, takut, keduanya sekaligus, yang di kampung pinggir hutan memang selalu kembar.
"Itu yang makan kambing saya minggu lalu!" seseorang berteriak.
"Bunuh saja, Bu! Daripada nanti makan anak orang!"
Renung tidak menjawab. Ia menembus kerumunan, dan saat sorot senternya jatuh ke dasar parit kering di tepi kebun, dunia di sekelilingnya seolah menyusut menjadi sepasang mata yang memantulkan cahaya seperti dua bara hijau.
Harimau itu betina, muda — dua tahun, mungkin kurang. Kaki depan kirinya terbelit kawat sling, jenis kawat baja berpilin yang biasa dipakai menarik kayu, bukan jerat babi dari kawat lunak. Semakin ia meronta semakin dalam kawat itu mengiris, dan di sekeliling lukanya bulu sudah lengket darah yang menghitam. Ia mengaum, tapi auman itu sudah kehilangan tenaga, lebih mirip erangan panjang yang patah di ujungnya. Renung membaca tubuh itu seperti orang lain membaca halaman: napas terlalu cepat dan dangkal, lidah yang menjulur, selaput mata yang mulai keruh. Dehidrasi. Syok. Kehabisan tenaga melawan baja yang tak akan pernah lelah.
"Berapa lama dia begini?" tanya Renung, suaranya datar, hampir bisikan.
"Dari habis magrib," jawab seorang pemuda. "Wak Saleh yang nemu."
Delapan jam. Renung menghitung di kepalanya, dan angka-angka itu menenangkannya seperti doa: berat badan ia taksir empat puluhan kilogram dari ukuran tubuh, dosis ia bagi, margin keselamatan ia sisakan tipis-tipis karena tubuh yang syok tidak memaafkan kelebihan obat. Membius harimau di klinik adalah satu hal. Membius harimau di parit, sendirian, dengan senter yang dipegang tangan gemetar orang lain, adalah hal lain sama sekali.
"Saya butuh tiga orang yang berani," katanya, berbalik menghadap kerumunan. "Sisanya mundur sepuluh meter dan diam. Yang teriak-teriak bikin dia panik, dan harimau panik lebih cepat mati."
Tidak ada yang maju. Lalu seorang lelaki muda — kurus, rahang keras, topi terpasang rendah hingga matanya tersembunyi — melangkah keluar dari bayang. "Saya pegang senter," katanya. Renung sempat mencatat ketenangan yang ganjil pada lelaki itu, ketenangan orang yang sudah pernah dekat dengan satwa liar sebelumnya, sebelum perhatiannya kembali tersedot ke harimau.
Ia mengisi sumpit, mengukur jarak. Otot bahu si betina, di belakang sendi, tempat yang tebal dagingnya. Ia menahan napas, dan untuk sesaat yang aneh, tenang itu datang — tenang yang selalu menemukannya justru di hadapan hewan yang bisa membunuhnya, dan tak pernah datang di ruang rapat. Ia menekan pelatuk. Desis halus. Sumpit menancap. Si betina meledak dalam satu ronta terakhir yang membuat seluruh kerumunan menjerit mundur, lalu — perlahan, terlalu perlahan untuk selera Renung — ronta itu meluruh. Kelopak mata menurun. Tubuh besar itu melorot ke sisi parit.
Renung menunggu lima menit penuh, menghitung dalam diam, sebelum ia berani turun. Ia menyentuh sudut mata si betina dengan ujung jari: tidak ada kedipan. Bius bekerja. Tapi pekerjaan baru saja dimulai.
Kawat sling itu telah masuk hampir sampai tulang. Renung bekerja dengan tang pemotong yang dipegang lelaki bertopi, menyangga, memotong satu pilin demi satu pilin, sambil tangannya yang lain menahan denyut nadi besar di leher si harimau, terus menghitung. Setiap kali kawat terlepas sedikit, darah segar mengalir, dan ia membalut, menekan, mengukur lagi. Ia menyuntikkan cairan infus langsung ke pembuluh, menggantung kantong itu di ranting yang ditahan seorang ibu yang sepuluh menit lalu berteriak minta harimau itu dibunuh. Kini perempuan itu menahan napas, matanya basah, melihat seekor pemangsa yang seumur hidupnya ia takuti berubah menjadi sesuatu yang rapuh dan bisa mati.
Di situlah, di antara denyut nadi yang ia rasakan melemah lalu menguat lagi di bawah ujung jarinya, Renung Anjani memikirkan ayahnya. Ia tak bisa tidak. Pak Anjani, jagawana di hutan yang sama dua puluh dua tahun lalu, mati ditembak pemburu saat Renung berusia enam tahun, dan yang ia ingat hanya seragam hijau itu digotong pulang dan baunya hutan dan darah. Sejak itu ia merasa berutang pada rimba yang merenggut ayahnya — utang yang tak masuk akal, ia tahu, tapi utang itulah yang membawanya pulang dari Bogor ke kampung ini, ke parit ini, ke nadi harimau ini.
Saat fajar mulai mengabu di balik bukit, denyut itu sudah mantap. Renung memasang penyangga kayu di sekitar tubuh si betina dan memanggil radio ke pusat agar truk dikirim. Ia menengadah dan mendapati sebagian besar warga sudah pulang, kecuali si lelaki bertopi yang masih berjongkok di seberang, memandangi harimau itu dengan ekspresi yang tak bisa Renung baca.
"Dia akan hidup?" tanya lelaki itu.
"Kalau tak ada infeksi. Kalau kakinya bisa diselamatkan." Renung mengelap darah di tangannya ke celana. "Siapa nama kamu?"
Lelaki itu ragu sesaat. "Bujang," katanya akhirnya, lalu bangkit dan menghilang ke arah kampung sebelum Renung sempat bertanya lebih jauh.
Renung memandang harimau yang tidur di kakinya, napasnya naik turun teratur sekarang. Kawat sling baja berpilin itu masih tergeletak di lumpur, terlalu kuat, terlalu mahal, terlalu sengaja untuk dipasang petani yang hanya ingin menjaga kambing. Ia mengantonginya sebagai barang bukti tanpa benar-benar tahu untuk apa.
"Sintung," gumamnya pada si betina. Nama sebatang pohon kecil yang tumbuh di tanah keras. Yang bertahan di tempat yang seharusnya membunuhnya. "Namamu Sintung."
Truk datang saat matahari pertama menyentuh kanopi, dan Renung pulang membawa seekor harimau dan sepotong kawat yang, tanpa ia sadari, baru saja menarik benang pertama dari sebuah jaring yang jauh lebih besar daripada yang bisa ia bayangkan.