KANDANG komunal pertama dibangun di kebun Wak Saleh, dan dibangun dengan cara yang mengubah segalanya tanpa satu kata pun tentang perang warung: dengan tangan-tangan kampung sendiri, dibayar dari dana ganti rugi yang sama, dengan Wak Saleh berdiri di tengahnya dengan parang di tangannya.
Renung merancangnya dengan Jamil, dan rancangannya bukan rancangan melawan harimau — itu pelajaran yang selalu ia ulangi: kandang ini bukan benteng, kandang ini perhitungan. Tiang-tiang keras di sudut-sudut kebun, pintu yang bisa ditutup cepat di malam hari, parit dangkal di sisi denai dengan tumbuhan berduri yang tidak disukai kaki besar, dan satu jadwal jaga yang ditulis besar di papan kebun: giliran bergadang dua orang per malam di musim harimau, dibayar dari dana konflik, dengan jadwal yang diundi supaya adil dan tidak membebani siapa pun.
Ukurannya dihitung dari kebiasaan satwa, bukan dari kebiasaan orang: kambing dan kerbau masuk sebelum magrib, dan pintu ditutup sebelum langit gelap penuh, karena harimau berburu di jam-jam perbatasan cahaya dan bukan di gelap yang sudah jadi. Paritnya tidak perlu dalam — enam puluh senti sudah cukup — karena bukan untuk menahan lompatan, melainkan untuk membuat kaki besar itu ragu satu detik di tepinya, dan satu detik keraguan ditambah bunyi kaleng-kaleng yang digantung di tali adalah waktu yang cukup bagi penjaga untuk bangun dan menyalakan obor. Tumbuhan berdurinya sengaja dipilih yang merambat lambat supaya tidak menutup denai kecil yang masih dipakai rusa dan babi di sisi luar parit — karena rancangan yang menutup semua jalan hanya akan memindahkan tekanan ke kebun sebelah, dan kebun sebelah belum punya kandang.
Pembangunannya memakan lima hari, dan lima hari itu adalah lima hari yang mengubah peta perang warung lebih dari surat mana pun.
Lima hari itu berjalan dengan irama yang ditentukan matahari: kerja mulai setelah subuh, berhenti ketika panas berdiri tegak di tengah hari, dan menyala lagi sampai magrib memaksa semua alat diturunkan. Renung ikut bekerja dengan tangannya — mengangkat tiang, mengebor dudukan engsel, mengikat tali kaleng — dan Jamil bekerja dengan matanya, berjalan mengelilingi parit setiap sore untuk memastikan tidak ada sisi yang terlalu dangkal, tidak ada sudut yang bisa diterobos kaki yang besar dan sabar. Di hari kedua, hujan turun satu jam dan menunda semuanya, dan di bawah terpal yang dipasang tergesa, Wak Saleh membagi kopi dari termosnya sendiri kepada orang-orang yang membangun kandang di kebunnya — dan tidak ada yang menyebutnya apa-apa, tapi Renung mencatatnya: kopi pertama yang dibagikan Wak Saleh dengan tangannya sendiri sejak perang warung dimulai.
Karena tangan-tangan kampung ikut membangunnya — dibayar, benar, tapi lebih dari dibayar: diikutsertakan. Pemilik kebun sebelah datang dengan parangnya. Pemuda-pemuda yang dulu hanya menonton datang dengan tenaga. Dan Wak Saleh, yang kebunnya menjadi titik pertama, berdiri di tengah pembangunannya sendiri dengan sesuatu yang berubah pelan-pelan di wajahnya setiap hari: dari pengawasan, ke pertanyaan-pertanyaan teknis, ke perintah-perintah kecil tentang sudut tiang yang lebih kuat — sampai di hari keempat, ia yang memimpin pemasangan pintu kandangnya sendiri dengan suara orang yang sudah memiliki pekerjaan itu.
Di hari ketiga ada satu peristiwa kecil yang dicatat Renung baik-baik: pengundian jadwal jaga. Nama-nama ditulis di potongan kertas, dilipat, dan dikocok dalam kaleng kerupuk di depan semua orang, dan yang keluar di malam-malam pertama justru dua pemuda yang selama ini paling keras di warung tentang binatang-binatang pusat. Tidak ada yang protes, karena kaleng kerupuk tidak bisa disuap. Malam pertama jaga itu, Bujang ikut tanpa diminta, dan mengajari kedua pemuda itu membaca tanah di tepi denai: bekas kaki yang segar berdiri tegak tepinya, bekas kaki kemarin sudah luruh; kotoran harimau disapu ke belakang dengan kaki, tidak dibiarkan terbuka seperti kucing hutan; dan kalau burung-burung di sisi hutan berhenti bunyi semua sekaligus, itu bukan angin. Kedua pemuda itu mendengarkan dengan mata yang berbeda dari mata mereka di warung — mata orang yang malam itu untuk pertama kalinya berdiri di dalam hutan sebagai penjaga, bukan sebagai pembicara. Dan menjelang subuh, ketika tidak ada apa pun yang datang, salah satu dari mereka berkata pelan bahwa ternyata menunggu harimau itu lebih melelahkan daripada memaki-makinya di warung — dan Bujang menjawab bahwa itulah sebabnya orang warung tidak pernah kehabisan tenaga.
"Kau tidak membangun kandang di kebunnya," kata Jamil, menyaksikannya dari tepi kebun di sore keempat itu. "Kau membangunnya di kepalanya. Harimau itu tidak akan pernah tahu bedanya, tapi Wak Saleh sudah tidak bisa lagi membencinya dengan cara lama — karena sekarang dia berdiri di dalam perhitungannya, dan orang yang berdiri di dalam perhitungan tidak bisa membencinya dari luar."
Dan kopi gratis di warung mulai terasa seperti kopi.
Kalimat-kalimat yang ditanamkan di warung itu mulai bertemu tembok yang tidak bisa ditembus kata-kata: Wak Saleh yang berdiri di depan kandang barunya menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan suara pemilik pekerjaan — bukan suara korban lagi, suara orang yang tahu harga dan jawabannya. Ketika lelaki rapi dengan motor bagus itu meletakkan satu kalimat lagi tentang pusat yang tidak peduli, Wak Saleh menjawabnya sendiri, dan jawabannya berjalan dari warung ke warung lebih cepat dari kopi mana pun: "Pusat itu membangun kandang ini dengan tanganku ikut di dalamnya. Kalau kau punya tawaran yang lebih baik dari kandang dan ganti rugi yang dibayar kuitansi, bawa ke balai kampung, jangan bisik-bisik di sini."
Dan Renung, mendengarnya dari Bujang dengan mata yang tidak menunjukkan apa-apa, menulis malam itu di buku catatannya: dinding pertama yang jebol bukan di kebun, melainkan di kepala Wak Saleh — dan jebolnya bukan oleh argumentasi, melainkan oleh lima hari kerja dengan tangan di kebunnya sendiri, dibayar dengan kuitansi yang benar. Perang warung tidak dimenangkan di warung. Dimenangkan di kebun, dengan parang dan tiang dan jadwal jaga yang diundi, sampai kalimat-kalimat kopi mereka tidak punya lagi tanah untuk tumbuh. Besok kandang kedua, di kebun sebelah. Dan warung akan menemukan bahwa kopi tidak pernah bisa membangun kandang.