Perubahan itu tidak diumumkan, dan tidak datang sekaligus — perubahan itu datang seperti pasang: pelan, dari bawah, dan tidak bisa ditahan oleh kalimat-kalimat kopi yang ditanamkan di atasnya.
Ganti rugi pertama dibayar tunai, dengan kuitansi, di depan balai kampung yang dijadwalkan untuk itu: Wak Saleh menerima untuk dua kambingnya, dan dua pemilik kebun lain untuk petak-petak mereka, dan uang itu berpindah dengan tanda tangan dua pihak dan disaksikan Pak Lurah Bahrum. Uang yang benar, dari dana yang sah, dengan jumlah yang dihitung dari harga warung mereka sendiri — dan kabar pembayaran itu berjalan dari warung ke warung lebih cepat dari kopi gratis mana pun, karena kabar yang membawa kuitansi selalu berjalan lebih cepat dari kabar yang membawa kalimat.
Upacara kecil itu tidak sampai satu jam, tapi setiap detiknya dihitung kampung dengan mata yang tidak berkedip. Uangnya dihitung di atas meja balai, dua kali, oleh dua orang — sekali oleh Sari, sekali oleh bendahara kampung yang ditunjuk Pak Lurah Bahrum — dan baru kemudian diserahkan, dan kuitansinya dibaca keras-keras sebelum ditandatangani. Wak Saleh menghitung uangnya dengan jari yang sedikit gemetar, bukan karena jumlahnya, melainkan karena seumur hidupnya baru kali ini kerugiannya oleh hutan diakui dengan kertas dan tanda tangan. Ketika ia selesai menandatangani, ia berdiri sebentar di depan meja, dan berkata satu kalimat yang oleh Bujang dicatat sebagai titik balik yang sebenarnya: "Selama ini aku marah karena tidak ada yang mengaku. Sekarang sudah ada. Aku tidak bilang aku sudah suka harimau. Tapi orang yang mengaku kerugian orang lain tidak mungkin berniat jahat pada orang itu."
Dan warung mulai berbalik.
Bukan dengan sorakan — kampung tidak pernah berbalik dengan sorakan. Warung berbalik dengan perubahan nada di pertanyaan-pertanyaan: dari mengapa pusat tidak mengganti menjadi berapa besar dana konfliknya dan bagaimana cara melaporkan kalau kena. Dari pusat yang memelihara binatang menjadi pusat yang membangun kandang di kebun Wak Saleh dengan tangannya ikut di dalamnya. Dan lelaki rapi dengan motor bagus itu mulai menghadapi warung yang lebih sulit: orang-orang yang mendengarkannya dengan sopan tapi menjawab dengan kandang dan kuitansi dan anak-anak yang bercerita tentang Ara di sekolah.
Ia menaikkan harganya, seperti yang dibaca Bujang akan terjadi: bukan lagi kopi dan kalimat, melainkan tawaran langsung — uang, untuk Wak Saleh, untuk menjual dua petak kebunnya yang menempel hutan dengan harga di atas pasar. Dan Wak Saleh membawanya ke balai kampung, bukan ke istrinya, bukan ke bantalnya: ke balai kampung, dan membacakannya keras-keras di depan semua orang dengan suara yang sudah menjadi suara pemilik perhitungan, dan balai kampung itu menertawakannya — menertawakan tawaran itu, menertawakan harga di atas pasar untuk kebun yang menempel hutan, dan menertawakan orang yang mengira kampung ini masih bisa dibeli dengan harga seperti itu.
Sebelum tawaran itu dibacakan di balai, ada jeda beberapa hari yang oleh Bujang dibaca sebagai jeda paling berbahaya: lelaki rapi itu masih datang ke warung, tapi tidak lagi membayari kopi sembarang orang — ia memilih meja, memilih jam, dan bicara lebih rendah dari biasanya. Dua tetua yang dulu paling rajin mengangguk ke arahnya mulai menghindari mejanya, bukan karena berpihak, melainkan karena orang kampung punya indera untuk bau yang berubah: sesuatu yang dulunya terasa seperti perhatian kini terasa seperti urusan. Dan di jeda itu pulalah Wak Saleh datang ke pusat satu kali, tanpa diundang, berdiri di kantor Renung dengan topi di tangan, dan bertanya satu pertanyaan yang tidak langsung: apa yang akan terjadi pada kandangnya, pada jadwal jaganya, pada ganti rugi yang sudah berjalan, kalau — ia tidak menyelesaikan kalimatnya, dan Renung tidak memaksanya. Renung hanya menjawab dengan pembukuan yang sama: semuanya tertulis, semuanya ditandatangani dua pihak, dan kertas yang ditandatangani tidak ikut berubah ketika warung berubah. Wak Saleh pulang tanpa menjawab, dan dua hari kemudian membawa tawaran itu ke balai kampung.
Dan ancaman datang setelahnya, seperti juga dibaca Bujang: orang-orang yang tidak bisa membeli mulai menakuti. Rumah salah seorang pembicara di balai kampung — tetua yang paling keras menertawakan tawaran itu — dilempari batu di malam hari dengan pesan di dindingnya. Kampung itu tidak menjawab dengan takut: Pak Lurah Bahrum mengumumkan jaga kampung bergilir malam itu juga, dan rumah tetua itu dijaga pemuda-pemuda dengan obor, dan lelaki rapi dengan motor bagus itu tidak pernah terlihat lagi di warung setelahnya — ditarik, atau dihentikan sementara, karena kampung yang tidak bisa dibeli dan tidak takut ditakuti adalah kampung yang paling mahal diperangi.
Bujang membaca batu dan pesan di dinding itu dengan mata lamanya, dan laporannya ke Renung singkat dan dingin: pelempar batu bukan orang warung, bukan lelaki rapi bermotor bagus — itu pekerjaan orang lain di rantai mereka, orang yang dibayar untuk mengotori tangannya sendiri, dan itu artinya perintahnya sudah turun satu lapis lebih dalam dari sebelumnya. "Kalau masih tahap kopi, yang kerja orang halus. Kalau sudah tahap batu, yang kerja orang kasar. Mereka tidak pernah mencampur keduanya dalam satu orang, Pak, supaya kalau satu tertangkap, yang lain aman. Batu di dinding itu kabar baik dengan cara yang jelek: kabar bahwa orang halusnya sudah menyerah di kampung ini, dan tinggal orang kasarnya yang belum tahu kapan harus berhenti." Renung mencatatnya, dan menambahkan satu baris di bawahnya: jadwal jaga pusat diperketat mulai malam itu, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berjalan sendirian sesudah gelap.
Renung menuliskannya malam itu, di bawah catatan tentang batu di dinding tetua kampung: warung berbalik, pelan dan dari bawah seperti pasang, dan mereka sudah menaikkan harga dari kopi ke ancaman — itu artinya kopi mereka gagal, dan itu artinya front ini akan menjadi keras sebelum menjadi selesai. Tapi kampung yang berdiri dengan kuitansi dan kandang dan anak-anak yang bercerita tentang gajah di sekolah tidak berdiri di atas kopi. Ia berdiri di atas bukti yang dibangun dengan tangan sendiri, dan bukti seperti itu tidak bisa dilempari batu di malam hari.