Tawaran terbuka itu datang di minggu terakhir busur itu, dan datangnya dengan kebesaran orang yang sudah kehabisan cara halus: satu perantara resmi, satu surat penawaran untuk seluruh Talang Rambai, dengan angka yang membuat surat itu dibaca dua kali oleh setiap tangan yang menyentuhnya.
Penawaran pembelian tanah kampung secara kolektif — bukan petak-petak seperti selama ini, melainkan seluruh Talang Rambai, dengan harga per kepala keluarga yang jumlahnya bisa membeli rumah di kota dan masih bersisa, dengan tambahan dana kampung untuk fasilitas, dengan syarat yang dibungkus kata-kata relokasi yang indah. Dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil tapi tidak disembunyikan: waktu terbatas, harga berlaku sampai tanggal tertentu, dan setelahnya penawaran "akan dievaluasi ulang" — kalimat yang oleh setiap orang kampung dibaca dengan benar sebagai ancaman dengan sepatu rapi.
Pak Lurah Bahrum membawa surat itu ke balai kampung, dan membacakannya keras-keras, seluruhnya, sampai ke huruf-huruf kecilnya, di depan kampung yang penuh.
Dan balai kampung itu mendengarkannya dalam keheningan yang tidak biasa — keheningan orang-orang yang mendengar angka sebesar itu dan menghitungnya masing-masing dengan jujur, karena angka sebesar itu bukan angka yang bisa ditolak dengan tawa ringan. Renung menyaksikannya dari sisi balai, dan tidak bergerak, dan membiarkan kampung itu menghitung dengan kepalanya sendiri — karena kampung yang ditolakkan jawabannya oleh orang luar akan membencinya di tahun-tahun berikutnya, dan kampung yang menghitung sendiri akan berdiri di jawabannya sendiri selamanya.
Keheningan itu berlangsung lebih lama dari yang disangka siapa pun. Di barisan belakang, seorang emak menghitung dengan jari-jari di bawah kerudungnya dan berbisik ke tetangganya dengan angka yang membuat tetangganya menarik nafas; dua pemilik kebun muda bertukar pandang dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang berat; dan Pak Lurah Bahrum berdiri di depan dengan surat di tangan, tidak menganjurkan apa-apa, karena ia tahu — dan Renung tahu ia tahu — bahwa jawaban yang dipaksakan dari atas akan retak dalam setahun, sedangkan jawaban yang lahir dari perhitungan kampung sendiri akan berdiri lebih lama dari semua orang di ruangan itu. Jamil, di sebelah Renung, berkata pelan tanpa menoleh: "Biarkan. Kampung yang dijual dengan mudah tidak akan bertahan. Kampung yang menghitung dulu sebelum menolak tidak akan pernah menyesal." Dan mereka menunggu, dan menunggu, sampai akhirnya satu kursi berderit di barisan tengah.
Tetua kampung yang rumahnya pernah dilempari batu itu yang berdiri pertama, dan bicara dengan suara tua yang tidak besar:
"Seumur hidupku aku belum pernah melihat uang sebesar itu, dan aku tidak bohong kepada kalian: aku menghitungnya tadi, dengan jari-jari yang sudah tua. Rumah di kota, tanah untuk anak-anak, sisa untuk hari tua. Lalu aku bertanya kepada diriku satu hal: dengan uang sebesar itu, mengapa mereka tidak membeli kampung lain yang lebih murah? Mengapa kampung kita? Dan jawabannya berdiri di luar jendela itu—" ia menunjuk hutan di kejauhan, "—karena kampung ini berdiri di jalan mereka ke hutan itu. Mereka tidak membeli tanah kita, Wak-Wak sekalian. Mereka membeli jalan. Dan jalan yang dijual sekali tidak pernah bisa dibeli kembali, dengan harga berapa pun, oleh anak-anak kita nanti."
Dan Wak Saleh berdiri setelahnya, dan kampung itu berhenti bernapas untuk mendengarnya, karena Wak Saleh adalah orang yang paling berhak menjawab tawaran seperti ini — pemilik kebun terbesar yang menempel hutan, orang yang paling banyak menerima kerugian dari satwa, orang yang paling mudah dihitung untuk dijual.
"Aku sudah banyak bermusuhan dengan hutan itu," kata Wak Saleh, dan suaranya tidak keras, dan justru karena tidak keras itulah semua orang mendengarkan. "Kambingku dimakannya. Ubiku dihabiskannya. Dan aku sudah dibayar untuk semuanya, dengan kuitansi, oleh orang-orang yang berdiri di sana—" ia menunjuk Renung tanpa menoleh, "—yang datang ke kebunku dan membangun kandang dengan tanganku ikut di dalamnya. Sekarang orang-orang ini menawariku rumah di kota untuk kebunku. Dan aku menjawabnya dengan satu pertanyaan yang kudapat dari kandang itu: kalau kebunku kujual, siapa yang menjaga kandangnya? Kandang itu dibangun untuk kebun yang berdiri di jalan hutan. Kebun yang dijual tidak punya kandang. Kebun yang dijual menjadi jalan untuk mereka — dan hutan yang dibuka jalannya tidak akan berhenti di kebunku. Ia akan berjalan terus ke kebun-kebun kalian, dan Talang Rambai akan membaca surat penawaran yang sama dua tahun dari sekarang, dengan harga yang lebih kecil, karena kampung yang sudah separuh terjual tidak bisa menawar." Ia berhenti, dan meletakkan surat itu di meja balai dengan dua jarinya, seperti meletakkan barang yang bukan miliknya. "Aku menolak. Bukan karena aku suka pada hutan. Aku masih tidak suka kambingku dimakan. Tapi aku lebih tidak suka dijadikan jalan, dan dijadikan pintu untuk membuka kampungku sendiri dari dalam."
Balai kampung itu meledak — bukan dengan sorakan, dengan suara orang-orang yang berdiri dari tempat duduknya dan bicara bersamaan dengan tawa dan amarah dan lega yang bercampur — dan tawaran itu ditolak dengan cara yang tidak bisa dibaca salah oleh siapa pun: surat itu dikembalikan ke perantaranya dengan jawaban lisan yang dibawa Pak Lurah Bahrum sendiri, dan jawabannya sederhana: Talang Rambai tidak dijual, dan tidak perlu dievaluasi ulang.
Renung menuliskannya malam itu, dengan tangan yang berhenti beberapa kali karena sesuatu di dadanya: harga kampung ditawar dengan angka yang bisa membeli rumah di kota, dan kampung itu menjawab dengan dua orang yang berdiri — tetua yang rumahnya dilempari batu, dan Wak Saleh yang kebunnya paling mudah dijual — dan jawaban itu tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun. Front warung selesai di sini, dengan kampung yang berdiri di tanahnya dengan kandang dan kuitansi dan anak-anak yang bercerita tentang gajah. Dan sindikat itu, yang menawar dengan harga terbesarnya, baru saja membaca harga kampung ini: tidak dijual, dan tidak perlu dievaluasi ulang.