Percobaan membobol pusat itu datang di malam yang tidak hujan, di tengah pekan, di jam yang dibaca sempurna dari jadwal jaga — dan gagal oleh pos jaga yang dibangun dari pelajaran gudang pakan yang terbakar.
Dua orang, dari sisi hutan, dengan alat pemotong dan satu tas kosong yang dirancang untuk dokumen. Mereka masuk sejauh pagar belakang sebelum pos jaga baru membaca mereka — dua pemuda kampung di pos jaga malam itu, dengan lampu dan radio yang sudah diatur sejak gudang pakan terbakar, dan satu dari mereka membacanya dari bunyi yang salah di semak. Radio itu menyala, senter-senter menyala, dan pusat itu bangun dalam dua menit dengan cara yang sudah dilatih sejak malam gudang pakan: tidak berhamburan, berbaris, dengan Mahmud dan anak buahnya yang sedang berada di dekatnya bergerak ke dua sisi.
Satu pelaku lolos ke hutan dalam gelap. Satu tidak.
Lelaki muda bertato itu ditangkap di pagar belakang dengan tas kosongnya, dan ketika senter menyentuh wajahnya, Renung mengenalinya sebelum nama apa pun diucapkan: wajah dari foto kamera jebak di hari-hari pertama penyelidikan, lelaki muda bertato dengan senapan angin bertekanan tinggi yang tertangkap kamera memburu untuk menangkap hidup. Wajah sindikat yang sudah lama hanya ada di foto, sekarang berdiri di pagar belakang pusat dengan tangan terikat, dengan tato di lengannya dan umur yang lebih muda dari yang dibayangkan fotonya.
Mereka datang untuk dokumen. Itu dibaca dari tas kosong dan alat pemotong yang dibawanya: bukan untuk satwa, bukan untuk merusak — untuk mengambil kertas-kertas, catatan-catatan, apa pun yang berdiri di kantor pusat. Dan itu artinya satu hal yang membuat Mahmud membaca pagar itu dengan mata yang dingin: mereka sudah membaca bahwa bukti-bukti tentang mereka berdiri di pusat ini, dan mereka datang untuk mengambilnya kembali di tengah malam — dan mereka salah membaca, karena bukti-bukti itu sudah lama tidak tinggal di satu tempat.
Sebelum truk itu berangkat, pusat menjalani sisa malamnya dengan cara yang sudah dilatih: Sari berkeliling dari kandang ke kandang dengan lampu kecil yang diselubungi, memastikan suara dan senter dan keributan di pagar belakang tidak meninggalkan apa-apa — Item yang membuka satu mata dan menutupnya lagi, Tunggak yang beringsut lebih dalam ke jeraminya dengan tangan menutupi kepalanya, kebiasaan lama yang belum hilang, dan Ara yang berdiri bingung sebentar sebelum suara rendah Sari menidurkannya kembali. Semua utuh, dan Sari melaporkannya dengan satu kalimat yang sudah menjadi formulir mereka: tidak ada yang stres, tidak ada yang terluka, makan pagi besok dihitung seperti biasa.
Dua pemuda pos jaga itu duduk di posnya dengan wajah yang masih berlari, dan Mahmud mendengarkan laporannya dari awal tanpa memotong satu kali pun: bunyi yang salah di semak, yang tidak seperti bunyi babi dan tidak seperti bunyi rusa, bunyi kain bergeser di dahan kering; keputusan untuk tidak keluar dari pos, sesuai latihan, melainkan menyalakan radio lebih dulu; dan dua menit yang berjalan persis seperti yang dilatihkan sejak malam gudang pakan terbakar. "Kalian berdua melakukannya dengan benar sampai ke detail terakhirnya," kata Mahmud, dan kedua pemuda itu menerimanya dengan wajah yang akhirnya boleh lega. Dan nama kedua pemuda itu dicatatnya di buku kecilnya sendiri, karena orang yang membaca bunyi yang benar di malam yang benar adalah orang yang layak diingat namanya.
Alat-alat yang tertinggal di pagar belakang dibaca satu per satu di bawah lampu: pemotong yang bagus, bukan barang kampung; tali-tali pengikat yang sudah disiapkan, artinya mereka datang siap membawa sesuatu yang bergerak, bukan hanya kertas; dan satu denah kecil yang digambar tangan di atas kertas tisu, kasar tapi benar — pagar belakang, kantor, lemari arsip, semuanya di tempatnya yang tepat. Denah itu yang membuat Mahmud diam lebih lama dari benda-benda lainnya, karena denah itu berarti satu hal yang dingin: ada orang yang sudah masuk ke pusat ini sebelumnya, dalam satu siang yang tampak biasa, dengan mata yang menggambar sambil tersenyum.
Dan di antara barang-barang itu, satu hal yang tidak ada justru yang paling dibaca Renung: tidak ada satu pun alat untuk merusak kandang, tidak ada obat penenang, tidak ada karung untuk satwa. Mereka tidak datang untuk penghuni pusat. Mereka datang untuk kertasnya — dan itu berarti, di mata jaringan itu, kertas-kertas itu sekarang lebih berbahaya dari semua harimau yang pernah mereka jerat.
Renung membacanya juga, dan mencatatnya dengan tangan yang tidak gemetar: denah tangan berarti kunjungan, kunjungan berarti wajah, dan wajah berarti seseorang yang pernah berdiri di halaman pusat ini sebagai tamu — dan daftar tamu pusat tidak pernah panjang. Daftar itu akan dibuka pagi-pagi, nama demi nama, wajah demi wajah, sampai satu di antaranya berdiri lebih dingin dari yang lain.
Lelaki bertato itu dibawa ke pos polisi hutan dengan tangan terikat dan tas kosongnya sebagai barang bukti, dan di perjalanan ke sana, di truk dengan lampu yang menembus gelap, Renung memandang wajah muda itu dan membaca apa yang akan dibaca penyidiknya nanti: bukan wajah bandar, bukan wajah pembunuh. Wajah orang muda yang dibeli di titik lemahnya, seperti Pawang Dulah dibeli dengan tarif per jerat, seperti Bujang dibeli dengan jalan yang ditunjukkan — dan wajah yang di bawah tatonya masih menyimpan satu hal yang bisa ditarik oleh orang yang tahu cara menariknya: sesuatu yang belum sepenuhnya menjadi mesin.
Di buku catatannya malam itu: percobaan membobol pusat untuk dokumen, satu pelaku tertangkap — lelaki bertato dari foto kamera jebak, wajah sindikat yang akhirnya punya bentuk dan umur. Mereka datang untuk kertas-kertas, dan itu berarti berkas kita sudah menyakitkan dengan cara yang membuat mereka berani masuk ke pusat di tengah malam. Dan lelaki muda bertato itu, yang tertangkap dengan tangan kosong dan tas kosong, akan bernyanyi — orang-orang yang dibeli di titik lemahnya selalu bernyanyi ketika harganya berubah — dan nyanyiannya akan menjadi halaman berikutnya di garis yang sedang kita baca.