Berkas operasi gabungan itu dirangkai Mahmud dalam dua minggu, dan merangkainya adalah pekerjaan arsitektur yang tidak pernah terlihat dari luar: tiang demi tiang, dengan pintu-pintu yang tidak bisa dikunci satu orang.
Tiang pertama: kepolisian hutan dengan relnya. Mahmud membawa bahan-bahan itu ke atas jalurnya sendiri — gudang hulu, jadwal malam ketiga banjir penuh, nyanyian-nyanyian yang sudah terkumpul, dua tikungan yang mengubah armada menjadi antrean — dan kembali dengan satu kertas yang membuat semuanya resmi: persetujuan operasi gabungan dengan kekuatan penuh untuk satu malam, dengan tim-tim yang dihitung untuk dua tikungan dan satu daratan.
Tiang kedua: balai, dengan kepala balai yang membawa auditnya dan orang-orangnya yang bersih. Balai menyediakan pengetahuan kawasan yang tidak dimiliki polisi — titik-titik aman untuk satwa yang diselamatkan, pembukuan spesies yang membuat setiap kandang yang ditemukan bisa diproses dengan benar, dan satu hal yang hanya bisa diberikan balai: jalur evakuasi medis yang dirancang untuk belasan satwa sekaligus dalam satu malam.
Dan tiang ketiga: kampung, dengan Talang Rambai yang sudah berdiri. Warga di jembatan-jembatan dan titik-titik pantau darat, dengan mata-mata yang sudah terlatih membaca orang asing di jalan-jalan konsesi, dengan Pak Lurah Bahrum yang mengatur gilirannya seperti mengatur jadwal panen. Bukan untuk berkelahi — Mahmud menegaskannya keras-keras di satu pertemuan di balai kampung — melainkan untuk melihat dan melaporkan, karena armada yang dibaca lebih dulu dari titik-titik darat adalah armada yang tidak bisa lagi bergerak diam-diam di airnya.
Dan di tengah tiga tiang itu, satu orang yang bukan tiang melainkan jantung rencananya: Renung, dengan tas anestesi dan pembukuan spesies dan peran yang ia pilihkan sendiri — di perahu medis di belakang garis, bukan di garis depan, dengan satu tugas yang hanya bisa dikerjakan dokter hewan: setiap satwa yang keluar dari kandang-kandang malam itu harus dinilai dalam hitungan menit — dibius atau tidak, dipindah bagaimana, hidup atau perlu diakhiri penderitaannya — dan tidak ada satu pun dari itu yang bisa dikerjakan orang dengan senjata di tangan.
"Peranku bukan di depan, dan aku menerimanya tanpa syarat," kata Renung, di pertemuan perangkainya. "Garismu di dua tikungan, Mahmud. Garis balai di daratan. Garis kampung di jembatan-jembatan. Dan aku di perahu medis dengan Sari dan Jamil — menerima yang keluar dari tikungan itu, satu per satu, dengan tangan dan buku, karena setelah malam itu selesai, yang tersisa bukan orang-orang yang ditangkap. Yang tersisa adalah satwa-satwa yang harus tetap hidup, dan mereka adalah pekerjaanku, dan hanya pekerjaanku."
Ada satu halaman lagi di berkas itu yang tidak pernah dibacakan keras-keras di pertemuan mana pun, dan halaman itu adalah pelajaran dari malam percobaan pembobolan pusat: tidak ada satu pun bukti yang tinggal di satu tempat. Catatan-catatan, foto-foto, rekaman-rekaman — semuanya sudah berdiri di tiga tempat yang terpisah sejak lama, dengan daftar yang dipegang tiga orang yang berbeda, supaya tidak ada satu malam pun di dunia ini yang bisa menghapus semuanya sekaligus. Mahmud menuliskannya di halaman itu dengan satu kalimat yang dingin: kita tidak berencana untuk gagal, tapi kita membangun seolah-olah gagal itu sudah dijadwalkan.
Logistiknya dirangkai dengan kesabaran yang sama. Frekuensi radio yang tidak pernah disebut di telepon. Kode-kode satu kata untuk setiap kejadian yang mungkin — satu kata untuk armada bergerak, satu kata untuk tikungan pertama penuh, satu kata untuk sesuatu yang salah. Pak Lurah Bahrum membawa pulang jadwal jaga jembatan yang disusun seperti jadwal ronda musim hujan, dengan nama-nama yang diputar supaya tidak ada wajah yang sama dua malam berturut-turut di satu titik. Dan Sari menyusun perahu medis seperti menyusun kamar operasi yang mengapung: kandang-kandang kosong ditambatkan dengan urutan yang sudah dihitung — yang paling sering keluar dari kandang sindikat adalah yang paling kecil, maka kandang-kandang kecil di depan — tas anestesi di titik yang bisa dicapai dari mana pun di perahu itu, dan lembar-lembar plastik tebal untuk satwa yang basah, karena malam itu malam banjir dan satwa yang keluar dari sungai masuk ke perahu dengan air di bulunya.
Jamil membaca susunan itu sekali, dari haluan ke buritan, dan mengangguk satu kali tanpa mengubah apa-apa — dan bagi Sari, satu anggukan tanpa koreksi dari Jamil adalah tanda lulus yang lebih tinggi dari sertifikat mana pun. Malam itu juga, di papan posnya, Mahmud menuliskan satu baris kecil di bawah susunan perahu medis: yang bernapas didahulukan dari yang lain, selalu, tanpa perlu diperintah dua kali.
Dan di akhir semua perangkaian itu, satu pertanyaan yang tidak dijawab siapa pun tapi dipikirkan semua orang: apakah malam ketiga itu akan benar-benar datang sesuai hitungan — apakah langit dan air akan menepati jadwal yang dibaca dari nyanyian seorang penjerat tua dan satu halaman buku catatan gudang. Pertanyaan itu tidak ditulis di papan. Pertanyaan itu dibawa pulang masing-masing, ke malam-malam yang mulai menghitung hujan. Dan jawabannya, seperti selalu di kawasan ini, hanya bisa dibaca dari langit — tidak dari papan, tidak dari berkas, tidak dari mulut siapa pun.
Mahmud menutup perangkaiannya dengan satu halaman terakhir di papan posnya, dan halaman itu adalah malamnya: malam ketiga banjir penuh, dengan dua tikungan yang dijaga dua tim, dengan perahu-perahu polisi di hulu dan hilir yang menutup dua arah, dengan balai di daratan dan kampung di jembatan, dan dengan satu prinsip yang ditulisnya besar di atas halaman itu:
Tidak ada yang bergerak sebelum seluruh armada masuk ke tikungan pertama. Armada yang diserang di mulut tikungan berpencar; armada yang diserang di tengah tikungan tidak bisa ke mana-mana.
Dan Renung menuliskannya di bukunya malam itu: berkas operasi gabungan selesai dirangkai dalam dua minggu, dengan tiga tiang dan satu prinsip tentang antrean di tikungan. Sekarang tinggal menunggu langit membuka hujannya tiga hari berturut-turut, dan malam ketiga itu datang, dan dua puluh tahun jaringan sungai berdiri di tengah dua tikungan dengan semua yang kami bangun menunggu di kedua ujungnya.